Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku tidak ingin dia


__ADS_3

Jovita berpikir Leon belum tahu kehamilannya dan ia juga tidak perduli pada dirinya dan kesehatannya, bahkan tidak perduli dengan bayi yang di kandung


Ia hanya ingin Booy masuk penjara, ia hanya ingin memulihkan nama kedua orang tuanya, saat melihat lelaki itu dalam satu wawancara  di acara televisi.


Ia sangat marah, saat Bokoy lagi-lagi menyebut  orang tuanya sebagai penipu, lelaki bangkotan itu sengaja membuat hati Hara semakin panas dan itu berhasil. Jovita marah besar.


“Ayahku orang baik bajingan! Apa kamu mengerti itu! Kenapa kamu sangat membenci ayahku?” Teriak Hara.


Untung Leon masih dada di dalam kamar itu.


“Hara tolong, kalau teriak-teriak marah seperti itu, kasihan dia,” ujar Leon menatap arah perut Hara.


Seketika mata wanita itu melotot marah pada Leon.


“Apa kamu sudah mengetahuinya. Namun pura-pura tidak tahu? Dan kamu sudah tahu aku  masih mengandung anakmu . Tetapi tadi malam kamu masih  marah-marah padaku … !?”


“Hara dengar aku-”


“Hentikan jangan sentuh aku!” Jovita mundur.


“Hara dengarkan aku dulu”


“Kalian semua pembohong. Aku tidak  menginginkan  bayi ini!”


“Hara Tolong jangan  bicara seperti itu dia tidak salah”


“Aku tidak peduli dia Pak Leon! Aku hanya ingin  membalas pembunuh orang tuaku!” Teriak Hara marah,  ini kemarahan terbesar dari Hara sejak Leon mengenalnya.


Tangan Leon  kembali menariknya dengan paksa,  membawanya kedadanya


“Aku ingin jadi seorang  ayah, aku ingin merasakan lagi  mencintai dan cintai , cinta yang  pernah aku rasakan dari  kedua orang tuaku, waktu aku masih kecil, cinta yang sudah lama aku nantikan. Nona Hara …. maukah kamu memberikannya?  Tolong berikan aku kesempatan, kalau kamu marah, benci, dendam padaku, lakukanlah padaku, tapi biarkan dia tetap hidup,” ucap Leon menyingkirkan bulir-bulir air yang mengalir dari sudut matanya akhirnya mereka berdua sama-sama menangis.


“Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan itu,  aku ingin melakukan banyak hal dalam hidupku, aku tidak ingin terhalang,” balas Jovita.


“Aku akan membantumu melakukan apapun itu,” balas Leon memohon.


“Aku tidak akan tenang, sebelum lelaki tua itu masuk penjara, jika hukum tidak bisa menangkapnya, aku yang menghabisinya,” ucap Jovita melepaskan pelukan Leon.


Jantung Leon tiba-tiba berdetup kencang, saat mendengar  hal itu  dari Jovita, hal yang  yang menakutkan akhirnya keluar dari mulut Jovita, ia tahu Bykoy tidak akan pernah bisa di jamah hukum.

__ADS_1


Karena hukum di Negara ini masih  milik yang punya uang, ia tahu lelaki tua itu akan membeli  penegak hukum dari atas sampai kebawah, ia  manusia yang kebal hukum, ia  rela akan membayar berapapun untuk melakukan apapun yang ia mau termasuk menghabisi orang  mencoba mengusiknya.


“Jangan lakukan itu, biarkan aku yang melakukanya,” ujar Leon menatap Jovita.


“Kamu tidak akan mampu melakukanya, karena kamu sudah bersumpah padanya”


“Dari mana kamu tahu?”


“Berkas yang kami temukan membahas semuanya, termasuk janjimu yang akan melindunginya sampai akhir, lelaki sejati akan selalu menepati janjinya, itulah yang membuatmu ragu melawan dengan senjata bukan? Aku mengerti posisi Pak Leon”


“Aku akan menarik janji dan sumpahku, aku melakukan itu  karena aku pikir ia lelaki yang melindungiku, ternyata ia orang yang menghancurkan hidupku”


“Terserah apa katamu, tapi aku akan melakukanya sendiri"


“Tolonglah, tidak bisakah kamu memahamiku sedikit,” ucap Leon memohon.


“Apa aku perlu bilang padamu, saat aku memohon agar jangan menyakitiku apa kamu mendengarku?” Jovita menatapnya  marah.


“Mari kita lupakan masa lalu, Hara … demi dia”


“Ha … !? apa aku tidak salah mendengar hal itu keluar dari mulutmu? terus siapa orang menghabiskan seumur hidupnya yang menyimpan dendam dalam hatinya, aku belajar dari kamu!"


Leon  harus bisa menahan diri, kalau ia tidak mau kehilangan buah hatinya yang saat ini terancam keselamatannya, karena ibunya menolak kehadirannya.


“Dia, dia … apa pentingnya dia. Bagiku yang paling penting bagaimana menghukum lelaki bangkotan itu”


Leon menutup matanya, ia tidak tahan lagi, menahan diri hal yang sulit baginya. Ia mendudukkan panggulnya di salah satu kursi di di balkon, tangannya memijat kepalanya. Ia kehabisan tenaga dan kehabisan kata-kata menghadapi Jovita yang saat ini lagi marah.


‘Mampukan aku untuk bertahan, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang tadi malam lagi. Sungguh aku tidak ingin kehilangan mereka berdua’ Leon memohon dalam hatinya. Ini ujian terberat untuk Leon saat ini menahan emosi untuk menyelamatkan anak yang ada di rahim Hara.


Begitu juga dengan Hara, tiba-tiba  berdiri menegang, ia menarik napas pendek beberapa  kali dari mulutnya, pundaknya naik turun, wajahnya terlihat menahan rasa sakit, mengepal tangan degan kuat, ia tidak mau meringis kesakitan di depan Leon, saat marah, marah tiba-tiba ia merasakan perutnya sakit. Ia berkeringat dingin.


 Karena tiba-tiba diam, Leon menoleh kearahnya, wanita cantik itu,  berdiri diam bagai patung "


“Kamu tidak apa-apa?” Leon berdiri  dengan wajah panik.


“Aku tidak apa-apa, boleh kamu keluar dari kamar ini.” Suaranya terdengar aneh karena menahan rasa sakit.


“Apa ada yang  sakit?” mata Leon menatap dengan khawatir,

__ADS_1


“Auu …. perutku sakit,” pada akhirnya rasa sakitnya itu,  tidak tertahan lagi, Hara merunduk memegang perut.


Mata Leon melotot panik menggendong Jovita ke ranjang.


”A-apa apa yang terjadi?” tanya Leon panik, memegang perut Hara.


“Jangan, jangan please,” gumam Leon panik, melihat jovita memegangi perut tubuh Lelaki itu ikut bergetar ketakutan. Tangannya yang gemetar menelepon Bu Atin.


“Bi ke kamar Nona Hara cepat!”


“Rikko  panggilkan Dokter,” pintanya  menelepon Rikko.


“Baik Bibi ke sana,” sahut wanita itu panik,  mendengar  Leon pani ia sudah  berpikir ada hal buruk pada kandungan  Hara.


Tanpa pikir panjang ia berlari menuju ke kamar Hara kamar yang terletak di lantai dua di sebelah kamar Leon.


“Ada apa?” Tanya Bi Atin dengan wajah sangat takut saat ia melihat wajah Leon ketakutan dan wajah Hara sangat pucat.


“Aku tidak tahu  Bi, ia tiba-tiba meringis kesakitan,”


“Non Hara  apa yang kamu rasakan?” Tanya Wanita paru baya itu menatap Jovita dengan panik juga.


“Hanya  merasa kram Bi, berbaring sebentar sudah mendingan, mungkin karena aku berdiri lama, sudah tidak apa-apa.” Hara ingin bangun.


“Berbaringlah tunggu dokter datang,” ujar Leon dan Bu Atin mereka berdua jauh lebih khawatir.


Bersambug


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2