Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dikira bunuh diri


__ADS_3

PIK.


Pukul 05:00 Wib



Jovita bangun pagi.


"Selamat Pagi Bi"


"Selamat pagi juga Non, apa tidak bisa tidur sama sekali?"


"Iya Bi, Kepalaku pusing jadinya. Aku ingin jalan-jalan di pinggir pantai,  tapi sama Bibi agar anak buah Leon percaya”


“Tapi kamu tidak  boleh kabur iya Non, kita berdua bisa mati bila kamu melakukan itu”


“Baik Bi”


“Dengar Non, bibi kasih tahu iya, rumah ini memiliki sistim pengawasan yang sangat moderen siapapun tidak akan bisa kabur jauh dari sini yakin ama Bibi”


“Pengawasannya, seperti  apa, Bi?”


“Selain  anak buah Leon yang terlatih itu, ada juga anjing pemburu yang bisa mengejarmu sampai ke tengah laut, jika Leon yang memerintahkan. Terus ada lagi .…”


“Apa Bi?” Jovita penasaran apa saja pengawasan, di rumah besar milik Bos Mafia itu.


“Ada drone”


“Drone  seperti yang kita lihat di hutan itu?”



Drone pengawas dermaga.


“Iya, drone itu juga ada, untuk memantau lokasi darmaga milik Pak Leon, Tetapi yang ini, lebih canggih … drone pengawas rumah ini, kecil, bentuknya seperti burung , jadi tidak ada yang tahu kalau sebuah drone pengawas, drone- drone itu akan terbang otomatis setiap setengah jam  di tepi pantai mengawasi sekeliling rumah.”


“Jadi yang aku lihat dari balkon itu bukan burung  sungguhan?”


“Bukan … itu camera pengawas,” bisik Bu Atin.


“Wah … kamu memang bos  Mafia  kelas kakap yang paling menakutkan ternyata ular Naga,” ujar Jovita  merasa takjub seketika nyali untuk kabur jadi menciut, ia tidak berani melakukannya.


“Kamu pernah nonton Flim  Cruel , film  mafia dari Rusia, film  bos mafianya yang kejam itu? Yang rumahnya dia atas bukit?”


“Aku tidak tahu Bi, gak pernah nonton. Memang kenapa, Bi?”


“Iya pengamanan rumahnya persis seperti  di rumah ini,” bisik wanita itu melirik ke arah pintu.


“Kok … Bibi tahu?”


“ Bibi dan anak-anak pernah menonton,  saat pak  Leon mengajak kami menonton bersama di bioskop di atas”



Bioskop di rumah Leon.


“Oh." Jovita hanya mengangguk, tiba-tiba ia merasa jadi takut pada Leon.

__ADS_1


“Jadi Non …  jangan pernah kabur iya.  Bibi menceritakan semua itu, bukan untuk menakut-nakuti. Itu karena Bibi tidak ingin Leon mengotori tangannya lagi dengan darah, cukup bibi yang tahu berapa orang yang sudah ia lenyapkan. Ah mudah-mudahan roh mereka semua tenang ,” ujar Bu Atin.


Tiba-tiba Jovita langsung diam.


“Termasuk keluargaku, kan, Bi?”


“Bibi tidak tahu Non, maka itu … Bibi bilang padamu, jangan  melawan pada Pak Leon iya” Bu Atin mengusap pipi Jovita. Bu Atin sangat sayang pada Jovita ia memperlakukannya seperti anak sendiri. Ia merasa kasihan karena Jovita hidup sebatang kara.


“Baiklah Bi, ayo”


Bu Atin  meminta izin pada anak buah Leon, untuk berjalan-jalan di tepi pantai mereka setuju, tetapi, kedua lelaki tegap  itu mengawal mereka berjalan  di belakang.



Berjalan menyusuri tepi pantai dan memungut kulit kerang membuatnya mengingat masa-masa saat ibunya  masih hidup. Ia dan ibunya akan  berlomba mengumpulkan kulit kerang, lalu membuat kerajinan dari kulit kerang dibantu sang ayah.


Jovita berjalan dan tersenyum sedih mengingat kenangan bersama keluarganya, ia membuka sepatu dan menentengnya, memainkan air dengan kakinya.


Bu Atin tampak kedinginan karena lupa membawa mantel tebal.


“Kamu tunggu di sini iya, Bibi mau ambil jaket dulu, dingin bangat. Maklum Bibi sudah tua, tidak kuat dingin lagi”


“Baik Bi”


“Dengar jangan kemana-mana tunggu di sini jangan kemana-mana,” ucap wanita itu dengan khawatir, lalu ia  berjalan buru-buru


“Tolong lihatin dia, iya,” ujarnya pada kedua.pengawal.


“Baik Bu”


Bu Atin berlari kecil  kearah rumah untuk mengambil jaket dan merasa perutnya mules karena panggilan alam.



‘Oh, seandainya aku bisa  berenang aku sudah terjun ke sini dan menyebrang,” gumam Jovita pelan, menilik kebawah


Kedua lelaki yang mengawal Jovita saling melihat, berpikir Jovita ingin melompat, posisinya tubuhnya sangat tepat.


Disisi lain.



Helikopter milik Leon.


Tepat jam Lima,


Leon meminta Iwan terbang ke Jakarta, untuk membantu mencari Jovita.


Leon sibuk  menatap ponsel di tangannya.


Saat ia mengarah  cctv  kearah tepi pantai, saat itulah ia melihat Jovita berdiri seperti ingin melompat.


Ia menekan nomor  Sony anak buahnya yang di belakang Jovita.


Kriiiing ...!


“Iya Bos”

__ADS_1


“Seret Jovita ke kisini bagaimanapun caranya jangan sampai dia melompat!"


“Tapi Bos dia-”


“Jangan membantah, tangkap dia sekarang, sebelum dia melarikan diri”


Wajah keduanya tampak bingung, tetapi tidak berani membantah.


“Baik Bos”


Salah seorang dari mereka mengeluarkan sapu tangan dan membekap mulut jovita dari belakang dan membawanya ke gedung atap.


Ummm … Ummm apa yang kalian lakukan?” teriak Jovita dari mulutnya yang dibekap.


Membawanya  ke gedung atap sesuai perintah Bos, karena Jovita terus berontak ingin melarikan diri mau tidak mau salah seorang dari mereka melakukan sesuatu  ke hidung jovita dan dia tidur.


Setelah menunggu beberapa saat Iwan datang , helikopter berwarna putih tipe ZR 395 itu mendarat sempurna, mereka berdua berlari menggotong tubuh Jovita dan membawanya ke dalam helikopter dan Iwan membawanya terbang lagi.


“Apa yang terjadi? Bukannya Bu Atin tadi bersamanya meminta kita mengawasi?”


“Tidak tahu, aku pusing , saatnya ganti shif aku mau tidur," ujar Sony.


Kedua lelaki itu absen dan ganti shif  lalu mereka tidur.


Padahal di tepi pantai Bu Atin  panik  mencari Jovita.


“Kamu sudah berjanji tidak akan melarikan diri  Non,  kenapa kamu melakukan itu,” ucap Bu Atin memungut sepatu Jovita yang tercecer, ia berpikir kalau Jovita melompat ke dalam air saat ia masuk kerumah. Ia juga berpikir kedua lelaki itu memilih melompat untuk menangkap Jovita.


“Leon akan marah besar padaku … oh Dewa tolong aku,”ujarnya Bu atin menangis dan kembali ke rumah dengan jalan sempoyongan.


“Tidak seharusnya aku mengajaknya tadi ke pantai. Maafkan aku Non, maaf kamu pasti memikul beban yang  sangat berat, makannya kamu memilih jalan itu,” ujar Bu Atin, ia sangat shock . Ia berpikir Jovita melompat ke laut dan terbawa ombak bersama anak buah Leon, karena pagi itu ombak pantai lumayan besar.


Bu atin menangis sesenggukan di kamarnya.


                     *


Jovita diterbangkan ke Kalimantan karena kesalahpahaman Leon.


“Jadi kamu ingin melarikan diri lagi dari  saya ,” ujar Leon ia berdiri di lapangan di belakang rumahnya, ia gagah dengan kaos singlet ketat berwarna hitam dipadukan jeans berwarna hitam juga, ia memakai kaca mata hitam menutupi matanya yang bengkak karena tidak tidur satu malaman, karena di hantui mimpi buruk yang sangat menyeramkan. Ia terlihat seperti  malaikat pencabut nyawa yang berwajah tampan dengan pakaian serba hitamnya yang ia kenakan.



Menunggu Jovita, entah ada yang ia inginkan lakukan kali ini pada Jovita.


Biarlah author yang tau ....kw kw.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2