Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bidadari Terluka


__ADS_3

Warning!!


Maaf iya kakak, semua masih mengandung banyak bawang ni. Author saja sampai nangis bombai saat menulis, serasa masuk ke tokoh Hara. Nulisnya sambil dengar lagu pula. All I Want and A Milion Dreams. By Alexandra porat . Makin mewek deh aku ....


Kalau gak kuat nangis bombai skip saja. Iya.


**


Leon memutuskan untuk tinggal beberapa hari di panti, tetapi Leon merasa wanita yang dulu pernah ia cintai kini sudah berubah , Jovita kehilangan keceriaan sebagai ciri khasnya seperti dulu, Hara dulu anak energik, ceria dan banyak cerita, sering tertawa, tapi kali ini,  wanita itu hanya bisa duduk. Hanya sesekali tersenyum bila disapa, ia akan selalu duduk di taman depan Panti, taman kecil yang di kelilingi banyak tanaman bunga.



Leon sudah dua hari di panti, tapi belum sekalipun ia bicara dengan Jovita. Kenapa ia tidak punya keberanian dan tidak ada niat untuk mendekati Jovita?   Pastinya Leon merasa sangat  sedih melihat wanita menjadi buta.


Leon mengajak Toni belanja kebutuhan Panti, Jovita lagi duduk di taman halaman depan, sesekali-sesekali ia menutup matanya merasakan,  hembusan angin menghirup bau wangi kelopak bunga yang bermekaran.


“Bos, apa kita  tidak mengajak Non Hara?”


“Tidak usah, biarkan saja dia tinggal,” ucap Leon wajahnya datar.


Leon mengepal tangannya menahan rasa sedih di dalam hati.


“Apa Bos kecewa karena kehilangan, anak itu?” Tanya Toni dengan wajah datar.


Leon terdiam, tidak menjawab,  ia memalingkan wajahnya ketempat lain.


“Dari pertama juga dia menolak Ton, dia tidak menginginkannya, mungkin  kepergian anak itu jalan yang terbaik, aku hanya ingin menjalani hidup ini tanpa menoleh ke belakang lagi, dia bagian masa laluku,” ucap Leon.


“Apa Bos tidak ingin bersamanya lagi?”


“Ton jangan panggil aku lagi bos, panggil saja aku Leon, di masa lalu aku memang bosmu, tapi saat ini aku hanya teman, aku tidak ingin  mengingat masa laluku lagi.”


Toni terdiam, ia tidak mau banyak bicara, di dalam hatinya, ia kasihan pada Jovita, ia pikir Leon akan tetap bersamanya  jika bertemu, tapi dengannya salah, Leon tidak ingin mengingat masa lalu yang pahit dengan Jovita. Leon tidak bisa disalahkan untuk hal ini karena dua tahun ini ia juga menderita dan hampir gila.


Sejak tinggal di Panti asuhan, Leon tidak sekalipun bicara berdua dengan Jovita,  ia akan bersikap biasa saja, seakan tidak mengenal wanita  malang itu.


**


Setelah seminggu tinggal di Panti,  setelah semua pekerjaannya selesai,  Leon memutuskan membawa mereka bertiga  kembali ke Jakarta.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya  tiba juga di salah satu rumah mewah  di area Jakarta Selatan,  rumah baru yang  Leon bangun,  tadinya ia ingin melupakan masala lalunya, tetapi tidak di duga orang-orang dari masa lalu masih ada bersamanya saat ini.


“Bi, dengar … mulai sekarang bibi bukan  bibiku, tetapi ibuku untukku. Aku  akan memperkenalkan wanita yang dekat denganku, wanita yang membuatku bangkit dari masal lalu,” ujar Leon


Toni dan Bi Atin, tiba-tiba diam, wajah Toni terlihat kecewa, ternyata saat ini sudah ada wanita lain di hidup Leon.


“Bagaimana dengan Non Hara?” Tanya wanita paru baya itu dengan wajah sedih.

__ADS_1


“Bu, aku akan mengubur masa laluku,  agar aku bisa hidup saat itu, aku tidak ingin terpuruk selamanya, aku tidak tahu kalau kalian masih hidup.  Karena itulah aku memilih wanita itu. Apa aku salah?” Tanya Leon dengan wajah sedih.


“Kenapa takdir hidup kalian begitu berat? Bagaimana dengan Nona Hara?”Tanya Bu atin dengan suara bergetar


“Aku akan memberikan pengobatan untuknya,  aku juga akan mengembalikan  sebagian hartaku untuknya, dan aku akan membawa dia berobat agar matanya sembuh.


Bukankah Piter yang tidak ingin kami bertemu,? dia yang memasukkan nama Hara dalam korban kebakaran itu. Bi, Apa ini salahku, jika aku bangkit dan ada wanita di sisiku? Mungkin dari awal aku sudah salah merebut dia dari Toni “


“Bos dia sudah seperti adik bagiku saat ini,” ujar Toni.


“Apa kalian berdua saling menolak Hara saat ini. Dulu kalian berdua saling  berebut. Tetapi saat ini kalian berdua sama-sama menolak?” Ujar Bu Atin menatap keduanya dengan wajah kecewa.


“ Bi, bukan seperti itu, selama ini dia menganggap ku kakak. Tapi bagaimana kalau sudah pulih nanti ingatannya?” Tanya Toni.


 Bi Atin  berharap Leon dapat menerima Jovita kembali tenyata tidak, ternyata Leon sudah punya wanita  yang mengisi hatinya saat ini. Leon juga tidak salah,  karena Leon pikir Jovita sudah tiada, Leon juga tidak bisa memutuskan wanita yang sudah menemaninya belakangan ini, bahkan Leon  sudah berencana akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.


