
Saat Hara bangun, semua orang sangat bahagia. Ternyata bukan hanya keluarga Leon yang bahagia.
Zidan juga merasakan hari yang bahagia, karena tepat di mana Jovita Hara bangun, Clara juga melahirkan seorang bayi laki-laki lewat program persalinan water birth atau persalinan dalam air.
Jadi kegembiraan mereka semua sudah lengkap, Hara bangun, Clara melahirkan, tinggal menunggu pernikahan Toni
**
Lima bulan kemudian,
setelah Hara bangun, kini rumah besar itu seakan-akan hidup kembali, karena Hara sudah bangun.
Saat hara duduk di sofa di kamar bayi, ia tersenyum kecil pada dua bocah kembar itu, mereka sangat aktif-aktifnya merangkak kemana-mana.
Leon belakangan ini seolah-olah dapat mainan baru, ia tahan berjam-jam bermain di kamar bayi mereka, ia tidak pernah terlihat lagi duduk di ruang kerjanya, ia lebih banyak menghabiskan waktu bermain bercanda dengan kedua baby twins. Hara belum ia izinkan untuk menggendong si kembar, ia takut Hara lelah lalu sakit, Hara hanya mengawasi dan yang melakukan dua baby sister.
Kini, mereka berdua berebut bola, Chelia selalu merebut apa yang dipegang abangnya, karena yang pertama di keluarkan dokter dari dari perut ibunya adalah Okan.
Jadi menurut hukum alam dan hukum manusia yang pertama melihat dunia ini, akan disebut abang ataupun kakak. Maka, Okan yang menjadi abang, tetapi setia kali mereka berdua bermain Celia yang selalu lebih mengatur dan Okan akan menangis karena selalu kalah dari adik perempuannya.
Pertengkaran dan kelakukan lucu mereka berdua menjadi hiburan tersendiri untuk Leon, kehadiran kedua bayi kembar itu telah mengubah hidup Leon, ibunya, dan Hara.
Mereka selalu tertawa dan terhibur karena baby twins .
“Kenapa kamu jadi lebih galak iya?” Leon mengangkat bayi menggemaskan itu dari karpet bermotif binatang itu.
“Iya, dia selalu merebut milik Okan” Bu Atin menyentuh pipi gembul bayi perempuan berwajah cantik tersebut.
__ADS_1
Hara hanya tersenyum melihat mereka berdua, hanya bisa melihat, belum bisa menggendong. Tetapi perlahan-lahan kondisinya membaik.
Untuk sementara, Hara hanya bisa menonton Leon bermain dengan dua bayi kembar itu , wajah Leon sangat bahagia saat bermain dengan kedua bayinya, ia berguling-guling diatas karpet lembut, mengikuti Okan yang guling-guling.
Kini kedua bayi lucu itu sudah belajar merangkak, Leon berdiri di ujung matras bersama ibunya. Lalu memanggil mereka berdua dengan pancingan menyodorkan bola berwarna-warna.
Celia merangkak cepat menghampiri Leon dan Okan merangkak ragu-ragu antara menghampiri neneknya atau ayahnya atau kearah suster.
Suster yang biasa merawat mereka sedang membereskan mainan, atau ke arah ibunya yang sedang duduk di sofa.
“Okaan! Sini ama nenek,” panggil Bu Atin menepuk-nepuk lantai dengan tawa girang.
Namun, baby Okan malah bertambah bingung , ia duduk dengan kedua kakinya terlipat ke belakang dan menghempaskan panggulnya dengan girang, ia juga memainkan bibir dengan semburan-semburan kecil.
Semakin mereka tertawa, ia semakin kegirangan, “Okan, sana sama nenek,” ucap Leon, menunjuk Bu Atin.
Tetapi ia malah merangkak kearah lain, ia melihat botol susu yang dibawa masuk salah satu suster, ia merangkak dengan cepat menghampiri wanita yang berseragam putih-putih.
Tetapi Baby Okan melakukan jurus andalannya yaitu ; menangis, ia menangis melihat kearah botol susunya. Celia menghampiri abang kembaranya, tidak tahu apa yang dipikirkan Baby Celia, ia memukul wajah abangnya yang sedang menangis, membuatnya menangis semakin menjadi.
Tawa mereka semua pecah, Leon tertawa terkekeh melihat kelakuan Chelia yang seperti preman, setelah memukul Okan dan mendorong tubuhnya sampai jatuh hingga bayi lelaki mengemaskan itu menangis keras.
Chelia merangkak lagi kearah Leon dan memeluk leher ayahnya. Mereka semua tertawa. “Apa yang kamu lakukan, Haaa .... !” ucap Leon mencium pipinya dengan sangat gemas membuat pipi tembem itu merah.
“Ibu yakin. Dia memarahi abangnya,” ucap Bu Atin tertawa keras, tangan memegang perut.
“Aku rasa ia menyuruh abangnya menangis, agar di beri botol susunya, jurus licik.” Leon berdiri mengambil botol susu membagi mereka satu-satu.
Hara sangat terhibur, setiap hari, ia akan dibawa ke kamar bayi kembar itu, tingkah lucu mereka membuat Hara bersemangat. Terlihat beberapa kali Hara ingin menggendong.
__ADS_1
Kesehatan Hara semakin membaik tiap hari, belakangan ini Leon, memperbolehkan suster membawa ke taman, ia menyentuh bunga di taman.
Leon yakin hati yang senang obat yang paling mujarab. Setelah menghabiskan satu botol susu, kedua bayi kembar itu di angkat kedalam kandang. Leon ikut bertingkah seperti anak bayi, dalam kandang yang dipenuhi bola-bola warna-warni. Leon ikut masuk dan mandi bola bersama. Ia memeluk Okan kemudian mendudukkan di dadanya, tetapi lagi-lagi Chelia datang, lalu ikut duduk di atas tubuh ayahnya, tetapi ia mendorong Okan, ia tidak mau abang kembaranya ikut duduk di sana, seakan-akan Leon hanya ayahnya seorang, ia terus memukul wajah Okan sampai menangis.
Leon tidak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan putri cantik itu, “Kamu tidak mau abang Okan sama, Ayah? Ha?” Leon mengarahkan wajahnya ke perut keduanya dan mengerakkan kepala di perut mereka bergantian, tawa lucu mereka sangat mengemaskan, hingga tidak ingin keluar dari kamar bernuansa cerah itu dan banyak ornamen-ornamen lucu dan gambar-gambar binatang. Leon melupakan semua beban berat dalam hidupnya bila bersama kedua bayi kembar, membuatnya seakan-akan mendapat kehidupan yang baru, kebahagian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, kebahagian yang begitu berharga, lebih berharga dari semua harta yang ia miliki.
Leon tertawa puas dan terkadang melupakan makan dan mandi, kalau sudah bersama mereka, apalagi sejak kesehatan Hara membaik.
“Hara, apa kamu mau minum?” tanya Bu Atin saat melihat mulut Hara terbuka.
Hara menggeleng, tetapi matanya melihat kearah Leon dan kedua bayinya,
Melihat Lon bermain dan bercanda dengan kedua bayi kembar itu, Hara ingin ikut, ia ingin bermain juga. Leon menggendong ke dua baby twins mendekat kearah Hara.
“Ayo peluk cium ibu,” ucap Leon, mengarahkan wajah mereka berdua ke pipi Hara, Chelia menggeliat tidak mau, Okan memeluk leher Hara dan merangkulnya leher ibunya.
“Anak pintar, sayang ibu iya’ kan.” Bu Atin membantu Hara menggendong bayi besar itu di pangkuannya.
Baby Okan seakan-akan sudah tahu, bau tubuh ibunya, ia tenang dan merasa nyaman, tetapi Chelia cantik, ia menolak, lebih suka pada Leon. Sementara Okan lebih suka pada Hara.
“Hara, apa kamu suka? Apa kamu bahagia melihat mereka berdua?” Leon menarik kursi dan duduk di depan Hara.
"Tentu saja sayang."
Ia mengangguk dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, apalagi saat ada bayi laki-laki itu, di pangkuannya.
“Karena itu, kamu harus cepat sehat Sayang, kita akan liburan bersama nanti kalau kamu sudah sembuh,” ucap Bu Atin.
“Iya, kita akan liburan di pantai bermain pasir memancing, naik kuda, memetik bunga” Leon sengaja menyebutkan semua yang jadi kesukaan Hara, agar ia semangat.
__ADS_1
Lagi-lagi Hara mengangguk senang, Hara butuh waktu untuk memulihkan kondisinya. Tetapi mereka semua yakin Hara akan cepat pulih dengan adanya si kembar yang jadi penyemangat hidupnya.
Bersambung ….