
Tetapi saat mereka duduk bercanda, Susan perawat kekasih Rikko lewat, tetapi wajahnya terlihat acuh pada Rikko, baik Rikko juga seperti itu.
Ia hanya menyapa mereka , tetapi tidak untuk sang kekasih.
“Ada apa?” Tanya Hara melirik, Ken.
“Mereka berdua lagi mengadakan gencatan senjata,” ujar si ember bocor Ken mulutnya suka asal nyemplak.
Rikko hanya diam.
“Ada apa Kak?” Tanya Hara ia peduli,
“Di minta putus”
“Ha, bukannya kalian ada rencana mau menikah?”
“Lupakan saja Non, wanita itu keras kepala ,” ujar Rikko terlihat sedih.
“Ceritakan saja Kak, berbagi beban akan lebih baik daripada disimpan sendiri,” ujar Hara, kali ini ia siap jadi seorang pendengar baik.
Setelah menarik napas panjang beberapa kali. Rikko akhirnya buka suara, padahal sejatinya lelaki itu termasuk tipe lelaki yang tertutup untuk hal-hal pribadi. Namun, karena Hara yang memaksa, ia akhirnya buka mulut.
“Dia memintaku datang ke rumah keluarganya, Non”
“Lalu apa masalahnya?” Tanya Hara menatap serius.
“Bos lagi banyak masalah bagaimana mungkin aku melakukan itu,” ujar Rikko lemah.
‘Oh karen aku ternyata’ Hara membatin.
“Apa perlu aku yang bicara dengan Pak Leon?” Hara menawarkan bantuan.
“Jangan, jangan Non, tidak perlu”
“Kak Rikko, jika kamu mencintai seseorang dengan yakin, kamu harus berjuang untuk cintamu jangan menyerah karena hanya hal kecil”
“Non, kamu dan Bos ….?”
“Jangan ikuti kami Kak Riko, jangan lihat kami. Hubungan kami dari awal sudah rumit tidak ada komitmen tau-taunya aku sudah hamil, jadi makin rumit. Kamu beruntung sebelum memulai ke jenjang pernikahan akan lebih baik saling mengenal karakter pasangan ,” ucap Hara.
“Aku tidak ingin membebani pikiranku dengan urusan pribadiku Non. Bos sangat membutuhkan kami saat ini.” Rikko orang yang pekerja keras mementingkan urusan Leon dari pada dirinya.
‘Apa yang dilakukan Leon pada pria ini sampai semuanya sangat setia pada Leon, ayahku melakukan hal yang baik pada anak buahnya, tetapi mereka kompak berkhianat. Leon lelaki yang kejam, tetapi anak buahnya tulus melayani bos mereka’ Hara membatin Ia membandingkan sikap Iwan santosa dan Leon.
“Kak Rikko bos Leon akan mendapat masalah terus sampai seumur hidupnya karena tuntutan pekerjaan,” ucap Hara.
“Tidak Non, aku tidak mau biarkan aku dan Susan yang mengatasinya”
“Kesempatan tidak akan datang dua kali Kak Rikko, saat kesempatan pertama kamu sia-siakan yakinlah kesempatan kedua tidak akan senyaman saat pertama. Perasaan seorang wanita bisa berubah-ubah apa lagi tidak ada kepastian, baiklah nanti akan kita membahas lagi. Terimakasih atas mangganya,” ujar Hara meninggalkan mereka .
__ADS_1
*
Jovita meninggalkan pos keamanan dan menuju kamar Leon.
Tok … Tok ….
Dua kali ketukan tidak ada sahutan dari dalam, Hara memegang pegangan pintu, lalu mendorong , pintu terbuka Leon ternyata tidak mengunci, Hara masuk dengan langkah ragu, menenteng buku di tangannya.
“Kenapa tidak menyahut? Apa dia tidur?” Hara mendekat ke ranjang, di mana Leon memejamkan matanya, tapi mendengar apa yang dikatakan Jovita.
Ia pura-pura tidur, ia ingin lihat apa yang di lakukan Hara padanya , saat ia tidur seperti itu, saat Hara tidak melihat Leon ia membuka dan melirik Hara.
Jovita Hara mendekat ke ranjang, di mana Leon memejamkan matanya.
Leon bersikap seolah-olah, ia sedang tidur pulas, sengaja membuat suara dengkuran, ia ingin lihat apa yang di lakukan Hara kali ini.
“Pak Leon apa kamu tidur? Aaa … aku hanya mau bilang, terimakasih sudah menyelamatkan Om Piter,” ujar Hara, awalnya Leon sempat marah mendengar nama Piter disebut tapi saat Hara melanjutkan ceritanya ia tidak jadi marah.
