
Langit Jakarta sudah mulai gelap, tetapi Hara dan Leon masih di gedung atap, Hara masih mengoceh tak henti- henti , tetapi anehnya Leon tidak terusik sedikitpun, ia merasa ocehan Hara hari ini mengobati segala rindu dalam hatinya. Bahkan ia tertawa melihat tingkah Hara.
“Hara, aku akan mengantar pulang ini sudah malam, jangan khawatir .... Piter tidak apa-apa aku hanya memberinya obat tidur agar aku bisa mengajakmu menemaniku makan,” ujar Leon.
“Aku tahu kamu memang baik Pak Leon. Sini aku kasih tahu rahasiaku …. Om Piter dan Bi Ina sudah mempersiapkan pernikahanku dengan Maxell mereka bilang aku tidak boleh memberitahukan pada Om Vikky karena akan melaporkan padamu …. Tapi aku malah memberitahukan padamu, jahat kan aku,” ujar Hara tertawa. Ia memberitahukan rahasia besar pada Leon, kalau Hara tidak mabuk Leon tidak akan tahu, kalau Piter sudah mengatur pertemuan keluarga Hara dengan keluarga Maxell di Jepang bulan depan, tepat setelah kontrak kerja Hara habis di hotelnya
Leon langsung terdiam.
"Ini tidak boleh terjadi," ucap Leon panik
"Bolehlah yang tidak boleh itu .... Aku tidak boleh memberitahukan u. Tapi, nama gedungnya apa iya .... Oh Nokima Hotel," ujar Hara lagi. " Baik kan aku. Karena sudah memberitahumu. Kamu harus baik samaku,"ujar Hara masih duduk di pangkuan Leon.
“ Baiklah aku akan baik padamu Nona Hara. Terimakasih, karena sudah memberitahukan rahasia besarmu padaku, waktunya untuk pulang,” ujar Leon
Ia membantu Hara turun dari jalan rahasia menuju parkiran dan meminta Hilda mengantar Piter dan Hara pulang.
Ia menelepon anak buahnya yang di Jepang untuk memastikan hotel yang sudah di pesan keluarga Maxell untuk pertemuan keluarga besar Maxell dan kelurga Hara.
*
Mentari pagi sudah mengintip malu-malu di ufuk timur, dengan perlahan menatap dunia membawa sinarnya yang benderang, sinar mentari itu menyelinap masuk dari sela gorden ke kamar Hara,
menyilaukan mata wanita cantik itu, tapi tidak lantas membuatnya bangun, ia bergolek dengan malas, tidak ada suara alarm dari Bi Ina yang membangunkannya.
“Aduh kepalaku pusing,” ujar Hara ia duduk.
“Oh, kamu sudah bangun, Non?”
“Bi, apa yang terjadi?”
“Kamu gak ingat?”
“Tidak”
“Bu Hilda yang mengantar kalian berdua ke sini. Kamu mabuk dan Piter pusing karena minum obat sakit kepala”
“Mabuk?”
“Makannya Non, kalau ada cara seperti itu di hotel jangan minum terlalu banyak. Kata Bu Hilda kamu menunggu Piter bangun, jadi kalian minum-minum di hotel, Bibi takut ada wartawan"
“Astaga!” Wajah Hara memerah.
“Ada apa?” Bi Ina menatap panik.
“Aku mabuk di hotel itu memalukan,” ujar Hara masih mencoba mengingat apa yang terjadi, karena terakhir dia ingat ia makan dengan Leon.
“Astaga apa yang terjadi sebenarnya ….?”
“Sudah istirahat saja tidak usah masuk kerja hari ini, nanti juga ingatannya pulih,” ujar Bi Ina meletakkan teh madu di samping ranjang Hara.
“Baiklah, Bi”
__ADS_1
Bi Ina hanya sibuk berkutat di dapur mempersiapkan serapan untuk tiga lelaki di rumahnya, sebelum berangkat ke kantor,
“Hara sakit apa Bi?” tanya vikky menarik selai coklat dari depannya dan mengolesi rotinya, untuk lelaki yang satu ini, untuk serapan pagi untuknya, cukup hanya dua lembar roti dan segelas kopi itu sudah cukup untuk serapannya Hara juga kalau serapan tidak makan yang berat-berat.
BI Ina tidak terlalu repot untuk mengurus paman dan keponakan itu.
Tapi untuk suaminya dan Piter, selalu makan nasi dan lauk, itu baru serapan namanya dan itu juga yang bisa kuat memberinya tenaga, lelaki asal Timur itu tidak pernah menyentuh roti untuk serapan pagi, kecuali untuk cemilan saat bersantai.
Bi ina ikut menjatuhkan panggulnya dan ikut bergabung serapan dengan ketiga lelaki di rumahnya.
