
Leon tidak ingin main-main dalam membantu Zidan, ia tahu apa yang mereka lakukan akan menggemparkan keluarga Clara di Bandung karena itu, ia meminta seseorang untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan dr. Reza dengan seorang rekannya sesama dokter.
Jadi keluarga Reza tidak merestui hubungan keduanya, karena perbedaan keyakinan.
Jadi dr. Reza menjadikan Clara sebagai tameng pernikahan untuk menutupi hubungannya . Reza tidak mau meninggalkan kekasihnya, ia hanya memaafkan Clara sebagai istri . Namun, tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya.
“Sebenarnya aku tidak mau terlibat, tetapi di satu sisi aku kasihan sama Clara maka itu aku membantu ,” ujar Billy.
“Kamu mengetahuinya, lalu kamu diam?” Tanya Leon.
“Aku tidak diam, justru aku yang
memberitahukan Clara tentang perselingkuhan mereka."
“Lalu?” Leon menatap penasaran.
“Clara memberitahukan keluarganya , tetapi tidak ada yang percaya, sebenarnya bukan tidak percaya, tetapi memilih tutup mata.”
“Lah ….?” Leon mengangkat kedua alisnya.
“Keluarga Reza pemilik rumah sakit tempat ayah dan kakak Clara bekerja.”
“Oh ….” Leon tertawa simpul.
“Biasa, tahta, harta paling depan,” balas Billy.
“Baguslah, Zidan menculiknya, pantas saja dia langsung minta nikah,” ujar Leon.
“Mungkin masalah ini akan menyeretku, tapi aku tidak takut lagi, setidaknya aku menyelamatkan seorang wanita dari ketidak adilan dan pernikahan paksa,” ujar Billy.
“Tenang ada Mafia di sini, kalau mereka berani mengusik hidup dokterku kita tinggal door … kepalanya,” ujar Leon santai.
Mendengar perkataan Leon Billy tertawa.
“Hidup se simpel itu saja Iya Bos,” ujarnya lagi.
Maka hari itu, orang suruhan Leon berangkat ke Bandung, meminta keluarga Clara menghentikan pernikahan. Walau semua kaget mendengar kabar menghilangnya calon pengantin wanita, tetapi setidaknya ada pemberitahuan sebelum hari pernikahan. Mereka menerima alasan kenapa Clara menolak menikah.
Foto- foto perselingkuhan Reza cukup untuk membatalkan pernikahan. Leon tidak hanya asal menuduh, bahkan ia meminta keluarganya untuk mengecek sendiri kalau Reza menginap di hotel dengan wanita lain. Bahkan Leon malam itu datang ke Hotel Ancol dengan tujuan lain tentunya....
Keluarga Reza tidak bisa mengelak lagi, saat ia ingin menekan keluarga Clara. Leon dan Billy menyebar perselingkuhan Reza di internet.
“Mampus lu …,” ujar Billy tertawa puas melihat dr. Reza mendapat makian dari mayarakat dunia maya.
*
Di sisi lain Zidan tidak ingin melihat Clara takut, ia akhirnya membawa Clara menjauh, mereka mereka berlima liburan ke Kanada menemui Toni di sana.
Pagi itu setelah Zidan menikah dengan Clara, Leon memberi laporan untuk Hara.
[Lapor; Nyonya .... Zidan sudah menculik Clara lalu menikahinya , tugas saya sudah selesai. Sudah bisakah kamu pulang?] isi pesan Leon.
Membaca kata di culik Hara kaget.
"Dasar para Mafia memangnya tidak cara baik, apa harus menculik?" Hara buru-buru menelepon Leon. Tetapi Leon memaksa untuk telepon video call. Mafia yang satu ini, banyak banget strateginya.
“Pagi!”Sapa Leon.
“Iya, pagi," jawab Hara terlihat jadi canggung.
“Lagi ngapain?" Hara mengarahkan arah cameranya ke laut, "Menikmati angin laut dan tadi yoga relaksasi,” ujar Hara.
“Oh sama donk,” ujar Leon mengarahkan cameranya ke depan
Mata Hara langsung melotot” Kok sama lautnya?”
__ADS_1
“Iya, karena aku di samping kamarmu.”
“Apaaa? Leon aku sudah bilang aku ingin sendiri.”
“Kan, aku tidak mengganggumu, dari tadi malam aku sudah di sini”
"Terus ngapain pakai Video call?”
" Iya ingin lihat istriku, apa dia baik-baik saja. Apa dia dilirik lelaki lain, aku kan harus tahu.”
“Tapi aku di sebelahmu Leon."
"Iya aku tahu. Kamu di dalam, aku di balkon," ujar Leon.
Hara keluar menuju balkon hotel dan Leon sedang ber santai dikamar sebelahnya.
“Astaga ini orang ….” Hara tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Leon tersenyum padanya. Hara hany menarik napas panjang.
