
Dua tahun kemudian.
Pantai asuhan Pelita Harapan.
Suara kicauan burung- burung sangat riang pagi itu, menyambut sang mentari pagi.
Seorang gadis cantik dengan rambut panjang, berjalan menyusuri halaman rumah dengan langkah kaki menimang setiap langkah yang ia ambil, bibirnya tersenyum manis dan matanya bulatnya berkedip-kedip, menahan geli saat anak-anak memegang pinggang rampingnya.
“Kakak! Awas batu, kakak dari samping!” Teriak gadis kecil menarik tangannya menghindari batu besar, kalau tidak ia akan tersandung.
Gadis cantik itu menurut saja, saat tangannya di papah dan didudukkan, kini ia duduk manis, seperti biasa, kepalanya akan diberi hiasan, bunga-bunga indah seperti Tuan Putri di Negeri Dongeng.
Ia tertawa bahagia saat bersama anak-anak, seorang lelaki yang luka bakar di wajahnya, ia memberikan tongkat padanya.
“Terimakasih kakak” ucapnya, mencoba berdiri kembali, menyusuri halaman rumah, dibantu anak-anak kecil, dengan suara riang dan tawa polos.
Namanya Dinar atau Jovita Hara, gadis buta itu tinggal di Pantai asuhan Pelita Harapan, ia tinggal dengan Bu Atin dan Toni, mereka bertiga tinggal di panti asuhan, setelah berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran dua tahun yang lalu.
Toni, lelaki berkulit putih itu mengalami luka bakar di wajah dan sekujur tubuh.
Flash back
Kebakaran rumah Leon dua tahun yang lalu, saat Toni mendengar kabar kalau rumah Leon yang akan diserang, Toni menolak bertugas di jogja, semua itu ia lakukan demi melindungi Jovita Hara.
Malam itu saat Toni berjalan di taman, ia melihat seseorang menuangkan bensin. Toni berlari ke kamar Bu Atin yang malam itu Hara tidur di sana. Api sudah mulai menyala membakar mansion. Toni berusaha menyelamatkan Jovita, karena ia sudah berjanji pada Leon
Toni membangunkan Jovita dan Bi atin, kobaran api semakin membesar. Namun saat mereka ingin keluar, tiba-tiba ledakan besar dari gudang penyimpanan. Ledakan itu membuat tubuh Hara terpental tertimpa lemari, bagian kepala terluka parah dan darah mengucur sangat banyak dari pangkal kakinya, Hara keguguran.
Kengerian dan kepanikan tidak sampai di situ, Toni dan Bi Atin berusaha mengangkat tubuh Jovita dari bawah lemari. Tapi api semakin membesar melahap semua apa yang ada dalam rumah itu, dalam kepanikan Toni masih berusaha sekuat tenaga mengangkat lemari yang menimpah tubuh Hara, tapi saat Toni menarik tubuh Hara, tiba-tiba ledakan untuk kedua kalinya menyebabkan lantai retak dan amblas ke ruangan bawah tanah.
Mereka bertiga terjatuh lantai besment dan terluka parah, ditimpa bahan bangunan. Mereka terjebak dalam runtuhan itu, untung Toni sadar duluan, ia bangun membawa keduanya keluar dari sana dengan cara menyeret tubuh kedua wanita itu seperti menyeret dua boneka besar, membawanya melalui jalan rahasia di ruang bawah tanah yang tembus langsung ke Hutan, untungnya Toni merawat kuda-kuda peliharaan Leon dengan sangat baik, saat di panggil dengan suitan, kedua Kuda jantan itu datang Toni mengikat Bi Atin yang sudah pingsan dalam satu kuda. Lalu Toni juga menaikkan tubuh Jovita ke atas kuda, mereka berdua dalam satu kuda mengikat tubuh mereka dengan pelana kuda membiarkan kuda itu membawa mereka sendiri, saat mereka bertiga pingsan di punggung kuda.
Tapi saat buka mata telah berada di salah Panti asuhan Pelita Harapan. Leon dan Toni pernah tinggal di sana, ternyata kuda-kuda Leon membawa mereka bertiga kesana.
__ADS_1
Mereka bertiga selamat, berkat bantuan kuda milik Leon yang saat ini ikut jadi penghuni panti sama seperti mereka bertiga, walau menanggung penderitaan yang berat, tapi beruntung karena masih tetap hidup.
Flash on
Toni selalu memakai penutup wajah saat keluar dari Panti karena luka di wajahnya. Ia terluka parah demi menyelamatkan Hara. Luka bakar di wajahnya membuat tidak percaya diri. Beruntungnya yang punya panti baik dan menerima mereka dengan baik, karena Toni juga berasal dari Panti itu sebelum Bokoy dulu membawanya dari sana.
