
Saat aktivitas panas itu selesai, Hara masih berbaring di bawah selimut.
‘Kenapa tiba-tiba aku merasa malu, iya? tadi sepertinya aku yang merayunya duluan, apa sikapku memalukan tadi? tanya Hara dalam hatinya, matanya menimang-nimang, tiba-tiba ia merasa wajahnya terasa panas saat melihat Leon yang terlentang dengan tubuh tidak terbalut sehelai benangpun di tubuhnya. Hara membalikkan tubuhnya memunggungi Leon.
“Kenapa memunggungi, apa kamu menyakitimu tadi?” tanya Leon menatap kearahnya sang istri.
“Tidak, tiba-tiba aku merasa malu”
“Kenapa malu? kamu istriku Hara, tidak perduli kita melakukannya siang ataupun malam, tapi kita sudah dalam hubungan yang halal,” ucap Leon menatap kearah Hara.
“Iya, malu saat menyadari aku merayumu duluan, aku merasa diriku nakal. Aku nakal gak sih kalau begitu?” Tanya Hara p ni
Perkataan polos Hara sontak mengundang Tawa dari Leon, sepertinya Leon sudah beberapa kali tertawa lepas sejak ia berhasil menikahi Hara.
“Kamu itu mau ... tapi malu, aku yakin, kamu akan ketagihan nanti,” ujar Leon menggoda Hara.
“Gak mungkin ketagihan …. aku bukan orang yang seperti itu,” ujar Hara dengan wajah memerah.
Melihat Hara yang malu-malu, Leon mengangkat Hara ke dalam bak mandi, membantunya membersihkan diri.
“Kamu kan sudah tua, apa kamu merasa lelah?” Tanya Hara saat mereka di kamar mandi.
“Tua ….!? Tenagaku, tenaga kuda Hara. Aku tidak capek, ini baru satu ronde, nanti malam aku tidak akan membiarkanmu istirahat, hanya aku tidak ingin kamu merasa lelah saat ini, kalau tadinya melanjutkan dengan banyak gaya, takutnya kamu pingsan,” ujar Leon berbisik di kuping Hara.
“Baiklah urusan ranjang kamu memang ahlinya,” ujar Hara meledek.
“Iya dan kamu dalam ranjang masih polos dan butuh arahan,” balas Leon.
“Iyalah polos, pacaran saja aku tidak pernah ciuman apa lagi urusan ranjang”
“Berarti aku menang banyak ni ….,” timpal Leon.
“Iya, kamu menang banyak, dapat gadis perawan. Lalu diperawani dulu baru nikahin,” ujar Hara meledek.
“Jangan mengungkit masa lalu lagi,” ujar Leon menyentil kening Hara.
"Auu sakit." Hara Memegang kening bibir cengengesan, Leon paling tidak suka kalau hal itu diungkit.
Selesai membersihkan diri, Leon hanya mengenakan celana, boxer membiarkan dadanya terbuka memperlihatkan otot-otot keras di dadanya, ia menarik selimut menutupi tubuhnya, ia juga menarik Hara berbaring di sampingnya.
“Apa kita mau tidur siang?”
“Iya tidurlah sebentar, karena tadi malam saat kamu marah, mataku tidak bisa terpejam.”Tangan Leon memeluk pinggang Hara.
__ADS_1
“Apa masih sakit?” tanya Hara, suaranya lembut.
“Apa?”
“Lukamu?”
“Masih sedikit, tapi, tidak apa-apa ada kamu bersamaku saat ini, semua itu tidak akan aku rasakan lagi”
“Maaf,” ucap Hara dengan suara lembut, ia mengusap luka di lengan Leon luka yang ia perbuat saat ia marah di dalam hutan.
Leon membuka matanya, membalikkan tubuh Hara, mengusap pipi sang istri dengan lembut.
“Tidak apa-apa aku yang salah tidak bisa berterus terang padamu, kalau saja mulutku bicara terlebih dulu dan menjelaskan, mungkin kamu tida semarah itu,” ujar Leon tangannya masih mengusap-usap pipi mulus sang istri”
“Hara …”
“Hmmm”
“Aku mencintaimu. Aku tidak akan ragu lagi mengucapkannya, kata cinta padamu karena kamu sudah milikku seutuhnya. Bibir ini tidak akan kaku lagi untuk mengucapkannya, aku mencintaimu ,” ucap Leon dengan Lembut bibirnya mendarat di kening Hara.
