
Beberapa hari kemudian Leon dan Hara datang lagi bertamu menemui Piter dan Vikky. Leon menyerahkan sebuah map.
“Apa ini?” tanya Piter menatap map berwarna coklat yang di berikan Leon.
Ia membuka dan membacanya, tapi raut wajahnya datar, ia bukan tipe lelaki yang suka menerima hadiah pemberian orang lain, apa lagi sebuah sogokan.
Leon membeli kembali perusahaan milik keluarga Hara, mengembalikan namanya dan membersihkan nama perusahaan milik Ayah Hara juga.
“Maaf, Pak Piter saya bukanya ingin sombong dan ingin pamer karena bisa memberikan segalanya dengan uang yang aku punya, namun, Hara ingin perusahaan yang di bangun Ayahnya tetap ada dan ingin diteruskan,” ucap Leon mencoba menjelaskan agar Piter dan Vikki tidak salah paham dengan apa yang di berikan Leon untuk keluarga Hara.
“Tapi kami sudah membangun perusahaan yang baru dengan bidang yang sama , walau tidak sesukses seperti milik Ayahmu, Hara,” ucap Vikky paman kandung Hara.
“Paman, begini … Hara, ingin meneruskan dan menyelesaikan pekerjaan yang pernah aku mulai dengan ayah,” ucap Hara.
“Maksudnya, apa kamu ingin meneruskan pekerjaan Ayahmu?” tanya Vikki antusias, dalam perusahaannya mereka belum bisa mendapatkan seorang drafter jago seperti Hara. Saat Piter memberikan untuk Piter kelola Vikky membuat perusahaan yang dibangun ayah Hara bangkrut dan terlilit utang .
Ternyata malam itu Leon memikirkannya dan meminta pengacaranya mengurus kembali melunasi hutang perusaan Hara dan memulihkan namanya kembali.
“Hara yang lulusan dari sekolah arsitek, dia banyak pengalaman dari membuat gambar bangunan dan menghitung, dari pada dia jadi artis mending jadi mengurus perusahaan ayahnya,” ujar Leon. “Hara sudah banyak pengalaman, karena sejak dia kuliah, Hara sudah di ajak Ayahnya untuk bekerja di kantornya, kan. Jadi perusahaan yang di bangun keluarga Hara akan tetap berjalan,” ujar Leon lagi.
“Iya, aku ingin kembali mengerjakan pekerjaan ayah yang tertunda, tetapi aku ingin menyelesaikan kontrakku di model sama bintang iklan dulu Om,"ucap Hara.
Namun Leon menatap Hara dengan tatapan protes.
“Tunggu, tunggu kita belum membahas, kalau kamu ingin kembali jadi artis, kan,” protes Leon dengan tatapan tegas.
Ternyata Leon tidak ingin Hara bekerja sebagai artis lagi.
“Sayang, begini-“
“Hara nanti saja kita bahas tentang yang ini di rumah,” ujar Leon.
__ADS_1
“Dengarkan aku dulu, aku hanya meneruskan kontrak kerja yang aku sudah tanda tangani, aku tidak ingin ada masalah nantinya ke depan,” ujar Hara.
Tiba-tiba raut wajahnya dingin, tidak bersahabat ditunjukan Leon saat Hara memaksa untuk melanjutkan karier artisnya.
Namun ia menahan diri agar tidak marah, dan tidak terbawa emosi di hadapan keluarga Hara.
Melihat wajah serius dan sikap memohon dari Hara, Piter mau menerima pemberian Leon, ia berjanji akan mengurus perusahaan itu kembali.
Leon tiba-tiba jadi pendiam saat Hara mengungkapkan keinginannya untuk meneruskan karier artisnya, dan sekaligus meneruskan proyek sang ayah.
Pembangunan sebuah Hotel di daerah Kalimantan, tanah yang akan di bangun itu saat ini jadi sengketa sudah bertahun –tahun lamanya, karena pihak owner menuntut pihak pengembang mengganti rugi yang nilai tuntutannya nilainya selangit, namun pihak pengembang melimpahkan kesalahannya pada pihak ketiga yaitu bagian yang mengerjakan yang tak lain perusahaan Ayahnya Hara, yang terseret di tuntut dan dicap sebagai penipu, walau pada akhirnya Bokoy mengakui semua kalau itu kesalahannya.
Namun, kembali ke masa lalu yang pahit itu membuat Leon tidak ingin Hara maupun dirinya terlibat masa lalu lagi. Makanya Leon tidak suka Hara melanjutkan proyek lama tersebut.
