
Ada Niat karena ada kesempatan, ungkapan itu tepat untuk Jovita.
Saat semua orang larut dalam pesta dan terbuai dengan kenikmatan duniawi, saat itulah anak Buah Leon lengang, beberapa terlihat mabuk.
Melihat hal itu, otak Jovita kembali merencanakan pelarian, walau Toni sudah memperingatkannya.
Bukan hanya Toni yang memperingatkan ya Bu Atin dan Rikko sudah memberinya peringatan agar tidak melarikan diri dari Leon. Namun kemarahan di hatinya, menutupi segalanya, ia hanya ingin bertemu dengan Beny dan Lestari, ia ingin memberi kedua makhluk penghianat itu pelajaran, ada beberapa orang dalam daftarnya, bahkan nama Firman teman ayahnya ikut dalam catatannya.
Amarah itu, menutupi rasa takut di hatinya. Ia tidak bis tidur lagi setelah Toni membangunkan.
Ia keluar dari kamar dan duduk di taman belakang, malam sudah semakin larut. Namun pesta belum juga selesai , anak buah Leon seakan-akan mendapat hidangan lezat malam ini, di setiap sudut Mansion pasti ada pasangan yang saling bercumbu.
Jovita tidak tertarik dan tidak terusik, ia hanya diam menata hati sesekali tangannya menyentuh ujung gelasnya. Tetapi tiba-tiba Zidan keluar dari mobilnya dengan seorang wanita.
Tetapi saat meninggalkan mobil, ia lupa mengunci pintu, karena ia terlihat sudah mulai mabuk. Jovita melihat kanan- kiri, tempat itu, area yang cameranya bisa dihindari.
Otak melarikan diri semakin besar saat ada kesempatan itu, ia kembali ke kamar dan membawa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan nantinya, ia keluar lagi.
Saat Camera pengawas itu berputar kearah lain dan membelakanginya saat itulah Jovita masuk ke jok belakang mobil Zidan. Ia tahu tentang Zidan karena Rikko pernah menceritakan padanya, ia anak buah kepercayaan Leon yang memegang kendali di Kalimantan. Terutama di semua tempat hiburan Leon.
Ia berhasil masuk dan menunduk di bawah jok, beberapa menit kemudian mesin mobil di hidupkan dan perlahan melewati pengawasan berlapis di rumah Leon. Mereka tidak akan memeriksa mobil Zidan karena ia tahu lelaki bertubuh tinggi besar itu kepercayaan Leon , karena itulah ia memili mobil Zidan jadi kendaraan untuk ditumpangi untuk melarikan diri.
“Silahkan Bro.” Terdengar suara Rikko di gerbang utama, saat ia patroli, ia mempersilahkan mobil Zidan setelah meminta sebatang rokok, Rikko tidak melihat ke dalam mobil Zidan.
Mobil Zidan berhenti di tempat sepi.
Akhirnya mobil Zidan keluar dari mansion Leon, melaju melewati jalanan sepi, saat berjalan lumayan jauh, tiba-tiba mobil berhenti.
Jovita panik, ia berpikir kalau ia ketahuan, ternyata zidan buang air kecil di belakang pepohonan . Kesempatan itu ia gunakan untuk keluar dari pintu samping mobil, suasana jalan gelap dan Zidan juga terlihat mabuk berat, ia muntah dan tertidur di bawah pohon. Tadinya ia ingin meninggalkannya di sana. Tetapi hati nuraninya tidak tega. Jovita menggotong tubuh besar zidan kembali ke dalam mobil.
“Aku berharap aku tidak menyesali keputusanku. Aku tidak tega meninggalkanmu tertidur dalam keadaan mabuk di jalanan sepi ini. Bagaimana kalau ada binatang buas dan memakan mu. Baiklah aku akan mengantarmu, sebagai gantinya beri aku tumpangan,oke!”
Jovita bicara layaknya orang yang sadar, Zidan tidak menyahutnya, ia tertidur.
Ia tidak mau mengambil resiko, Jovita mengikat tangan Zidan dan kakinya dan mendudukkannya di depan. Jovita menyetir mobil, membawanya ke sebuah penginapan sederhana, ia melihat tidak ada cctv di bagian samping, makanya memilih memarkirkan mobil di sana.
Jovita menggeledah dompet Zidan dan mengambil uang miliknya.
“Maaf Bro, saya pinjam uangnya. Untuk melarikan diri butuh uang dan ponsel, kan? OH jika kita bertemu lagi nanti aku akan menggantinya.” Jovita mengambil ponselnya juga. Lalu meninggalkan Zidan tidur dalam mobil.
“Pak, tolong teman saya dibangunkan kalau sudah pagi, ini tip buat bapak jangan bilang di antar seorang perempuan, bilang saja sama petugas lalu lintas, dia lagi mabuk”
“Baik mbak, tetapi malam bangat seperti ini, mau kemana jalan sendirian Mbak, bahaya”
‘Akan lebih bahaya jika aku tetap di sini Pak, anak buah Leon pasti sudah mengendus keberadaan ku’ Jovita membatin.
“Oh bapak mau saya kasih tambahan uang tidak?” tanya Jovita pada salah seorang sekuriti.
__ADS_1
“Iya maulah Mbak”
“Bapak punya motor?”
“Punya”
“Antar saya ke bandara, saya akan memberi dua kali lipat”
“Baik”
Dikasi lembaran warna merah beberapa lembar kedua sekuriti itu sudah senang dan menuruti apa yang di katakan Jovita.
