
Di rumah besar Leon.
Jovita menangis pilu di kamarnya, lelah menangis, ia berjalan menuju balkon kamar menatap hamparan laut luas.
“Kamu memang bodoh Jovita Haraaa! Kenapa kamu mengungkap perasaanmu tadi, kamu bodoh!”
Ia duduk diam, hanya melihat hamparan laut dari balkon kamarnya, ia merasa lelah setelah menangis lama, melihat lautan itu, jiwanya terasa semakin kosong, merasa terdampar di dunia asing dan hidup sendiri.
“Aku pikir aku kuat sepeninggalan kalian Ibu, tetapi nyata aku sangat rapuh. Merindukan orang yang sudah tiada itu .... Rasanya sangat menyiksa,” ujar Jovita lagi-lagi sungai dalam matanya kembali mengalir deras.
Ia Merasa semakin tersiksa berada dalam kamar, ia menarik selimut kecil dan keluar, berjalan menuju pintu belakang dan masuk ke kamar Bu Atin.
“Non …?”
“Bi …"Jovita memeluk bu Atin yang saat ibu sedang merapikan tempat tidurnya.
“Ada apa, Non?” Membawa tubuh Jovita duduk di sisi ranjang.
“Aku murahan iya Bi, hidupku sangat memalukan Bi, tetapi aku bukan anak kecil ”
“Ada apa Non. Apa ada hubungannya dengan keberangkatan Pak Leon berburu?”
Jovita hanya mengangguk.
“Apa kalian bertengkar?”
“Iya, Bi aku memalukan, aku mengungkapkan perasaan cinta ini pada Leon dan dia menolak ku”
“OH, sayangku … OH” Bi Atin memeluknya.
“Dia bilang aku hanya anak kecil Bi, setelah ia merusak hidupku, masa depanku, aku malu pada diriku Bi”
“Maafkan Leon Nak, dia dulu tidak seperti itu, dia hanya takut terluka lagi”
Wajah Jovita mendongak, ia menatap wanita paruh ltu dengan tatapan mata penasaran.
“Ada dengan Leon Bi, kenapa dia si sangat membenci kata cinta?” Jovita penasaran.
“Bibi meminta maaf Non, karena membiarkanmu mengalami hal buruk itu dari Leon, Harusnya aku memperingatkan mu sayang”
“Apa maksud Bibi?”
“Bibi hanya mau bilang maafkan Leon Non”
“Katakan ada apa dengannya Bi, agar aku bisa mengambil sikap padanya,” ujar Jovita membujuk Bi Atin.
Wanita paru baya itu sangat berat menceritakan hal itu pada Jovita, setelah didesak barulah ia mau membuka cerita rahasia Leon.
__ADS_1
“Dulu Leon tidak seperti saat ini Non, tetapi setelah penghianatan itu .... Ia sangat membenci namanya cinta apalagi sebuah hubungan”
“Apa yang tejadi?”
“Leon sudah menjalin hubungan yang sangat lama dengannya .... Mungkin lima tahun, tetapi wanita itu mengkhianatinya. Paling parahnya lagi, ia berselingkuh dengan anak buah Leon yang bernama Damian. Lelaki yang saat ini jadi saingan bisnisnya, dia selalu berambisi memiliki apa yang Leon miliki, mungkin jika dia tahu kamu wanita yang penting di hidup Leon dia akan mengacaukan pikiran Leon lagi"
“Lalu apa yang terjadi Bi?”Jovita tidak sabar ingin mendengar cerita Leon.
“Mereka sudah berencana akan menikah setelah wanita itu mengaku hamil anak Leon … Tetapi Leon akhirnya mengetahui, wanita itu. Ah …” Bi Atin sangat berat menceritakannya.
“Apa Bi?”
“Wanita hamil dari pria lain , hamil anak Damian, anak buah Leon sendiri. Kamu bayangkan bagaimana hancur hati Leon saat itu"
“Sejak saat itu, ia meniduri banyak wanita kalau ada yang mengaku hamil anaknya, maka akan dibunuh, seperti yang kamu lihat saat di Kalimantan saat itu, dia mengaku hamil pada Leon .…”
Jovita terdiam, sekarang ia paham kenapa Leon sangat membenci kata cinta.
“Pantas saja ia marah besar padaku Bi, ternyata ia mendapat penghianatan yang sangat menyakitkan ” Jovita mengusap air matanya.
“Maaf Non, harusnya aku bilang padamu saat itu, bibi berpikir kalau ia akan berubah setelah ada kamu di sisinya”
“Aku juga berpikir begitu Bi, aku pikir dia jatuh cinta padaku, kerena dia memberiku perhatian yang sangat manis’
“Tolong maafkan dia Non, kepahitan hiduplah yang mengubah seperti itu."
