
Dua hari sudah berlalu, sejak Leon lolos dari jebakan Bokoy, kini gantian, lelaki tua itu mulai merasa resah. Ia memerintahkan anak buahnya mengawasi rumah Leon, karena ia dihantui mimpi buruk, dalam mimpinya, Leon menjadikan tubuhnya jadi makanan buaya peliharaannya sendiri.
Bokoy bangun dengan tubuh bermandikan keringat, melampiaskan kemarahannya pada dua orang yang ia suruh mengawasi Leon.
"Bagaimana, apa kalian menemukan, Naga?"
"Belum Bos"
"Keparat! Jangan harap kalian bisa hidup jika belum menemukan, Naga"
Bokoy mulai marah-marah pada anak buahnya. Ia takut Leon akan datang mencarinya, itu sudah pasti, hanya menunggu hari yang tepat untuk kematiannya. Leon akan datang sebagai malaikat kematian untuk Bokoy.
“Aku butuh penjagaan yang lebih ketat lagi, tambahkan dua kali lipat penjagaan untuk saya,” ucap Bokoy.
“Baik Bos." Lelaki berkulit hitam saat ini yang jadi pengawalnya.
Bokoy semakin takut, saat sebuah berita lokal membahas tentang kejadian naas di rumah Leon yang menyebut kalau kebakaran yang menyebabkan ledakan itu, disebabkan seseorang yang membenci Leon dan masih dalam tahap penyelidikan polisi.
Ia juga belum melihat Leon sampai hari itu, wajah Bokoy semakin menegang, ia berpikir bagaimana cara melarikan diri dari kejaran Leon.
**
Di tempat lain.
Leon masih tertidur tidak berdaya, ini sudah dua hari ia terpuruk, tanpa melakukan apa-apa, kepergian orang-orang terdekatnya untuk kedua kalinya dengan cara yang tragis, membuatnya seakan- akan kehilangan semangat hidup.
Leon, tidak mampu berpikir dan tidak tahu harus memulai dari mana, karena rencana yang ia susun selama ini, mendadak berantakan, ia bagai kehilangan kedua kaki dan tangganya sejak Iwan dan Rikko meninggal.
'Aku tidak boleh seperti ini terus' Leon membatin.
Hari ketiga ia bangun, walau tubuhnya tidak berdaya hanya ke kamar mandi dan kembali tidur lagi, tapi saat ia melihat foto Iwan dan Rikko, tiba-tiba ia bangun, berpikir harus bangkit dan kuat.
Ia hanya meminum air putih untuk membuatnya tetap hidup, tidak ingin berlama -lama terpuruk, akhirnya berjalan ke dapur dalam lemari masih ada mie instan.
Leon menyalakan kompor dan merebusnya mienya, akhirnya ia bisa bangun juga, walau masih pucat, beberapa hari ini Leon menghukum dirinya sendiri, berhari-hari, merasakan kelaparan, ingin merasakan hal yang sama seperti yang pernah Hara rasakan.
“Maaf Hara, karena kamu pernah merasakan penderitaan itu," ujar Leon.
__ADS_1
"Baik kakek tua, aku akan membuat perhitungan denganmu," ujar Leon menghentakkan giginya.
Ia kembali lagi seperti Leon yang dulu, haus akan nyawa orang, haus akan bau cairan merah itu. ia ingin sekali menghisap darah Bokoy.
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya ia bangkit dari keterpurukan. Ia mulai berani menyalahkan televisi , tidak ada lagi berita yang membahas tentang kejadian yang naas di rumahnya.
Leon mengusap layar ponselnya mencoba membaca internet , ingin tahu berita tentang kebakaran. Akhirnya di rilis juga juga, jumlahkan, korban meninggal dalam rumah Leon.
“Hara, aku akan memberinya pelajaran, percaya ucap Leon mencoba menguatkan hatinya.
**
Leon memulai rencananya, membuat satu berita baru, kalau korban dalam penembakan di rumah Leon, ia ikut tertembak berkat bantuan dokter Billy rencana berhasil.
Maka dalam situs berita terbaru. Leon di nyatakan ikut korban penembakan di rumahnya, penyelidikan yang dilakukan lanjut polisi.