Leon tidak ingin mengungkit masa lalu, bagi seorang Leon, masa lalu yang pahit itu, biarlah jadi kenangan di masa lalu, baginya Bokoy dua mata sisi dalam hidupnya, memberinya kehidupan dan sekaligus memberinya racun, Bokoy juga tak terpisahkan dalam hidupnya, karena harta melimpah milik Bokoy di wariskan pada Leon yang tercatat sebagai anak dari Bokoy, walau akhirnya Leon menyumbangkan hampir setengah harta Bokoy pada yayasan sosial.
Namun harta milik Bokoy tidak akan habis tujuh turunan dan semua itu saat ini tercatat di berbagai bank adalah milik Leon, karena hal itu jugalah Leon banyak musuh baik Bunox, bahkan tiga belas mantan pengacara Bokoy tidak suka dengan Leon, karena Bokoy tidak memberikan sedikitpun hartanya pada anak buahnya maupun pengacaranya.
Leon selama ini tidak pernah menikmatinya, karena ia juga punya ladang penghasilan walau tidak sekaya Bokoy. Namun, harta Leon berasal dari kerja keras dan usahanya sendiri.
*
“Kok jadi diam,” ucap Hara saat Leon tiba-tiba berubah jadi diam.
“Aku tidak ingin mengungkit masa lalu dalam hidupku, karena masa lalu yang aku jalani akan mengingatkanku atas kesalahan-kesalahan yang aku lakukan saat itu, Hara” ucap Leon.
“Tapi tidak ada masa depan, kalau tidak ada masa lalu, Leon”
“Aku tahu. Namun, kamu tahu aku sangat membenci masa laluku Hara, masa laluku buruk dan sangat … ah sudahlah, aku hanya tidak ingin membahasnya,” ucap Leon terlihat sangat sedih.
Suasana di ruang tamu Hara, tiba-tiba hening, tidak ada yang berani membuka mulut, keluarga Hara juga diam saat Leon dan Hara saling berlainan pendapat.
__ADS_1
“Baiklah, tidak usah diteruskan,” ucap Hara akhirnya mengalah.
“Tapi om, Leon juga sudah membeli rumah ini dan rumah di samping kita, aku tidak ingin kita berpindah-pindah rumah lagi, aku suka di sini, maka itu Leon membelinya,” ucap Hara.
Tadinya Piter dan Vikki tidak ingin menerima, karena tidak ingin di dicap menikmati kekayaan Leon, Piter tidak ingin, karena Hara mempunyai suami kaya dan mereka ikutan menikmati kekayaanya, tadinya ingin menolak semua yang diberikan Leon untuk mereka, Namun, melihat wajah Hara yang terlihat kecewa karena Leon menolak meneruskan proyek Ayahnya, baik Leon, ia juga terlihat diam karena merasa Hara tidak meminta izin padanya, tetapi sudah memutuskan segala di depan kelurganya.
“Baiklah, terimakasih Hara atas semua yang kalian berikan” Ucap Bi Ina.
“Iya Bi, terimakasih sudah menjaga Hara selama ini doakan Hara tetap sehat,” ucap Hara memeluk tubuh wanita itu.
“Tapi sebelum pulang ke rumah Leon saya ingin ke makam Ibu dan Ayah,” ucap Hara. “Kamu mau kan?” tanya Hara menatap Leon yang masih terlihat masih diam.
“Iya, ayo,” ucap Leon, ia mengulas senyum, walau masih terlihat marah, tetapi ia mencoba menahan diri. Leon Tidak menyetir sendiri, ada Bram dan Ken yang selalu mengawal belakangan ini.
Hilda tidak ikut ia pamit ingin bekerja, karena di hotel ada acara besar yang tidak bisa ia tinggalkan, jadilah mereka membawa dua mobil menuju pemakaman, di Daerah Bogor, karena kedua orang tua Hara dimakamkan di sana, Leon dalam mobil Berempat dengan Hara, sedangkan dalam mobil Piter ada empat orang, Vikky, Piter, Bi Erna dan suaminya.
Dalam mobil Leon, hanya suara mesin mobil yang terdengar menderu halus, melihat Leon marah, Hara memilih diam,
“Kamu kecewa denganku?” tanya Leon meraih tangan Hara menggenggamnya dengan erat.
“Tidak juga, mungkin aku yang salah” ucap Hara.
“Maaf sayang, kalau aku belum bisa memaafkan masa laluku,” ucap Leon, wajahnya terlihat sangat sedih.
“Baiklah mari kita lupakan,” ucap Hara.
Tapi, ia tidak banyak bicara, suasana mobil itu kembali hening, Leon merasa bersalah dan tidak ingin Hara marah. Tetapi keinginan mereka berdua saat ini bertentangan. Hara ingin menyelesaikan kontrak kerjanya sebagi model, di satu sisi Leon tidak ingin Hara kembali pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan masa lalu.
Kini rintangan kecil mulai hadapi. Apakah Leon yang mengalah apa Hara yang akan mengalah?’
Bersambung ….
__ADS_1