
Berkat perhatian besar dari sang suami yang merawat Hara dengan begitu baik, akhirnya Hara berangsur pulih. Ia punya semangat kuat untuk sembuh karena kedua anak kembar.
Setiap kali ia ingin mengendong Leon selalu melarang takut Hara capek .
“Sayang, kamu tidak boleh lelah, tidak boleh menggendong mereka, tidak boleh jalan sendiri harus ada yang mendampingi,” ujar Leon, setiap kali ia ingin menggendong salah satu dari mereka.
Sebagai seorang ibu ia kadang merasa rindu ingin memeluk memanjakan mereka berdua, tetapi semua larangan ketat yang dilakukan Leon selama ini demi kebaikan dirinya dan anak mereka.
“Tapi, aku ingin menggendong juga, Yah,” ujar Hara.
“Karena itu kamu harus cepat sembuh biar kita bawa mereka jalan-jalan ke pantai,” ujar Leon, mendaratkan bibirnya di bibir sang istri.
Kedua bocah kembar, hanya melihat wajah kedua orang tuanya.
“Apa kamu mau dicium juga?” Leon mengangkat Chelia dan mencium pipi gembulnya.
“Si ganteng sama Ibu saja." Leon mengangkat tubuh Okan dan mendudukkannya di pangkuan Hara.
“Sayang, besok aku ingin masuk kantor iya, boleh gak? Soalnya sudah berapa lama aku tida masuk kerja.”
“Boleh, aku sudah sehat, jangan khawatir,” ujar Hara.
“Jangan khawatir, aku hanya sebentar, setelah rapat selesai aku langsung pulang,” ujar Leon.
“Baiklah, jangan pikirkan mereka ada Ibu dan suster yang menjaga,” ujar Hara menyakinkan Leon.
Bapak dua anak itu mandi dan bergegas ingin berangkat ke kantor, tetapi saat ia berpakaian rapi setelan jas,
Ada drama kecil, Chelia minta ikut, saat melihat sang ayah berpakaian rapi ia meminta di gendong.
“Hei Cantik … Ayah hanya sebentar,” ujar Leon memberikan pada baby sister. Tetapi Chelia menolak, ia tidak mau sama susternya.
“Sama Ibu?” Hara merentangkan tangannya, tetapi baby berpipi tembem itu menggeleng ia menenggelamkan wajahnya di dada sang ayah.
“Baiklah, kita jalan-jalan dulu.” Leon menggendong Chelia, membawa si cantik jalan-jalan ke taman samping rumah, tetapi seperti biasa Okan akan cuek bebek, ia asik dengan mainan barunya.
Hei! Jagoan …. Kamu, kenapa tidak minta ikut sama ayahmu?” tanya Hara menggoyang-goyangkan tubuh Okan yang duduk di pangkuannya.
“Dia, sangat cuek Bu, beda sama baby Chelia yang maunya sama bapak terus,” ujar suster Anah pengasuh Chelia.
“Mungkin ayahnya seperti ini, saat masih kecil cuek dan dingin, dia berubah setelah kami menikah,” ujar Hara.
Sementara di lantai bawah Leon masih mengendong Chelia membawanya keliling taman.
“Bos, apa kita jadi ke kantor?” tanya Toni yang datang mendekati mereka berdua.
“Ke kantor Ton, tunggu sebentar lagi, Princes ini minta ikut saat dia melihatku berpakaian rapih,” ujar Leon.
“Sini, ama Om …..” Toni merentangkan tangannya.
Lagi-lagi baby mengemaskan itu menyembunyikan wajahnya ke dada sang ayah.
__ADS_1
“Sama Om Ken mau?” Leon menyodorkan pada Ken, Celia menolak juga.
Leon dengan sabar membawa putrinya keliling, setelah ia rasa sudah puas ia membawa kembali ke kamar bayi. Tetapi saat, ia memberikan pada baby sister. Chelia menangis, ia merentangkan tangannya pada Leon.
“Hei, Ayah hanya sebentar sayang, nanti ayah akan pulang cepat, Ok.”
Tetapi suara Chelia menangis melengking ia tidak mau ditinggalkan ayahnya.
Mata Leon menatap putrinya sedih, ia paling tidak bisa melihat kedua buah hatinya menangis.
“Sayang, pergi saja, dia hanya menangis sebentar,” ujar Hara.
“Hatiku sakit melihatnya menangis,’ ujar Leon, ia kembali menggendong Chelia.
“Dia akan merengek ampai sore, lalu apa kamu akan mengikuti kemauannya?” Tanya Hara.
“Tidak apa-apa, sampai besok juga aku mau menggendongnya,” ujar Leon tersenyum pada istrinya.
“Lalu sekarang ….?” Hara menunjuk jam dinding.
Jarum jam sudah bertengger di angka delapan, rapat yang sudah dijadwalkan , tidak bisa dikejar lagi.
“Sudahlah, biar Toni dan Zidan yang menggantikan,” balas Leon.
“Hadeeeh …. kamu terlalu memanjakan putri kecilmu sayang,” ujar Hara.
“Tidak apa-apa,” jawab Leon mengedipkan mata pada Hara.
“Baik, sekarang kamu sama ayah, lalu kita mau ngapain?” tanya Leon melepaskan jas yang ia pakai.
“Pak Chelia dari tadi belum mandi karena dia minta ikut sama bapak,” ujar suter Ana.
“Baiklah, biar ayah yang melakukannya,” ujar Leon, ia menggulung lengan kemeja yang ia pakai lalu membawa Celia ke dalam bak mandi.
Dengan telaten ia bisa memandikan baby kembar tersebut, pakainya basah karena Chelia kegirangan dan menghempas-hempaskan tangannya ke air.
Melihat kembaranya main air, walau Okan sudah mandi , ia juga ingi ikut mandi.
“Tidaka apa-apa sus, biarkan dia juga ikut mandi di sini,” ujar Leon.
Kemeja berwarna putih itu sudah basah karena ulah Chelia yang terus saha menepuk-nepuk telapak tangannya di di dalam air.
“Apa ayah yakin bisa mengawasi mereka berdua sekaligus?” Tanya Hara saat kedua bocah lucu itu masuk ke dalam bak mandi.
“Bisa tenang saja, tapi ibu duduk di sini membantuku mengawasi jagoan ini, dia suka meminum air dalam bak mandi.
“Kalau ibunya ikut mandi boleh gak?” ujar Hara menggoda Leon.
“Boleh, ujar Leon mencipratkan air pada Hara.
“Eh …. aku basah!” Teriak Hara kaget.
“Katanya mau mandi,” ujar Leon tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
“Astaga …. Leon Wardana! Aku hanya bercanda,” ujar Hara melotot pada Leon.
Ia membalas Leon menyiram sang suami, melihat kedua orang tuanya bermain air, kedua baby kembar itu semakin bergembira. Leon melepaskan kemejanya karena sudah basa.
Memperlihatkan tubuhnya yang kekar, Leon terlihat seperti sugar dady. Kedua suster muda itu hanya menundukkan kepala saat Leon memperlihat tubuh atletisnya.
“Sus, kalian boleh keluar biar saya dan ibu yang mengawasi mereka berdua,” ujar Leon. Ia tahu kedua baby siter tersebut merasa sungkan saat ia melepaskan pakaian.
“Kenapa?” Tanya Leon.
“Kenapa menatap suamimu dengan tatapan seperti itu?” Tanya Leon, melirik kanan-kiri meraih bibir Hara dan menikmati bibir mungil itu di depan kedua bocah kembar.
“Eh …. mereka berdua melihat kita,” ujar hara mendorong dada bidang sang suami.
“Tenang mereka berdua tidak tahu, iyakan sayang,” ujar Leon mengedipkan mata pada Chelia.
“Apa yang mereka lihat itu yang terekam di otaknya,” ujar Hara.
“Hei, jagoan ayah melakukan ini karena dia ibumu iya. Jangan kamu lakukan pada sembarang wanita,” ujar Leon menunjuk Okan. Seakan-akan anak lelaki itu sudah mengerti ucapannya.
Hara hanya tertawa, mendengar Leon memberi peringatan pada bayi lelaki itu.
“Nanti malam , berarti bisa donk aku minta jatah, sudah lama tidak ganti oli,” ujar Leon meraih dagu sang istri dan mendaratkan bibirnya di bibir Hara menikmati bibir itu kembali.
“Bisa diatur … izin dulu sama princess mu, aku khawatir dia merengek dan minta di temani tidur lagi sama ayah,” ujar Hara.
“Hei cantik …. nanti malam sama suster dulu iya tidurnya, ayah sama ibu mau menunaikan kewajiban,” ujar Leon menyentuh pipih Chelia. Di balas celoteh dari bibir Chelia.
Hara hanya tertawa melihat kelakuan Leon yang memperlakukan kedua bayi mengemaskan itu, seperti orang dewasa.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1