“Katanya kurang enak badan jangan khawatir Bibi sudah memberinya minum air jahe dengan campuran lemon, mungkin ia masuk angin,” ujar Bu Ina ia tidak memberitahukan kalau Hara mabuk. Bahkan ia juga berbohong pada Piter.
“Kalau dia libur, jangan biarkan kemana-mana Bi, wanita yang melukai Hara, menurut berita yang aku dengar ia jadi gila,” ujar Piter.
“Ha? Bianca gila!” Bi Ina menatap kaget.
“Iya dia di bawa ke rumah sakit jiwa, karena ia berteriak dan melukai asisten rumah tangganya sampai sekarat, memukul kepala pembantunya dengan vas bunga,”
“Karena apa?” Vikky ikut penasaran.
“Kata Hilda tadi, dia ingin menyakiti dirinya sendiri, terlalu mencintai seseorang itu terlalu dalam akan sangat berbahaya,” ucap Piter, tapi ia khawatir dengan keselamatan Hara juga.
“Makanya Ibu jangan keluar dulu dari rumah, kunci semua pintu dan gerbang dan jangan memesan apapun,” ucap pak Darma ikut mengingatkan istrinya.
“Iya pak, kok aku jadi merasa takut iya, aku takut keluarganya melampiaskan pada Hara, karena aku dengar orang tuanya bukan orang sembarangan dan dia juga anak satu-satunya di keluarganya”
“Iya aku dengar juga seperti itu, karena temanku bekerja, jadi supir di keluarga Bianca, maka itu aku tahu banyak hal dari keluarga itu,” ujar piter.
Dalam kamar Hara tidaklah sakit, ia hanya merasa takut kembali ke Hotel perlakukan Leon padanya kemarin membuatnya takut pada lelaki tukang memaksa itu.
Hara tidak memberi tahukan siapapun tentang apa yang di lakukan lelaki itu padanya bahkan ia lupa kelakuan memalukan itu.
“Ah aku malas bangun, tapi kalau aku tidak masuk kerja lagi pekerjaanku akan semakin menumpuk lagi, masa baru masuk sehari, sudah tidak masuk lagi.” Hara duduk di tempat tidurnya, ia ragu apa ia harus kerja apa di rumah?
Kalau aku berkerja nanti ia akan seperti itu lagi, mentang-mentang bos kelakuannya seperti itu.
Hara memegang bibirnya saat mengingat perlakuan Leon padanya, ia merasa bersalah pada Maxell, merasa Leon memaafkan jabatannya sebagai bos
Tiba-tiba ponselnya Hara berdering dari nomor tidak di kenal.
“Siapa?” Hara mengangkat.
“Halo”
“Kamu tidak mau masuk kerja hari ini, kontrak kerja kamu masih ada beberapa minggu lagi,” ujar leon.
“Si Ular Naga ….! Tidak, mau”
“Bagaimana kalau aku mengirim sesuatu ke ponselmu baru kamu memutuskan kamu masuk kerja atau tidak hari ini”
Leon mengirim vidio saat Hara mabuk.
__ADS_1
“Oh astaga ….! Apa itu aku?" Hara menutup wajah dengan bantal tidak percaya dengan apa yang ia lihat di layar ponselnya.
“Oh … Oh … itu tidak mungkin,” ujar Hara saat ia melakukan aksi gila duduk di pangkuan Leon dengan gaya manja. “OH IBu Mati saja aku …!” Hara menutup wajahnya histeris saat melihat adegan yang memalukan yang ia lakukan pada Leon sore itu.
Kriiing …. Kriiing
Leon menelepon lagi.
“Non Hara , kalau dalam waktu sepuluh menit kamu tidak tiba di sini, rekaman ini akan dikirim ke Maxell”
“Ka-Kamu mengancam Pak?”
“Dihitung mulai detik ini, Satu-”
“Baik, baik sayang datang, tapi saya belum mandi”
“Dua,”ucap Leon lagi.
“Baik, baik ular Naga. Baik aku datang”
Tut …Tut …
“Tidak, harus berani menghadapi sampai kapan aku menghindarinya,” ucap Hara.
Ia memutuskan menghadapi Leon,
Jam sudah menunjukkan angka delapan lewat, saat ia turun rumahnya sudah sepi ketiga lelaki itu sudah berangkat ke kantor.
“Bi, aku sudah sembuh berangkat kerja saja , tidur di rumah tidak tenang juga,” ucap Hara, tangannya sudah menenteng tas yang biasa ia bawa kerja.
“Eh, tidak usah non, tidak boleh sama Om piter tadi, ia berpesan agar kita di rumah saja.”
“Tenang Bi, aku akan kabarin Om nanti,” ujar Hara berlari dan menghentikan taksi yang lewat.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)