Sedangkan rumah Leon yang di Jakarta, Leon menyerahkan pada Billy dan sekretarisnya, memutuskan rumah itu untuk di jual, karena ia berpikir tidak akan sanggup untuk kembali kesana, karena banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan di rumah itu, kenangan yang seumur hidup tidak mungkin ia lupakan, di rumah mewah itu, ia pernah hampir menjadi seorang ayah, di rumah itu juga ia pernah merasakan jatuh cinta pada Hara di sana.
Billy menjual rumah Leon dan menyimpan barang-barang pribadi Leon, Billy dan Jeny membantunya untuk memindahkan barang-barang pribadi Leon kerumah Hara yang ia bangun lagi, rumah yang sempat di bakar Hara dulu.
Kabar yang menimpa keluarga Hara terdengar oleh pamannya, Vikki pulang ke Indonesia dan bertemu Leon tetapi ia tidak tahu kalau Hara dapat musibah
“Lupakan masalah masa lalu, berikan saja rumah itu dia tempati, kalau bisa biarkan Vikki yang meneruskan perusahaan yang di bangun Ayah Jovita," ujar Billy.
“Baiklah, lakukan saja, aku tidak perduli lagi,” ucap Leon tidak bersemangat.
“Aku yakin Jovita senang di alam sana, jika kamu membantu keluarganya”
“Sudah lakukan saja” Leon seakan tidak mau kalau Hara dibahas.
Leon merasa sangat bersalah, karena tidak bisa menjaga Jovita, tapi setidaknya ia melakukan satu hal yang baik, seperti keinginan Jovita, Ia beberapa kali mengungkapkan keinginannya, ia ingin Pamannya mendapat tempat tinggal Indonesia dan dapat pekerjaan di tanah air.
Leon akhirnya memberikan rumah itu pada Vikki, ia tidak menceritakan kejadian yang menimpa Hara selama ini
“Dimana dia? biarkan kami menemuinya” ucap Vikki, ia berharap bisa menemui keponakanya.
“Iya, sejak semalam aku sudah berpikir kita akan tinggal bersama di rumah ini, aku akan memasak enak-enak untuk kalian, bawa dia lagi kerumah ini," ujar Vikky.
__ADS_1
Billy menarik napas panjang, ia tidak tahu harus memulai dari mana, tapi ia juga tidak mungkin menyembunyikan kebenaranya itu selamanya, dalam hal ini dialah orang yang paling merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga Jovita.
Niatnya menyerahkan Jovita pada Leon mungkin satu kesalahan, mungkin kalau ia menuruti permintaan Jovita untuk menikahnya dengan Toni dan menyembunyikannya selamanya, mungkin ia masih ada sampai saat ini, tapi semuanya sudah terlambat dan waktu tidak akan bisa di putar kembali.
“Ada apa?” Vikki menatap dengan bingung.
“Aku minta maaf non Jovita tidak akan bisa ikut tinggal bersama kita lagi, seperti yang dulu-
dulu, ia sudah pergi, ia sudah meninggal,” ucap Billy dengan suara bergetar.
“Apa?” Vikky kaget.
“Maafkan aku Pak” ujar Billy.
Tiba-tiba tubuh Vikki ingin ambruk, ia tidak percaya keponakan yang ingin dia temui sudah tiada.
"Siapa yang melakukan? Apa yang terjadi sebenarnya? "
Billy menceritakan semua yang terjadi dan penyebab kebakaran.
' Aku yakin, Hara belum meninggal' Vikki membatin.
“Maafkan aku, aku akan membayar kesalahanku” ucap Leon.
“Bagaimana dengan lelaki itu, apa dia hidup?”
Tanya Vikki dengan marah.
“Pak Leon sama terpukulnya, sama seperti kita pak”
“Percayalah, aku dan ia akan memisahkan kepala dari badan Bokoy”ujar Piter.
“JIka kalian melakukanya, apa ia bisa hidup lagi? Tidak’kan? Jadi percuma” kata Vikki dengan kemarahan.
Vikki paman Hara yakin kalau Hara masih belum meninggal, mereka tinggal menunggu team forensik, memastikan data yang meninggal dalam kebakaran.
Leon berpura- pura meninggal, agar Bokoy kembali ke Indonesia, karena lelaki tua itu melarikan diri keluarga negeri.
__ADS_1
Bersambung.