
Saat pertama datang, mereka berdua mencari ayahnya . Namun saat di ajak melakukan banyak hal mereka berdua tidak mencari Leon, Hara sengaja membawa kedua suster mereka agar ia tidak kerepotan sendiri.
Saat kedua anak kembar itu asik menaiki kuda dipandu orang pegawai Toni. Hara duduk di bangku taman. Mengingatkan akan masa kecilnya di mana banyak menghabiskan waktu bermain di taman itu. Walau banyak yang sudah berubah, tetapi masih ada yang kenangan yang tertinggal membuat Hara tersenyum .
Salah satu pohon yang biasa ia duduk bersama ibunya sebelum mulai melakukan aktivitasnya sebagai infrastruktur senam dan guru menari.
Ukiran namanya dan nama ibunya masih terlihat di pohon besar yang tua tersebut.
Bibir Hara tersenyum menatap pohonnya “ Ibu aku sangat merindukanmu, aku sama ibu hampir setiap sore dulu bermain di sini, Lihat Bu Hara juga melahirkan anak kembar sama seperti Ibu. Andai ibu masih di sini melihat mereka. Ibu dan Ayah akan tertawa melihat mereka berdua. Ibu bahagia di sana , iya,” ujar Hara mengusap pohon besar itu, mengusap nama ibunya dengan wajah sedih.
“Mereka pasti bahagia Hara, sekarang tinggal kamu yang belum bahagia” Toni mendekat.
“Aku bahagia kok Kak, hanya ada kesalahpahaman saja.”
“Iya itu yang aku maksud, kesalahpahaman itu awal dari masalah.”
“Leon dan aku lagi menyingkirkan kerikil-kerikil yang menghalangi jalan kami,” ujar Hara.
“Hara bukannya aku membela Leon, tetap terkadang mengucapkan satu kebenaran satu hal yang sulit apalagi hal yang seperti itu,” ujar Toni ia berpikir Hara melarikan diri karena bertengkar dengan Leon .
“Apa kakak tahu juga masalahnya?”
“Saat aku membaca di berita jenis obat yang di berikan pada Bos, aku bisa menyimpulkan tanpa harus bertanya karena aku sudah pernah di dunia yang melakukan hal itu sebagai hukuman. Hara, kenapa kamu tidak bisa memahami dari sisi Leon. Ia sangat mencintaimu, bagaimana mungkin dia mengaku hal besar dan memalukan seperti itu padamu, dialah orang yang paling tersakiti di sini” Toni memberi penjelasan .
“Baiklah Kak,” ujar Hara, mendengar penjelasan Toni tentang bahaya obat yang di berikan Bianca, Hara terdiam. Hara memilih tidak menceritakan kebenaran yang sebenarnya pada Toni, Hara memilih menjaga perasaan Leon.
“Hara, harusnya dalam situasi seperti ini kamu berada di sisinya sebelum ada orang lain yang ingin memanfaatkan keadaan,” ujar Toni “Justru dengan sikap bersikap diam seperti itu membuat satu peluang untuk seseorang. Hara tenangkan pikiranmu sebanyak yang kamu mau tetapi jangan mengambil keputusan di saat kamu marah, "pungkas Toni.
“Iya kak, karena hal itulah aku datang ke sini, kembali ke tempat ini membuat jiwaku seakan-akan sangat damai, mengingatkanku masa kecil yang bahagia yang aku ingin mereka juga ikut rasakan.”
“Aku sudah membeli tempat ini agar kita tetap bisa mengenang masa kecil kita, Kikan dan Juna senang tinggal di sini.”
“Kak Ton sudah jadi Tuan tanah sekarang?” Hara terkagum tanah seluas itu saat ini sudah jadi milik seorang Toni.
“Semua ini karena bantuan Bos,” ujarnya.
Toni tertawa saat Hara menyebutnya tuan tanah, “Aku ingin mengembalikan lagi fungsinya saat kita kecil dulu ‘Taman bunga’ di sini aku akan membangun tempat ini kebugaran seperti yang di lakukan orang kita dulu apa kamu membantuku?”
__ADS_1
“Tentu mari kita bekerja sama.”
“Aku ingin kamu yang menggambar desain tamannya.”
