
Untuk perjalanan nanti Leon meminta Kaila reservasi hotel di kota Olso Norwegia, karena Hara meminta hanymon mereka di sana.
“Baik Pak,” ujar Kaila dengan wajah cemberut.
Cinta bertepuk sebelah tangan membuatnya terkadang sangat iri sama Hilda dan Hara, karena kedua wanita itu sudah menikah dengan orang yang mereka cintai. Sementara ia masih saja jomblo abadi.
Apalagi saat diminta mengurusi surat izin mendarat di negara tersebut, karena Leon akan terbang menggunakan jet pribadi miliknya.
“Kai!”
“Iya Pak.”
“Ke ruangan saya sebentar, " ujar Leon, lalu meletakkan gagang telepon.
Wanita itu bersemangat merapikan penampilannya.
Lalu ia mengetuk ruangan Leon
" Masuk! "
“Iya Pak.”
“Tolong pilihkan ponsel yang terbaru untuk istri saya, yang ada fitur untuk melukis,” ujar Leon.
Wajah Kaila lagi-lagi kecewa, ia berpikir kalau Leon ingin mengajaknya menemui klien nanti malam. Tetapi sejak Leon menikah, ia tidak pernah mengajak Kaila ikut meeting di luar kota, ataupun meeting sampai malam. Leon sepertinya tahu, kalau Kaila suka padanya, jadi Leon menjaga jarak dari pada ada hal buruk yang merusak hubungan rumah tangga mereka.
Leon selalu mengajak Zidan dan Ken setiap kali ada pertemuan klien.
“Baik Pak,’ ujarnya meninggalkan ruangan Leon.
“Kenapa dia?” Tanya Vincent saat mereka berempat ada di ruangan Leon.
“Cinta tidak kesampaian,” bisik Ken.
“Oh, dia selama ini suka sama Bos?”
“Iya, Bram ikut angkat suara.”
Mereka berempat lagi mendengar briefing dari Leon.
Di sisi Lain Hara kegirangan.
Mendapat ponsel baru dari Leon Hara, Hara ingin memasak makan malam spesial untuk Leon.
berdendang kecil dengan wajah terlihat ceria, ia turun menghampiri Bu Atin yang memotong tangkai bunga-bunga yang kering.
“Bu, aku akan memasak makan malam untuk kita.”
Mendengar suara Hara Bu Atin mengalihkan matanya kearah Hara. “Apa kamu yakin sudah kuat?” Mata bu Atin menatapnya dengan tatapan serius.
“Sudah Bu, aku ingin masak menu spesial malam ini, sebagai ucapan sayang untuk lima lelaki tampan,” ujarnya kembali tersenyum ceria.
“Kenapa begitu ceria? Apa suamimu kasih jatah tadi malam?” ucap Bu Atin bercanda.
'Kok Ibu tahu ....'
Hara tertawa ngakak saat ibu mertuanya berkata seperti itu.
“Apa Leon sudah tahu?”
__ADS_1
“Aku sudah mengirim pesan untuk Leon Bu, apa Ibu tahu ia membelikan ponsel baru untukku … ini lihat.” Hara dengan wajah sumringah menunjukkan ponsel mahal miliknya yang dibelikan Leon untuknya.
“Siapa yang mengantarnya, apa Leon yang datang sendiri memberikannya?”
“ Tidak Bu, Bram yang mengantarnya, ia bilang Leon lagi rapat jadi hari ini dia sibuk, sebentar Bu, kita foto dulu mengarahkan ponselnya kearah mereka berdua. Tidak ingin mengecewakan Hara, bu Atin melebarkan senyum indah dan mengarahkan dua jarinya membentuk huruf V.
Lalu dengan cepat jari-jari lentik Hara mengetik di ponselnya.
“Aku akan masak enak Bu, aku ingin meletakkan meja di taman ini. Nanti, tidak akan hujan’ kan?” Hara mengarahkan matanya keatas awan menatap langit membaca perkiraan cuaca. “Cerah! berarti nanti malam tidak akan hujan.”
“Hara, kamu masih kurang sehat kan, apa sebaiknya kita periksa ke dokter?”
“Tidak apa-apa Bu, paling hanya masuk angin dan kurang istirahat.”
“Tapi apa kamu yakin kuat masak?”
“Jangan khawatir Bu, aku kuat,” ucap Hara mengangkat lengannya membentuk persegi dengan telapak tangan terkepal dan mengucapkan “Cahyooo”
“Baiklah, Ibu akan bantu, iya?”
“Jangan, jangan Bu, biarkan aku saja.”
Bu Atin tersenyum dengan melihat semangat Hara membuatnya kagum, Bu Atin berharap Leon selalu bahagia dan berharap hubungan selalu baik.