Beruntung di kantong Zidan ada uang tunai lima juta, jadi, ia bisa memakainya.
Pelarian kali ini lancar, sekan -akan ada ada iblis yang mendukungnya untuk jadi penjahat, bukankah untuk melakukan kejahatan itu selalu lebih mudah?
Waktu sudah menunjukkan, jam tiga pagi, Jovita akhirnya tiba di bandara.
Setelah membayar ongkos pada sekuriti yang mengantarnya, ia masuk ke kamar mandi dan mengunakan penyamaran.
Jovita memakai kerudung dan kaca mata dan tompel di pipi kiri, tidak lupa, alis setajam celurit Madura. Karena ia tahu, Leon punya alat pendeteksi wajah yang sangat canggih, hanya mengklik foto dirinya, akan ketahuan yang punya wajah berada di mana.
Ia keluar dari kamar mandi di luar bandara, ia selalu menghindari cctv. Saat jovita berhasil kabur dari istana Leon. Ia yakin akan ada kekacauan di mansion Leon.
**
Saat Toni Rikko dan Iwan melakukan patroli keliling untuk kesekian kalinya, tiba-tiba mata Toni tertuju ke kamar Jovita, lampu kamarnya masih menyala, biasanya Jovita tidak pernah suka tidur dengan lampu terang benderang.
“Sejak kapan kamu mau tidur dengan lampu terang begini? Apa kamu tidak bisa tidur? Apa aku suruh bibi buatkan susu hangat?” Tanya Toni masih berdiri di pintu.
Namun, tidak ada suara yang menyahut, ia menyingkap selimut, ternyata bantal guling yang di selimuti Jovita.
“Sial!" Toni memegang kepalanya dengan panik. Ia berlari ke pos keamanan. “Kita dalam masalah besar,” ujarnya memeriksa cctv.
“Ada apa?” Rikko ikut berdiri.
“Hara menghilang dari kamarnya”
“Apaaa? Mampus kita” Rikko lebih panik.
“Cari di sekeliling rumah, jangan beri tahu Bos dulu. Kita akan mati jika dia tahu Hara melarikan diri” Ujar Rikko lagi.
Leon dari malam sampai pagi belum bisa tidur, ia mengutuki hidupnya karena ia tidak bisa tidur, ia begitu tersiksa.
Anak buahnya yakin ia akan menggila jika sampai tahu Jovita melarikan diri.
Semua anak buah Leon berjibaku mencari, bahkan rekan mereka yang di Jakarta ikut mencari dengan menelepon semua rekan kerja yang tersebar di setiap kota.
“ DIa ada di bandara,” Ujar Kinan, lelaki berkacamata tebal setebal pantat botol itu, memberitahukan keberadaaan Jovita . Ia salah satu anak buah Leon yang diandalkan, ia hacker, ahli meretas data dari mana saja .
__ADS_1
“Bandara?" Rikko meminta rekannya ke bandara
Mereka bergegas menuju bandara, bahkan di bandara ada beberapa orang anak buah Leon yang bekerja sebagai petugas keamanan, kini mereka semua ikut dikerahkan.
Anak buah Leon yang di Jakarta sudah bersiap berjaga di bandara Jakarta juga.
“Temukan dia … sebelum Bos mengetahuinya,” Pintah Rikko pada anak buahnya.
“Baik” Lima orang naik motor menuju bandara.
Di bandara Jovita tahu, kalau keberadaanya sudah di ketahui, ia tidak mau tertangkap melihat ada bantal seseorang ketinggalan di kursi. Ia mengambilnya dan membuatnya jadi bantalan perut, ia berpura-pura jadi wanita hamil. Ia tahu, kalau camera bandara sudah diambil alih anak buah Leon dan ia juga tahu saat ini, mungkin ia sudah diawasi.
Saat ingin chek-in, ia baru nyadar, kalau dirinya tidak punya identitas untuk naik pesawat.
“Oh, sial …. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya KTP dan identitas.” Jovita mulai terlihat panik, karena dalam hitungan puluh menit saja, anak buah Leon sudah berada di bandara.
‘Aku tidak ingin gagal , ia masuk kembali ke dalam kamar mandi dan duduk lemas diatas kloset, memijit keningnya yang sakit, ia terkepung saat ini.
“Oh, ibu Tolong aku, aku tidak bisa berpikir apa-apa,” ujar Jovita memijit keningnya yang semakin berdenyut.
Bukk ….!
Saat ia membuka pintu, seorang wanita muda berkerudung pingsan di depan pintu kamar mandi.
“Ibu, ibu tidak apa-apa?” Tanya Jovita, tetapi matanya tertuju pada amplop putih berisi tiket dan identitas diri wanita mudah itu.
“Tolong … Tolong kakak saya dia pingsan.” Petugas dan beberapa orang membawa ke dalam ruangan kesehatan dan Jovita yang berakting wanita hamil ikut mendorong.
Tetapi ia berbelok ke arah chek in dan mengunakan tiket dan identitas wanita yang jatuh tadi untuk dirinya.
“Tujuan Surabaya iya BU”
‘ Ha surabaya?’ Ia membatin panik, ternyata tiket tujuan wanita yang pingsan tadi ke surabaya.
“Oh, iya mbak”
“Ibu tolong cepat iya, karena pesawat tujuan Surabaya akan terbang beberapa menit lagi”
“Oh, iya mbak.” Ia pura-pura berjalan kesusahan dan memegang perutnya” yang besar,
Melihat hal itu, seorang petugas membawa kursi roda dan mendorong Jovita ke dalam pesawat
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)