Sudah dua tahun mereka bertiga tinggal di Pantai asuhan, menjadi bagian panti, Bi atin menjadi ibu pengasuh untuk anak-anak yatim , Toni ikut membantu, pengurus Panti memelihara kuda, sapi, dan domba. Toni yang merawatnya, tapi untuk wanita yang mereka panggil Dinar tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan mengurus dirinya sendiri ia tidak mampu, ia harus dibantu bi Atin, untuk mengurus diri. Lebih parah lagi ia tidak bisa melihat dunia ini, bahkan tidak bisa mengingat siapa dirinya, ia hanya duduk dan bermain dengan anak-anak Panti. Jovita Hara dan lupa ingatan.
Toni merasa berhutang budi pada pengurus Panti yang menjual beberapa sapinya untuk pengobatan mereka bertiga, itulah satu yang dipikirkan Toni , ia akan meninggalkan Panti saat ia sudah mampu melunasi biaya pengobatan mereka bertiga.
“Bi, besok aku akan mencoba mencari Bos Leon ke Jakarta, aku harap aku bisa menemukannya, keadaan Panti semakin sulit di tambah kita menumpang tiga orang di sini akan makin sulit,” ucap Toni mengusap parut di wajahnya.
“Kamu sudah pernah mencobanya beberapa bulan lalu Ton, tapi tidak berhasil’ kan?”
“Iya Bi, Bos Leon menjual rumahnya yang di Jakarta Utara, ada yang bilang dia memindahkan barang-barang pribadinya ke rumah bekas rumah keluarga Jovita, tapi saat aku kesana rumah itu juga kosong, tidak ada yang mengetahui keberadaan Bos saat ini dimana”
Toni tidak bisa menemukan jejak Leon karena Leon meninggalkan Indonesia dan tinggal di Jepang.
“Aku tidak menunjukkan identitasku Bi, aku pakai topeng karet aneh itu, aku berpikir, walau Bokoy sudah meninggal, aku takut masih banyak kaki tangannya berkeliaran,” kata Toni mengoleskan beberapa ramuan tradisional untuk menyembuhkan bekas luka bakar di wajahnya.
“Bu! Kakak! Aku mau minum,”Teriak Hara datang dari ruangan depan menuju dapur dimana mereka berdua mengobrol, tongkatnya ia ayunkan kanan kiri memastikan tidak ada apapun menghalangi jalanya.
Sejak Kejadian itu untuk menghilangkan jejak, nama Jovita diganti, Dinar Toni berganti nama jadi Kevin dan Bi Atin jadi Bu Darsih. Terpaksa membuat identitas yang baru agar bisa melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit pemerintah.
“Sini, sini Non, sahut Bi Ati meraih tangan Jovita mendudukkannya di kursi sederhana, menyodorkan satu gelas air minum ke tangan Hara.
“Ibu sama kakak lagi bahas, apa?”
“Tidak, hanya bahas sapi yanga dijaga kakakmu akan beranak besok , tidak tega mengiring pulang tadi, jadi jalannya harus pelan-pelan, takut brojol di tegah jalan,” ucap Bi Atin malah menceritakan hal yang lain.
“Apa kamu mau ikut besok sama kakak ke pasar? Kakak mau belanja ember besar di pasar”
“Boleh, aku mau” jawab Jovita dengan senang.
__ADS_1
“Tapi kamu tidak boleh jauh-jauh dari kakak, harus tetap pegangan, kalau tidak aku akan mengikat satu tanganmu ke tanganku biar tidak nyasar lagi kayak bulan lalu, ucap Toni.
“Iya kak aku paham”
Jovita Hara lupa ingatan, ia tahunya Toni kakak laki-lakinya dan Bi Atin adalah ibunya.
Ia tidak mengingat apa-apa luka parah di kepalanya sangat parah, kebakaran yang melanda rumah Leon sudah menghilangkan penglihatannya dan kehilangan memori ingatannya dan kehilangan bayinya hari itu.
Anak yang di kandung Jovita sudah meninggal dalam rahim, janin berusia lima bulan, pengurus Panti mengubur janin Hara di samping panti, janin berjenis kelamin laki-laki.
Bi Atin selalu merawat makam kecil itu tiap bulan menanam bunga-bunga di sekeliling kuburannya.
Ia berharap suatu saat Leon menemukan mereka dan ia menunjukkan kuburan anak yang ia sayangi.
Apa takdir akan mempertemukan Leon dan Jovita lagi?
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1