
Leon keluar dari kamar mandi, setelah ia mandi ia membalut tangannya dengan kain kasa, butuh beberapa jam untuknya untuk memulihkan hatinya yang patah.
Ia beberapa kali tersenyum kecut, saat ia membayangkan ia menjadi seorang ayah.
Setelah beberapa kali menarik napas panjang ia akhirnya berkata;
“Baiklah tidak apa-apa, itu bukan kesalahan Jovita, itu kebodohan yang tidak aku tahu kalau ia sedang mengandung saat itu. Jika aku tahu, aku tidak akan meminta berlari di dalam hutan.
"Bukan waktunya bersedih lagi, tugasku menyakinkan Hara agar mau menerimaku dan mau menjadi kekasihku. Aku harus berjuang walau berat”
Lalu leon membuka laptop dan membuka YouTube, menonton cara bagai lelaki bersikap romantis pada pasangan.
Tetapi saat lelaki itu sedang menonton bukan ide yang ia dapat malah laptopnya yang dapat maki-maki darinya.
Dimana saat ia menonton satu konten, seorang lelaki melakukan hal yang sangat romantis untuk sang kekasih. Dalam konten YouTube yang Leon tonton, di satu mall , lelaki itu meminta banyak orang memegang bunga dan tulisan;
I LOVE YOU dan DO YOU MARRIED ME?
Leon langsung mendengus kesal, saat menonton adegan dalam konten YouTube tersebut.
“Apa kamu menyebut dirimu seorang lelaki? Apa harus serendah itu mendapatkan wanita untuk kamu nikahi, Ha!” Leon menunjuk - menunjuk video lamaran romantis dalam laptopnya.
“Dengar! Lebih baik aku disuruh menghabisi musuh dari pada diminta bersikap alay seperti itu,” ucapnya marah ia menutup laptopnya dengan sikap kesal.
*
Saat menjelang malam, Bu Atin menempatkan Jovita di kamar di lantai satu kembali, ia tidak menginginkan wanita cantik itu menempati kamar bekas Sabrina lagi, ia tahu ada jalan rahasia yang Jovita gunakan untuk kabur dari sana.
Jadi ia mengunci kamar tersebut dan menempatkan Jovita kembali di kamar mewah di sebelah Leon. Tetapi Leon belum menyadari bidadari sang pujaan hati, ada di sebelah kamarnya.
Lelaki itu masih duduk bolak balik buka tutup laptopnya, hatinya ingin belajar romantis pada pasangan , Tetapi saat ia menonton ia tertawa meledek menonton video tersebut, begitu saja berulang-ulang ia terlihat seperti orang gila ketika bicara sendiri pada laptopnya dan mondar- mandir memperagakan beberapa adegan romantis.
“Ah. Ini menjengkelkan aku tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu,” ucapnya, duduk di meja kerja.
Untuk seorang Leon melakukan hal yang romantis seperti yang didinginkan para wanita hal yang paling sulit baginya. Bagaimana mau bucin dan romantis? Tersenyum saja susah.
Saat ia duduk suara ketukan pintu terdengar.
Tok … Tok …
“Ini Kami Bos!”
“Masuk”
Keempat lelaki tampan itu masuk dengan sikap ragu-ragu bercampur takut, mereka berempat terlihat seperti siswa yang ingin masuk ke ruangan guru BP.
“Ada apa?” Tanya Leon mengangkat kedua alisnya, saat melihat mereka berempat masuk.
“Bilang.” Ken menyenggol Iwan.
“Kok Aku?” Iwan menendang sepatu Zidan.
__ADS_1
Zidan melirik Rikko.
“Begini bos, kami berempat ingin masak untuk Non Hara”
“Iya lakukan,” ujar Leon mempersilahkan mereka.
“Bukan hanya kami Bos , kami ingin Bos ikut membantu kami, kami yakin, Non Hara tidak marah lagi."
Leon menimang, ia berpikir dari pada melakukan adegan seperti di konten yang ia tonton, lebih baik ia mengikuti saran anak buahnya.
“Apa kalian yakin?”
“Yakin Bos,” ucap mereka berempat kompak.
“Baiklah, atur saja waktunya”
“Baik Bos, tetapi alangkah baiknya Bos bicara dulu dengan Non Hara, lalu sampaikan kalau kita akan membuat masakan spesial untuk Non Hara,” ucap Ken.
“Baik,” ucap Leon setuju.
**
Saat larut malam Leon keluar, ia terkejut karena ada Jovita duduk di balkon, ia mengucek- ucek mata menyakinkan penglihatannya.
‘Kapan dia ke sini. Bibi hebat, bisa membawa dia kembali ke kamar ini’ ucap Leon.
