
Leon turun ke lobby hotel untuk mengisi perutnya yang kelaparan.
“Bagaimana, apa semua aman?”tanya Leon menghampiri Bimo yang berdiri di pintu Loby, Bimo, berjaga di depan pintu dan Ken bertugas menjaga Hara.
“Tidak ada yang mencurigakan Bos,” pungkas Toni dari gedung atap.
“Pantauan saya aman Bos." Zidan memberi laporan.
“Jangan lengang sedikitpun, saya mau makan dulu, Hara masih tidur di kamar atas.”
“Baik Boss”
Leon makan di restoran hotel, ia memilih meja yang dekat dengan kaca, agar bisa melihat- lihat pemandangan taman di samping hotel, sesekali tangannya mengusap layar ponselnya membaca beberapa artikel tentang gangguan semasa hamil seperti yang di alami Hara.
Melihat banyak penderita yang mengalami ragam penyakit semasa hamil, Leon merasa kasihan pada Hara. Baru beberapa sendok ia masukkan ke dalam mulut tiba-tiba ia merasa tidak berselera, banyak beban pikiran, membuatnya tidak bersemangat.
Saat Leon menikmati serapan Hilda datang, ternyata wanita hamil itu juga ingin makan.
Melihat Leon ada di sana Hilda juga mendekat ingin makan dengan lelaki bertampang dingin pada orang lain, tetapi selalu terlihat hangat sama orang lain, ia mendekat.
“Boleh aku duduk di sini, Pak?” Leon menoleh ke samping.
“Ayo silahkan, apa kamu makan siang atau serapan, kalau kamu makan siang ini belum jam waktu makan siang ibu Hilda” ucap Leon dengan tampang dingin.
“Sepertinya makan pagi pak, saya mengalami mual parah pagi ini, jadi tidak memasukkan apa-apa ke dalam perutku, saya juga mengalami rasa cemas menjelang persalinan.”
“Kenapa kamu tidak cuti melahirkan saja, kata Piter kamu sebentar lagi mau melahirkan, apa kamu tidak takut melahirkan saat bekerja?” tanya Leon.
“Tidak, justru di rumah diam, membuatku semakin stres kalau aku bekerja pikiranku teralihkan.”
“Kamu membuat suami jadi hansip.”
“Maksud Bapak?” Tanya Hilda bingung.
“Kamu tidak tahu kalau Piter mengawasi mu saat kerja?”
“Tidak.”
“Suamimu itu lagi duduk mengobrol dengan Bimo.” Leon menunjuk ke arah pintu masuk hotel. Piter sedang mengobrol serius dengan Bimo.
“Saya tidak tahu Pak.”Hilda menoleh ke pintu loby.
“Begini saja, kenapa kamu tidak ambil cuti saja, saya sudah bilang kalau kamu tidak kuat istirahat saja dulu, saya sudah mencari orang untuk mengantikan mu, kamu sudah seperti adek bagiku Hilda. Walau dari Keluarga Hara, kamu itu jadi bibiku,” ucap Leon tiba-tiba bicara informal pada Hilda memperlakukannya seperti seorang adek.
“Aku juga khawatir padamu,” ujar Leon lagi.
__ADS_1
“Aku tahu Pak, tetapi saya tidak bisa melepas anak baru itu, dia belum bisa melakukan dengan benar, Bapak juga sibuk mengurus Hara, jadi saya pikir salah satu diantara kita harus tetap stay di kantor,” ucap Hilda mendengar Leon bicara santai padanya, ia juga bicara santai layaknya kakak dan adek.
“Iya, kamu benar, tetapi tenang ada Zidan dan Toni, Ken juga yaang siap mengantikan ku sementara. Kamu tahu, kan, mereka bertiga sudah seperti tangan untukku,” ujar Leon, ia lupa mematikan alat komunikasi di kupingnya, jadi semua anak buahnya mendengar semua pembicaraan mereka.
“Jika kamu ingin cuti ajukan segera, agar Ken dan Toni mengantikan mu, kalau Zidan aku tidak bisa membebaninya dengan pekerjaan.”
“Kenapa? Dia sakit?” Tanya Hilda.
“Istrinya juga sedang hamil sama seperti Hara.”
“ Oh. Iya aku lupa Tetapi kenapa pengawasan di hotel begitu banyak ada anjing pelacak, penembak sampai dua, ada orang-orang di setiap sudut hotel, apa ada masalah atau apa ada yang bapak curigai?” tanya Hilda mengaduk aduk makanan yang ia pesan, ia juga tidak berselera, hanya memakannya beberapa suap lalu ia hanya memainkan sendok dalam piring.
“Ada beberapa tamu ViP yang sempat takut karena tiba-tiba di depan hotel ada anjing pelacak, beliau pikir kejadian yang kemarin-kemarin terulang lagi, hotel kita dalam pemulihan, garis polisi yang di kamar kemarin baru saja di bersihkan setelah penyelidikan selesai, aku berharap tidak ada masalah lagi," pungkasnya Hilda.
“Iya aku harus melakukanya, aku tidak ingin Hara terluka aku harus mengantisipasi, aku juga tidak ada niat membawa dia ke hotel, tapi aku juga tidak bisa menolaknya tadi, ia akan mengamuk … tapi apa penembak di tambahin Bimo? Dia bilang samaku hanya Zidan dan satu"
“Soalnya Bimo melapor padaku, hanya dua tapi di sana ada satu” Hilda mengarah wajahnya kearah gedung bank di depan hotel di sebrang jalan.
“Tidak. Penembak yang di maksud Bimo itu …. Zidan di sebrang dan Toni di gedung atap,” ujar Leon.
“Tidak Bos … di depan juga ada di gedung bank itu, lihat ini.” Hilda menunjukkan layar ponselnya, ia tadi merekam seorang penembak di gedung depan.
Leon melihat layar ponsel Hilda, seketika mimik wajahnya berubah.
“Sial …. ! Itu bukan Zidan ada penembak lain selain mereka.”
Leon berdiri buru-buru wajahnya menegang.
“Zidan ….! Ada penembak di gedung depan!”
“Iya Bos.”
“Apa kamu melakukan penambahan untuk penembak?” tanya Leon langsung ke intinya.
“Tidak bos, hanya Toni dan aku saja.”
“Sial … ini ada satu penembak lagi”
Toni berlari.
Wajah Leon dan Bimo tiba-tiba menegang, Bimo dengan cepat mengintruksikan anak buahnya ada penyusup masuk.
“Siapa dia?” tanya Leon dengan wajah panik.”Hara” Leon berdiri dan menelepon meja sekretaris tetapi tidak di jawab.
“Bagaimana? Apa di jawab?” Hilda ikut panik.
__ADS_1
Menyadari ada pengintai di gedung mereka semua panik, Leon menelepon meja sekretaris, tidak ada jawaban.
“Tidak, dia tidak menjawab teleponnya,” Leon berjalan buru-buru ia menekan tombol lift dengan sikap tidak sabaran, ia tidak menghiraukan orang yang ikut berdiri.
“Ken kamu di mana?”
Tidak ada sahutan, menambah kepanikan untuk mereka semua. Leon berjalan buru-buru menuju lift.
Karena karyawan sudah waktu makan siang, jadi lift umum selalu ramai, naik untuk makan siang di pantry hotel.
“Kalian belakangan saka,” pinta Bimo
“Baik Pak,” sahut mereka patuh, karena tahu Bimo pengawal baru Leon. Saat tiba di lantai atas, ternyata meja sekretaris kosong.
Gilanya lagi, meja sekretaris itu kosong, tidak ada orang berjaga,
Leon menegang, wajahnya pucat pasih saat melihat Hara tidak ada di kamarnya semakin panik bahkan tidak bisa bicara ia hanya mematung dengan tatapan kosong.
“Maaf Bos, harusnya saya ikut berjaga di sini dengan Ken,"ujar Bimo merasa bersalah.
“Sial! Keparat! Siapapun yang melakukan ini aku akan mencincang tubuhmu!” teriak Leon dengan dada naik turun. Ia benar-benar marah kali ini, padahal ia sudah berusaha hidup baik, tetapi musuh.
Bimo lebih panik, ia berlari turun dan memerintahkan semua anak buahnya untuk berpencar, Hilda keruang keamanan hotel ia melihat CCTV tapi tidak menemukan Hara, semua panik, kahirnya hilangnya Hara sampai ke Piter, padahal ia tadi ingin ikut menjaga tetapi Leon melarangnya karena tidak mau merepotkan, karena Leon berpikir Piter juga punya pekerjaan dan ia juga punya istri yang harus di jaga, Hara istrinya biar jadi urusannya.
Leon duduk tidak berdaya di ruangannya, tidak tahu harus berbuat apa, Hara tiba tiba menghilang membuat otaknya tidak bisa berpikir.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)