
Maxell sudah tiba di Jakarta, Piter langsung membawanya ke hotel Leon, maka saat pagi tiba.
Hari yang menegangkan itu akhirnya terjadi juga, ini pertemuan Leon bertatap muka secara langsung dengan Piter setelah pertemuan mereka terakhir, saat di Jepang.
Leon mengepal tangannya di dalam saku celana, aliran darah terasa panas di seluruh tubuhnya, saat melihat Piter
Piter juga belum bisa memaafkan Leon, rasa dendam masih ada untuk Leon, tidak akan pernah memaafkan sikap Leon yang meninggalkan Hara saat terpuruk dulu. Mereka berdua sama sama diam saling menatap dalam ketegangan.
Leon merasakan keras di bagian otot perut, karena menahan amarah, saat melihat Maxell bersama Hara berjalan keluar dari hotel. Tetapi di depan Piter ia tidak mau menunjukkan kalau ia cemburu. Tadi malam dari bandara Piter membawanya ke Hotel Leon, ia sengaja ingin melakukan itu agar Leon kepanasan.
“Selamat pagi Pak Piter,” sapa Ken yang berdiri di belakang Leon.
“Pagi Pak Ken,” sahut Piter masih aduh banteng dengan Leon.
“Bos, kita akan terlambat nanti, mari pergi.” Zidan mencoba melerai adu banteng keduanya.
“Apa kamu ingin bicara dengan saya?” Tanya Piter menantang Leon.
“Baiklah Mari,” ujar Leon.
Leon meminta anak buahnya menunggu, sementara Hara dan Maxell tidak melihat kedua lelaki itu bersitegang karena Hara sudah pergi bersama Maxell.
“Ada yang ingin kamu katakan padaku Pak Leon?”
“Berhenti bersikap jadi ayah Hara, kamu terlalu mengkekangnnya, Pak Piter”
“Aki kecewa mendengar pernyataan itu Pak Leon, tadinya aku berharap kamu meminta maaf padaku, salah satu cara untuk mendapatkan restu,” ujar Piter.
“Kamu hanya seorang pengawal tidak pantas mengatur hidup Hara,” ujar Leon dengan emosi.
“Kamu tidak seharusnya membuatku marah dalam situasi Pak Leon. Harusnya kamu bersikap baik dan meminta maaf padaku karena mengingkari janji. Bukankah lelaki sejati harus menempati janji. Kamu bukan lelaki sejati”
“Manusia bukanlah mahluk sempurna Pak Piter ada kalanya kita mengingkari janji dengan sebuah penyebab”
“Apa kamu bilang karena kamu punya wanita itu?’
“Itu hanya penyebab kecil”
“Apapun alasanmu Pak Leon, semua itu sudah berlalu, biarkan Hara menjalani hidupnya dengan lelaki pilihannya Hara”
“Bukan pilihan Hara, tetapi pilihan anda Pak Piter,” ujar Leon dengan tegas.
“Saya memberikan yang terbaik untuknya. Lalu apa yang kamu berikan padanya, dia terpuruk kamu tinggalkan”
“Kamu tidak memberikan yang terbaik untuk Hara, tetapi kamu hanya membalaskan dendammu padaku, kamu hanya ingin membuatku patah dan aku tidak akan membiarkan itu,” ujar Leon tegas.
“Jika mencoba menggagalkan hubungan mereka jangan pikir aku diam, Pak Leon”
“Mafia seperti saya tidak pernah takut di gertak, apa lagi diancam Pak Piter”
“Saya tidak takut mafia Pak Leon, mafia , *******, preman sudah sering saya musnahkan,” ujar Piter meninggalkan Leon.
Leon tertawa miring melihat ancaman Piter padanya.
“Bos, apa yang akan kita lakukan?” Zidan berdiri.
“Aku hanya bicara sekali lagi dengan Hara tanpa ada hasutan dari Piter, setelah itu aku akan melakukan dengan caraku,” ujar Leon.
Ia tidak mau mengalah pada Piter, bahkan ia siap jadi mafia lagi demi untuk dapat memiliki Hara.
__ADS_1
“Bos, tidak kah lebih baik, bicara baik-baik dengan pak Piter?” Zidan memberi usul.
“Saya juga tadinya begitu Ken, tetapi lihat lelaki itu dia hanya ingin aku berpisah dengan Hara,” ujar Leon emosi
Di sisi lain.
Hara mengajak Maxell jalan, membawa jauh dari Piter dan Leon.
“Ada apa Hara, kenapa membawaku jauh sampai ke pantai Ancol?”
“Berada di hotel dan di lokasi syuting membuat otakku buntu.” Hara turun dari mobil dan membawa Maxell jalan-jalan dipinggir pantai.
Lelaki berkulit itu, mengikuti Hara dari belakang.
“Ada apa?” Tanya Maxell, ia tahu kalau Jovita Hara ingin bicara dengannya.
