
Saat itu Leon bertambah panik, tadinya hanya Okan yang demam, saat itu, badan Chelia juga panas bagai kompor, layaknya pasangan kembar yang katanya punya ikatan batin yang sangat kuat.
Jika satu sakit yang satunya ikut sakit juga, hal itulah yang terjadi pada Okan dan Chelia , kemarin hanya Okan yang panas sekarang adek kembarannya mengikuti jejak abangnya sama-sama demam. Leon terlihat kewalahan dibuatnya. Leon tidak bisa pergi jangankan pergi ke luar, ke kamar mandi saja Leon pergi, keduanya sudah menangis bahkan Chelia minta ikut ke kamar mandi.
Keduanya, tidak mau sama siapapun, kecuali sama ayah mereka, Okan dan Chelia, takut ditinggalkan, bahkan sama neneknya juga tidak mau. Padahal biasanya, saat Hara tidak ada, Bu Atin nenek merekalah yang sering menjaga. Namun, kali ini, wanita yang sudah mulai terlihat menua itu tidak berhasil membujuk mereka berdua.
Leon sudah terlihat sangat pucat, karena satu malaman tidak tidur, menjadi hansip malam untuk buah hatinya, Leon menjadi ayah siaga . Padahal Leon juga masih sakit, lukanya belum sembuh, bahkan ia meminta obat pereda rasa sakit, luka bekas luka diperutnya, terasa sakit saat mengendong kedua anaknya.
Hara benar-benar memberinya pelajaran, ia memberi pelajaran tentang; rumah tanpa istri itu sama saja sayuran tanpa garam, terasa hambar dan tidak enak.
Saat ini yang dialami Leon bukan hambar lagi melainkan pahit.
Di sisi lain .
Dalam hotel Leon melakukan penyelidikan sendiri akhir ia menemukan beberapa bukti, tidak sia-sia ia sembunyi di dalam hotel. Tidak lama kemudian perawat yang ia suruh mengawasi Hara, memberikan laporan kalau Kaila masih mengeluarkan banyak darah.
"Darahnya banyak bangat keluar Bu, dia bilang tidak biasanya dia seperti itu"
"Apa dia curiga dengan vitamin yang aku berikan?"
"Tidak Bu, dia tidak menyinggung."
"Baik awasi untukku."
"Baik Bu."
"Hara akhirnya bernapas lega, kamu yang memaksaku melakukan itu Kaila jika suatu saat kamu datang mengaku hamil anak Leon. Aku akan melemparkan mu ke kandang buaya," ujar Hara.
" Ini pelajaran untukku, jangan pernah percaya pada wanita yang mencoba dekat suamiku, karena apa yang di inginkan wanita ada pada Leon; Harta, tampan, mapan."
Hari itu, ia keluar dari hotel, menggunakan rambut palsu dan kaca hitam, ia menemui seseorang yang ia minta menyelidiki keluarga Kaila juga.
Setelah mendapatkan semuanya Hara ingin melepaskan beban dari pikirannya.
Hara dulu sama ayahnya sering melihat pembuatan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, ia mendatangi tempat pembuatan kerajinan dari tanah liat, mengerjakan beberapa Vas bunga.
__ADS_1
Vas kesukaan Ayahnya, Ayah Hara sangat menyukai kerajinan dan ukir-ukiran, bahkan ayahnya juga senang mengoleksi banyak kerajinan dari ukiran kayu dan tanah liat.
Bahkan koleksi milik ayahnya masih tersimpan di villa yang ada di Bogor yang saat itu dibeli Leon.
Puas melakukan itu semua dan sudah mendapatkan apa yang ia cari, ia berniat menyudahi petualangannya, karena pikirannya selalu menghawatirkan si kembar, walau Hara keluar dari rumah dan meninggalkan anak-anaknya. Namun ia tidak lantas melupakan perannya menjadi seorang ibu.
Ia selalu menelepon ke ponsel Ana, bertanya keadaan anak-anaknya, suster itu juga memberi kabar kalau Okan sakit.
Mendengar Leon sudah di rumah, ia membiarkan Leon yang melakukannya, Suster Ana juga merekam bagaiman repot dan kasihanya Leon, saat kedua anak itu sakit mencarinya.
[Baguslah, kalau sudah ada bapak Sus, jangan khawatir , sebentar lagi aku pulang] isi pesan Hara.
Suster Ana selalu memberinya informasi tentang kondisi mereka berdua.
[Bu, Pulanglah, dede Chelia sekarang jadi ikut-ikut sakit.] Isi pesan Suster Ana untuk Hara.
