Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon Tertembak


__ADS_3

Leon berada di Villa di Bogor, di villa   yang dulunya milik keluarga Hara,  di tempat itu ia dan Hara memiliki  banyak kenangan  yang pahit juga saat Hara masih mengandung anak pertamanya, sebelum hari naas itu terjadi. Saat itu Hara dan dia di kejar penjahat suruhan Boyko tetapi saat ini di kehamilan Hara kedua,  ia juga  merasakan kepahitan, karena kedatangan seorang lelaki dari masa lalu.


‘Apa aku tidak  bisa hidup tanpa harus melibatkan masa lalu?’ Leon mendengus kesal


Tadi saat Leon di makam, ia mendapat pesan dari Bu Atin,  kalau Hara pulang ke rumah Bu Ina, mendengar kabar itu, ia marasa kepalanya bertambah sakit. Maka itu ia memutuskan untuk menenangkan pikiran Villa, ia tidak menyadari seseorang telah mengikutinya.


‘Kenapa pulang lagi ke rumah keluargamu Hara? Piter akan mencercaku dengan berbagai pertanyaan,” ujar Leon menghela napas panjang.


Kini ia tidak tahu harus berbuat  lagi,  otaknya lelah diajak berpikir.  Tidak tahu berapa bungkus rokok yang ia habiskan, Leon  duduk di depan taman villa,  tidak tahu berapa lama ia di sana.


Langit sudah  berwarna jingga,  itu artinya Leon sudah menghabiskan satu hari, tanpa mengisi perutnya,  masalah rumit yang ia hadapi membuat  melupakan makan.  Saat sedang duduk menata hati.


Tiba-tiba dari balik pohon pinus, sebuah tembakan mengarah padanya.


Door …!


Leon terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang, sebutir timah panas menerjang perut Leon, tidak ada persiapan dan fisik lemah karena belum makan, membuatnya  tersungkur di tanah.


Leon  merasa semuanya tiba-tiba gelap dan pohon itu berputar seakan -akan, memberinya sebuah tarian,  ia terjatuh ke samping seiring rasa yang ia rasakan..



‘Leon terkapar di di samping Villa.


Apa yang ditakutkan Bimo benar,  ia berlari melihat Leon yang sudah terjatuh tidak sadarkan diri. Apa yang dikatakan bu Atin benar, Leon akan mengalami hari yang buruk kalau Hara sampai marah dan meninggalkannya. Bu Atin menyuruh Bimo agar tetap mengikutinya, firasat buruk yang  dirasakan Bu Atin  benar.


Ia menelepon Zidan sementara Toni pergi dari rumah setelah Hara marah padanya.


“Sial, kita kecolongan, "ujar Zidan ia meminta Bram naik helikopter. Bram berlari ke bangunan samping.


Mereka akan terbang naik helikopter.


“Mudah-mudahan aku masih ingat menerbangkannya, aku sudah lama tidak terbang,” ujar Bram dengan sikap buru-buru.


Zidan,  sedang di hotel untuk menggantikan Leon rapat, musuh seolah-olah sudah tahu kalau anak buah Leon sedang berpencar Ken dan Vincen mengawal Hara.


Mendengar Leon tertembak Zidan panik. Ia meninggalkan ruang rapat  dan mengendarai mobil menuju puncak. Toni  juga mendapat kamar , ia  mengendarai moto Ninja miliknya menuju puncak.


“Bimo, lindungi Bos, tidak usah lakukan perlawanan Biar itu jadi tugas kami yang perlu kamu lakukan selamatkan Bos bagaimanapun caranya”


“Baik Bang”


 Dengan cepat Bimo memapah tubuh Leon.

__ADS_1


Toor ....!


Tidak diduga sebuah tembakan menerjang pinggang Bimo juga, dengan susah payah ia menyeret tubuh Leon ke balik pohon pinus. tubuh mereka penuh lumpur,  Ia tidak bisa melakukan perlawanan karena  pistol miliknya di dalam mobil yang bisa ia lakukan untuk melindungi bos hanya ingin mengendong tubuh Leon. Tetapi ia juga tidak kuat karena ia juga terluka.


Tidak berapa lama suara helikopter terdengar, lelaki yang menembak Leon akhirnya melarikan diri.  Bram  berlari dan mengendong Leon ke dalam helikopter dan membawa mereka ke rumah sakit.