Hara mulai berkutat sendiri di dapur, ia tidak mau di bantu, walau. Namun, ia melakukannya dengan yakin berusaha memberi masakan enak untuk suami.
Hara memasak menu yang di sukai Leon, steak daging sapi Hara memasaknya sendiri dan menyajikannya dengan cantik, tidak hanya satu menu, ia juga memasak spaghetti dengan mie yang ia pilih paling baik, menu ketiga Hara juga memasak menu soup iga sapi.
Bu Atin hanya duduk melihat dari meja makan, Hara bahkan tidak membiarkan Bu Atin membantunya, sesekali Hara mengusap keringat yang mengucur di keningnya.
“Hara, kamu yakin tidak mau dibantuin, Ibu?”
“Tidak Bu, tenang saja ini bisa aku kerjakan sendiri.”
“Oh, tenang Bu, aku kuat,” ucap Hara masih terlihat bersemangat.
Bu Atin salut melihat kelihaian Hara dalam memasak, ia melakukannya dengan terampil.
“Sejak kapan kamu bisa masak?” tanya Bu Atin penasaran, karena ia tahu Hara berasal dari keluarga yang berada dan ia juga dibesarkan layaknya seorang putri.
“Sejak Sekolah Dasar Bu, Ibuku itu suka sekali makan dan Ayah suka masak, kata Ayah wanita itu harus bisa masak, jadi aku belajar masak dari ayah bukan dari ibu, setiap kali ayah memasak ia akan mengajakku ke dapur kata Ayah saat itu;
“Nak, perempuan itu harus bisa masak, jangan kayak ibu bisanya cuman makan doang, saat ibu ngambek tidak mau makan selama dua hari di rumah” Hara menceritakan masa kecilnya dan masa remajanya, ia sesekali tertawa lebar saat menceritakan masa-masa indah bersama keluarganya.
“Apa Ibumu tidak bisa memasak?” tanya Bu Atin penasaran.
Hara tertawa lebar sebelum menjawab, ia tidak lagi menangis saat disinggung tentang keluarga, sepertinya ia sudah menerima kenyataan kalau orang-orang yang dicintainya itu sudah pergi jauh ke dunia lain.
“Bisa tapi tidak sejago ayah, mereka berdua selalu bercanda saling menggoda, rumah kami tidak pernah sepi belum lagi adik kembarku tidak mau diam.”
Bu Atin ikut tertawa terbawa suasana saat Hara menceritakan hal-hal Lucu tentang Ibunya yang tidak bisa memasak, tetapi suka makan, menceritakan dua adek kembar laki-laki yang suka berebut dalam segala hal.
“Ibu berharap kamu melahirkan anak kembar Hara,” ujar Bu Atin.
“Amin Bu,” balas Hara mengusap perut.
Memasak dengan berbagi cerita tidak terasa Hara sudah selesai memasak tiga menu spesial untuk Leon.
“Akhirnya selesai juga, ah… “ Hara bernafas legah.
__ADS_1
“Wah kamu hebat,” puji Bu Atin padanya.
“Bu aku ingin kita makan ramai-ramai di taman itu,” Hara menunjuk taman bunga di samping rumah Leon taman yang di penuhi warna-warni bunga.
“Bukannya untuk kalian berdua?"
“Sebenarnya Bu, aku memasak untuk Kak Zidan, aku ingin mengundang Clara.”
“Oh, iya ampun Nak, kalau gitu ibu bantuin tadi,” ujar Bu Atin.
Jovita Hara mengetik di ponselnya.
[Sayang ajak Kak Zidan pulang dia ulang tahun, aku memasak untuk ulang tahunnya]
[Baiklah] Balas Leon.
‘Kamu wanita yang sangat baik Hara, mungkin Zidan sendiri tidak tahu kalau dia ulang tahun ni, tetapi kamu ingat, kamu selalu bisa membuat orang lain merasa bahagia’ ucap Leon dalam hati, ia tersenyum kecil.
“Kita langsung pulang saja,” ujar Leon saat mereka berempat keluar dari sebuah gedung pertemuan.
“Tapi Bos, kita tidak kembali ke hotel lagi?” tanya Bram.
“Hara mengundang kita makan malam bersama.”
“Benarkah?” Ken semangat.
“Ayo kita pulang,” ujar Leon bergegas.
“Tunggu Bos,” ujar Bram dan Ken.
“Apa lagi?”
“Bos kita sudah di undang makan malam kami harus membawa sesuatu , itu baru romantis,” ujar Ken dan Bram.
Dari Kelima lelaki tampan itu hanya Ken dan Bramlah yang selalu punya sikap humoris, sisanya balok es.
“Oh, gitu ….? baiklah, ambilkan juga untuk buah tanganku,” ujar Leon.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing