Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Melarikan diri


__ADS_3

Ada Niat karena ada  kesempatan, ungkapan itu tepat untuk Jovita.


 Saat semua orang larut dalam pesta dan terbuai dengan kenikmatan duniawi,  saat itulah  anak Buah Leon lengang, beberapa terlihat mabuk.



Melihat hal itu, otak Jovita kembali merencanakan pelarian,  walau Toni sudah memperingatkannya.


Bukan hanya Toni yang memperingatkan ya Bu Atin dan Rikko sudah memberinya peringatan agar tidak melarikan diri dari Leon. Namun  kemarahan di hatinya,  menutupi  segalanya,  ia hanya ingin bertemu dengan Beny dan Lestari,  ia ingin memberi kedua makhluk penghianat itu pelajaran, ada beberapa orang dalam daftarnya,  bahkan nama Firman  teman ayahnya ikut dalam catatannya.



Amarah itu, menutupi rasa takut di hatinya. Ia   tidak bis tidur lagi setelah Toni membangunkan.


Ia keluar dari kamar dan duduk di taman belakang,   malam sudah semakin larut. Namun pesta belum juga selesai , anak buah Leon seakan-akan mendapat hidangan lezat  malam ini,  di setiap sudut Mansion   pasti ada  pasangan yang saling bercumbu.


Jovita tidak tertarik dan tidak terusik, ia hanya diam menata hati sesekali tangannya menyentuh ujung gelasnya. Tetapi tiba-tiba Zidan keluar dari mobilnya dengan seorang wanita.


Tetapi saat meninggalkan mobil,  ia lupa mengunci pintu, karena ia terlihat sudah mulai  mabuk. Jovita melihat kanan- kiri, tempat itu, area  yang  cameranya bisa dihindari.  


Otak melarikan diri semakin besar saat ada kesempatan itu,  ia kembali ke kamar dan  membawa  beberapa perlengkapan yang dibutuhkan nantinya,  ia keluar lagi.


Saat Camera pengawas itu berputar  kearah lain dan membelakanginya  saat itulah Jovita masuk ke jok belakang  mobil Zidan. Ia tahu  tentang Zidan karena Rikko pernah  menceritakan padanya, ia anak buah  kepercayaan  Leon yang memegang kendali  di Kalimantan. Terutama di semua tempat hiburan Leon.


Ia berhasil masuk dan menunduk di bawah jok,   beberapa menit kemudian mesin mobil di hidupkan dan  perlahan melewati pengawasan berlapis di rumah Leon. Mereka tidak akan memeriksa mobil Zidan karena ia tahu lelaki bertubuh tinggi besar itu  kepercayaan Leon , karena itulah ia   memili mobil Zidan jadi  kendaraan untuk ditumpangi untuk melarikan diri.


“Silahkan Bro.” Terdengar suara  Rikko di gerbang utama, saat ia patroli, ia mempersilahkan mobil Zidan setelah  meminta sebatang rokok, Rikko tidak melihat ke dalam mobil Zidan.



Mobil Zidan berhenti di tempat sepi.


Akhirnya mobil Zidan keluar dari mansion Leon, melaju melewati jalanan sepi, saat    berjalan lumayan jauh, tiba-tiba mobil berhenti.


Jovita panik, ia berpikir kalau ia ketahuan, ternyata zidan buang air kecil di belakang pepohonan . Kesempatan itu ia gunakan untuk keluar dari pintu samping mobil, suasana  jalan gelap dan Zidan juga terlihat mabuk berat,  ia muntah  dan tertidur di bawah pohon. Tadinya ia ingin meninggalkannya di sana. Tetapi hati nuraninya  tidak tega. Jovita menggotong tubuh besar zidan kembali ke dalam mobil.


“Aku berharap aku tidak menyesali keputusanku. Aku tidak tega meninggalkanmu  tertidur dalam keadaan mabuk di  jalanan sepi ini. Bagaimana kalau ada binatang buas dan memakan mu. Baiklah aku akan mengantarmu, sebagai gantinya beri aku tumpangan,oke!”



Jovita bicara layaknya orang yang sadar, Zidan tidak menyahutnya, ia tertidur.


Ia tidak mau mengambil resiko, Jovita  mengikat  tangan Zidan dan kakinya dan  mendudukkannya di depan. Jovita menyetir mobil, membawanya ke sebuah penginapan sederhana,  ia melihat tidak ada cctv di  bagian samping, makanya memilih memarkirkan mobil di sana.


Jovita  menggeledah  dompet Zidan dan mengambil uang miliknya.


“Maaf Bro, saya  pinjam uangnya.  Untuk melarikan diri butuh uang dan ponsel, kan? OH jika kita bertemu lagi nanti aku akan menggantinya.” Jovita mengambil ponselnya juga. Lalu meninggalkan Zidan  tidur dalam mobil.


“Pak, tolong teman saya dibangunkan kalau sudah pagi, ini tip buat bapak  jangan bilang di antar seorang perempuan,  bilang saja sama petugas  lalu lintas, dia  lagi mabuk”


“Baik mbak, tetapi malam bangat seperti ini,  mau kemana jalan sendirian  Mbak, bahaya”


‘Akan lebih bahaya jika aku tetap di sini Pak, anak buah Leon pasti sudah mengendus keberadaan ku’ Jovita membatin.


“Oh bapak mau saya kasih tambahan uang tidak?” tanya Jovita pada salah seorang sekuriti.

__ADS_1


“Iya maulah Mbak”


“Bapak punya motor?”


“Punya”


“Antar saya ke bandara,  saya akan memberi  dua kali lipat”


“Baik”


Dikasi lembaran warna merah  beberapa  lembar  kedua sekuriti itu sudah senang dan menuruti  apa yang di katakan Jovita.


Beruntung di kantong Zidan ada uang tunai lima juta, jadi, ia bisa memakainya.


Pelarian kali ini lancar,  sekan -akan ada  ada iblis  yang mendukungnya untuk jadi    penjahat, bukankah untuk melakukan kejahatan itu selalu lebih mudah?


Waktu sudah menunjukkan, jam tiga pagi,  Jovita akhirnya tiba di bandara.


Setelah membayar ongkos pada  sekuriti yang mengantarnya,  ia masuk ke kamar mandi dan mengunakan penyamaran.


Jovita memakai kerudung dan kaca mata  dan  tompel di pipi kiri,  tidak lupa, alis  setajam celurit Madura. Karena  ia tahu, Leon punya alat pendeteksi wajah  yang sangat canggih, hanya mengklik  foto dirinya,  akan ketahuan yang punya wajah berada di mana.


Ia keluar dari kamar mandi di luar bandara, ia selalu menghindari cctv. Saat jovita berhasil kabur dari istana Leon. Ia yakin  akan ada kekacauan di mansion Leon.


                             **


Saat Toni  Rikko  dan Iwan   melakukan patroli keliling untuk kesekian kalinya, tiba-tiba mata Toni tertuju  ke kamar Jovita, lampu kamarnya masih menyala, biasanya Jovita tidak pernah suka tidur dengan lampu  terang benderang.



“Sejak kapan kamu mau tidur dengan lampu terang begini? Apa kamu tidak bisa tidur? Apa aku suruh bibi  buatkan susu hangat?” Tanya Toni masih berdiri di pintu.


Namun, tidak ada suara yang menyahut, ia menyingkap selimut, ternyata bantal guling yang di selimuti Jovita.


“Sial!" Toni memegang kepalanya dengan panik. Ia berlari ke pos keamanan. “Kita dalam masalah besar,” ujarnya  memeriksa cctv.


“Ada apa?” Rikko ikut berdiri.


“Hara menghilang dari kamarnya”


“Apaaa? Mampus kita” Rikko lebih panik.


“Cari di sekeliling rumah, jangan beri tahu Bos dulu. Kita akan mati  jika dia tahu Hara melarikan diri” Ujar Rikko lagi.



Leon  dari malam   sampai pagi belum bisa tidur, ia mengutuki hidupnya   karena ia tidak bisa tidur, ia begitu tersiksa.


Anak buahnya yakin ia akan menggila jika sampai tahu Jovita melarikan diri.


Semua anak buah Leon berjibaku mencari, bahkan rekan mereka yang di Jakarta ikut mencari dengan menelepon semua rekan kerja yang tersebar di setiap kota.


“ DIa ada di bandara,” Ujar Kinan, lelaki berkacamata tebal setebal pantat botol itu, memberitahukan keberadaaan Jovita .  Ia salah satu anak buah Leon yang diandalkan,  ia  hacker, ahli meretas  data dari mana saja .


__ADS_1


“Bandara?" Rikko meminta rekannya ke bandara


Mereka bergegas menuju bandara,  bahkan di bandara ada beberapa orang anak buah Leon yang bekerja sebagai petugas keamanan, kini mereka semua ikut dikerahkan.


Anak buah Leon yang di Jakarta sudah  bersiap berjaga di bandara Jakarta juga.


“Temukan dia …  sebelum Bos mengetahuinya,” Pintah Rikko pada anak buahnya.


“Baik”  Lima orang naik motor menuju bandara.


Di   bandara Jovita tahu, kalau keberadaanya sudah di ketahui, ia tidak mau tertangkap melihat ada bantal  seseorang ketinggalan di kursi.  Ia mengambilnya dan membuatnya jadi bantalan perut,  ia berpura-pura jadi wanita hamil. Ia tahu,  kalau camera bandara sudah diambil alih anak buah Leon dan ia juga tahu saat ini,  mungkin ia sudah diawasi.


Saat ingin chek-in, ia baru  nyadar,  kalau dirinya tidak punya identitas untuk naik pesawat.


“Oh, sial …. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya  KTP dan identitas.” Jovita mulai terlihat panik, karena dalam hitungan puluh  menit saja, anak buah Leon sudah berada di bandara.


‘Aku tidak ingin gagal , ia masuk kembali ke dalam kamar mandi dan duduk lemas diatas kloset,  memijit keningnya yang sakit,  ia terkepung saat ini.


“Oh, ibu Tolong aku, aku tidak bisa berpikir apa-apa,” ujar Jovita memijit keningnya yang semakin berdenyut.


 Bukk ….!


Saat ia membuka pintu,  seorang wanita muda berkerudung  pingsan di depan pintu kamar mandi.


“Ibu, ibu tidak apa-apa?” Tanya Jovita,  tetapi matanya tertuju pada amplop putih berisi tiket dan identitas diri wanita mudah itu.


“Tolong … Tolong kakak  saya dia pingsan.” Petugas dan beberapa orang membawa ke dalam ruangan kesehatan dan Jovita yang berakting wanita hamil ikut mendorong.


 Tetapi ia berbelok ke arah chek in dan  mengunakan tiket dan identitas wanita yang jatuh tadi untuk dirinya.


“Tujuan Surabaya  iya BU”


‘ Ha  surabaya?’ Ia membatin panik, ternyata tiket tujuan wanita  yang pingsan tadi ke surabaya.


“Oh, iya mbak”


“Ibu tolong cepat iya,  karena pesawat  tujuan Surabaya akan terbang  beberapa menit lagi”


“Oh, iya mbak.” Ia pura-pura berjalan kesusahan dan memegang perutnya” yang  besar,


Melihat hal itu,  seorang petugas membawa kursi roda dan mendorong Jovita ke dalam pesawat


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2