
Pagi itu langit di ibukota sangat mendung, sementara jarum Jam sudah bertengger di angka sepuluh. Namun Hara enggan turun dari ranjang, ia bersembunyi dengan nyaman di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Leon sudah berangkat ke kantor tadi pagi, lelaki berwajah tegas itu tidak perduli hujan atau petir sekalipun, ia akan berangkat ke kantor jika ada hal yang penting.
Tadi malam,
Setelah mengisi makanan ke dalam lambungnya , setelah gagal makan malam dengan suaminya, Hara, kembali ke kamarnya. Ternyata Leon juga mengekor, saat melihat kemarahan Hara, ia tidak marah lagi, Leon hanya diam, wajahnya terlihat merasa bersalah.
“Kita sudah tua Leon, apa perlu harus cemburu-cemburuan seperti ini? Sangat menjengkelkan, aku ingin bebas dan menikmati hidup tanpa ada larangan ini itu, kerena sejak kecil hidupku sudah terkurung dalam sangkar emas, jangan lakukan itu lagi padaku saat tua seperti ini, saat itu, aku maklum, karena kamu bilang banyak bahaya dan musuh’ kan? Sekarang mereka sudah tidak ada lagi, kamu sudah memenjarakan mereka semua, tetapi sekarang aku ingin melakukan semua yang ingin aku lakukan, jangan melarang ku, kamu melarang ku aku menghilang lagi.” Ujar Hara malam itu .
“Baiklah, lakukan apa yang ingin kamu kerjakan tetapi aku juga punya peraturan untukmu.” Ujar Leon dengan nada melembut Leon tidak ingin Hara bertambah marah, tetapi ia juga tidak mau meng-iyakan semua permintaan Hara.
“Misalnya?”
“Jangan berpakaian seperti itu lagi.”
“Aku sudah bilang, buang sikap cemburu itu.”
“Tidak bisa Hara, apapun yang kamu katakan, aku tidak mau, aku tidak bisa melepaskan rasa cemburu itu, kedua jangan melalaikan anak-anak, jangan mendekati dan bicara pada pria lain, ada tiga poin, kalau sudah menyetujuinya. Maka kamu bisa melakukan kegiatan yang kamu inginkan.”
Hara menimangnya.
“Baiklah, aku akan mengingatnya, tetapi malam ini aku masih sangat marah padamu jangan coba-coba dekat-dekat padaku,” ujar Hara, saat Leon ingin membantunya melepaskan gaun berwarna merah pembawa bencana tersebut.
“Baiklah aku tidak akan menyentuh baik, baik aku akan menahan diri.” Ucap Leon menghela napas. “Lagian siapa suruh kamu menambah ukurannya?”
Mendengar itu Hara berbalik badan melepaskan gaunya memperlihatkan benda kenyal indah miliknya.
“Pak Leon apa kamu pikir aku melakukan operasi, untuk ini?” Hara memegang kedua buah miliknya.
Mata Leon dibuat melongo atas kelakuan istrinya.
“Lalu apa yang kamu lakukan? Kenapa dia bisa membesar?”
__ADS_1
“Aku hanya melakukan teknik seperti yang diajarkan ibu saat dulu melakukan pijatan dan minim satu ramuan seperti milik ibu.”
“Pijatan? Maksudmu itu dipijat seseorang terapis begitu?” tanya Leon dengan wajah kaget.
“Iya.”
“Apaaa? Terus yang melakukannya laki-laki apa perempuan?” tanya Leon lagi, menatapnya dengan tatapan serius.
“Aiiis kamu itu.” Hara meninggalkan Leon yang masih menatapnya.
“Hara jangan pergi, kamu belum menjawab pertanyaanku, yang melakukan pemijatan lelaki apa perempuan?”
Hara menatapnya dengan jengkel.
“Laki-laki.”
“Apaaa?”
“Dimana orangnya? di mana tempatnya?” Leon menatapnya dengan tatapan serius.
“Lagian, kenapa harus melakukannya?” tanya Leon masih saja protes, wajahnya terlihat kesal karena berpikir ada lelaki lain yang menyentuh istrinya apalagi menyentuh bagian yang paling indah itu.