“Aku Ingin jujur sama Kakak Maxell”
“Hal?”
Hara duduk tumpukan batu di pinggir pantai Ancol.
“Kak Axell pasti sudah tahu kalau ingatanku sudah pulih”
Maxell langsung menatap Hara dengan tatapan terkejut.
“aku tidak tahu, memang sudah?”
“Oh tidak bilang?”
“Tidak,” jawab Maxell masih dengan wajah terkejut.
Wajah Maxell langsung terkejut, ia berpikir kalau Hara akan meninggalkannya.
“Lalu apa yang ingin kamu katakan?” Tanya lelaki tampan itu menatap Jovita Hara dengan sendu, seolah-olah ia ingin mengatakan jangan tinggalkan aku.
“Aku takut kamu menyesal membina satu hubungan denganku karena masa laluku”
“Hara, apapun masa lalumu aku siap menerimanya dan tidak akan pernah melihat ke belakang”
“Tidak semudah itu bagiku Kak Axel, aku ingin menceritakan siapa aku”
“Tidak perlu.” Maxell menolak.
“Tidak, kita harus jujur, setelah kamu mengenalku dan siapa aku berulah kamu bisa mengambil keputusan”
“Kalau hal itu akan membuat hubungan kita jadi bubar, mending tidak usah , aku akan menutup telinga dan mataku selamanya,” ujar Maxell.
“Tidak akan semudah itu Kak, orang yang kamu kenal dan kamu hormati salah satu bagian masa laluku”
“Siapa?”
“Tuan Wardana atau Pak Leon, ternyata kekasihku di masa lalu,” ujar Hara, ia memilih jujur pada Maxell, ia tidak ingin hubungan yang banyak rahasia.
“APA …!? Kamu Yakin?” Tanya Maxell panik.
Hara menunjukkan gantungan kalung yang ia pakai.
“Kamu pernah bertanya cincin ini milik siapa, aku bilang mungkin milik orantuaku, sekarang aku ingat, cincin ini cincin lamaran Leon sebelum musibah kebakaran terjadi dan saat itu aku … sedang hamil anak Leon, kami hanya tinggal menunggu hitungan hari untuk menikah”
__ADS_1
Wajah Maxell terlihat sangat tegang.
“Jadi … saat kita di Jepang …. Oh sekarang aku mengerti arti tatapan itu,” ucap Maxell lagi.
“Iya, dia mencariku sampai ke sana”
“Apa kamu masih mencintainya?” tanya Maxell .
“Kata orang antara benci dan cinta bedanya hanya tipis, saat ini aku ingin jujur padamu, aku membencinya.
Tetapi hatiku terkadang merindukannya. Namun ada hal membuatku yang terlebih terkejut lagi, Bianca mantan kekasihmu yang jadi kekasihnya, dan beberapa hari yang lalu dia juga hampir membunuhku”
“Apa? Bianca kekasih Pak Wardana? Itu tidak mungkin Hara, Pak Wardana tidak mungkin salah memilih orang … wanita itu bukan selera Pak Wardana, kamu tahu Bianca kenapa aku memutus hubungan dengannya?’
Hara menggeleng.
“Wanita itu seperti memiliki dua kepribadian,aku sudah pernah bilang dia munafik. Aku pikir Pak Wardana dijebak,” ujar Maxell ia kaget saat tahu mantannya kekasihnya sempat akan menikah dengan Leon.
“Lupakan tentang mereka, lalu apa yang kamu rencanakan Hara?”
“Aku sudah membuat pengakuan padamu, aku ingin kita berdua yang memutuskan hubungan kita karena ingatanku sudah pulih. Bukan lagi Om Piter bukan lagi kedua orang tuamu, tetapi kita berdua,” Ujar Hara.
“Lalu sekarang aku sudah datang ke sini apa yang kamu rencanakan”
“Aku memberikanmu waktu untuk memikirkannya”
“Hara, aku tidak perlu memikirkannya, aku tidak perduli dengan masa lalu ak-”
“Kak Axell dengar,” potong Hara. “Aku tidak ingin kamu salah membuat pilihan Kak, begitu juga denganku, aku juga ingin menikah sekali seumur hidupku karena itu mari kita saling memikirkan, beri aku waktu dan aku juga memberi Kak Axell waktu. Pikirkan sekali apa kamu mau menikah denganku atau tidak setelah kamu mengetahui semua masa laluku”
“Baiklah aku akan memikirkannya Hara. Terimakasih karena sudah jujur padaku.” Wajah Maxell terlihat semakin gugup saat ia tahu kalau Hara mantan kekasih dari seorang lelaki miliader, ia tahu Leon tidak akan semudah itu melepaskan Hara.
“Hara, tapi boleh aku bertanya?”
“Iya”
“Apakah, ada masalah antara om Piter sama Pak Wardana?”
“Itu juga yang aku ingin jelaskan sama kakak, hubungan mereka tidak baik,” ujar Hara.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1