
Melihat Leon datang sore itu , Piter sangat marah dan memberi peringatan agar tidak mendekati Hara lagi, meminta Bi Ina membawa Hara masuk ke dalam rumah.
“Katanya ingin melupakan Non Hara? Kalau ingin melupakannya jangan setengah-setengah dasar lelaki lemah,” maki Bi Ina.
“Bi, apa aku menyusahkan mu?” Tanya Jovita dengan lembut saat dibawa duduk di teras rumah. Bi Ina memberi tangkai bunga ke pangkuan Hara. Wanita cantik sangat suka mencium wangi harum bunga.
“Tidak, tidak Non, diluar itu makin banyak tukang jualan yang nongkrong dan bukan hanya tukang jualan, bahkan ada beberapa mobil ikut berhenti.”
“Berarti itu bagus Bi, pasti mereka tertarik dengan suaraku, bagaimana kalau aku kerja juga Bi.”
“Jangan Non, jangan pamanmu akan marah nanti,” kata Bi Atin.
“Bi, aku tahu Om Piter dan Om Vikki, lagi ada masalah di perusahaan, pasti belum ada uang. Pengobatan mataku sangat mahal, aku ingin sembuh Bi, aku tidak ingin hidup di kegelapan yang menakutkan ini,” ujar Hara memohon. Ia mendengar pembicaraan Vikky dan Piter tentang masalah perusahaan mereka yang bangkrut sejak di pegang Vikki saat Piter masuk penjara.
“Sttt ... jangan kita bahas sekarang iya,” bisik Bi Ina, tidak ingin kedua lelaki yang baru pulang kerja itu mendengar rencana Hara terlebih Piter.
Ia lelaki baik yang mendedikasikan hidupnya saat ini hanya untu Hara. Lelaki berusia empat puluh satu tahun itu bagai seorang malaikat untuk seorang Hara.
Jika kita memberi satu kebaikan akan mendapat ribuan kebaikan, bukan untukmu, mungkin pada orang yang kamu cintai itulah selalu yang diucapkan Iwan Santosa pada putri cantiknya Hara. Hal itu terbukti. Kebaikan yang dilakukan mendiang ayah Hara pada Piter dan Bu Ina. suaminya memberi balasan kebaikan pada Hara, merekalah yang selalu ada untuk Hara, saat ini.
“Kenapa Bi, apa om hitam marah?” tanya Hara mata cantik itu mengerjap- erjap. Walau mata indah itu tidak bisa melihat dunia, tetapi ia tetap terlihat indah dengan bulu mata yang begitu panjang dan lentik.
Saat ini, setelah satu bulan bersama Piter dan Ina ia sudah mulai tersenyum kembali setelah merasakan ketulusan hati Piter dan Bi Ina.
“Memang siapa yang hitam , kan, Non gak bisa melihat,” ucap Bi Ina.
“Kemarin kata Om Vikky Om Piter hitam kayak pantat kuali gosong. Tapi pantat kuali gosong kayak gimana iya BI, aku lupa,” ujar Hara mencoba mengingat kuali gosong.
“ Kuali gosong seperti arang dan Piter tidak seperti itu, hanya saja dia jarang senyum,” bisik Bi Ina lagi.
Bi Ina membawanya kembali ke rumah untuk makan malam. Ia tidak berani bergerak takut tangannya menyentuh sesuatu di meja makan dan pecah. Jadi Hara akan menunggu tangan yang membantunya mengarahkan tangannya ke piring.
“Hara ini, lauk, ini sayur,” ujar Vikki mengarahkan tangan Hara.
“Baiklah, mudah-mudahkan aku tidak memecahkan gelas lagi kali ini,” ujar Hara.
“Tenang saja Om sudah menganti gelasnya dengan gelas anti badai tahan guncangan,” ujar Vikki bercanda.
“Bahkan kuat ledakan,” timpal Piter
__ADS_1
Mendengar candaan ringan itu saja Hara kembali tertawa.
“kayak mau perang saja,” ujar Hara mulai menikmati makan malam di depannya.
Melihat ia kembali ceria, mereka semua terharu, karena sebulan yang lalu saat ia dibawa ke rumah itu, Jovita Hara terlihat sangat ketakutan dan sedih, tetapi kini bintang kecil itu mulai terlihat bersinar, walau hanya sinarnya masih terlihat kecil.
Selesai maka malam, Bu Ina menemaninya tidur, awalnya Hara selalu bersikap sungkan, tetapi beberapa hari ini ia sudah mulai rileks.
*
Beberapa hari kemudian Piter terpaksa menjual rumahnya di Depok, ia ingin membawa Hara mendapat pengobatan dan mereka terpaksa pindah ke arah Jakarta Selatan ,lebih dekat dengan kantor .
Hara menyadari kesulitan yang dihadapi ke dua omnya, maka itu ia bertekad mencari uang tambahan, rumah mereka yang baru kebetulan dekat dengan sebuah hotel mewah bintang lima. Hara mencoba membuat lamaran untuk bekerja sebagai penyanyi di cafe hotel, Ia meminta Bu Ina.
“Apa yang akan ingin kamu lakukan, Non?”
“Aku bisa bernyanyi di café di Hotel Om tidak usah tahu, ini aku ajarin bibi nulis lamarannya dan bawakan juga vidioku, bibi harus bilang aku buta,” ucap Jovita mengajari Bi Ina
“Iya ampun Non aku takut”
“Jangan takut Bi, bukankah besok Om mau pergi ke Medan untuk kerjaan,? kita lakukan di situ saja,” kata Jovita ia ingin punya penghasilan sendiri ingin membantu Piter dan Vikky.
“ Baiklah, bibi mau,” ujar wanita paru baya itu.
Dari sekian tempat yang ia kunjungi dan Bi Ina, ada empat yang menerima Jovita, tapi dari keempat nama itu satu yang dipilih Hara yang namanya unik menurutnya sebuah Hotel dan Restauran.
“Ini Non yang tadi dan kebetulan dekat rumah ini juga.” Bi Ina membaca nama hotel dan persyaratannya.
“ICHIRO HARA ini unik Bi, kayak namaku yang di panggil om Piter,” kata Jovita.
“Ini Non, kita tadi yang langsung bertemu manager hotelnya, wanita itu cantik, dia mendengar rekamannya dan setelah melihat Non Hara langsung diterima,” ujar Bi Atin.
“Bibi bilang aku buta, ingin cari tambahan dana untuk biaya pengobatan dia langsung terima, kan? Tidak apa-apa Bi, biarkan mereka melihatku kasihan yang penting kita dapat uang,” ujar Hara.
“Hotelnya besar bangat lengkap,” ujar Bi Ina bersemangat menjelaskan.
Bu Ina tidak tahu, kalau Hotel itu milik Leon yang di beli sebelum kecelakaan, saat Leon masih bersama Jovita dulu, bahkan nama Hotelnya ICHIRO yang artinya anak pertama dan nama Hara dari nama belakang Jovita Hara, ICHIRO HARA anak pertama yang kuat.
Tadinya Leon akan menghadiahkan hotel itu untuk putranya, kalau ia sudah umur satu tahun, Hara dan Leon yang memilih nama putra mereka Ichiro. Tadinya Leon juga ingin memberi hadiah hotel untuk Hara setelah ia melahirkan . Namun …. orang yang mengaku menjual hotelnya malam itu suruhan Bokoy, jadi, bukan kesepakatan pembelian sebuah hotel yang ia dapat, melainkan kematian orang terdekatnya Iwan dan Rikko bersama istrinya.
Tadinya Leon ingin mengganti nama hotel Ichiro Hara. Tetapi setelah melihat makam putranya di dekat panti, ia tidak mengganti nama hotelnya.
__ADS_1
Hara diterima di hotel Leon sebagai penyanyi di cafe hotel.
Lagi-lagi takdir hidup akan mempermainkan kehidupan mereka berdua, saat Piter mati- matian ingin menjauhkan Hara dari Leon, tetapi siapa yang menduga kalau wanita cantik itu lebih memilih hotel Leon dari hotel-hotel yang lainnya.
Banyak yang menerima Hara untuk bekerja di hotel mereka, bahkan ada yang memberi tawaran yang menggiurkan melihat kecantikan Hara dan suaranya yang bagus. Namun, entah kenapa wanita cantik itu memilih Ichiro hotel, milik putranya, seandainya masih hidup.
Hari pertama Hara manggung di cafe hotel mendapat sambutan baik dari semua pengunjung hotel, selain parasnya yang sangat cantik suaranya juga sangat bagus. Tidak terasa Hara sudah bekerja di hotel Leon selama satu minggu. Bahkan dia punya julukan ‘Bidadari Cantik Bersuara Emas’
“Terimakasih mbak Hara ini, untuk manggung satu minggu ini,” ucap Hilda wanita cantik itu manager hotel.
“Makasih Mbah Hilda.” Bi Ina menerima amplop putih tebal, upah Hara untuk manggung selama satu minggu itu.
“Oh, apa besok malam kamu mau menerima job dari pagi sampai malam, bayarannya lumayan,” ujar hilda.
“Tid-”
“Mau Mbak ,”potong Hara cepat, sebelum Bu Ina menjawab tidak.
“Baiklah, datanglah besok pagi lagi, kebetulan juga bos pemilik hotel ini akan datang hari itu,” ujar Hilda.
“Baik, Baik Mbak.” Hara sangat bersemangat
Leon tidak tahu akan hal itu, karena ia sedang di Jepang saat itu.
Lalu apa yang akan Leon lakukan saat wanita yang ia ingin hindari ada di hotelnya? bahkan Hara sudah menandatangani surat kontrak kerja di hotelnya. Apa dia akan melarikan diri atau akan menghadapi kenyataan hidup?
Bersambung …
KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing