Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Salah Masuk Kamar


__ADS_3


Hara menekuni pekerjaan barunya  sebagai penyanyi di hotel Leon, semua  mereka lakukan tanpa sepengetahuan Piter dan Vikki, karena kedua lelaki itu  bekerja keras memulai semuanya dari bawah lagi.


Saat itu kedua lelaki itu berada di Medan untuk mengawasi  sebuah proyek, saat itu Hara meminta bu Ina dan suaminya jangan memberitahukan kalau Hara  bekerja.


Bu Ina dan suaminya akan mengantar  Hara dan menemaninya, saat ia manggung. Hara begitu diterima dengan baik bekerja di hotel, diperlakukan baik sama semua pegawai hotel, bahkan sangat di sukai  para tamu hotel yang mendengarnya ia bernyanyi.


Bu Ina  masih sangat menjaga Hara, hanya memperbolehkan wanita cantik itu membawakan beberapa lagu.


Bu Atin tidak menginginkannya menghapal lirik lagu banyak- banyak, ia takut otak Hara cepat lelah. Kalau Hara bisa melihat dan bisa membaca lirik lagu yang akan ia nyanyikan, tidak mengapa banyak. Namun saat ini masalahnya Hara buta untuk menyanyikan lagu yang akan dinyanyikan akan ia hapal liriknya.


Hilda manager  hotel itu sangat baik, maka ia memberikan satu kamar gratis untuk Hara gunakan untuk bisa  istirahat sebelum manggung dan bisa ia gunakan kalau Bu Ina terlambat menjemputnya . Maka malam itu Hara sangat capek, ia ingin istirahat sembari menunggu jemputan Bi Ina  karena di luar hujan sangat deras malam itu. Diantar seorang petugas hotel sampai  depan kamar  Hara ingin istirahat.


                                 *


Leon sudah satu minggu lebih berada di  di Jepang, ia membuka cabang Restaurant di sana jadi penerimaan Jovita di Hotelnya, ia tidak tahu.


Malam ini mungkin akan malam yang akan sulit untuk Leon, terakhir Leon melihat Hara  saat manggung di depan rumahnya Tetapi malam ini mereka bertemu kembali.


Baru saja ia pulang dari Jepang, Leon tidak langsung pulang, ia menginap di Hotel miliknya. Hotelnya hari ini penuh, jadi, Leon  menempati kamar seadanya yang persis di samping kamar yang ditempati Jovita.


Ia merasa tubuhnya sangat lelah setelah perjalanan Jepang-Indonesia, melepaskan jasnya dan melemparkan diatas ranjang. Leon  ingin mandi sebelum tidur, ia membuka deretan kancing kemejanya dan melepaskan  kemejanya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, mata Leon melotot  tubuhnya menegang, ia diam bagai sebuah patung. Seorang wanita cantik datang membuatnya hampir  mati berdiri.


Bagaimana tidak? Seorang wanita cantik, berpakaian putih berdiri tepat di depannya. Mata Hara seolah-olah menatapnya dengan tersenyum.


'Apa yang terjadi, apa dia tersenyum padaku?'


Hara masuk wajahnya  berseri,  Leon masih mematung, ia berpikir ia sedang bermimpi.



 Jovita datang dengan pakaian yang cantik, gaun malam berwarna putih di bawah pakaiannya sangat sopan, Bi Atin selalu memilih pakaian tertutup untuknya, untuk menjauhkannya dari tatapan genit dari pria.


Hara memakai longdress berwarna putih  dengan rambut sengaja digerai tapi tidak menutupi kecantikannya,  bibirnya dipoles lipstik berwarna  merah.


Ia meraba dan menutup kembali pitu kamar lalu  berjalan menuju arahnya. Leon masih mematung menahan tidak terasa butiran air dari matanya menetes, ia menahan napas, saat Hara mendekat. Tetapi Hara tidak menemukannya, ia menuju ranjang duduk sebentar dengan tangan masih meraba-raba, ia mencari tas kecil miliknya, tetapi tidak menemukannya  di atas nakas, di sisi ranjang tangannya  terus meraba.


Untungnya Leon melemparkan jasnya tadi di tengah ranjang makanya Hara tidak menemukannya.

__ADS_1


“Mana tasku?” Tanya Hara pelan  masih terus mencari,  Leon masih mematung tidak bergerak melihat Hara satu kamar dengannya, jiwanya kembali tersiksa saat rindu dan benci menjadi satu yang terjadi hanya diam membatu.


Saat  Hara melangkah,  kakinya tersandung sofa hingga ia merintih kesakitan. “ Au … auh sakit! Kenapa di sini ada sofa? Perasaan kemarin tidak ada," ucapnya sambil mengusap kaki.