 Leon kerumah sakit terdekat di Bogor.


Tiba di dalam rumah sakit terdekat  Bimo, membawanya ke ruangan penanganan dan di periksa seorang dokter dan seorang perawat.


Bimo masih menunggu di luar dengan gelisah, pakaian basah kuyup kucel penuh lumpur dan terlihat berantakan,  karena ia mengendong Leon dari parkiran ke ruang UGD.


Seorang perawat  keluar dari ruang periksa.


“Apa bapak keluarga pasien?”


“Iya Sus.”


“Tolong dibereskan administrasinya, Pak.”


“ Apa bisa nanti kita bicarakan itu, tolong selamatkan, dia seorang pengusaha jangan takut kami kabur, ” seru Bimo panik.


“Iya Pak, saya tidak kenal pasien beliau datang ke rumah sakit kami sebagai pasien, maka ikuti sesuai peraturan rumah sakit,” ujar suster. Peraturan di rumah sakit,  kita seperti itu, bayar dulu baru ada tindakan,  karena semua di rumah sakit ini baik itu dokter dan obat-obatan tidaklah gratis,” ujarnya tegas.


Bimo terlihat emosi.


‘Apa kamu tidak tahu lelaki yang saya gendong itu seorang bos besar, Oh, nametag yang menempel di dadanya ‘Ya, namamu TIWI aku akan mengingat itu.


“Maaf iya pak karena pengalaman kami banyak bangat gelandangan yang tid-“


Bimo  tidak ingin meladeni wanita yang kurang piknik itu, ia meninggalkan perawat yang menyebalkan itu,  ia menuju meja kasir dan tiba-tiba Zidan datang memberikan kartu milik Leon. Tidak lama kemudian setelah perdebatan Bimo dengan perawat Toni dan Zidan datang.


“Sus, Bos saya tolong urus untuk segera dapat penanganan operasi dan nanti dipindahkan ke ruangan yang paling VIP Ia menyodorkan kartu, wajah sangat khawatir,  bahkan ia tidak ingin  berdebat dengan wanita berseragam putih-putih itu tadi baginya kesehatan bosnya yang paling utama.


“Baik pak , tenang iya pak,  kami akan melakukan yang terbaik untuk Bos bapak,” ucap wanita saat mereka melihat kartu milik Zidan.


“Satu hal lagi,  saya tidak mau perawat  yang bernama Tiwi itu mendekati kamar dan merawat bos saya,” ucap Bimo kesal,  ia tidak perduli saat wanita itu berdiri di belakangnya.



Mendengar itu temannya sesama perawat melihat wanita dengan tatapan menyelidiki.


 “Jangan menilai orang dari penampilan saja, rumah sakit, harusnya yang  utama itu menyelamatkan nyawa pasien baru memikirkan uang,  setidaknya pakai kemanusiaan,” ucap Bimo.

__ADS_1


“Sudah Bim,” jangan di perpanjang, keselamatan Bos yang paling utama tambahkan anak buah mu di kamar Bos, aku akan di awasi dari Luar,” ujar Zidan ia menentang tas panjang  dalam tasnya sudah pasti di dalamnya senjata laras panjang.



Ia memberi kode untuk menyalakan alat komunikasi di kuping.


“Aku ambil jalur kanan Dan , biar aku ke kiri,” ujar Toni, Ia juga  naik ke satu atap.


“Baik.” Mereka  berdua berjaga di pintu.


Saat Leon dalam penangan dokter  di ruang operasi Billy juga datang.


“Bim,  ada yang terjadi apa ada musuh yang mengincar, Leon? Eh apa kamu terluka?"


“Aku sampai lupa, aku terluka Dok, Rumah sakit ini, tidak menangani pasien miskin” ujar Bimo kesal.


Perawat yang bernama Tiwi itu hanya diam menatap diam, wajahnya pucat saat ia mengetahui pasien yang sempat ia sepelekan tadi di jaga  beberapa orang berbadan tegap dan memiliki dokter pribadi.


“Sudah mari  masuk, kamu juga butuh penanganan dokter, bukan, " ujar Billy.


Leon dan Bimo mendapat perawatan di rumah sakit karena mendapat luka tembakan.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2