“Om Piter yang selalu memintaku untuk tinggal di rumahmu, dia selalu bilang hanya kamu yang bisa mengantikan dia menjagaku, dia bukan hanya sekedar bodyguard dan sekedar supir untukku, dia keluargaku satu-satu yang kumiliki dia om yang selalu melindungi. Tapi Pak Leon bisakah aku keluar hanya sebentar dari istanamu ini? Aku lumutan di rumah terus,” ujar Hara, ia duduk di kursi di samping ranjang Leon.
Leon terusik dengan kalimat-kalimat yang diucapkan Jovita, ‘ Ini orang ngomong apa … Leon masih menutup mata. Ia mendengus pelan mendengar kalimat lumutan diucapkan jovita, ia mengintip membuka sedikit matanya, Hara memegang sebuah buku lalu ia mendekat.
“Apa kamu mendengarku? Apa dia tidur bohongan atau beneran? dari tadi aku mengoceh seperti burung Beo, kok dia tidak bergerak?” Hara mendekat lalu jongkok dan menempelkan satu jari tangannya di lubang hidung Leon. “ Apa kamu pingsan?”
Hara terkejut, hampir terpelanting ke belakang, buku yang ia baca terlempar, dengan cepat tangan Leon menarik tangannya membuatnya selamat.
Telapak tangannya menekan luka di bagian dada Leon, membuat lelaki bertampang tegas itu, meringis kesakitan ‘wow sakit’
Leon meringis kesakitan, tapi tidak melepaskan tangan Hara. Ada modus lagi yang tiba-tiba muncul di otaknya,
Tangan Hara ia tahan dam diletakkan di dadanya, Leon pura-kesakitan.
“Maaf aku tidak sengaja, tadinya aku hanya mengecek keadaan kamu” ucap Hara panik.
Leon masih meringis dengan nafas sekal-sekal yang di buat-buat, ternyata lelaki bertampang dingin itu bisa ber-akting juga. Tangan Jovita belum ia lepas, masih menggenggam dengan erat, meletakkan di dadanya. Tentu saja bumil cantik itu panik.
“Maaf. Apa yang harus aku lakukan, apa aku memanggil dokter?” Tanya Hara ingin berdiri.
“Tidak usah, aku merasa dadaku seakan terbakar, aku pinjam tanganmu sebentar, bisakah kamu tidur di sebelahku, sebentar?”
Kan, modus lagi si bos Naga, ini namanya; kesempatan dalam kesempitan.
“Apa?”
“OH, ini sakit sekali” Leon meringis.
__ADS_1
“Ok baiklah” Hara mengikuti kemauan lelaki yang pura-pura kesakitan itu, akhirnya rusa betina itu masuk ke jebakan macan jantan.
Karena merasa bersalah dan merasa kasihan melihat Leon yang kesakitan, ia menuruti kemauannya, ia membaringkan tubuhnya di samping Leon. Tiba-tiba leon menekan luka di dadanya lagi sampai mengeluarkan cairan merah biar aktingnya lebih meyakinkan. Gaya romantis Bos Mafia yang satu ini, memang ektrim, ia rela merasa kesakitan yang penting Hara bisa ada di sampingnya.
“Iya ampun lukanya, bagaimana?
“Tidak usah, tidur sebentar akan lebih baik lagi, boleh aku memelukmu?” Tanya Leon dengan nafas tersengal-sengal di buat- buat.
“Tapi itu …. lukamu?”
“Oh Hara tidurlah sebentar, kamu tidak tahu aku sudah lima hari lima malam tidak merasakan bagaimana rasanya tidur,” ujar Leon berlebihan
“Ha! lima hari lima malam?” Hara ingin berbalik badan ingin melihat wajah Leon apa yang dikatakan itu kebenaran atau hanya kibul. Namun, Leon menahannya, memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Bos dan anak buahnya sama saja.
‘Aku mendapatkanmu lagi sayang tidurlah bersamaku, tidak usah pergi
Aku tidak akan kalah denganmu, kamu dan anak dalam rahimmu adalah milikku akan aku jaga kalian berdua’ ucap Leon dalam hatinya.
“Biarkan aku mengobati lukamu dulu” ucap Hara.
“Iwan sudah mengobatinya tadi, diamlah, dari sejak kamu datang, kamu mengoceh, kamu yang membuatku terbangun jadi kamu harus menemaniku agar aku bisa tidur lagi,”ucap Leon membuat alasan agar Jovita tidak meminta ingin keluar dari kamar itu.
“Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk tidur, tapi aku mau-”
Belum juga ia menyelesaikan kalimatnya Leon sudah meringis kesakitan lagi, tentu saja itu alasan agar Jovita tidak meneruskan permintaanya.
“Wow sakit sekali!” pekik Leon menggenggam tangan Hara.
“Ok baiklah, aku akan diam dan berbaring bersamamu”
Leon mengedipkan kedua alisnya tanda kemenangan , ia mengecup ujung kepala Hara dan memeluk erat, tangannya dengan lembut mengusap perut Hara.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1