
Setelah melihat rekaman itu dan berpikir keras, akhirnya ia membuat keputusan.
“Aku harus melakukan sesuatu, itu tidak boleh terjadi.” Hara bangun dari ranjang, masuk ke kamar mandi hanya menggosok gigi dam membasuh wajahnya , tidak ada niat untuk mandi, ia buru-buru.
Hara menggerak-gerakkan bibirnya menarik ke sisi kanan dan sisi kiri menggunakan dua jarinya, ia hanya melatih bibir itu tidak kaku saat ia turun nanti untuk bertemu anak-anaknya.
Hara tidak mau ibu mertuanya melihatnya sedih, apalagi kedua anak kembar itu, mereka paling tidak bisa melihat ibu mereka bersedih. Chelia akan bertanya A sampai Z menginterogasinya sampai menemukan jawaban alasan ia bersedih.
Untuk memulai suatu rencana Hara berpikir sebaiknya, ia mengisi lambungnya dengan makanan agar ia punya tenaga untuk melakukan sesuatu, ia tidak mau pingsan nantinya sebelum melakukan rencana besar yang ia pikirkan.
Saat Hara bergegas ke ruangan makan, rumah terasa sepi karena kedua anak kembar itu sudah berangkat sekolah. Hara dan Leon sudah memasukkan mereka sekolah batita. Sekolah paud bertarap internasional . Okan dan Chelia mendapat pendidikan bahasa asing di sana, Hara berpikir akan lebih mudah nanti otak mereka memahami, saat dididik dari dini.
Hara mendudukkan panggulnya di meja makan, karena masih pagi, aneka makanan masih tersaji di meja makan, ia menyendok nasih goreng ke dalam piringnya dan memasukkan tangannya ke dalam toples kaca mengambil kerupuk, ia terlihat diam tanpa ekspresi.
“Non, apa saya buatkan lemon hangat?” sorang asisten rumah tangga menghampirinya.
“Boleh Mbak, ibu kemana?”
“Oh tadi Okan merengek minta ibu ikut ke sekolahnya.”
“Oh, baiklah.”
‘Tidak ada mereka saat ini, mungkin itu lebih baik, karena aku juga lagi tidak ingin bicara saat ini, mungkin kalau ibu dan anak-anak saat ini ada, mereka akan mencerca ku dengan banyak pertanyaan’ ucap Hara dalam hatinya , ia memaksa nasi goreng itu untuk masuk ke lambungnya, ia berpikir harus kuat, karena niatnya hari ini ia akan menemui Kaila di rumah sakit. Ia sudah mendapatkannya dari Hilda.
Ia buru-buru , takut anak-anaknya pulang dari sekolah, karena tidak bawa ponsel Hara menggunakan telepon rumah menghubungi Leon, ia tidak mau lelaki itu mengkhawatirkannya.
“Halo Hara, kamu dari mana?” tanya Leon di ujung telepon suaranya datar, tetapi ada kekhawatiran dalam nada suaranya.
“Aku ketiduran di kamar tadi malam, oh aku meninggalkan ponselku di situ, iya, tolong disimpan iya. Nanti aku datang ke sana.”
“Iya, tapi tidak usah datang ke sini, nanti Bimo yang aku suruh mengantar ke rumah,” ujar Leon di ujung telepon.
Hara menarik napas panjang, mendengar penolakan dirinya lagi dan mendengar suara Leon. Tiba-tiba ia merasa guncangan aneh dalam dadanya, bayangan dalam isi rekaman itu membuat Hara tiba-tiba merasa sangat kasihan pada Leon, menginginkannya bagaimana Kaila melakukannya.
‘Kasihan Leon, ia pasti merasa sangat malu’ Hara membatin.
ia berusaha melupakan isi rekaman itu, semakin terngiang-ngiang di otaknya bagaimana Kaila melakukannya di atas tubuh suaminya, harinya sangat sakit bagaimana Kaila masih sempat-sempatnya menikmati bibir suaminya.
__ADS_1
“Aku yakin Leon akan sangat terluka saat melihat rekaman itu, lebih baik aku hapus,” ujar Hara.
Suasana hening, Hara diam, sibuk dalam pikirannya sendiri, “Hara, apa kamu masih di sana? jangan marah, aku hanya butuh ketenangan,” ucap Leon.
“Baiklah … sayang, aku tidak akan datang."
Leon meletakkan lengannya di keningnya, ia tidak ingin mendengar Hara sedih, tetapi ia juga merasa pusing bagaimana caranya, ia menyimpan rahasia itu dari Hara dan keluarganya, ia takut jika kebenaran itu bocor pada Hara dan keluarganya, ia takut semuanya akan berubah dan takut Hara meninggalkannya.
“Hara, maafkan aku … maaf,” ucap Leon menutup matanya dengan satu lengannya.
Setelah menelepon Leon, Hara juga menelepon Bu Atin, ia tidak ingin wanita itu juga mengkhawatirkannya .
“Bu, aku di rumah.”
“Nak, kamu dari mana saja? Leon mencari mu dari kemarin, aku ketiduran di kamar setelah pulang menjenguk Leon Bu, oh iya bu, aku mau menemui dokter dulu, perutku masuk angin.”
“Ka-kamu mau pergi sama siapa?”
“Tidak apa-apa Bu, aku naik taxi saja.”
“Jangan pergi sendirian Nak, bawa saja supir dan seorang penjaga.”
“Tidak usah Bu, aku pergi dulu.”
Hara bergegas menuju gerbang. Namun, saat ia tidak di depan gerbang, dua orang pengawal mencegahnya, “Maaf Bu, mau kemana?”
“Saya hanya ke dokter sebentar, tidak usah ikut.”
“Maaf Bu, ini sudah prosedur dari Pak Leon sendiri, setiap kali Ibu keluar, kami harus mengawal.”
‘Kalau seorang dari mereka ikut, akan ketahuan aku pergi ke rumah sakit, ini tidak boleh, aku harus mencari cara’
“Oh, baiklah, aku telepon Pak Leon dulu.” Hara masuk lagi ke rumah, ia tidak boleh keluar, tanpa mereka, saat dalam rumah ia baru ingat ada jalan rahasia, Leon pernah membawanya keluar dari pintu khusus.
Dengan cara mengendap-endap seperti pencuri, Hara berjalan ke belakang tepatnya di ruang ritual persembahan. Hara masuk untuk pertama kalinya sendirian ke ruangan sembahyang itu .
Kalau biasanya hanya Leon dan bu Atin dan Bimo yang rutin melakukan ibadah atau melakukan ritual sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut. Namun kali ini, Hara memasuki ruangan gelap yang terasa mistis itu, ia merasa seperti diawasi patung kayu di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Hara tidak ingin pintu rahasia itu diketahui anak buah Leon. Hara bersembunyi di bawah meja, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, setelah lima menit merasa aman barulah ia keluar.
Hara berjalan dan akhirnya tiba di jalan raya, Hara menghentikan taxi dengan sikap buru-buru sebelum anak buah Leon menemukannya.
Hara merasa kesulitan karena tidak memiliki ponsel, jadi meminta supir taxi mengantarnya ke toko jual ponsel di pinggir jalan. Saat tiba Hara tidak perlu tawar menawar karena ia buru-buru, lalu ia turun dan menunjuk satu pajangan dalam kaca etalase, ponsel pintar keluaran terbaru.
Langsung membayarnya mengunakan kartu, tidak sampai sepuluh menit melakukan transaksi, ia pergi dengan buru-buru sampai-sampai pemilik toko itu dibuatnya bengong.
Kalau biasanya calon pembelinya melihat-lihat dulu, tawar sampai ke akar-akarnya, setelah dilayani sampai capek ujung-ujungnya tidak jadi, hal itu sudah biasa terjadi.
Namun kali ini, lelaki bermata cipit kedatangan pelanggan sultan. Transaksi bernominal delapan digit itu tida sampai menghabiskan waktu tidak sampai sepuluh menit.
“Tidak usah dibungkus, berikan saja saya satu kartu nomor.”
“Apa ibu mau minum sesuatu?”
“Tidak usah.”
“Ini bu totalnya sepuluh ju-“
“Baik terimakasih” Hara memegang ponsel dan satu kartu perdana di tangannya, tanpa dibungkus tanpa bon dan meninggalkan toko kecil di pinggir jalan itu lalau Hara masuk ke dalam taxi.
“Gila … seperti beli gorengan saja,” ucap lelaki itu masih menatap Hara masuk ke dalam taxi.
“Jalan Pak.” pinta Hara.
Dalam taxi Hara sibuk membongkar kardus ponsel memasang kartu dan mendatarkan nomor baru. Melihat catatan kecil yang di bawa.
Lalu Hara menekan nomor dr,Shena dokter muda yang merawatnya selama ia sakit.
[Datang saja bu ke rumah sakit, saya tidak sibuk.] dokter muda itu membalas pesan chating Hara.
Melihat alamat rumah sakit dr, Shena jantungnya semakin berdetak cepat, karena Kaila di rawat di rumah sakit yang sama dengan tempat dokter tersebut.
Apa yang dilakukan Hara pada Kaila, kenapa ia menemui dokter?
Bersambung ….
__ADS_1