
Masih di rumah sakit.
Leon masih menunggu dengan wajah menegang di luar ruangan operasi, ia terlihat sangat sangat gugup melihat Jovita terluka parah.
Sementara Jovita Hara masih dalam penanganan dokter, saat para dokter melihat luka di leher Jovita, mereka saling menatap.
Hal itulah Leon menarik napas dengan susah payah, saat melihat reaksi para dokter itu , wajah Leon menegang bahkan ia merasa dadanya terasa di penuhi ribuan batu.
Ia masih berdiri di samping ruangan operasi Jovita, melihat para team dokter menangani Jovita, saat ia berdiri beberapa menit, pandangan matanya mulai kabur dan kepala terasa sangat pusing. Akhirnya Leon tumbang juga.
Iwan dan Rikko membopong tubuh Bosnya dan berteriak meminta bantuan dokter, maka, ia juga masuk ke ruangan di mana Jovita mendapat penangan dokter.
Beberapa jam kemudian,
Saat Leon tidak sadarkan diri, ia masuk ke alam mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat sang ibu datang dari sebuah kabut putih. Tersenyum hangat padanya.
“Ibu minta maaf Nak, karena meninggalkanmu sendirian, Jangan marah lagi ... lupakan kemarahan mu,” ujar sang Ibu membelai pucuk kepala Leon.
Tetapi dalam mimpinya, mulut Leon seakan-akan di beri lem, saat ia ingin bicara dengan ibunya, mulutnya tertutup tidak bisa bicara.
Lalu dalam mimpi itu, ibunya kembali mengelus kepala Leon dan meninggalkan Leon yang sedang duduk, saat ia ingin ikut, kedua kakinya tidak bisa digerakkan dan mulutnya tidak bisa berbicara. Ia berontak sekuat tenaga berusaha memangil ibunya.
Dengan kekuatannya, ia berusaha, seperti sebuah mistis, ternyata mimpi itu yang menyelamatkan hidupnya, peluruh yang menembus pinggangnya yang terhimpit diantara rongga tulang rusuk keluar.
Tadinya dokter mempunyai dua cara untuk mengeluarkan peluru dari tubuhnya, menariknya dengan menggunakan penjepit dan cara kedua memotong tulang rusuknya.
Memotong tulang rusuk sebuah operasi besar, dan sangat berbahaya karena Leon sudah membuang banyak darah.
Dokter mencoba lagi cara yang pertama menarik peluruh itu menggunakan penjepit, saat itulah keajaiban mimpi terjadi dan mungkin cara sang ibu menyelamatkan hidup putranya, saat ia menggunakan kekuatannya ingin berteriak memangil ibunya, peluru yang terbenam di antara tulang muncul saat ia memaksa ingin berteriak, wajahnya mengeras, sekuat tenaganya ia gunakan untuk bisa membuka mulut.
“Ah … luar biasa, pelurunya ia keluarkan sendiri,” ucap sang dokter saat peluruh itu muncul ke permukaan.
“Dia seperti punya sembilan nyawa,” ucap dokter Billy, menatap Leon dengan takjub, ia dokter pribadi Leon yang selalu merawatnya saat ia terluka.
Mungkin ini sudah ke sekian kalinya Leon terkena peluru, dan untuk kesekian kalinya juga Leon hampir mati.
‘Bahkan Rikko menyebut bosnya manusia sembilan nyawa.
__ADS_1
Seolah-olah para malaikat pencabut nyawa takut padanya, takut kalau roh mereka yang balik di cabut, Karena Leon sendiri mendapat julukan malaikat maut, karena ia juga merangkap sebagai pembunuh bayaran. Atau mungkin kematian seakan-akan engan menghampirinya.
Leon sadar, setelah ia bermimpi bertemu sang ibu dan peluruh di tubuhnya sudah berhasil dikeluarkan, dan luka di pinggang sudah dijahit dan di tutup dengan perban luka beberapa lama kemudian ia membuka matanya.
'Bagaimana dia?' tanya Leon dalam hati, ia ingin duduk.
Sementara di sampingnya, wanita cantik yang melukainya masih terbujur belum sadar, luka di lehernya lumayan parah, itulah yang mengakibatkan ia kehilangan banyak darah.
Dokter berjuang keras menyambungkan saraf yang terputus. Untungnya pecahan kaca itu tidak merobek saraf utama di lehernya, kalau Jovita sampai melukai saraf utama di lehernya, sudah bisa dipastikan saat itu Jovita sudah jadi almarhum.
