
Kini dalam hutan itu hanya ada Leon dan Jovita.
“Aku capek berjalan terus Pak Leon”
Jovita memegang pinggang dengan napas ngos-ngosan.
“Kamu masih muda kenapa gampang capek ? kita harus meninggalkan tempat ini sejauh mungkin, jika ini ulah lelaki tua itu, saya yakin dia akan menurunkan semua anak buahnya”
“Mari kita istirahat sebentar saja, aku sangat capek, tanganku juga sakit." Jovita mengusap - usap punggung terasa panas saat berjalan jauh naik turun bukit.
“Saya akan menggendong mu.” Leon mengangkat tubuh jovita.
Belum sempat menolak, Leon menggendong tubuhnya, bak mengendong anak kecil.
‘Kenapa dia tiba-tiba sangat ringan belakangan ini, apa dia tidak makan apa?’ Leon membatin. Ia menyadari berat tubuh Jovita berkurang.
“Eh Pak Leon tidak capek?”
“Kamu enteng, itu tidak akan membuatku capek"
Wajah'r Leon memang terlihat kaku tetapi dalam hatinya, bisa bersama Jovita saat ini, hal sangat membahagiakan untuknya.
Jovita menatap wajahnya.
'Dia tampan sebenarnya, akan lebih tampan lagi, kalau dia tersenyum. Sayang lelaki itu seolah-olah tidak tahu bagaimana cara tersenyum’ Jovita membatin matanya menatap wajah Leon dengan begitu dalam.
"Jangan menatapku seperti itu membuatku tidak fokus," ujar Leon.
Jovita mengalihkan matanya kearah lain, tidak ingin Leon memarahinya.
Sudah berjalan sudah lumayan jauh dari sungai pakaian Leon dan wajahnya bermandi keringat karena mengendong Jovita cukup jauh.
“Turunkan saja, Bapak sudah terlihat sangat capek,” ujar jovita.
“Baiklah, saya sangat haus.”
Leon menurunkannya meraih daun talas, lalu melipatnya ia gunakan menampung air dari mata air .
Jovita duduk, matanya selalu melihat Leon dengan diam mengawasi setiap gerak-gerik. Ia merasa Leon tidak terusik sedikitpun dengan tatapannya. Ia tidak tahu, kalau Leon juga bertahan sekuat tenaga untuk bersikap tenang di depan Jovita.
'Entah berapa lama aku bertahan dengan tatapannya' Leon memegang batang lehernya, Leon sebenarnya ingin bersikap romantis dan ingin menunjukkan rasa bahagianya bersama wanita cantik tersebut. Tetapi, entah kenapa, di depan Jovita ia seperti mati kutu.
“Apa kamu mau minum juga?” Leon menawarkan air dalam daun talas yang ia tampung.
“Iya mau.” Tidak ada pilihan, walau air mentah tidak perduli lagi. Ia tahu kalau perutnya akan mulas nantinya. Karena Jovita tidak biasa minum air yang tidak dimasak, biasanya ia minum air yang sudah dimasak sebelum di minum. Kebiasaan dari kecil menurun dari ibunya, bahkan di rumah Leon sendiri ia juga seperti itu.
"Tapi bagaimana cara minumnya?" tanya Jovita polos, mata besar itu mengerjap - erjap meminta seakan- akan meminta bantuan pada Leon.
" Buka mulutnya." Leon menuangkan ke mulutnya dari daun talas.
__ADS_1
*
“Apa kamu menyesal karena tidak bisa terbang hari ini?” Tanya Leon saat mereka istirahat.
“Menyesal bukan ungkapan yang tepat Pak Leon, saya hampir dibunuh bagaimana mungkin bilang menyesal, justru saya berterimakasih sama bapak karena menyelamatkanku,” ujar Jovita, lalu kembali dalam mode diam.
‘Terimakasih karena kamu tidak jadi pergi’ ucap Leon dalam hati, ia melirik Jovita dengan hati senang.
Merasa perut mulai lapar Leon mencari makan, memanfaatkan tumbuhan sekitar, mencabut talas besar dan mengambil umbinya.
“Apa itu bisa dimakan?” Tanya Jovita memperhatikan umbi talas untuk pertama kalinya ia melihat tumbuhan tersebut, karena daerah Bogor terkenal dengan talas yang enak.
“Ini namanya talas, dulu saat masih kecil saya sering memasaknya di Kalimantan, buktinya saat ini saya masih hidup. Jangan khawatir tidak beracun," ujar Leon
“Oh, baiklah,” ujar Jovita, ia menatap Leon dengan antusias, lelaki bertubuh kekar itu menyiapkan jadi sebuah hidangan yang bisa mengganjal perut yang sedang kelaparan.
Pertama Leon mengupas umbinya dengan pisau yang ia ambil dari pinggangnya lalu mengusap-usap dengan tanah untuk menghilangkan getah yang bisa membuat mulut gatal, lalu ia membasuhnya dengan air bersih. Menyalahkan api dan membakar seperti membakar daging.
Jovita terlihat sangat antusias dengan apa dikerjakan Leon, ia anak kota, tidak pernah melihat hal-hal yang seperti dilakukan Leon.
Terlihat sangat bersemangat saat Leon menangkap ikan di sungai mengunakan bujur, awalnya Jovita hanya diam. Namun saat Leon mendapat ikan besar mata besar itu melotot kagum.
