
Leon terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya terlihat pucat, Leon tidak suka masuk rumah sakit, apalagi dijenguk orang saat seperti ini ia membuatnya merasa lemah.
“Apa yang Pak Leon Pukirkan, Ha?” Billy mulai mengoceh .
“Aku lupa belum makan dokter,” ujar Leon santai.
Sementara Zidan Ken dan Bram ikut kena marah, karena mereka ikut saat minum- minum pagi itu.
“Ayolah Pak Leon, sebagai temanmu bukan sebagai dokter pribadimu aku meminta kerja samanya, tolong jaga kesehatanmu. Kamu tidak mau penyakit dua tahun lalu kambuh lagi kan?”
“Baiklah, baiklah akan aku ingat, kalian boleh keluar. Ken bantu aku turun.” Leon ingin bangun dari ranjang.
“Maaf Pak Leon, untuk hari ini Bapak diharuskan istirahat di sini,” ujar Billy , tidak memperbolehkan Leon bangun dari ranjang.
“Aku tidak apa-apa dokter, hanya pusing saja”
Billy menutup mata dan menarik napas panjang, ingin rasanya ia mengigit leher Leon selalu membantah nasihatnya.
Pak Leon ….!”
“Baiklah,” ujar Leon mengalah karena melihat Billy yang mulai naik darah
“Kamu urus saja pekerjaan mu, saya tidak apa-apa di sini sendirian, ada suster yang menjaga,” kata Leon tidak ingin terlihat lemah di depan anak buahnya.
“Baiklah bos, Kami pergi,” ucap Zidan tanpa membantah. Bram keluar dari kamar Leon, di depan pintu, ia terlihat menghela napas panjang.
“Bos, itu bukan robot , ada waktunya sakit dan ada waktunya merasa lelah , kenapa harus di tahan”, Ujar Bram menggeleng
“Dia akan seperti itu jika dia patah hati, percayalah hari ini tidak ada apa-apanya,” ujar Zidan.
“Jadi sebagai orang terdekatnya kamu yang harus tetap siaga mendampingi Bos.” Ken memberi nasihat sebagai senior.
“Baik Bang,” Bram mengangguk.
Mereka meninggalkan rumah sakit.
Leon tinggal sendirian dalam keheningan, tawa bahagia Jovita mengisi pikirannya lagi.
"Kamu bahagia di sana, aku menderita di sini tapi… baiklah, semoga kamu bahagia selamanya.
Aku akan meneruskan hidupku," ucapnya lirih.
Setelah dirawat beberapa hari Leon akhirnya mulai pulih juga.
“Kalau Pak Leon tidak istirahat, lambungnya akan makin parah, kalau tidak mau istirahat akan langganan rumah sakit nantinya, terserah pilih yang mana Pak Leon,” ujar Billy.
Leon menurut, dari pada balik lagi nanti kerumah sakit itu akan makin menjengkelkan menurut leon, maka ia memutuskan istirahat di rumah sakit, sebenarnya bukan istirahat, tapi memindahkan kantornya kerumah sakit, Karena selama di rumah sakit, ia masih sibuk dengan laptopnya, bahkan Kaila ia bawa kerumah sakit mengurus pekerjaannya, tadinya ia tidak mau di lihat siapapun dalam rumah sakit.
Tapi karena tidak di perbolehkan pulang dan ia tidak mau pekerjaannya terbengkalai, maka mau tidak mau, ia harus rela Kaila melihatnya duduk di ranjang rumah sakit,
Tapi bukan untuk berbaring ataupun istirahat di depan ada laptop dan jari-jarinya terlihat sibuk menari di atas laptop.
Ia seakan- akan tidak perduli dengan perawat yang mondar –mandir untuk mengecek keadaanya.
“Ada apa dengan pak Leon?” tanya Kaila pada Bram yang ikut stay di ruangan itu.
“Tidak tahu” jawab
__ADS_1
“Pasti ada yang salah, pasti ada masalah, kenapa tiba-tiba dia gila kerja?”
Leon ingin mengalihkan pikirannya dari Jovita maka itu ia menyibukkan diri pada pekerjaan bahkan ia tidak sungkan-sungkan memimpin rapat dari kamar rumah sakit, padahal bukanlah rapat yang begitu penting
*
Setelah beberapa hari di rumah sakit ia kembali masuk kantor. Namun, ia semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
“Aduh si Bos makin menakutkan saja. Bos hanya bekerja dalam ruangannya seharian, tanpa bicara, tanpa istirahat dia pikir tubuhnya robot apa, aku yang malah khawatir.” Kaila mulai mencari- cari perhatian, ia bahkan tidak mengabari Bianca tentang Leon yang masuk rumah sakit lagi.
“Kai, tolong ingatkan Bos, untuk makan siang,” Zidan sampa mengingatkan.
“Baik Kak”
“Pak, mau makan siang di kantor apa di luar?”
“Disini saja,”
“Bapak mau makan apa, apa biar saya pesan,”
“Pesankan buat saya bubur saja.”
“Baik pak,” jawab Kaila dengan ragu, karena jam segini, siang biasanya tidak ada yang jual bubur lagi.
Kaila menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung mau pesan bubur kemana jam siang seperti itu.
“Kenapa?” Zidan menatap dengan serius.
“Pak Leon minta bubur, jam segini mana ada bubur.”
Zidan tahu ada jual bubur yang jualan dari pagi sampai sore, tempatnya tidak jauh dari pantai jompo.
Zidan membawa pesanan bosnya dengan hati- hati, Zidan meminta Kaila mengurus Leon.
“Kain tolong membujuk untuk Bos untuk menghabiskannya buburnya,” ujar Zidan.
Leon sangat beruntung karena masih ada orang-orang setia dan tulus membantunya.
“Baik Pak”
Kaila membawanya ke ruangan Leon untung Zidan mendapatkannya, kalau tidak. Mungkin lelaki manusia kutup utara itu, akan melewatkan makan siang lagi.
Dalam ruangan itu Kaila masih berdiri menunggu, tidak seperti biasanya,
Kalau biasanya di suruh pergi, ia langsung meninggalkan ruangan Leon, tapi kali ini ia benar-benar ingin melihat bosnya menghabiskan isi Bangkok itu atas perintah Zidan.
“Terimakasih Kaila,” ucap Leon ketiga kalinya, itu bentuk pengusiran secara lembut.
Sebenarnya Kaila merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, saat mendengar ucapan terimakasih itu sampai tiga kali, ia takut Leon marah karena ia memaksa.
“Ada apa, apa ada hal yang lain lagi, ibu Kaila ….”
Mendengar itu jantung Kaila semakin berdetak bagai gendang dipalu.
“Ini bos, buburnya kalau tidak dimakan sekarang akan dingin dan rasa makin tidak enak, takutnya lambungnya menolak dan kosong lagi dan bos masuk rumah sakit lagi dan bos akan bekerja di ranjang rumah sakit lagi nanti,” ucap Kaila.
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Kaila Leon menghentikan aktifitasnya dan menatap Kaila dengan tatapan penyelidikan.
__ADS_1
“Kamu khawatir padaku atau kamu tidak mau bekerja dari rumah sakit?” tanya Leon menatap Kaila dengan tatapan santai.
“Dua-duanya pak,” ucap Kaila dengan suara bergetar.
“Baiklah, kamu boleh keluar aku akan menghabiskannya, katakan pada Zidan aku sudah menghabiskannya,” ujar Leon, ia tahu Zidan menyuruhnya, karena hanya Zidan yang selalu mengerti perasaan saat ini.
Kalau saja Zidan seorang wanita mungkin mereka berdua sudah berjodoh karena saling mengerti tanpa harus diungkapkan dengan kata -kata.
*
Ken dan Zidan datang ke ruangan Hilda. Hilda manager cantik kepercayaan Leon
“Kalian para lelaki itu kenapa lebih memilih menderita, dari pada jujur sih?” Tanya Hilda, ia akhirnya mencari tahu
siapa Hara dan apa hubungannya dengan Leon. Ia penasaran saat Leon sang bos pingsan saat Hara tampil di panggung beberapa bulan lalu, ia mengetahui hubungan keduanya.
“Terkadang harga diri seorang lelaki itu lebih berharga dari pada emas Ibu Hilda,” ujar Zidan
“Apa kamu sudah mengetahuinya.” Ken duduk mendekat.
“Itu tidak penting Pak Ken, yang penting bagaimana cara mengobati patah hati yang dirasakan Pak Leon. Kalau kita tidak membantunya dia akan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan siang dan malam dan itu salah satu cara bunuh diri,” ujar Hilda.
“Aku akan mencari tahu kebenarannya,” ujar Zidan.
“Ayolah biarkan Nona Hara bahagia, jangan mengusik kehidupannya lagi, bukankah si bos yang menolaknya?” Ken selalu berpihak pada Hara.
“Kamu mau di pihak siapa sekarang. Bos apa Nona Hara?” Tanya Zidan dengan wajah marah.
“Kalau boleh memilih, aku memilih Nona Hara, ayolah kawan … Bos bisa sembuh tanpa kita harus mengusik kehidupan Nona Hara. Biarkan dia bahagia,” ujar Ken, ia tidak setuju kalau Zidan mengusik hidup Hara lagi.
“Kebahagian Bos hanya Hara, Bro,” jawab Zidan dengan suara tegas.
Mendengar Hara disebut kebahagian Leon emosinya memuncak.
“Kalau itu kebahagiannya ….! Kenapa dia menolaknya dan memilih Bianca.? Kenapa dia mencampakkannya.? Kenapa Bos tidak memperjuangkannya Kalau memang Bos kecewa karena kehilangan bayi.? Kamu tahu … seorang ibu yang lebih menderita jika kehilangan bayinya.” suara Ken meninggi ini pertama kalinya ia emosi seperti itu. Mereka berdebat menjadi dua kelompok.
“Sudah, sudah. Kalian berdua jangan jadi berdebat gini donk, kita cari solusinya bersama, bagaimana cara agar bos tidak patah hati lagi” ujar Hilda melerai perdebatan kedua sahabat itu.
Tetapi sayangnya apa yang mereka perdebatkan di dengar Leon, sang bos memutar langkahnya dan ia kembali ke ruangannya. Tadinya ia ingin menemui Hilda ingin mengajak wanita itu rapat. Mendengar dirinya dibahas ia mundur.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1