Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ajarin aku mencintaimu


__ADS_3

Leon keluar dari kamar mandi, setelah ia mandi ia membalut  tangannya dengan kain kasa, butuh beberapa jam untuknya untuk memulihkan hatinya yang patah.


Ia beberapa kali tersenyum kecut, saat ia membayangkan ia menjadi seorang ayah.


Setelah   beberapa kali menarik napas panjang ia akhirnya berkata;


“Baiklah tidak apa-apa, itu bukan kesalahan Jovita, itu kebodohan yang tidak aku tahu kalau ia sedang mengandung saat itu. Jika aku tahu, aku tidak akan meminta berlari di dalam hutan.


"Bukan waktunya bersedih lagi, tugasku menyakinkan Hara agar  mau menerimaku dan mau menjadi kekasihku. Aku harus berjuang walau berat”


Lalu leon membuka laptop dan membuka YouTube, menonton cara  bagai lelaki bersikap romantis pada pasangan.


Tetapi saat lelaki itu sedang menonton bukan ide yang ia dapat  malah laptopnya yang dapat maki-maki darinya.


Dimana saat ia menonton satu konten, seorang lelaki  melakukan hal yang sangat romantis untuk sang kekasih. Dalam konten YouTube yang Leon tonton,  di satu mall , lelaki itu meminta banyak orang memegang bunga dan tulisan;


  I LOVE YOU  dan DO YOU MARRIED ME?


Leon langsung mendengus kesal, saat menonton adegan dalam konten YouTube tersebut.


“Apa kamu  menyebut dirimu seorang lelaki? Apa harus serendah itu mendapatkan wanita untuk kamu nikahi, Ha!” Leon menunjuk - menunjuk  video lamaran romantis dalam laptopnya.


“Dengar! Lebih baik aku disuruh menghabisi musuh dari pada diminta bersikap alay seperti itu,” ucapnya marah ia menutup laptopnya dengan sikap kesal.


                                  *


Saat menjelang malam,  Bu Atin menempatkan Jovita di kamar di lantai satu kembali, ia tidak menginginkan wanita cantik itu menempati kamar bekas Sabrina lagi, ia tahu ada jalan rahasia yang Jovita gunakan untuk kabur dari sana.


Jadi ia mengunci kamar tersebut dan menempatkan Jovita kembali di kamar  mewah di sebelah Leon. Tetapi Leon belum menyadari  bidadari sang pujaan hati, ada di sebelah kamarnya.


Lelaki itu masih duduk bolak balik  buka tutup laptopnya,  hatinya ingin belajar romantis pada pasangan , Tetapi saat ia menonton ia  tertawa meledek menonton video tersebut, begitu saja berulang-ulang ia terlihat seperti orang gila ketika bicara sendiri pada laptopnya  dan mondar- mandir memperagakan  beberapa adegan romantis.


“Ah. Ini menjengkelkan  aku tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu,” ucapnya, duduk di meja kerja.


Untuk seorang Leon  melakukan hal yang romantis seperti yang didinginkan para wanita hal yang paling sulit baginya. Bagaimana mau bucin dan romantis?  Tersenyum saja susah.


Saat ia duduk suara ketukan pintu terdengar.


Tok … Tok …


“Ini Kami Bos!”


“Masuk”



Keempat lelaki tampan itu masuk dengan sikap ragu-ragu bercampur takut, mereka berempat terlihat seperti siswa yang ingin masuk ke ruangan guru BP.


“Ada apa?” Tanya Leon mengangkat kedua alisnya, saat melihat  mereka berempat masuk.


“Bilang.” Ken menyenggol Iwan.


“Kok Aku?” Iwan menendang sepatu  Zidan.

__ADS_1


Zidan melirik Rikko.


“Begini bos, kami berempat ingin  masak untuk Non Hara”


“Iya lakukan,” ujar Leon mempersilahkan mereka.


“Bukan hanya kami Bos , kami ingin Bos ikut membantu kami, kami yakin, Non Hara tidak marah lagi."


Leon menimang, ia berpikir dari pada melakukan adegan seperti di konten yang ia tonton, lebih baik ia mengikuti saran anak buahnya.


“Apa kalian yakin?”


“Yakin Bos,” ucap mereka  berempat kompak.


“Baiklah, atur saja waktunya”


“Baik Bos, tetapi alangkah baiknya Bos  bicara dulu dengan Non Hara, lalu sampaikan kalau kita akan membuat masakan spesial untuk Non Hara,” ucap Ken.


 “Baik,” ucap Leon setuju.


                             **


Saat larut  malam Leon keluar, ia terkejut karena ada Jovita duduk di balkon, ia mengucek- ucek mata menyakinkan  penglihatannya.


‘Kapan dia ke sini. Bibi hebat, bisa membawa dia kembali ke kamar ini’ ucap Leon.


Ia keluar membawa sebuah mantel tebal. Misi romantis dijalankan.


“Kenapa malam- malam masih di luar? ” Tanya Leon menyelimuti tubuh Hara  dengan mantel yang dibawa dari kamarnya.


“Apa perlu aku tidurkan?”


Jovita tersenyum kecil saat Leon menawarkan jasa menidurkan dirinya.


“Bukan aku yang tidur  nanti , tetapi Bapak akan tertidur sebelum aku terlelap ,” balas Jovita.



Leon duduk, ia berusaha agar tidak menyinggung soal kehamilan Hara, walau hatinya sedih, tetapi ia mencoba berdamai dengan keadaan


“Hara, ajarin aku bagaimana cara mencintaimu,” ucap Leon tiba-tiba, untuk mengatakan satu kalimat itu, ia butuh ritual tarik napas buang napas, beberapa menit.


"Ha? " Hara menatap Leon.


“Tapi masalahnya, Bapak itu,  hanya mencintai dirimu sendiri,” ucap Jovita dengan berani.


“Karen itu, aku bilang Jovita Hara. Ajarin untuk mencintai.” Leon menatap  wajahnya dengan begitu dalam.


Jovita  terdiam, ia menatap ke dalam mata Leon mencoba mencari kebenaran lewat tatapan dingin itu.


‘Bagaimana mengajari orang jatuh cinta?


Cinta itu datang sendiri, dari mata turun ke hati’ Jovita membatin.

__ADS_1


“ Hal itu akan datang dari hati seseorang  yang tulus mencintai Pak Leon"


“Setidaknya, katakan salah satu yang biasa ... seperti yang kamu lihat,” Leon ingin  belajar untuk memperbaiki dirinya.


“Iya banyak, salah satunya, lelakinya akan memasak dan mengajak kekasihnya untuk dinner,  itu paling romantis, menurutku.”


“Baiklah,” Leon  mengangguk.


“Ada Pak Leon, ingin melakukan hal romantis padaku?” Tanya Jovita tersenyum ketir


“Iya,” Jawab Leon dengan yakin.


“Apa? Setelah semua yang terjadi? Memang bapak tidak marah padaku lagi?”


“Tidak, itu salahku, kamu tidak bersalah,” Tiba- tuba perasaan Hara jadi luluh lagi bumil memang suka labil perasaannya.


Perasaan Bumil memang  gampang berubah-ubah seperti arah angin. Kini Jovita yang terjebak dalam perasaanya sendiri, kalau seperti ini ia jadi ingin jujur pada Leon kalau bayinya masih ada di rahimnya, ia meremas ujung mantel  itu dengan kuat.


“Memangnya  Bapak  beneran menginginkannya? Bukannya saat itu  bapak bilang tidak  mau punya anak?”


“Itu dulu Hara.  Saat aku masih gila”


“Ha? memang  Bapak  pernah gila?” Tanya Jovita polos, menatap Leon dengan serius.


“Iya sekarang lebih gila lagi, karena Mencintaimu, membuatku gila,” ucap  Leon.


“Apa bapak mengaku mencintaiku?” Tanya Jovita tertawa meledek, ia berpikir Leon salah berucap. Ia tidak tahu, ini pengakuan cinta untuk kedua kali untuknya.


“Iya. Aku mencintaimu Hara!”


Mulut Hara langsung terkunci diam, bibir di memonyongkan ke depan,” Cinta tapi gak ada romantisnya,” gumamnya pelan dan di dengar Leon.


“Kamu ingin aku romantis?” Lalu ia berdiri, memetik bunga dari pot yang ada di balkon



” Hara aku mencintaimu.” Leon melihat kanan -kiri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal,  lalu ia mengasih bunga  itu  ke tangan Jovita.


Bukannya romantis, Jovita malah tertawa, saat melihat ekspresi Leon  yang begitu kaku dan terpaksa, ternyata ia melakukan seperti yang ia tonton dari laptopnya


“Kenapa tertawa?” tanya Leon dengan ekspresi bingung.


“Apa Bapak menonton dari YouTube?” tanya Jovita.


“Iya, Bibi dan  Riko, Zidan  memintaku menonton dari YouTube,” jawab Leon jujur. Pengakuan jujur itu sontak membuat Hara tertawa.


“Baik, baiklah terimakasih atas bunganya. Tuan Kaku, aku mau tidur," ucap jovita masih menahan tawa.


“Jadi keputusannya apa?” tanya leon, ekspresi wajahnya serius, ia menatap ke arah Jovita.


“Aku menerima bunganya saja,” ucap Hara


"Lalu cintaku, tidak?" Tanya Leon tulus.

__ADS_1


"Belum, masih tahap seleksi," ucap Jovita mengunci pintu dan tidur.


Bersambung ...


__ADS_2