[Tidak apa-apa Sus, panas seperti itu tidak akan bahaya biarkan Pak Leon mengurusnya dulu, nanti kalau panasnya tidak turun, berikan obat panas yang biasa saya berikan.] Hara membalasnya.
[Tapi kasihan Pak Leon Bu, Bapak juga, kan, lagi sakit.] Pesan kedua dari Suster Ana.
Saat ini Hara menyelesaikan satu vas, vas yang terbuat dari tanah liat, vas bermotif yang biasa ayahnya Hara lakukan sepasang burung merpati.
Sepasang burung merpati di lambang kan dengan pasangan yang abadi,
‘Ok, baiklah selesai’ Hara menyelesaikan tiga vas saat itu. tinggal pengeringan, dalam toko pengerajin , semua orang yang membuatnya sendiri bisa memilikinya, hanya membayarkan, bahan utamanya.
Hara meminta toko mengemas dan mengirim ke rumah, Hara membayar ongkir dan biaya kemas . Lalu kembali ke hotel.
Hari semakin sore, demi anak-anaknya. Hara menyudahi petualangannya, akan pulang ke rumah.
Sementara di ruma Leon.
Lelaki ber wajah tegas mengendong kedua anaknya, membawanya ke ruang tamu, ia sibuk menangkan Chelia yang tiba-tiba muntah di pakaian Leon, kedua suster itu mendekat ingin membatu Leon, ingin mengambil Chelia dari gendongan ayahnya, karena ia sudah muntah. Tetapi ia semakin menangis kencang, biar bagaimana dan dengan cara apapun di buat merayu, mereka tidak mau melepaskan Leon.
“Baiklah, tidak apa-apa sayang, ayah yang menganti pakaian dede .Ok.” Leon sangat tenang tidak ada sedikit merasa jijik saat muntahan berwarna putih mengotori pakaiannya dan lengannya.
__ADS_1
Bu Atin dan ke dua suster itu hanya bisa menonton, tidak bisa berbuat apa-apa, kerena kedua bocah kakak beradik itu, tiba-tiba jadi sangat manja.
Leon terlihat kelelahan, tetapi tidak ada raut marah sedikitpun dari wajahnya, justru ibunya dan dr, Billy yang mengkhawatirkannya , takut luka jahitan di perutnya akan terbuka lagi.
Leon mendudukkan mereka berdua di kursi, setelah Leon menganti pakaian si cantik Chelia dan Okan juga duduk di samping adiknya, tetapi mata mereka berdua mengikuti kemanapun Leon bergerak.
Leon tahu mereka berdua takut kalau ia pergi meninggalkan keduanya, seperti yang dilakukan ibu mereka.
Saat Leon membuka koas dan menggantinya dengan pakaian yang bersih, saat itulah di pintu sosok perempuan seperti malaikat berdiri di sana, senyum manis terukir indah di bibirnya.
Leon terdiam menatap ke arah pintu.
“Hara ….?”
Mata semua mengikuti pandangan Leon,
“Ibuuu!” kedua bocah yang sedang sakit itu berlari menghambur pada Hara.
“Sayang” Hara merentangkan tangannya dan merenggut kedua bocah kembar itu memeluknya dan memberinya kecupan di pipi bergantian.
Leon diam, hanya menatap kearah Hara dengan tatapan tidak percaya, ia menghembuskan napas kasar dari mulutnya dan ia terduduk dengan lemah di sofa.
Bu atin berdiri dan mendekat. “Hara, kamu akhirnya pulang Nak, syukurlah ibu sangat kawatir”
“Iya Bu aku pulang, maaf kalau membuat ibu kawatir,” ucap Hara kembali sibuk memeluk kedua buah hatinya.
“Ibu dari mana , ibu kangen.” Chelia kembali menangis manja memeluk leher Hara saat itu kedua anak kembar itu sudah melupakan Leon, lelaki yang dari kemarin mereka perebutkan, saat ini sudah tidak diperlukan lagi karena sudah tergantikan dengan sosok yang paling mereka rindukan.
“Ih … dede bau acaaam,” goda Hara menggelitik perutnya Chelia, anak perempuan itu tertawa renyah.
“Dede muntah.”
Hara mengendong Celia dan memegang tangan Okan dan membawanya ke kamarnya kembali, Hara tidak menyapa Leon karena ia melihat belum berani melihat wajahnya
‘Apa Hara masih marah? Leon membatin, tetapi ia merasa lega karena istrinya sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
Bersambung ..