Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Masakan Spesial untuk Para Lelaki Tampan


__ADS_3

Untuk perjalanan  nanti Leon meminta Kaila reservasi hotel di kota Olso Norwegia, karena Hara meminta hanymon mereka di sana.


“Baik Pak,” ujar Kaila dengan wajah cemberut.


Cinta bertepuk sebelah tangan  membuatnya terkadang sangat iri sama Hilda dan Hara, karena kedua wanita itu sudah menikah dengan orang yang mereka cintai. Sementara ia masih saja jomblo abadi.


Apalagi saat diminta mengurusi surat izin mendarat di negara tersebut, karena Leon akan terbang menggunakan jet pribadi miliknya.


“Kai!”


“Iya Pak.”


“Ke ruangan saya sebentar, " ujar Leon, lalu meletakkan gagang telepon.


Wanita itu bersemangat merapikan  penampilannya.


Lalu ia mengetuk ruangan Leon


" Masuk! "


“Iya Pak.”


“Tolong pilihkan ponsel yang terbaru untuk istri saya, yang ada fitur untuk melukis,” ujar Leon.


Wajah Kaila lagi-lagi kecewa, ia berpikir kalau Leon ingin mengajaknya menemui klien  nanti malam. Tetapi sejak Leon menikah, ia tidak pernah mengajak Kaila ikut meeting di luar kota, ataupun meeting sampai malam. Leon sepertinya tahu, kalau Kaila  suka padanya, jadi Leon menjaga jarak dari pada ada hal buruk yang merusak hubungan rumah tangga  mereka.


Leon selalu mengajak Zidan dan Ken  setiap kali ada pertemuan klien.


“Baik Pak,’ ujarnya meninggalkan ruangan Leon.


“Kenapa dia?” Tanya Vincent saat  mereka berempat ada di ruangan Leon.


“Cinta tidak kesampaian,” bisik Ken.


“Oh, dia selama ini suka sama Bos?”


“Iya, Bram ikut angkat suara.”


Mereka berempat lagi mendengar briefing dari Leon.


Di sisi Lain Hara kegirangan.


Mendapat ponsel baru dari Leon Hara,  Hara ingin memasak makan malam spesial untuk Leon.


 berdendang kecil dengan wajah terlihat ceria,  ia turun menghampiri Bu Atin yang memotong tangkai bunga-bunga yang kering.


“Bu, aku akan memasak makan malam untuk kita.”


Mendengar suara Hara Bu Atin mengalihkan matanya kearah Hara. “Apa kamu yakin sudah kuat?” Mata bu Atin  menatapnya dengan tatapan serius.


“Sudah Bu, aku ingin masak menu spesial malam ini, sebagai ucapan sayang untuk lima lelaki tampan,” ujarnya  kembali tersenyum ceria.


“Kenapa begitu ceria? Apa suamimu kasih jatah tadi malam?” ucap Bu Atin bercanda.


'Kok Ibu tahu ....'


Hara tertawa ngakak saat ibu mertuanya  berkata seperti itu.


“Apa  Leon sudah tahu?”

__ADS_1


“Aku sudah mengirim pesan untuk Leon Bu, apa Ibu tahu ia membelikan ponsel baru untukku …  ini lihat.” Hara dengan wajah  sumringah menunjukkan ponsel mahal miliknya yang dibelikan Leon untuknya.


“Siapa yang mengantarnya,  apa Leon yang datang sendiri memberikannya?”


“ Tidak Bu, Bram yang mengantarnya, ia bilang Leon lagi rapat jadi  hari ini dia sibuk, sebentar Bu,  kita foto dulu mengarahkan ponselnya kearah mereka berdua. Tidak ingin mengecewakan Hara,  bu Atin melebarkan senyum indah dan mengarahkan  dua jarinya membentuk huruf V.


Lalu dengan cepat jari-jari lentik Hara  mengetik di ponselnya.


“Aku akan masak enak Bu, aku ingin meletakkan meja di taman ini. Nanti,  tidak akan hujan’ kan?” Hara mengarahkan matanya keatas  awan menatap langit membaca  perkiraan cuaca.  “Cerah! berarti nanti malam tidak akan hujan.”


“Hara, kamu masih kurang sehat kan, apa sebaiknya kita periksa ke dokter?”


“Tidak apa-apa Bu, paling hanya masuk angin dan kurang istirahat.”


“Tapi apa kamu yakin kuat masak?”


“Jangan khawatir Bu, aku kuat,” ucap  Hara mengangkat lengannya membentuk persegi dengan  telapak tangan terkepal dan mengucapkan  “Cahyooo”


“Baiklah,  Ibu akan  bantu, iya?”


“Jangan, jangan Bu, biarkan aku saja.”


Bu Atin tersenyum dengan  melihat semangat Hara  membuatnya kagum,  Bu Atin berharap Leon selalu bahagia dan  berharap hubungan selalu baik.