“Kak Toni yakin? aku tidak tahu apakah otakku masih berfungsi untuk mengerjakan itu.”
Toni ingin kenangan saat bahagia bersama ibunya tetap ia kenang
“Hara ….”
“Iya, kenapa Kak?”
“Apa Leon tidak ingin datang kesini?” tanya Toni saat matahari sudah mulai bersembunyi di balik awan.
“Aku memintanya agar jangan datang, aku ingin waktu sendiri.”
“Baiklah, itu cara yang sangat bagus, menenangkan pikiran itu lebih dari pada kamu bersitegang dan marah-marah yang jadi korban anak-anak kamu, baiklah lakukan semua apa yang ingin kamu lakukan,” ujar Toni.
“Kak Toni …. sebenarnya Leon.” Hara ingin mengatakan kebenarannya kalau Kaila yang memaksa Leon melakukannya. Tetapi Hara berpikir ulang lagi, ia tidak ingin Toni mengetahui kalau Kaila yang bersikap murahan pada suaminya.
“Apa …?” Toni menatapnya bingung.
“Baiklah Hara aku tahu, mari masuk Kikan dari tadi sudah terbakar cemburu,” ujar Toni tertawa.
“Baiklah terima kasih kak Toni.”
Toni meninggalkannya sendiri masih duduk di pohon yang penuh kenangan itu.
*
Disisi Lain .
Leon menelepon.
Karena Leon merasa kesepian saat Hara pergi, ia sebenarnya ingin datang untuk menjenguk mereka, tetapi Hara menolak memintanya tidak datang menjenguk anak-anaknya, takut mereka tidak aman lagi jika Leon datang.
“Aku tidak akan sanggup jauh dari anak-anakku,” ujar Leon berucap sendiri dan kaki mondar menyusuri setiap sudut kamarnya.
__ADS_1
“Sayang, bersabarlah, kami akan pulang nanti jika situasinya sudah membaik.”
‘Kaila, apa yang sudah kamu lakukan? kamu akan membayar semua ini, gara-gara kamu keluargaku jadi begini, kamu akan membayar ini nantinya’ Leon membatin.
Saat Hara meminta waktu untuk sendiri dan ingin mencari ketenangan. Tetapi Leon memutuskan datang ke Kalimantan, karena tidak tahan dengan siksaan perasaannya, terutama rasa rindu pada kedua anaknya, karena sebelumnya Toni meneleponnya mengatakan kalau seseorang dari suku musuh Leon mengawasi ke arah peternakan kuda milik Toni. Lelaki berkulit putih itu tidak ingin hal buruk terjadi pada Hara dan kedua anaknya ia mengabari Leon.
*
[Hara, kamu di mana? aku ada di panti.] Pesan Leon ke ponsel Hara, membaca pesan itu Hara terkejut.
[Leon kenapa kamu datang?]
Leon menekan nomornya dan menelepon Hara.
“Hara dengar, aku hanya ingin melihat anak-anak.”
“Sayang, apa kamu sudah pastikan tidak ada ada seseorang yang mengikuti ku? ” tanya Hara.
“Hara , karena itulah aku datang ke sini, mari kita bertemu.”
Tidak lama kemudian Toni mengantar Hara ke hotel bertemu Leon.
“Ayah ….?”Chelia memeluk Leon.
“Kenapa kamu datang ke sini?” Hara panik.
“Sayang, Kamu tidak aman di sini, kamu tahu kan musuh terbesarku di masa lalu dari sini, aku ingi kamu menjauh dari sini, keluar dari Indonesia, sampai mereka berpikir kalau kita benar-benar berpisah,” ujar Leon dengan wajah serius.
“Tapi bagaimana dengan ibu dan om Piter dan Om Vikky ?” Tanya Hara panik.
“Aku akan mengurus mereka, sekarang pergilah dari sini.”
“ Baiklah,” ucap Hara.
“Sayang, aku minta maaf kalau harus begini jadinya, tadinya aku ingin melenyapkan mereka semua, tetapi aku tidak ingin anak-anak berpikir kalau ayah mereka kriminal,” ucap Leon memeluk Hara.
“Baiklah, aku percaya padamu,” ucap Hara ia setuju pergi ke luar negeri.
__ADS_1
Bersambung …
Bantu subcribe like komen iya