Ia keluar membawa sebuah mantel tebal. Misi romantis dijalankan.
“Kenapa malam- malam masih di luar? ” Tanya Leon menyelimuti tubuh Hara dengan mantel yang dibawa dari kamarnya.
“Apa perlu aku tidurkan?”
Jovita tersenyum kecil saat Leon menawarkan jasa menidurkan dirinya.
“Bukan aku yang tidur nanti , tetapi Bapak akan tertidur sebelum aku terlelap ,” balas Jovita.
Leon duduk, ia berusaha agar tidak menyinggung soal kehamilan Hara, walau hatinya sedih, tetapi ia mencoba berdamai dengan keadaan
“Hara, ajarin aku bagaimana cara mencintaimu,” ucap Leon tiba-tiba, untuk mengatakan satu kalimat itu, ia butuh ritual tarik napas buang napas, beberapa menit.
"Ha? " Hara menatap Leon.
“Tapi masalahnya, Bapak itu, hanya mencintai dirimu sendiri,” ucap Jovita dengan berani.
“Karen itu, aku bilang Jovita Hara. Ajarin untuk mencintai.” Leon menatap wajahnya dengan begitu dalam.
Jovita terdiam, ia menatap ke dalam mata Leon mencoba mencari kebenaran lewat tatapan dingin itu.
‘Bagaimana mengajari orang jatuh cinta?
Cinta itu datang sendiri, dari mata turun ke hati’ Jovita membatin.
__ADS_1
“ Hal itu akan datang dari hati seseorang yang tulus mencintai Pak Leon"
“Setidaknya, katakan salah satu yang biasa ... seperti yang kamu lihat,” Leon ingin belajar untuk memperbaiki dirinya.
“Iya banyak, salah satunya, lelakinya akan memasak dan mengajak kekasihnya untuk dinner, itu paling romantis, menurutku.”
“Baiklah,” Leon mengangguk.
“Ada Pak Leon, ingin melakukan hal romantis padaku?” Tanya Jovita tersenyum ketir
“Iya,” Jawab Leon dengan yakin.
“Apa? Setelah semua yang terjadi? Memang bapak tidak marah padaku lagi?”
“Tidak, itu salahku, kamu tidak bersalah,” Tiba- tuba perasaan Hara jadi luluh lagi bumil memang suka labil perasaannya.
Perasaan Bumil memang gampang berubah-ubah seperti arah angin. Kini Jovita yang terjebak dalam perasaanya sendiri, kalau seperti ini ia jadi ingin jujur pada Leon kalau bayinya masih ada di rahimnya, ia meremas ujung mantel itu dengan kuat.
“Memangnya Bapak beneran menginginkannya? Bukannya saat itu bapak bilang tidak mau punya anak?”
“Itu dulu Hara. Saat aku masih gila”
“Ha? memang Bapak pernah gila?” Tanya Jovita polos, menatap Leon dengan serius.
“Iya sekarang lebih gila lagi, karena Mencintaimu, membuatku gila,” ucap Leon.
“Apa bapak mengaku mencintaiku?” Tanya Jovita tertawa meledek, ia berpikir Leon salah berucap. Ia tidak tahu, ini pengakuan cinta untuk kedua kali untuknya.
“Iya. Aku mencintaimu Hara!”
Mulut Hara langsung terkunci diam, bibir di memonyongkan ke depan,” Cinta tapi gak ada romantisnya,” gumamnya pelan dan di dengar Leon.
“Kamu ingin aku romantis?” Lalu ia berdiri, memetik bunga dari pot yang ada di balkon
” Hara aku mencintaimu.” Leon melihat kanan -kiri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia mengasih bunga itu ke tangan Jovita.
Bukannya romantis, Jovita malah tertawa, saat melihat ekspresi Leon yang begitu kaku dan terpaksa, ternyata ia melakukan seperti yang ia tonton dari laptopnya
“Kenapa tertawa?” tanya Leon dengan ekspresi bingung.
“Apa Bapak menonton dari YouTube?” tanya Jovita.
“Iya, Bibi dan Riko, Zidan memintaku menonton dari YouTube,” jawab Leon jujur. Pengakuan jujur itu sontak membuat Hara tertawa.
“Baik, baiklah terimakasih atas bunganya. Tuan Kaku, aku mau tidur," ucap jovita masih menahan tawa.
“Jadi keputusannya apa?” tanya leon, ekspresi wajahnya serius, ia menatap ke arah Jovita.
“Aku menerima bunganya saja,” ucap Hara
"Lalu cintaku, tidak?" Tanya Leon tulus.
__ADS_1
"Belum, masih tahap seleksi," ucap Jovita mengunci pintu dan tidur.
Bersambung ...