Leon masih mematung, ada rasa sesak di dada saat melihat Jovita kesakitan, putus asa tidak menemukan apa yang  di cari. Lelah mencari , tetapi tidak menemukan tas miliknya, Hara memutuskan  merebahkan tubuhnya di ranjang, bekerja dari pagi hingga malam membuatnya kelelahan.


“Aku sangat capek,” ujar Hara menguap beberapa kali.


“Kemana Tasku?” Menguap lagi, lalu tertidur.


‘Apa yang ia lakukan di sini? dia sama siapa. Kenapa dia sendirian?’ Leon masih tidak mau mau bergerak dari tempatnya berdiri.



melihat Hara tertidur karena kelelahan , Leon keluar dari kamar memakai jaket dan pergi ke kamar sebelah, tidak tahan melihat Hara menderita ia menangis sendirian, menempelkan kepalanya di dinding lalu menangis tanpa suara, Leon  menemui manager hotel


                         *


“Maaf  Pak Leon, apa dia menggangu?”


“Tidak, bu Hilda saya ingin bertanya kenapa wanita itu bisa masuk ke kamar saya,  dia kan buta dia sama siapa?”


“Apa yang kamu lakukan sudah benar ibu Hilda, biarkan sia tidur malam itu di kamar saya, besok pagi baru bangunkan, tapi hubungi orang tuanya kalau ia baik-baik saja, saya  punya tugas kecil untuk kamu, saya ingin tahu kenapa wanita itu bekerja disini, besok pagi tolong bawa keruangan saya  diatas,”pinta  Leon


“Baik pak.” Kata Hilda wanita cantik yang berhati baik yang bekerja sebagai manager di Hotel Leon.


Bu Ina lagi sakit maka itu yang mengantar Hara  bekerja di hotel pagi itu suaminya Pak Damar. Setelah ditelepon Hilda kalau Hara akan menginap di hotel, pak Damar tidak menjemput Hara malam itu, Hara tertidur pulas, bahkan ia melewatkan makan malam,  ada acara  yang meminta Hara mengisi acara  menyanyi di beberapa sesi.


 Hilda membangunkannya membawanya kembali ke kamarnya.


“Kamu salah kamar Mbak, untung tamu yang kamarnya kamu serobot orangnya  yang baik membiarkan kamu memakai kamarnya,” ucap Hilda.


“Oh benarkah.” Hara memeluk tubuhnya karena terkejut.


“Tenang dia tidak ngapa-ngapain Mbak kok,” ucap Hilda ramah


“Maafkan saya, maaf bu,” kata Jovita terus menundukkan kepalanya merasa bersalah dan sekaligus berterimakasih.


“Mari ikut saya, kita bicara di ruangan saya,” ujar Hilda membawa Hara ke ruangan Leon.

__ADS_1


Leon sudah duduk  di ruangannya, ia ingin mendengar  alasan Jovita bekerja di hotelnya.


“Disini duduk” Hilda menarik satu kursi untuknya. “Kamu belum serapan, kan, sekalian kita serapan disini, aku hanya ingin tanya-tanya sedikit,” ucap Hilda. Leon mengangguk, ia duduk diam tidak jauh dari mereka duduk.


Hara duduk, tetapi kali wajahnya  sudah kembali  ceria, sangat berbeda saat Leon pertama kali melihatnya di Kalimantan


“Ibu mau ngomong apa, aku harus cepat pulang, Hari ini kedua lelaki polisi lalu lintas di rumah kami, akan pulang,” ucap Hara  dengan mulut penuh salad buah.


“Makannya jangan buru-buru Mbak Hara nanti keselak, tapi siapa polisi lalu lintas di rumahnya?” tanya Hilda.


“Kedua Pamanku, kalau mereka tidak melihatku ada di rumah aku akan dipenjarakan nanti dalam rumah,” ujarnya dengan bibir tersenyum.


Wajah Leon   menegang , saat Hara tersenyum manis seperti itu dan Hara  kembali ceria.


Saat  Leon merasa menderita, karena merasa bersalah, tetapi Hara saat ini sudah mulai tersenyum ceria kembali.


‘Apa saat ini kamu sudah bisa melupakan semua? Baiklah Hara aku berharap kamu  melupakan semua penderitaan yang kamu lalui’ Leon membatin.


‘Melihat kamu bisa bangkit dan tersenyum kembali, itu mengurangi rasa bersalahku, baiklah itu artinya kamu sudah baik dan aku pun akan berusaha bangkit’ ujar Leon


Apa Leon  bisa menjamin hatinya akan tetap baik-baik saja? Saat melihat Hara sudah mulai tersenyum kembali?


Bersambung …


KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


__ADS_2