“Jangan khawatir ia hanya pingsan, masih hidup kok,” ujar dokter pribadi Leon, lelaki bertubuh gemuk itu tahu apa yang dipikirkan Leon.
“Bagaimana lukanya?”
“Lumayan parah, memutuskan beberapa jaringan, namun tidak fatal, dokter lagi menyambung jaringan itu kembali”
“Tapi kenapa lama?” Tanya Leon khawatir.
“Sarat yang putus itu tipis …. Bos, bisa bayangkan bagaimana menyambungkan ujung benang saat putus?”
Leon menarik napas panjang.
“Tidak semua orang itu sekuat kamu Bos, seandainya itu anak buahmu, saya yakin dia belum sadar seperti kamu saat ini,” ujar dokter pada Leon.
*
Jovita membutuhkan pendonor darah, karena ia kehilangan banyak darah .
“Ambil saja darahku, golongan darahku sama dengannya,” ucap Leon dengan yakin.
“Itu tidak bisa Bos, kamu saja terluka dan kehilangan banyak darah. Jika kamu menyumbangkan untuk wanita itu, sama halnya kamu bunuh diri”
Tetapi tiba-tiba pintu terbuka, seorang suster datang bersama Toni.
“Ini, Dok golongan darah mereka sama,” ujar suster.
Bagaimana tidak panas lagi kolor Bos Naga, eh … hatinya.
Tatapan matanya menajam menatap ke arah Toni, lagi-lagi anak buahnya membuat hatinya bagai air mendidih.
“Siapa ?” Tanya dokter bertubuh tambun itu padanya, dokter pribadi Leon sudah bekerja hampir sepuluh tahun untuknya. Jadi ia tahu banyak tentang Leon.
__ADS_1
“Hanya wanitaku,” ucap Leon.
Ia juga tahu kalau Leon memelihara wanita-wanita cantik di istananya, untuk memuaskan hasratnya, tetapi ia tidak pernah melihat Leon khawatir sedemikian rupa pada wanita-wanitanya, bahkan ia juga tahu Leon tidak akan sungkan- sungkan menghabisi wanita itu, jika ada yang berkhianat.
“Oh betapa beruntungnya wanita mu yang satu ini, sampai Bos-nya ingin mengorbankan nyawanya untuk dia,” ucap dokter, tetapi alisnya terangkat sebelah.
Ia tahu Leon tidak berkata jujur, namun, tatapan matanya yang menatap Jovita dengan sangat khawatir cukup menjawab pertanyaannya.
“Cinta tidak hanya semata sebuah ungkapan, tetapi ada kalanya mengutarakan lewat perbuatan dan tindakan,” ucap sang dokter.
“Berhentilah ...? membahas tentang cinta padaku dokter, aku tidak punya cinta, aku tidak tahu bagaimana mencintai dan bagaimana dicintai. Cinta yang pernah aku terima hanya dari mereka yang sudah mati ... dari ibuku dan kakakku,” ucap Leon datar.
Melihat wajah sedih Leon, Billy merasa kasihan, ia hanya menarik napas.
Leon terlihat begitu terluka, kesepian dan hampa. Ia tidak bisa mencintai, karena ia sendiri tidak pernah menerima cinta.
Dokter Billy tidak ingin membahas hal pribadi lagi dengan Leon, ia tahu Leon bukan tipe lelaki yang melankolis. Seperti lelaki lain yang mau berbagi cerita dengan teman atau kerabat, Leon akan menyimpan semua dalam hatinya.
“Bantu aku duduk, aku ingin keluar... Ruangan ini membuatku tidak bisa bernapas,” ujar Leon.
“Eh, belum Bos, kondisi belum-”
Belum juga dokter menuntaskan kalimatnya, tetapi Leon sudah menarik jarum infus di lengannya dan ia duduk.
“Ok baiklah …. Demi Tuhan, kamu tidak akan pernah mendengar ucapan ku,” ucap dokter itu membuang napas kasar dari mulutnya, lalu ia menarik kursi roda.
Leon duduk dan dibantu seorang perawat, membawanya keluar dari kamar Jovita, ada Toni di sana membuat hatinya semakin panas, apa lagi ia berpikir semua yang terjadi di sebabkan Toni.
Saat keluar dari ruangan Jovita, Rikko mengambil alih, ia mendorong kursi roda itu menuju sebuah ruangan rawat inap. Sebuah ruangan VVIP yang akan ia huni bersama Jovita selama mendapat perawatan medis nantinya.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)