 Hara mulai  berkutat sendiri di dapur,  ia tidak mau di bantu, walau. Namun, ia melakukannya dengan yakin  berusaha memberi masakan enak untuk suami.


Hara memasak menu yang di sukai Leon, steak daging sapi Hara memasaknya sendiri dan menyajikannya dengan cantik,  tidak hanya satu menu, ia juga memasak spaghetti dengan mie yang ia pilih paling baik, menu ketiga Hara juga memasak menu soup iga sapi.


Bu Atin hanya duduk melihat dari meja makan, Hara bahkan tidak membiarkan Bu Atin membantunya, sesekali Hara mengusap keringat yang mengucur di keningnya.


“Hara, kamu yakin tidak mau dibantuin, Ibu?”


“Tidak Bu, tenang saja ini bisa aku kerjakan sendiri.”


“Oh, tenang Bu, aku kuat,” ucap Hara masih terlihat bersemangat.


Bu Atin salut melihat kelihaian Hara dalam memasak, ia melakukannya dengan terampil.


“Sejak kapan kamu bisa masak?” tanya Bu Atin penasaran, karena ia tahu Hara  berasal dari keluarga yang berada dan ia juga dibesarkan layaknya seorang putri.


“Sejak Sekolah Dasar Bu, Ibuku itu suka sekali makan dan Ayah suka masak, kata Ayah wanita itu harus bisa masak, jadi aku belajar masak dari ayah bukan dari ibu, setiap kali ayah memasak ia akan mengajakku ke dapur kata Ayah saat itu;


“Nak, perempuan itu harus bisa masak, jangan kayak ibu bisanya cuman makan doang, saat ibu ngambek tidak mau makan selama dua hari di rumah” Hara menceritakan masa kecilnya dan masa remajanya, ia sesekali tertawa lebar saat menceritakan masa-masa indah bersama keluarganya.


“Apa Ibumu tidak bisa memasak?” tanya Bu Atin penasaran.


Hara tertawa lebar sebelum menjawab, ia tidak lagi menangis saat disinggung tentang keluarga, sepertinya ia sudah  menerima kenyataan kalau orang-orang yang dicintainya itu sudah pergi jauh ke dunia lain.


“Bisa tapi tidak sejago ayah, mereka berdua selalu bercanda saling menggoda, rumah kami tidak pernah sepi belum lagi adik kembarku tidak mau diam.”


Bu Atin ikut tertawa terbawa suasana saat Hara menceritakan hal-hal Lucu tentang Ibunya yang tidak bisa memasak, tetapi suka makan, menceritakan dua adek kembar laki-laki yang suka berebut dalam segala hal.


“Ibu berharap kamu melahirkan anak kembar Hara,” ujar Bu Atin.


“Amin Bu,” balas Hara mengusap perut.


Memasak  dengan berbagi cerita  tidak terasa Hara sudah selesai memasak tiga menu spesial untuk Leon.


“Akhirnya selesai juga, ah… “ Hara  bernafas legah.

__ADS_1


“Wah kamu hebat,” puji Bu Atin padanya.


“Bu aku ingin kita makan ramai-ramai di taman itu,” Hara menunjuk taman bunga di samping rumah Leon taman yang di penuhi warna-warni bunga.


“Bukannya untuk kalian berdua?"


“Sebenarnya Bu, aku memasak untuk Kak Zidan, aku ingin mengundang Clara.”


“Oh, iya ampun Nak, kalau gitu ibu bantuin tadi,” ujar Bu Atin.


Jovita Hara mengetik di ponselnya.


[Sayang ajak Kak Zidan pulang dia ulang tahun,  aku memasak untuk ulang tahunnya]


[Baiklah] Balas Leon.


‘Kamu wanita yang sangat baik Hara, mungkin Zidan sendiri tidak tahu kalau dia ulang tahun ni, tetapi kamu ingat, kamu  selalu bisa membuat orang lain merasa bahagia’ ucap Leon dalam hati, ia tersenyum kecil.


“Kita langsung pulang saja,” ujar Leon saat  mereka berempat keluar dari sebuah gedung pertemuan.


“Tapi Bos, kita tidak kembali ke hotel lagi?” tanya Bram.


“Hara mengundang kita makan  malam bersama.”


“Benarkah?” Ken semangat.


“Ayo kita pulang,” ujar Leon bergegas.


“Tunggu Bos,” ujar Bram dan Ken.


“Apa lagi?”


“Bos kita sudah di undang makan malam kami harus membawa sesuatu , itu baru romantis,” ujar Ken dan Bram.


Dari Kelima lelaki tampan itu hanya Ken dan Bramlah yang selalu punya sikap humoris, sisanya balok es.


“Oh, gitu ….? baiklah, ambilkan juga untuk  buah tanganku,” ujar Leon.


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK


 Baca juga.


- Pariban Jadi rokkap( Baru)


-Aresya(Baru)


-Turun Ranjang(Baru)


-The Curet king( Baru)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2