
Setelah meninggalkan Jovita di Villa, Leon menuju kantor Polisi, niatnya ingin menghajar pria berambut gondrong tersebut, karena pria itu menyebabkan masalah besar padanya.
“Pak Wardana, lelaki itu sudah meninggal tadi malam di dalam sel,” ucap polisi intel teman Leon.
“Apa yang terjadi?” Tanya Leon tidak percaya.
“Kepala penjahat itu tidak ingin anak buahnya membuka mulut. Jadi dia meminta penghuni lapas untuk melenyapkan.”
“Tadinya, saya ingin tahu siapa bosnya”
Polisi hanya menggeleng .
“Bahkan polisi belum bisa menembus siapa dia,” ucap Polisi.
Leon kembali kehilangan petunjuk, karena lelaki berambut gondrong itu dilenyapkan.
Begitulah dunia mafia, tidak ingin informasi tentangnya bocor, maka bos itu akan mengorbankan anak buahnya. Nyawa manusia seolah-olah tidak berarti bagi mereka.
**
Di sisi lain Jovita sibuk menatap layar computer di ruang depan, ia meminjam computer milik anak buah Leon, mencoba mencari petunjuk yang dikatakan lelaki itu padanya, ia mencari orang pemilik bintang yang di sebutkan.
Ia menjelajahi semua informasi tentang orang yang membunuh kelurganya, dan orang yang ingin mengincar nyawanya.
"Aku harus cari tahu siapa pelakunya," ucap Jovita hingga matanya melihat satu petunjuk.
Sementara di tempat lain.
Menyadari Jovita dalam bahaya.
Leon menelepon Rikko.
“Rikko jemput Non Hara ke puncak dia berbahaya tinggal di sana, bawa dia kembali ke Jakarta."
“Baik Bos." Rikko terbang ke puncak untuk menjemput Jovita
Saat Jovita mencari tahu siapa pelaku pembunuhan itu. Leon juga melakukan hal yang sama, ia berusaha membantu menemukan pembunuh keluarganya.
Leon kembali ke rumah di Jakarta, ia masuk ke ruangan rahasia miliknya. Seketika hatinya kembali sakit, melihat foto - foto lamanya di sana.
Foto yang selalu membuat kuat untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Jovita. Leon diam lama, bukti- bukti foto saat ayah Jovita bersama dengan preman yang memukulinya dan orang yang memperkosa kakaknya, dada Leon kembali bergejolak.
'Sampai kapan aku seperti ini? kenapa sangat berat memaafkan orang ini?
Kakak ... maafkan aku, karena hatiku sekarang jadi bimbang pada diriku, aku sepertinya kehilangan tujuan hidup, saat wanita itu aku bawa ke rumah ini, ibu bagaimana ini?'
__ADS_1
Leon menatap lagit -langit kamar rahasianya, di kamar itu juga ada banyak foto- foto Jovita saat ia kecil sampai dewasa, bukti, kalau Leon sudah lama menargetkan wanita cantik itu, jadi sasaran balas dendamnya.
Matanya, kini menatap kosong seluruh sudut kamar rahasia, ternyata tidak mudah baginya memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. Ia keluar dari kamar dengan perasaan yang berbeda.
Sementara Jovita tiba di Jakarta, ia juga mendadak berubah, bukti yang ia kumpulkan mengarah ke perusahaan Leon.
Sementara Leon memilih menghindari Jovita, akan sulit menyatukan dua hati, bila masih ada rasa sakit yang datang dari masa lalu.
**
Beberapa hari menghindari Jovita hingga pagi itu ....
“Bos, coba lihat berita pagi ini,” kata Rikko memberikan ponselnya pada Leon. Matanya menatap, dengan serius
Direktur Firman Company di temukan tewas di dalam rumahnya bersama istrinya tadi malam, tidak ada jejak pelaku ditemukan, baik di rekaman cctv yang terpasang di rumahnya.
Pemilik Firman Company saat itu Beny mantan tunangan Jovita.
“Kita kekantor sekarang?”
Leon dengan langkah buru-buru, belum juga duduk dalam mobil orang dari kantornya menelepon.
“Ada apa Jeny?”
“Itu bos sepertinya kantor kita kemasukan maling, semua dokumen dalam lemari hilang,” kata Jeny dengan suara panik.
Leon menelepon Iwan.
“Iya bos, bagaimana keadaanya?”
“Ini lagi di pegang Dokter bos, barusan ia kejang-kejang lagi"
“Pantau terus jangan sampai kamu lalai,” kata Leon. Leon mendapatkan anak buah lelaki gondrong yang bisa membantu mereka menemukan orang yang mengincar nyawa Jovita.