“Jangan khawatir Bi, aku sudah menemukan Vikki dan Bi Ina, Hara masih memiliki seorang paman dan  pengasuhnya yang akan merawatnya”


Setelah satu hari di Jakarta, Leon menepati janjinya ,ia membelikan rumah untuk Jovita dan keluarganya, ia juga berencana akan membawa Jovita ke Luar Negeri untuk menyembuhkan matanya.


                      *


Sementara di sisi Lain, Piter akhirnya bebas dari penjara.


Suara bel dirumah Leon dan dibuka asisten rumahtangganya.


“Pak katanya pak Piter di suruh masuk apa menuggu di luar Pak?” tanya seorang penjaga  keamanan.


“Suruh masuk saja,” perintah Leon.


Mendengar Leon menolak Hara dan ingin mengembalikannya pada mereka,  Piter sangat marah, ia baru  bebas dari penjara, maka itu selama ini mereka tidak tahu keberadaan Hara.


Maka saat ia mendapat kabar kalau Leon membawa Hara dari Kalimantan,  Piter langsung menjemput ke rumah baru Leon


“Selamat siang”


“Silahkan duduk Pak, seperti  yang sudah saya katakan, satu keberuntungan Jovita dan Bibi selamat dari kecelakaan itu, saya ingin Jovita kembali pada keluarganya dan diurus keluarganya, saya akan bertanggung jawab akan kesembuhannya, sebenarnya saya tidak menyuruh pak Piter datang sekarang-“


“Tidak apa-apa , itu sudah jadi tanggung jawab saya, biarkan kami yang mengurusnya yang bapak lakukan sudah benar.  Jovita tidak ada  hubungan apa-apa dengan bapak,  jadi biarkan saya yang mengurusnya,” potong Piter, wajahnya terlihat kecewa.


Bi Atin dan Toni yang duduk  sama mereka,  hanya bisa diam, padahal Toni sudah mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan Jovita , karena ia sudah berjanji pada Leon akan menjaganya, tapi hari ini Leon melepaskan wanita malang itu begitu saja.


“Saya tidak menyuruh pak Piter membawanya saat ini, saya hanya  memberi kabar pada anda kalau Jovita masih hidup, tidak bermaksud menyuruh membawa saat ini juga, biarkan dia mendapat perawatan untuk matanya, biar sembuh dulu, baru bawa pulang,” kata Leon.


“Oh tidak usah pak, tidak perlu, biarkan saya membawanya saat ini juga, dia tanggung jawab kami, kami tidak akan membebankan hidupnya pada orang lain, jadi boleh aku bawa sekarang?”


“Pak Piter, Non Hara lupa ingatan dan buta, dia lebih banyak menghabiskan waktunya mendengar lagu-lagu, jika mau tidur putar saja lagu –lagu dia akan tertidur, tolong urus dia dengan baik pak,” kata Bi Atin, wajahnya terlihat sagat sedih.

__ADS_1


Selama 2 tahun ini, ia dan Tonilah yang mengurusnya seperti anak dan adik.


“Jangan khawatir bu, saya akan merawatnya dengan baik, itu sudah tugas dan tanggung jawab saya, saya tidak akan meninggalkannya walau apa yang terjadi padanya,” ucap Piter tegas.



Toni membawa turun Jovita,, membawa tas kecil berisi pakaiannya, Piter menatapnya dengan rasa iba,  ia masih tetap terlihat cantik,  hanya matanya tidak bisa melihat dunia, ia melupakan hal buruk yang ia alami, mungkin  lupa ingatan hal yang tepat untuknya saat itu,  agar ia bisa melupakan semua masalah pahit yang dialami.


“Ibu kita mau kemana? Kata kak Kevin kita mau pergi,” tanya Jovita .


“Iya, Ibu mau ke dokter, kamu sama  om Piter dulu iya, dia om kamu yang akan merawat kamu dulu,” Bi Atin mengusap pundak Jovita, ia terlihat bingung dan sangat sedih, tapi tetap menurut.


“Ibu tidak akan lama, kan?” Tanya Hara dengan suara lembut,  hal yang ia takutkan sejak di panti takut Ibu dan Kakaknya Toni meninggalkannya dan saat ini hal itu terjadi mereka berpisah. Hara dibawa Piter, orang yang tidak diingat oleh Hara.


“Tidak, kita akan bertemu nanti”


Leon tidak melihatnya, ia berdiri kearah jendela kaca,  membelakangi  Hara yang saat itu sangat sedih


Entah apa yang dipikirkan Leon.


‘Aku tidak salah, aku juga menderita selama dua tahun ini, aku juga tidak tahu kamu hidup, mari jalani hidup kita masing-masing’ Leon membatin.


Bi Atin baik Toni tidak bisa menyembunyikan kesedihan, hidup  bersama layaknya satu keluarga selama 2 tahun membuat  mereka bertiga  punya ikatan.


Hingga Jovita  meninggalkan rumah itu, ia terlihat menolak di pisahkan dari bi Atin,  tetapi karena keadaanya yang buta,  ia tidak berdaya dan tidak  berani mengatakan apa-apa.


Setelah Jovita pergi, Bi Atin tidak ingin menumpahkan airmatanya di depan Leon. Ia pamit ke kamarnya, ia menangis, Toni juga meninggalkan Leon yang masih melihat keluar jendela.


 Leon melihat mobil hitam miliki Piter meninggalkan rumahnya,  Leon memilih melupakan masa lalu dengan Jovita, ia merasa bersalah pada Jovita,  tidak pantas lagi bersanding dengannya, itu akan menambah luka dan rasa sakit.


 Leon berpikir Toni lebih berhak untuknya, karena  Toni mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan Hara . Namun Toni sudah bertekad  kalau ia menjaganya seperti adik sendiri.


Bersambung…


KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2