
Leon memilih menahan perasaan tersiksa dari pada mengaku cinta pada Jovita, hatinya memang sudah mulai mencintai, tetapi dendam pada orang tua Jovita masih tetap membekas.
Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirim foto-foto ayah Jovita bersama preman yang menghancurkan keluarganya, membuat hatinya semakin sulit untuk melepaskan dendam itu.
“Bos, jangan terpengaruh, bisa saja pembunuh itu ingin memanfaatkan mu Bos, untuk menyingkirkan Non Hara, karena beberapa kali mereka selalu gagal untuk melakukannya,” ucap Rikko.
“Saya dengannya memang tidak ditakdirkan untuk bersama,” ujar Leon berdiri di depan jendela.
Rikko prihatin melihat Leon, saat lelaki itu ingin melepaskan diri dari perasaan dendam itu, seseorang memprovokasi pikirannya dengan mengirim bukti kalau orang yang menghancurkan rumah keluarganya adalah ayah Jovita, maka Leon benar- benar di lema.
Antara dendam dan Cinta menjadi pilihan yang sulit untuknya, jika ia memilih mencintai Jovita, maka ia berpikir telah mengkhianati keluarganya. Jika mengusir Jovita dan membiarkannya penjahat menangkapnya, ia mencintai Jovita. Walau bibirnya belum pernah mengaku, tetapi hati dan perhatiannya selama ini, cukup jadi bukti kalau ia memang mencintainya.
‘Aku harus bagaimana ini sangat sulit dan rumit untukku’ Leon memijit kepalanya.
Leon memang sudah sedikit berubah, ia tidak lagi memelihara wanita -wanita cantik di rumahnya, kini ia fokus mengurus bisnis dan memperbaiki hidupnya.
Saat mereka sedang mengobrol dengan Rikko, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.
“Masuk!” Ujar Leon saat ada suara ketukan.
Saat pintu terbuka, seorang wanita cantik berdiri menatap tajam pada Leon.
“Saya permisi keluar Bos,” ujar Rikko saat melihat Jovita masuk.
Karena merasa diabaikan terus- menerus sama Leon, Nona cantik akhirnya mendatangi Leon di ruang kerja.
Ia masih berdiri menatap Leon dengan tatapan tenang, ini pertemuan pertama mereka setelah malam panas itu.
“Ada apa?” Tanya Leon datar, memilih menghindar menatap wajah Hara, Leon berdiri membelakangi, menatap ke arah luar, bukan karena Leon bersikap cuek, tetapi karena ia tidak berani menatap wajah Jovita, jantungnya juga berdetak hebat saat melihat wanita cantik itu datang ke ruangannya. Ia juga sangat rindu, rindu dengan bau tubuhnya yang selalu membuat merasa nyaman setiap kali memeluknya . Tetapi ada permainan takdir yang mempermainkan perasaan keduanya.
“Kenapa Bapak menghindar?” Tanya Jovita memberanikan diri.
“Saya tidak merasa menghindari Nona, saya hanya sibuk”
“Walau sibuk, setidaknya Bapak tidak boleh mengabaikanku seperti itu, membuatku terus bertanya dalam hati, apa saya melakukan kesalahan, apa malam itu saya membuatmu marah? Saya terus bertanya dan selalu menunggumu tiap malam”
Leon diam ia mengepal tangannya dengan kuat menahan perasaan, ingin rasanya ia memeluk Jovita dan meminta maaf padanya, karena meninggalkannya begitu saja pagi itu. Tetapi lagi-lagi ego dalam hatinya lebih kuat dan mengalahkan rasa rindu dalam hati.
“Saya sangat sibuk, banyak masalah di kantor membuat saya fokus mengurus semuanya,” ucap Leon belum mau menatap wajah Jovita.
“Baiklah, saya sudah datang ke sini . Katakan apa saya melakukan sesuatu yang salah ?”
“Tidak”
“Lalu?”
“Jovita Hara, saya sudah bilang, saya hanya sibuk,” ujar Leon membalikkan tubuhnya.
“Pak Leon saya hanya ingin bilang sama Bapak. Apapun yang kita lakukan malam itu, saya tidak akan menuntut apa-apa. Bapak jangan takut”
“Lupakanlah. Jangan membahas itu,” ucap Leon mengalihkan wajahnya kearah luar.
“Baiklah saya akan melupakannya Pak Leon, saya sudah bilang saya tidak akan menuntut apa-apa. Saya juga tahu kalau bapak sudah menolak saya, saya sadar akan hal itu, hanya mau bilang jangan menganggapku seperti wanita-wanita mu”
“Nona Hara saya sudah bilang , jangan membahasnya, saat ini”
“Lalu apa yang membuat Bapak menghindariku? Saya hanya ingin tahu?”
__ADS_1
“Saya sibuk”
“OK , Begini saja. Bapak tetaplah seperti itu. jangan perduli padaku dan jangan menghiraukanku. Kita memang sulit untuk bersama, walau hanya sekedar berteman, karena bapak masih dendam. Menganggap ayahku sebagai orang jahat, nanti suatu saat akan terbukti kebenarannya kalau ayahku bukan pelakunya”
“Baiklah” Leon, tetap tidak mau menatap wajah Jovita.
“Tidak bisakah Bapak bicara menatap wajahku?”
Leon menarik napas panjang, ia mengumpulkan keberaniannya lalu menatap Jovita.
“Baiklah begitu lebih baik, akhirnya saya paham alasan Bapak, saya merasa tenang …. Saya juga mau bilang. Terimakasih sudah mengabaikan ku beberapa hari ini, karena itu saya bisa melakukan banyak Hal,” ucap Jovita tersenyum kecil.
Leon terkejut, saat Jovita memamerkan senyuman padanya. Leon menyengitkan kedua alisnya, ia bingung dengan sikap Jovita yang tiba-tiba tersenyum tadinya, ia pikir wanita cantik itu menangis, tetapi …
“Kenapa?” Leon menatapnya dengan bingung.
“Kalau begitu izinkan saya jadi pegawai Bapak”
“Maksudnya?”
“Saya ingin bekerja di kantor Bapak, sebagai pegawai kantoran, bukankah bapak membuka kantor kontruksi yang baru?”
Leon menatap bingung.
“Dari mana kamu tahu? Sementara kamu tidak pernah keluar dari rumah ini”
“Anak buah Bapak bergosip dan saya mendengarnya,” ucap Jovita santai.
“Baiklah kamu boleh bekerja, tetapi kamu akan tetap kembali pulang ke sini”
“Baik Pak Leon. Kalau begitu mulai besok saya mulai bekerja di kantor Bapak Iya”
“Oh meja di kantor baru bapak sangat bagus”
Leon seketika menegang, ia menatap Jovita dengan mata melotot.
‘Jangan bilang kalau kamu yang melakukannya’ Leon membatin tiba-tiba merasa sangat takut.
“Tunggu …. Dari mana kamu tahu kalau saya membeli meja baru?”
“Itu kan kantor bekas ayahku. Jadi saya tahu seleramu dan ayahku berbeda, sudah pasti pak Leon mengganti meja, kan?”
Leon terdiam, tetapi kali ini Jovita kembali tersenyum, tetapi senyuman itu terlihat sangat berbeda, bukan senyuman manis seperti yang biasa ia lihat dari Jovita, Leon menelan ludahnya dengan susah payah.
‘Apa yang telah terlewatkan olehku beberapa hari ini?’ tanya leon dalam hati.
“Kalau begitu saya keluar Pak Leon, mulai besok, saya akan bekerja pada bapak, saya akan melakukan yang terbaik,” ucap Jovita , lagi-lagi ia tersenyum tetapi senyuman itu bukanlah menggambarkan rasa senang, melainkan sebuah kemarahan.
*
Jovita meninggalkan ruangan Leon.
Dengan cepat Leon menelepon Rikko
“Kamu ke ruangan saya!”
“Iya Bos?”
__ADS_1
“Apa yang telah terjadi?”
“Maksudnya Bos?” Rikko balik bertanya , karena ia benar-benar tidak tahu apa yang di maksud Leon.
“ Bagaimana dia keluar, dan kapan dia melakukannya? Jovita yang mencuri data-data Iwan dari brankas dari kantor,” ucap Leon panik.
“HA! Tidak mungkin Bos.” Rikko lebih terkejut.
“Itu kantor bekas milik ayahnya Rikko! Mendesain bangunan itu adalah Jovita, jadi, hanya dia yang tahu posisi bangunan itu”
“Wah, itu mustahil, jangan-jangan kematian Beny dan istrinya … ada hubungannya dengan Jovita?”
Mereka berdua saling menatap dengan wajah panik.
‘Oh sial, apa yang telah aku lakukan, baru berapa hari diabaikan, ia sudah membuat kekacauan’ Leon memegang batang lehernya.
“Panggilkan Rudi ke sini. Apa tugas dia sebagai kepala keamanan di rumah ini? Brengsek! Bagaimana Jovita bisa keluar dari sini?”
*
Jovita berdiri menatap lautan dengan senyuman sinis.
“Akan aku buktikan padamu kalau ayahku bukanlah pembunuh seperti yang kamu pikirkan. Kamu tidak pantas membenci lelaki baik itu. Aku tidak akan menangis lagi, kepahitan hidup yang aku jalani selama ini, membuat air mataku tidak mau keluar lagi,” ujar Jovita tertawa kecut.
Tidak lama kemudian jam di tangannya berbunyi, itu alat komunikasi yang di berikan Piter saat di Surabaya dulu.
Driiit … Driiit …!
Ia melihat jam miliknya, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi menghidupkan kran air.
“Iya Om Piter”
“Hara. Dengar … jangan melakukan apapun lagi. Sekarang kamu buang jamnya. Nanti om yang akan menghubungimu”
“Baiklah Om aku tidak akan melakukan apapun. Aku sangat puas,” ucap Jovita tertawa dan mengusap air matanya.
“Dengar Hara, batalkan niatmu untuk bekerja, tetaplah di rumah Leon, tunggulah sebentar lagi, nanti om akan menjemputmu. Kamu dengar! Jangan melakukan apapun lagi, kamu paham? Percaya sama om, aku akan mencari siapapun pelakunya, om akan menyeretnya ke hadapanmu. Kamu mengerti?”
“Iya Om”
“Baik sekarang buang jamnya ke dalam kloset”
“Iya Om” Jovita mengakhiri komunikasi dengan Piter dan membuang jam miliknya.
Mengabaikan Jovita beberapa hari, hal yang paling disesali Leon. Karena hal itulah Jovita marah dan membuatnya, bertindak berani bahkan sangat nekat.
Bersambung ….
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)