“Aku juga, aku akan mempercayai mulai saat ini, karena aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, mulai saat ini, aku akan percaya padamu, aku akan selalu bersamamu, membangun satu keluarga bersamamu, melahirkan anak untukmu,” balas Hara.
Leon sangat tersentuh dengan kata-kata yang di ucapkan Hara, ia merasa semua bagai mimpi, ia sampai mencubit lengannya sendiri berharap apa yang ada di hadapannya saat ini semuanya nyata.
‘Aku berharap aku tidak bermimpi, aku berharap ini abadi selamanya’ ucap Leon dalam benaknya matanya mulai meredup dan ia tertidur dengan tangan memeluk tubuh Hara di dada, hingga ia tertidur pulas.
**
Saat ia bangun sudah sore, matanya melirik kanan –kiri.
“Apa tadi hanya mimpi.” Mata Leon masih mencari tidak ada Hara di sampingnya, otaknya belum jernih untuk berpikir apa yang dialami tadi tidak nyata.
Tapi saat pintu terbuka, senyum indah dipersembahkan untuknya.
“Sudah bangun?” tanya Hara menyodorkan gelas jus untuk Leon.
“Hara …!?” Leon tersenyum, menarik Hara dalam pangkuannya. “Aku pikir hanya mimpi tadi,” ucap Leon meletakkan dagunya di pundak Hara
“Apa yang kita lakukan sepanjang hari ini kamu anggap hanya sebuah mimpi?” tanya Hara.
“Iya, bahkan keberadaan kamu saat ini, masih terasa mimpi untukku.”
“Kalau seperti ini, bukan mimpi lagi, Ok”
__ADS_1
“Auuu” Leon meringis
Hara mencubit lengannya membuktikan kalau keberadaanya saat ini bukanlah mimpi.
Tapi ia belum melepaskan Hara dari pangkuannya.
“Ayo makan malam, kata Ibu kamu belum makan satu hari ini”
“Turun duluan iya, aku ingin melakukan sesuatu”
“Ada rahasia lagi?” Tanya Hara melotot.
“Oh, baiklah kamu boleh ikut, kalau kamu tidak keberatan,” ucap Leon ia tidak ingin merusak hubungan baik yang baru terjalin itu.
Leon selalu melakukan ritual persembahan, untuk para leluhur memotong seekor hewan, tadinya ia ingin melakukanya tanpa Hara, karena ia dan Hara memiliki keyakinan yang berbeda. Hara yang Nasrani sedangkan Leon yang masih mempertahankan agama yang para leluhurnya.
Keyakinan suku Leon yang menganggap arwah orang meninggal yang melindungi mereka, Leon dari dulu tidak memaksa Hara untuk mengikutinya dan ia juga menghormati keyakinan Hara, baginya keyakinan hak masing-masing.
Leon mengajaknya ke lantai dasar, ada sebuah ruangan khusus yang di dalamnya ada dua patung dari ukiran kayu.
“Ayo masuk, kamu duduk di sana saja” ucap Leon menunjuk kursi di dekat pintu.
Tidak berapa lama kemudian Bu Atin datang juga dan Haris dan dua orang anak buahnya, pertama Leon menyalakan api dalam wadah kemudian ia mengangkat wadahnya, ia mengasapi semua sudut ruangan dengan api yang diangkat, Hara merasakan bulu kuduknya bergelidig saat melihat ritual mereka.
Tidak lama kemudian sebuah kepala hewan di letakkan di bawah patung disusul Haris meletakkan cawan kayu yang isinya cairan merah, ia merasakan perutnya mual saat melihat cawan kayu berwarna coklat itu.
Hara menahan tidak ingin para leluhur yang di yakini Leon marah, ia mencoba duduk tenang di kursi, ia menyesal ikut datang keruangan, karena ia semakin merinding, karena hawa dingin yang tiba-tiba menyentuh kulitnya.
“Bukanya aku menghina keyakinan dan kepercayaan mereka, akan tetapi, ini menakutkan, seakan aku di lihatin oleh mahluk kasat mata di ruangan ini,” gumam Hara mengusap lengannya.
Wajah mereka berlima terlihat sangat khusuk dalam melakukan ritualnya, mereka berlima orang yang satu suku dengan Leon. Ritual kali ini untuk keutuhan rumah tangga Leon dan Hara.
Bersambung...
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1