Hingga ia tiba di Kantornya, hal pertama ia lihat dokumen milik Iwan santoso, semua hilang, tapi anehnya hanya itu yang diambil, uang dalam brankas di kantornya tidak disentuh.
Saat di periksa rekaman cctv, ia tidak menemukan jejak apapun.
Sepertinya orang melakukanya orang yang mengetahui selak beluk dari bangunan kantornya.
'Siapa pelakunya?'
Belum juga Leon mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, ia sudah di kejutkan dengan hal yang lain.
“Bos kami menemukan ini di atas meja kerja Bos,” kata Rikko menunjukkan Foto Beny dan istrinya yang sudah terbujur kaku, sepertinya foto di ambil tepat setelah keduanya di tembak dalam keadaan tidur.
__ADS_1
“Bos, apa pelakunya ingin menuduh kita?” Zidan menatap serius ke Bosnya
“Sepertinya tidak," jawab Leon, ia melihat tulisan di balik foto.
“Apa artinya tulisan itu Bos?" Jeny sekretaris di Kantor Wardana Kontraktor, melihat tulisan di balik Foto itu dengan alis menyengit karena tidak mengerti.
Saat anak buahnya terlihat sangat panik. Leon malah sebaliknya, Ia terlihat sangat tenang .
Leon mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
“Iwan, pindahkan ia dari rumah sakit, bawa ke rumah sakit yang saya bilang"
“Masih menunggu persetujuan Dokter yang merawatnya bos, kebetulan Dokter yang menanganinya belum datang, mungkin sore, mereka menyarankan untuk besok pagi, baru bisa di pindahkan karena harus mengikuti prosedur
“Baiklah, besok pagi juga tidak apa-apa, awasi kamarnya, jangan sampai lengang, bila perlu pasang camera pengawas di kamarnya"
Diteror dan hampir kehilangan nyawa sudah dirasakan Leon, karena kejadian apapun sudah ia anggap hal biasa baginya tapi kali ini sepertinya membuatnya ter-usik karena menyangkut Jovita.
Manusia juga ada batas kesabaran, jika terus di tekan dan di rendahkan suatu saat ia akan melawan, saat Leon ingin berubah, ternyata sulit, ada saja masalah yang membuatnya selalu kembali ke dunia gelap itu.
Walau kantornya sudah di satroni orang yang tidak di kenal, tapi ia bersikap seolah-seolah tidak ada yang terjadi padanya, ia duduk di kubikelnya dengan satu kaki bertunggu di kaki yang satu lagi, tangannya memegang gagang telepon dan jarinya menekan beberapa nomor
“Pekerjaan di tunda dulu Pak Ketua, ada sedikit kendala teknis sini,” lawan bicaranya terdengar menghela nafas panjang.
“Apa ada masalah?”
“Tidak ada Pak ketua semua baik-baik saja, Ucap Leon dengan hormat dengan orang lawan bicaranya di ujung telepon.
“Kamu berubah, saya dengar kamu sudah lama tidak memakai wanita-wanitamu, apa karena gadis cantik itu? Bawa ia ke rumah, saya ingin mengenalnya.
“Baik Ketua.” Jawab Leon tanpa membantah,
“Dengar, saya ingin proyek itu berjalan dengan lancar, saya sudah menghabiskan banyak dana untuk itu,” suara lelaki itu memberi perintah.
“Baik, pak ketua,” jawab Leon lagi.
Saat ini, di mejanya, ia memijat kepalanya, berhadapan dengan pak tua itu, membuatnya selalu menjadi nomor dua.
Lelaki tua itu selalu saja jadi bayang-bayang dalam hidupnya. Ia tidak pernah bisa menolak permintaanya, mendengar permintaan itu tiba-tiba ia merasa tidak tenang. Perusahaan Leon menerima proyek besar dari seorang lelaki yang mereka panggil ketua.
Niatnya ingin bekerja tiba-tiba buyer, banyak yang mengusik ketenangannya belakangan ini.
Apa lagi saat ia ingin menjalani hidup lebih baik, terutama tentang hatinya. Ia tidak bisa mengontrol hatinya ketika otak dan hatinya, tidak sejalan. Leon niatnya tidak ingin membuat Jovita sakit hati.
Tetapi tanpa ia sadari , dengan Leon menghindari Jovita beberapa hari ini. Itu sudah cukup, membuat hati wanita cantik jauh lebih sakit.
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta kamu untuk bertanggung jawab untuk malam itu Pak Leon . Tetapi, kenapa kamu menghindari ku terus" Tanya Jovita saat melihat Leon keluar buru-buru menuju mobilnya.
Bersambung ....