“Aku tidak ingin menganggu kesendirian mu Nona Hara ….!” Ujar Leon dari samping.
“Kamu ada di sana, ini bukan sendirian lagi, kita hanya beda kamar.”
“Kamu boleh teruskan yoganya dan aku tidak akan menganggu.”
‘Leon pasti menganggap ku hanya ingin liburan …. pasti dia berpikir kalau aku wanita yang hanya memikirkan senang-senang saja' Hara membatin.
“Leon, aku tidak meminta liburan. Kamu pasti mau bilang akui ingin liburan. "
“Hara … ayolah, aku tidak pernah berpikir seperti itu, kamu kenapa sih sensitif mulu perasaanmu belakangan ini?”
“Kamu pasti berpikir kalau aku cengeng dan manja kan?” Lagi -lagi Hara berpikir jelek tentang suaminya.
“Maksa,” ujar Hara .
“Kamu tidak mau dengar cerita Hara dan Zidan. Aku sudah mengusir mereka semua dari rumah.”
“Haaa? Kenapa?”
“Agar kamu tidak malu lagi untuk pulang ke rumah karena anak buahku.”
“Semudah itu kamu mengusir mereka?”
“Iya aku ingin menceritakan semuanya padamu. Apa aku boleh ke situ?” Tanya Leon menatap wajah Hara.
“Jawaban diam mu ku anggap iya,” ujar Leon lagi. Ia yang bertanya ia sendiri yang menjawab.
“Eh, mau ngapain?” Tanya Hara panik saat suami melompat pagar pembatas.
“Mau melompat ke situ.”
“Leon jangan gila .... kita ini di lantai tujuh.”
Leon tidak menghiraukan, ia melompat ke kamar Hara.
“Apa kamu sudah selesai yoganya?” ucap Leon mengecup kening Hara.
“Dari mana kamu tahu aku di sini?”
“ Haruslah, kamu istriku, "ujar Leon santai.
“Oh, iya kamu kan Mafia.”
__ADS_1
Leon hanya tersenyum saat Hara menyebutnya Mafia.
“Aku lapar, mari kita serapan.” Leon memegang perut.
“Kamu menganggu ketenanganku Pak Leon."
Leon tidak bisa menahan diri lagi, tadinya ia ingin bersikap tenang tetapi melihat Hara ada di hadapannya ia menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.
“Aku sangat takut, karena kamu Hara, aku takut tidak bisa memelukmu seperti ini lagi."
“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan kabur. Dari mana kamu tahu aku a di kamar ini?”
“Pak Piter dan Bu Ina, dia bilang kamu dan Ibumu sering melakukan yoga di sini.”
“Bukan hanya itu saja sih …. ayahku ulang tahun kemarin. Kami selalu ke sini naik wahana.”
“Apa kamu ingin bermain bersamaku di sana?’
“Tidak usah, kita pulang saja, aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu.” Hara merapikan beberapa barangnya. Leon masih diam, ia melihat sikap Hara yang bersikap dingin padanya.
“Hara apa kamu masih marah?”
“Tidak ... aku hanya ingin menjadi wanita yang lebih layak untukmu.”
“Sayang, kamu selalu layak untukku.”
Hara hanya tersenyum kecil, Leon tidak suka melihat sikap Hara yang memberi jarak dengannya padahal hubungan mereka sudah sangat baik belakangan ini.
“Temanin aku, aku belum pernah naik kesana,” ujar Leon menunjuk biang lala.
Hara menolak.
“Kamu bermain sendiri saja, aku tidak bisa.”
Leon berbalik badan meraih dagu Hara, ada perasaan panas di dadanya ia takut Hara akan meninggalkannya , menyambar bibirnya dengan cepat, Hara terkaget karen Leon melakukannya dengan posesif, saat Hara ingin mengalihkan wajahnya, Leon mengunci tangannya dan mendorong tubuhnya ke dinding kamar hotel.
“Apa kamu juga ingin menolaknya ini ... aku hanya meminta hakku, " ujar Leon melepaskan pakaiannya dengan wajah datar. Hara langsung diam, ia menggeleng.
“Lalu apa kamu marah masih padaku?”Hara diam, kepala masih menuduk.
Leon mengangkat dagunya dengan pelan, lagi - lagi air matanya kembali mengalir deras.
“Hara ... kamu kenapa menangis lagi, aku tidak bilang-bilang apa-apa, kan? Tolong jangan menangis.” Leon menarik napas panjang. Ia bingung dengan sikap labil Hara beberapa minggu ini.
“Aku malu sama kamu, aku merasa tidak pantas jadi istrimu, aku malu sama ibu, malu sama Kak Zidan,” ujarnya menangis lagi.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu mudah tersinggung, mudah menangis belakangan ini. Tapi aku tidak seperti itu Jovita Hara” Leon memeluknya lagi.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)