Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pulang ke rumah orang tua


__ADS_3

 PART 24


Pulang Ke Rumah


Saat subuh,  Jovita sudah terlebih dulu bangun, ia ikut membantu Ibu Buni, membereskan boxs makanan yang akan di antar pagi-pagi untuk langganan,  yang memesan nasi kotak.


“Saya sekalian ikut iya Pak,”


“Lah, mau kemana Non, bukannya kamu bilang ada preman yang akan menangkap mu?”


“Iya Bu, saya tidak bisa lama-lama di sini, aku takut,  mereka pasti menemukan  nomor taksi bapak,” kata  Jovita, ia tidak ingin melibatkan keluarga  itu, ia tidak ingin Pak Buni dan istrinya terkena  masalah karena ulahnya, karena ia tahu Leon kalau sudah marah tidak ada ampun.


“Baiklah,  bapak akan mengantar.”


Jovita pamit pada istri pak Buni, wanita itu sangat ramah, ia  memperlakukan Jovita dengan baik.


Pak Buni  mengantar Jovita ke tempat yang dia minta.


“Saya di sini saja Pak, di luar komplek, saya  akan berpura-pura olah raga dulu baru saya masuk ,” kata Jovita.


“Baiklah, semoga berhasil Nak, hati-hati kalau kamu ada ponsel nanti, hubungi bapak ini nomor bapak,”


Lelaki paruh baya  itu meninggalkan Jovita, setelah memberikan kartu nama istrinya.


Di komplek perumahan Hara, saat pagi sudah di buka, karena banyak warga yang melakukan olah raga pagi, saat Hara datang ia sudah mengantisipasi , ia datang memakai pakaian olah raga, jadi saat ia tiba di depan gerbang, para sekuriti tidak mencurigai , karena ia pura-pura berolah raga dan lari pagi, lalu ia  lari pagi hingga tiba di depan rumah keluarganya.


“Aku pulang bu, yah, adik-adik. Kakak pulang,”  ucap Jovita menarik napas berat.


Suasana rumah Jovita masih gelap, depan rumahnya garis polisi  masih terpasang.


Ia terpaksa memutar  lewat pintu belakang, dan masuk dari belakang juga,  ia  tidak mau dilihat tetangga, bahkan  kunci pintu belakang,   masih dapat menemukanya di tempat ia sembunyikan di tempat biasa di bawah pot .


Ia masuk, suasana di dalam rumah berbau anyir,  ia menyalakan lampu  dapur, suasana rumahnya sangat memperhatikan dan berantakan.


“Ibu, ayah.” Jovita menangis duduk memegang lututnya, kembali ke rumah itu mengingatkannya, pada hari naas di mana orang-orang yang di cintai dihabisi orang yang tidak punya hati.


Flash back


Sebelum Jovita di sekap Leon,  Jovita pulang kantor sudah larut malam,  karena pekerjaan di kantornya sangat menumpuk.


Jovita seorang desain drafter  di kantor ayahnya, karena proyek saat itu kejar target,  maka sebagai tukang gambar Jovita Lah titik startnya dimulainya proyek. Maka  itu, ia lembur sampai malam terkadang,  bersama team nya juga sering lembur.


“Belum pulang, Ta?” Kepala Ben mendongak ke dalam ruangan Jovita.


“Tanggung nih tunggu sebentar lagi iya,” sahut Jovita, matanya kembali  terfokus pada gambar di depan matanya.


“Ok aku tunggu di  bawah saja, iya,” Ben memilih menunggu di bawah,


Beni adalah tunangannya sejak dua tahun silam, kemampuannya di bidang kontraktor   menjadi pertimbangan pak Iwan untuk mengangkat jadi wakilnya,  Ben jago dalam membuat negosiasi, maka itu, ia sering  memenangkan  tender proyek besar senilai miliaran rupiah.

__ADS_1


Ayahnya berniat menyerahkan perusahaan padanya dan Jovita, tetapi sayang rencana itu sudah terkubur bersama raganya, sebelum ia menyerahkan semuanya pada calon menantu.


Jovita adalah wanita humble dan ceria, ia tidak pernah membuat  batas pada teman sekantornya,  ia tidak pernah merasa ia adalah anak pemilik perusaan.


Itu juga yang menjadikanya jadi wanita idaman di kantornya, ia ramah, pembawaannya yang selalu ceria, dan yang terpenting ia tidak sombong, cantik,  pintar.


Ben  mengantarnya pulang, kalau biasanya Beni selalu mampir setiap kali mengantar Jovita pulang . Namun, kali ini, ia tidak mampir, mungkin kalau malam itu, ia  mau menerima ajakan Jovita untuk minum teh sebelum pulang mungkin penyekapan Jovita tidak akan terjadi, karena ada Beni.


“Aku lelah, langsung pulang iya” Ben melirik Jovita.


“Gak mau minum teh dulu samaku?”


“Lain kali”


“OK,” ucap Jovita.


Ia memilih lewat  pintu belakang takut mengganggu tidur keluarganya. Namun saat ia ingin lewat belakang lampu teras belakang mati.


Jovita mengurungkan niatnya lewat pintu belakang,


Ia  lewat pintu depan, tangannya menekan tombol lampu, tetapi  tidak menyala.


Ia menyerah dan lebih baik membiarkannya mati lampu malam ini,  Jovita tipe orang yang tidak tegaan , bisa saja,  ia membangunkan asisten rumah tangga atau ia membangunkan supir untuk mengganti , tapi ia tidak akan mau mengganggu orang lain yang sedang tidur untuk hal yang kecil seperti itu.


“Biarkan sajalah, besok saja, aku capek,” ujar Jovita membuka pintu, tapi saat ia membuka pintu  tanpa mengeluarkan  suara,   ia datang dengan cara berjinjit pelan ,   agar tidak membangunkan kedua orang tuanya.


Ia menuju dapur dulu untuk  minum,  sebelum di lantai atas kamarnya ada di atas, tetapi saat ia minum di dapur, ia mendengar ada suara krasak-kusuk dan ia mengintip


Hingga hal mengerikan itu terjadi , pintu itu dibuka,  kedua suami istri itu sudah  tertidur pulas.


Tanpa ada peringatan atau aba-aba, ia mendengar ….


Dooor … Dooor ….!


Dua suara  tembakan terdengar dari kamar orang tuanya, lutut Jovita langsung gemetaran,  tubuhnya menggigil tidak cukup sampai disitu


Manusia berbaju hitam itu memasuki kamar kedua adik laki-lakinya sepasang anak kembar itu ....


Door…!


Door ….!


 Jovita menutup  mulutnya dengan kedua tangannya, ia masih bersembunyi di balik sofa, ia juga melihat lelaki itu memasuki kamarnya.


Tidak ingin mati, Jovita menunduk kearah gudang,  ia ingin melarikan diri, tetapi saat ia ingin berlari, tiba-tiba ia merasakan tangan kokoh menangkap tubuhnya, lalu menyumpal mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di olesin obat bius.


Hanya itu yang ia ingat, hingga ia berakhir di gorong-gorong busuk bersama orang yang  ia yakini menghabisi keluarganya.


Lelaki yang bernama Leon atau Naga, yang ia duga melakukan pembunuhan keji itu.

__ADS_1


Flash-on,


Saat ini ia duduk sesenggukan, ia menahan kesedihannya , terkadang ia berpikir apa yang di alaminya hanya mimpi,  ia berpikir kalau ia pulang akan menemukan kedua orang tuanya,  masih menunggunya duduk di teras depan rumah mereka.


Jovita tersadar,  kalau ia tidak bisa lama-lama, ia tau pasti Leon akan mencarinya sampai ke rumah,  saat ini, ia hanya perlu uang  dan kartu.


Tapi saat ia membuka lemari, barang –barang berharga tidak ada lagi,  uang di brankas juga tidak ada yang tersisa, ia menyadari kalau semua  harta keluarganya  habis tidak ada yang tersisa lagi, bahkan lemari ibunya di bongkar,  surat-surat berharga lenyap.


“Apa nyawa keluargaku tidak cukup baginya, apa ia juga akan mengambil harta keluargaku juga,” Jovita, duduk lesu putus asa, kerena apa yang ingin ia ambil benar-benar tidak ada lagi.


‘Tapi Leon tidak akan melakukan ini, dia bukan seorang pria yang kekurangan uang’ Jovita membatin.


Saat ia mencari dan mengobrak abrik lemari penyimpanan ibunya, ia berharap mendapatkan sedikit uang untuk pegangan untuk pelarian,  tetapi lagi lagi ia sangat kecewa pakaian ibunya kosong, ia duduk selonjoran tidak menghiraukan kalau tepat di kamar itulah  kedua  orang tuanya, dihabisi bahkan  noda dara itu sudah mengering berubah warna hitam.


“Oh ibu, bantu aku, aku harus hidup untuk membalas perlakuan keji ini pada kalian,” ujar Jovita menyingkirkan buliran air yang menganak sungai di pipinya.


Ia  berdiri lagi,  menuju kamarnya, ia mengingat bahwa ayahnya pernah memberinya card, ia belum pernah menggunakannya, nominalnya tidak sebanyak di kartu atm-nya, tetapi setidaknya ia punya pegangan saat ini, itu harapan satu-satunya saat ini, ia buru-buru menuju kamarnya, tetapi ia mendengar suara pintu pagar rumahnya di buka, dengan hati-hati ia menunduk, mengintip  melihat Leon dan orang-orangnya datang, dan di temenin dua  orang sekuriti komplek.


“Iya ampun  dia tau kalau aku di sini, aku harus  bisa lari darinya.” Jovita bersembunyi, karena tidak sempat lagi untuk melarikan diri.


                              


“Nanti suruh orang untuk membersihkan ini. Saya ingin segera menempatinya,”pinta Leon.


Jovita masuk kedalam boks besar penyimpan barang-barang lama.


Leon memasuki kamar Jovita.


Leon seperti dukun, ia tahu kalau  Jovita ada di kamarnya, bahkan ia tau kalau Jovita bersembunyi dalam boks besar itu .


Ia tersenyum sinis melihat boks.


‘Dasar anak kecil … dalam boks tubuh kamu muat’ Leon masih menatap box berwarna putih itu.


Karena tubuh Jovita Hara mungil,  makanya ia muat dalam box, tetapi saat ia masuk buru-buru, ia tidak menyadari kalau rambut panjangnya menyembul keluar.


Ia hanya meringkuk seperti ular dalam Boks,  keringat sudah mulai membasahi pakaiannya, karena   ia tidak dapat pasokan udara dalam boks.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak ikut lomba


tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-The Cursed King(ongoing)


__ADS_2