“Oh ....! Apa bisa menangkap ikan dengan cara seperti itu?”
“Iya ini cara orang kampung saya, untuk menangkap ikan"
Jovita ingin mendengar Leon menceritakan masa kecilnya saat di kampung. Tetapi ia takut bertanya. Takut lelaki sikulkas dua pintu itu marah.
“Apa kamu mencoba?" tanya Leon.
“Jovita awalnya bersemangat ingin mencoba masuk ke dalam rawa-rawa. Namun saat leon berbalik badan, ternyata di badan Leon menempel lintah.
“Ah!? itu … itu, itu ada lintah," ucap Jovita merinding dan melompat menjauh dari rawa dekat sungai.
“Oh, pantas saya merasa ada yang gatal di punggungku,” ujar Leon ia santai dan keluar dari air.
“Oo.Oh .... May God!” Jovita ingin muntah.
Di tubuh Leon dipenuhi lintah dan pacat.
“Bisa tolong singkirkan,” ujar leon memberikan kayu.
Saat koas singlet itu di angkat Jovita merasa mual saat melihat beberapa lintah dengan perut bunting.
“Uaak … mereka lagi minum darahmu,” ujar Jovita ingin muntah melihat binatang berlendir itu menempel di punggung Leon dengan perut besar.
“Ia tolong singkirkan.”
Jovita menggunakan kayu untuk menyingkirkan dari badan Leon.
__ADS_1
“Bisa kita menjauh dari sini, aku ingin muntah melihat mereka,” ujar Jovita dengan wajah memerah, ia merasa mual saat Leon menginjak lintah-lintah dan darahnya muncrat.
“Baiklah mari ...." Leon membawa ikan yang sudah dibakar dan talas bakar itu dalam daun talas, menjauh dari rawa-rawa dan duduk di dekat pohon besar.
“Ini makan,” Sepotong talas bakar, Leon memakan dengan santai.
Jovita awalnya, memakannya dengan ragu, tetapi melihat Leon memakan dengan lahap, ia memberanikan diri memakan.
“Oh enak juga,” ucapnya tersenyum kecil, memakannya satu potong. Leon mencuri-curi pandang melihat Jovita yang tersenyum tanpa beban, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum kecil.
“Ini makan.” Leon menyodorkan ikan bakar , seketika perut wanita cantik itu, melakukan penolakan.
“Uaak ... itu bau bangat! Singkirkan!” Teriaknya dengan wajah merah.
“Ini ikan yang tadi, bukannya kamu biasanya suka ikan”Alis Leon menyengit.
“Apa lintah tadi menempel di ikan itu juga? Apa mereka meminum darah ikan ini? soalnya sama- sama tinggal di rawa"
“Aku jijik dan geli,” ujar Jovita menjauhi Leon yang sedang menyantap ikan. Ia menutup hidungnya bau amis itu membuat ingin muntah.
“Baiklah, saya membuangnya.” Leon terpaksa menyingkirkan ikan bakar segar itu, karena Jovita merasa sangat mual.
“Terimakasih,” ucap Jovita saat Leon membuang jauh ikan bakar tersebut.
“Untuk bertahan hidup di hutan, makan apa saja yang layak makan. Kamu baru melihat lintah saja sudah jijik, bagaimana kalau di suruh makan ular”
"U-ular dimakan .... Uaaak!"
Mendengar ular di makan, ia kembali ingin muntah.
“Jangan omongin hal gituan- gituan aku sangat mual”
“Baiklah, mendekatlah di sini, kita akan istirahat di sini sebentar"
"Baiklah saya akan istirahat di pohon ini" Jovita menunjuk batang pohon besar.
“Kamu tidak mau didatangi ular, kan,” ujar Leon. “Kamu boleh tidur di sini saya akan menjagamu.” Leon menepuk dadanya. Tidak disangka Jovita menurut, tidak ada bantahan . Leon kaget saat wanita cantik itu duduk didepannya dan menyandarkan kepalanya di dada Leon, lalu tidur.
Berjalan jauh membuat sangat mengantuk, ia tertidur sangat pulas di dada Leon. Leon mengepal jari-jarinya dengan kuat, menahan goncangan di dadanya, melihat Jovita tidur, perlahan-lahan tangan melingkar lalu memeluk Jovita dengan erat.
Bisa memeluk Jovita seperti itu, membuatnya sangat bahagia, ia menutup mata dan mengarahkan hidungnya ke ujung kepala, memeluk dan menciumnya dengan lembut, wajah Leon terlihat memerah, menahan perasaannya, air matanya menetes mengenai pipi jovita yang sedang tertidur pulas.
Dengan cepat Leon, mengusap air matanya sebelum Jovita menyadari kalau ia menangis karena bahagia.
'Aku ingin tetap kamu bersamaku Jovita, aku akan berjanji akan menjagamu selamanya , seumur hidupku' ucap Leon terlihat sangat emosional.
Apa Leon bisa menyelamatkan Jovita dari kepungan anak buah Bokoy yang menyerang ke arah mereka?
Bersambung …
__ADS_1
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI UP SELAMA TUJUH HARI AKAN UPDATE 3 BAB SATU HARI. BANTU KOMENTAR, LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA
Terimakasi untuk para readers tercinta I Love All