Hara menarik nafas panjang , ia tidak ingin Leon berpikir yang tidak-tidak padanya, sudah takdirnya menikah dengan lelaki tukang cemburu seperti Leon.
‘Dasar lelaki tukang cemburu, … aku ingin menggigitnya, aku greget bangat sama dia’ Hara membatin memicingkan.
“Begini nih … orang, kalau hidupnya lama tinggal di hutan, pemikirannya primitif,” ujar Hara.
“Apa kamu bilang?” Bibir Leon tersenyum jengkel, mendengar perkataan Hara, lalu Leon menangkap tubuh Hara, mengangkatnya lalu meletakkan di sofa, dan menggelitik sampai Hara kelelahan.
“Haaa …! Leon, geli,a-a-aku salah bicara.” Hara tertawa meringkuk karena Leon mengkelitikkinya.
“Kamu tahu orang yang kelamaan tinggal di hutan, kan, iya seperti ini,” ujar Leon mengarahkan bibirnya ke perut Hara mengigit pusar istrinya.
__ADS_1
Hara terkekeh menahan perlakuan Leon, kemarahan keduanya hilang digantikan tawa terkekeh geli dari kamar Leon dan Hara.
“Ok, baiklah, baiklah, aku minta maaf,” ujar Hara Leon berhenti. Suara tawa Hara terdengar ke lantai bawah. Ibu Atin menggeleng.
“Dasar, mereka berdua seperti mengalami puber kedua, satu cemburuan tidak karuan, satu lagi ingin bebas seperti burung, semoga cucu-cucuku baik-baik saja, Leon dan Hara susah ditebak,” ucap Bu Atin,
“ Tapi Pak Leon kalau lagi cemburu, lucu Bu, aku suka ketawa melihatnya,” seorang asisten rumah tangga yang meletakkan segelas teh jahe hangat untuk Bu atin yang sedang duduk di teras,
“Dari dulu dia memang seperti sama istrinya, padahal sama mantan pacarnya yang dulu malah cuek tidak perduli,” ucap Bu Atin
“Bu Hara, harusnya beruntung donk Bu, karena ada lelaki yang mencintainya sebesar itu, aku juga mau ada yang mencintaiku kayak seperti itu,” ucap wanita muda itu, menggoyang-goyangkan tubuhnya kanan-kiri bagai ranting tertiup pohon tertiup angin, melihat Hara dan Leon seperti membuatnya asisten rumah tangga itu, jadi terbawa perasaan.
“Terlalu posesif juga kayak Leon pada Hara tidak enak mbak, tapi itulah Leon, semua karena ia terlalu mencintai istrinya dan takut Hara pergi, sementara Hara terkadang bersikap cuek padanya, itu yang membuatnya makin menggila, tetapi melihat mereka berdua tertawa terkekeh seperti tadi, setelah tadi berseteru, iya … mungkin besok mereka berdua sudah baikan,” ujar Bu Atin menyeruput teh jahe hangat di atas meja.
“Memang kenapa baikan, Bu?” tanya wanita muda itu dengan polos. Bu Atin tersenyum kecil, lalu menoleh pada Tini, asisten rumah tangga yang sudah dua tahun bekerja di rumah Leon.
“Karena bentar lagi … akan dikasih obat untuk Leon.”
“Haaa, obat apa? Apa Pak Leon sakit? sampai butuh obat buatan,
Bu Hara?” tanya Tina dengan mimik heran.
Bu Atin hanya terkekeh merasa terhibur dengan kepolosan pembantunya. “Tina umur berapa tahun sekarang?”
“Delapan belas tahun, Bu.”
“Sudah punya pacar?” tanya Bu Atin penasaran.
“Belum Bu, tamat sekolah, aku langsung bekerja di sini jadi belum
pernah pacaran.”
“Pantas, ntar kalau kamu punya suami baru kamu mengerti obat ampuh apa yang diberikan Bu Hara untuk menjinakkan suaminya,” ujar Bu Atin.
__ADS_1
Tina menyipitkan kedua matanya, ia terlihat masih bingung, mencoba berpikir apa yang di lakukan Hara dan Leon, saat ini, karena suasana di kamar majikanya sudah hening dan lampu juga sudah dimatikan.
Bersambung ….