
Hara masih duduk di kamar Sabrina.
Dengan cepat ia menekan nomor Piter lagi dengan iPad di tangannya.
“Halo Hara, kamu baik- baik saja kan?” suara Piter terdengar lemah, ia pasti sangat kecewa sama seper.
“Aku tidak bisa keluar dari rumah ini. Leon menghalangiku keluar"
“Hara .... begini-"
"Om jangan bilang apa-apa! Aku ingin gila rasanya"
Piter terdiam, ia mengerti apa dirasakan Hara, hanya lelaki itulah yang mengerti Hara. Tetapi sayang Piter belum tahu kalau Hara hamil, kalau saja Piter tahu mungkin tidak akan menuruti kemauan Hara kali ini.
"Baik Hara. Om tahu, kamu pasti marah, kecewa, sedih. Tapi om sudah berusaha keras," ujar Piter di ujung telepon.
“Tidak apa-apa, aku mengerti , aku butuh bantuan Om lagi kali ini. Jemput aku di tempat biasa, aku akan keluar dari tempat ini, dia tidak punya hak menahan disini, dia yang menyebabkan kita kalah” Ucap Jovita. Wajahnya terlihat marah rasa kecewa yang ia terima, membuat dadanya terasa terbakar.
Dalam satu hubungan hal yang paling utama kejujuran dan sikap terbuka. Leon belum bisa melakukan hal itu, kalau saja Leon jujur kalau ia memiliki Liontin dan flashdisk pada Hara, masalahnya tida akan seperti ini. Kalau Bokoy masih melenggang bebas Hara dan Leon tidak akan bisa bersatu. Lelaki bangkotan itu akan menjadi batu sandungan untuk Leon dan Hara.
Saat hati marah, terkadang kekuatan dan keberanian datang dengan sendirinya, itulah yang di alami Hara.
Kali ini, ia marah bahkan lebih marah dari sebelumnya, saat Bokoy malah menuduh balik ayahnya yang melakukan kejahatan, dalam dakwaan balik pengacara Bokoy, menyebutkan kalau ayahnya yang dituduhkan tidak membayar gaji kedua orang itu, hingga akhirnya mereka marah dan melenyapkan satu keluarga itu.
“Jahat sekali, ayah saja tidak mengenal mereka berdua, bagaimana dia bilang karyawan yang tidak dibayarkan gajinya,” kata Jovita ia menangis, ia merasa kasihan pada ayahnya, ia selalu di tuduh melakukan kejahatan yang tidak pernah dia lakukan.
Sebelum-sebelumnya juga ia, fitnah melakukan korupsi padahal tidak pernah, baik kali ini, juga seperti itu, saat ia ingin meminta untuk menghukum orang sudah mencelakai orang tuanya.
Tapi karena semua penegak hukum sudah dibeli, maka hukum tidak lagi di tegakkan degan benar, dengan mudahnya menuduh almarhum ayahnya melakukan kejahatan, sebagai anak , wajar hatinya menjerit pilu, ia gelap mata. Ia akan meninggalkan rumah Leon selamanya, ia berpikir ia tidak ada alasan Leon untuk menahan walau dengan kehamilannya.
'Aku bukan istrinya, aku juga bukan saudaranya, aku bukan budaknya, Leon tidak pantas menahanku dirumah ini, kalau ia menahan aku karena anak yang aku kandung ini, ok baik aku tidak akan menggugurkannya dengan sengaja. Tapi kalau dia kuat, maka dia akan bertahan, tapi kalau ia lemah ia akan hilang' Hara membatin, rasa kecewa itu membuatnya berubah pikiran lagi.
Ia memasukkan beberapa barang dan akan membawanya pergi. Jalan keluar yang biasa Jovita gunakan, sedikit beresiko karena tidak ada yang membimbing di bawah, tapi saat ini ia akan melakukanya sendiri.
“Kamu yakin bisa keluar, Hara? Soalnya itu beresiko” Piter mengingatkannya.
“Tidak apa-apa, kalau aku minta izin lewat gerbang, sampai lebaran monyet juga Leon tidak akan memberikan izin,” ujar Hara ketus.
“Baiklah, aku akan tunggu di tempat biasa, hati-hati, aku juga sudah membeli rumah di Bogor, untuk kamu tinggali," ujar Piter.
__ADS_1
Andai Piter tahu, kalau Hara, hamil lelaki baik itu tidak akan membiarkannya keluar dari pipa pembuangan itu.
"Baiklah"
Hara tidak perduli lagi kalau Leon akhirnya mengetahui tentang jalan tikus yang biasa membawanya bisa keluar masuk dari ruangan itu, ia hanya dalam keadaan marah saat ini, bahkan ia lupa kalau sedang hamil dan ia melupakan janjinya pada Leon untuk menjaga anaknya.
Ia tidak akan semarah ini, kalau saja Bokoy memutar balik fakta, menuduh ayahnya penjahat.
Jovita menggeser ranjang di kamarnya dan ia merangkak masuk menuju selokan, jalan lubang tikus, setelah berjuang hampir 10 menit Hara akhirnya bisa lolos dari rumah Leon, kedua lututnya lecet karena merangkak, tidak memakai celana panjang.
Hingga akhirnya tiba di pantai melalui saluran pembuangan, Piter menunggunya di dalam mobil
“Kamu tampak berantakan, apa kita perlu ke rumah sakit?” Piter melihat luka di lutut kaki Hara
“Tidak perlu Om, kita kerumah saja, kita harus memikirkan cara bagaimana untuk memberi pelajaran pada lelaki bangkotan itu,” ucap Jovita dengan raut wajah yang sangat marah.
Piter meninggalkan pantai.
**
Leon baru selesai keluar ruangan rapat, sebuah pesan masuk dari temannya seorang polisi. Leon membuka laptop miliknya.
"Hara ....! Jangan sampai dia melihat berita ini lagi." Wajah Leon menegang.
Lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dengan cepat jari-jarinya menekan nomor Iwan orang yang ia tugaskan menjaga Hara.
“Iya Bos”
“Bagaimana. Tidak ada masalah kan?”
“Itu ...."
“Ada apa?” Leon menegang.
“Non Hara masuk ke kamar bekas Sabrina dan menguncinya dari dalam"
“Ah… dasar! Kenapa dia bisa kesana lagi? Dia pasti sudah kabur, cari dari cctv di lingkungan jalan!”Pungkas Leon ia terlihat sangat marah.
“Baik Bos” Iwan panik.
__ADS_1
“Kita pulang” Leon keluar dari ruangannya.
“Apa terjadi sesuatu Bos?” Rikko ikutan khawatir
"Hara pasti sudah melihat berita hari ini, ia pasti marah dan kecewa, karena Bokoy bebas,” ucap Leon. Ia memberikan ponselnya dilihat Rikko.
“ Kumpulkan orang-orangnya , aku tahu tujuan dia mau kemana, dia wanita yang nekat,” ucap Leon wajahnya sangat khawatir.
" Bos kasihan juga Nona Hara pasti dia sangat sedih melihat orang tuanya di tuduh berkali kali sebagai penipu," ujar Rikko, ia mengembalikan ponsel Leon setelah ia menonton berita tesebut.
"Dia juga pasti sangat marah padaku," ujar Leon membuang napas kasar dari mulutnya.
*
Hingga ia tiba di rumahnya, dengan langkah buru-buru, Leon berlari ke arah kamar. Bi Atin mengetuk-ngetuk kamarnya, berharap Hara membuka.
“Permisi Bi, kita merusak pintu dari luar saja” Riko membawa peralatan dan merusak pintu kamar tersebut.
Hingga akhirnya terbuka, mata mereka semua melihat menyelidiki sekeliling.
“Non Hara keluar dari mana? Kalau ia tidak ada” Iwan terlihat bingung.
Leon mendorong ranjang dan akhirnya semuanya terungkap,
“Bagaimana dia bisa keluar dari lubang kecil ini. HA … aku bisa gila kalau sudah seperti ini”Leon menggaruk kepalanya dengan putus asa.
“Iya ampun gelap sekali bagaimana dia bisa keluar dari lubang sempit itu?” Bi Atin menutup mulut tidak percaya.
“Iwan, kamu masuk, pastikan arahnya tembusnya sampai kemana, agar kita bisa mulai mengikuti petunjuknya”
“Baik Bos” Iwan mencoba masuk, sayang badan besarnya tidak muat, bahkan tidak ada badan yang muat dari mereka, karena tubuh Hara kecil.
“Iya ampun Non, lubang kecil begitu bagaimana dengan bayinya,” Bu Atin sangat khawatir.
Mendengar itu tangan Leon terkepal kuat menahan amarah.
"Kamu sudah berjanji tidak menyakitinya, kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan memberimu pelajaran Jovita Hara" Mata Leon terlihat melotot sangat marah
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa vote like iya kakak.