“Aku terbiasa dikelilingi cinta dan kebahagian di keluargaku Bi dan aku selalu di manjakan oleh kedua orang tuaku, makanya aku tidak tahu bagaimana kehidupan luar itu”
“Ayahku sangat memanjakan ku Bi, selalu memperlakukan diri ini seperti seorang putri , segala sesuatunya ayah ibuku yang mengurusnya, termasuk hal jodoh, aku tidak pernah pacaran, tidak pernah bebas seperti anak-anak remaja lainya. Jika ingin jalan-jalan maka ibu dan ayahku ikut, kami lakukan bersama. Ayah bahkan mempekerjakan seorang bodyguard untukku, ia merangkap jadi supirku agar tidak mencolok kata ayah, aku kemana Om Piter selalu mengawal ku.
Jadi, apa yang dikatakan Leon benar Bi, aku tidak tahu tentang dunia luar, itulah sebabnya dia menganggap ku anak kecil”
“Kamu anak baik-baik Non, kamu itu seperti bintang dalam kegelapan selalu terlihat ceria dan ramah pada semua orang”
“Tapi leon menuduhku merasa sok suci Bi, ia benci dengan sikap ketidak tahuan ku”
Wanita memeluk tubuh Jovita lagi.
“Jangan jadi berubah Non, hanya karena omongan pak Leon Non. Jadilah dirimu sendiri"
“Tapi aku ingin berubah lebih dewasa Bi, aku ingin meninggalkan sikap kekanak-kanakan itu, bantu aku bersikap dewasa"
“Bibi ingin kamu menjadi dirimu sendri Non biarkan berjalan alami"
mengobrol lama dengan Bi Atin Jovita merasa rasa sedihnya sedikit berkurang.
“Aku sangat lelah Bi, aku ingin tidur, satu malam ini ... aku juga tidak bisa tidur karena menunggu dan memikirkan Leon.
“Baiklah kamu istirahat di sini saja. Bibi, akan ke dapur”
Jovita merebahkan tubuhnya dan mencoba tidur, menangis lama membuat matanya dan kepalanya pusing.
__ADS_1
**
Disisi lain di pinggir hutan di Kalimantan.
“Door …. Dooor …. Door!
Bunyi senapan angin milik Leon memecah keheningan hutan belantara itu, sekumpulan burung yang bertengger di ranting pohon, terbang meninggalkan dahan persinggahan mereka, burung-burung itu memilih pergi, seakan-akan mereka bisa melihat kemarahan di wajah Leon.
Senapan jenis AFC Airforce Condor atau senapan pemburu, Big game.
Beberapa tembakan Leon menewaskan tiga Babi hutan, kurang menantang untuk Leon. Ia maju lagi ke arah pedalaman hutan, hewan berbulu jenis pitbull, ikut bersamanya, sementara Sabrina menggerutu kesal, karena ia dibawa ke hutan itu hanya untuk mengantarkan kulit halusnya untuk di cium para nyamuk- nyamuk hutan.
“Kalau aku tahu Bos membawaku ke hutan, hanya untuk berburu lebih baik aku di rumah mempercantik diri,” rutuknya kesal, ia sibuk memukul nyamuk yang memiliki ukuran lebih besar dari nyamuk pada umumnya.
Sabrina semakin kesal karena Leon mengacuhkannya dan kini meminta menunggu di rumah pohon bersama beberapa anak buahnya. Sementara Leon dan Rikko melakukan pemburuan dalam hutan, big game di mulai, suara tembakan dari senapan angin jenis AFC terdengar nyaring di tengah hutan.
Ia memang gila dalam hal menembak hanya ... beberapa jam saja, ia sudah mengumpulkan puluhan ekor celeng , ia berhenti setelah merasa lapar.
“Kita pulang dan tidur di mansion malam ini,” ujar Leon.
"Baik Bos"
Mereka akan tidur di rumah yang ada di Kalimantan, mendengar sang bos akan datang. Nina mengatur semua persiapan untuk Leon.
“Bagi-bagi saja sama warga yang mau,” pinta Leon, melirik hasil buruannya.
"Baik Bos"
Puas berburu satu hari itu, ia pulang menuju rumahnya yang ada di Kalimantan
Ia sengaja mengalihkan pikirannya dengan berburu, saat malam tiba, Leon berpikir akan mencoba tidur sendiri tanpa jimat tidurnya.
"Saya bisa tidur tanpa kamu anak kecil. Saya tidak akan membutuhkan kamu lagi," ujar Leon dengan wajah sedih, matanya melirik patung dewa mereka, ia berharap para leluhur menolong dirinya.
Lalu apakah ia bisa tidur tanpa Jovita?
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)