
Setelah beberapa bulan Hara bekerja bersama suaminya, ia merasa nyaman saat bekerja dengan Leon, walau Leon pekerja keras tetapi ada saat ia merasa lelah dan menyerahkan semuanya pada istrinya, ia menjadikan Hara sebagai patner kerja sekaligus teman berbagi masalah. Hara merasa nyaman suaminya selalu mendukung setiap keputusanya.
Lambat laun perusahaan milik Leon berubah sejak ada campur tangan Hara di dalamnya. Leon merasa sangat beruntung saat itu, ia tidak perduli dengan gosip yang beredar yang menyebut ia takut istri. Hara dituduh menguasai Leon termasuk keputusan dan peraturan yang ada saat itu, para pemegang saham menyebut kalau Haralah yang memutuskan semua kebijakan baru.
Hara dan Leon menanggapinya dengan santai, hanya Hara yang tahu bagaimana ia menghadapi suaminya dan menjelaskan dengan ringkas, untuk mendapat persetujuan suaminya. Leon bukanlah sosok yang gampang ditekan dan dipengaruhi.
“Sayang ada gosip baru ini, menyebutku mempengaruhi kamu, beredar di kalangan pemegang saham lagi. Bagaimana kamu menanggapinya?” tanya Hara saat mereka bersantai di kamar Okan.
“Aku tidak perduli lagi dengan gosip-gosip seperti itu, saat ada kamu ada bersamaku,” ujar Leon santai, terlihat tidak ada beban di wajahnya.
“Apa Ayah yakin, tidak bosankah melihatku siang malam, tiap menit tiap detik?” tanya Hara bercanda.
“Tidak, aku senang karena aku tidak mengantuk lagi saat bekerja”
“Kok … apa hubungannya?”
“Iya, karena setiap menit juga kamu mengoceh.”
“Apaaa? Ayah senang aku di sana hanya karena untuk menjaga kamu tidak mengantuk?” tanya Hara dengan mata melotot dan mulut menganga.
“Iya ujar Leon.” Ia serius menekan tombol steak, untuk mengalahkan putranya mereka berdua lagi asik bermain game.
Mendengar itu, Hara mengelitiknya dari belakang sampai ia mengeliat dan melompat untuk menghindar, Hara melompat sampai Leon terjatuh lalu ia menindinya dari atas. Melihat ayah ibunya bercanda Okan hanya menggeleng. Chelia datang ke kamar Okan karena mendengar suara ayah dan ibunya bercanda, ia ikut tertawa melihat sang ayah bercanda dengan ibunya, tetapi tidak untuk Okan ia sibuk sendiri menghiraukan keseruan keluarganya, ia seakan-akan punya dunia sendiri.
Padahal Hara sudah berusaha membuat keramaian dan bercanda setiap kali di dekatnya, bahkan belakangan ini, sesibuk apapun ia di kantor dengan Leon ia berusaha menjadi ibu yang hangat yang perhatian untuk kedua buah hatinya. Tetapi tidak mudah menahlukkan hati Okan, ia jarang bersuara, apa lagi tersenyum, sikap itulah yang sangat dibenci Hara.
Jika Leon menanggapinya dengan santai, tetapi untuk Hara itu satu penyakit yang perlu dihilangkan.
Ia berpikir jika Leon bisa berubah, maka putranya juga bisa. Tetapi kali ini, ia hadapkan pada kepribadian yang lebih buruk ada pada putranya.
“Ibu, Ayah menyerah maaf, maaf jangan lakukan lagi,” ujar Leon meringkuk tertawa terbahak-bahak, memegang perutnya. wajahnya bahkan memerah, menahan kelitikan dari tangan Hara.
“Ayah jawab, jujur apa itu benar, aku hanya untuk menjaga kamu untuk tetap terjaga?” tanya Hara.
“Tidak Bu, aku hanya bercanda, aku menyerah.” Leon angkat tangan
Leon duduk kembali di sofa, seperti biasa Chelia menidurkan kepalanya di pangkuan sang ayah dan ia sibuk dengan ayahnya, Celia dan Leon sangat dekat, tetapi Hara dan Okan tidak seakan-akan bertolak belakang.
__ADS_1
“Bagaimana dengan sekolahnya Bang?” Leon menatap putranya yang sibuk main playstation.
“Baik Yah”
“Apa tidak ada masala?”
“Tidak ada”
“Apa yang kamu lalukan?” tanya Hara menatap putranya.
“Main game Bu,” jawab Okan santai.
“Aku tahu Okan, maksud ibu, apa kamu harus cuek seperti itu lagi? padahal ibu dan ayah sudah ada dari tadi di sini,” ujar Hara protes.
Okan kembali diam saat Hara menasehatinya, Hara naik pitam, ia mengambil steak game itu dari tangannya lalu ia mematikanya dan ia meminta Okan bicara berdua dengannya.
“Sekarang katakan pada ibu, apa yang salah?” tanya Hara menahan volume suaranya.
“Tidak, ada yang salah Bu.”
“Kamu salah, ada yang salah dengan otak kamu, Nak.”
“Apaaa, kamu bilang ibu dan ayah tidak jelas?” tanya Hara dengan nada tingg
Leon dan Celia diam melihat Hara memarahi Okan.
“Ibu selalu memaksakan kehendak Ibu padaku, kalau aku tidak suka, kenapa ibu melakukanya?” tanya Okan.
“Ibu tidak memaksa kamu Okan, hanya tidak ingin kamu memliki sikap yang aneh.”
“Aneh apa? Memangnya aku melakukan apa, Bu?”
“Dengar sikap acuh dan tidak perduli pada orang lain itu sikap sombong, harus ada sikap perduli sesama teman, membela teman yang benar, karena kamu tidak akan bisa hidup sendirian di dunia ini.”
“Ngapain aku capek-capek membela mereka, jika dia tidak mengangguku, aku juga tidak mengusiknya.”
“Iya itu sikap itu yang salah, kamu harus punya sikap perduli pada orang lain”
__ADS_1
“Aku tidak mau Bu, bergaul dengan orang-orang aneh itu akan membuat kita akan ikut aneh.”
“Siapa yang aneh? Teman-temanmu atau kamu yang aneh, Okan kita sudah sering membahas ini, kenapa kamu tidak mengerti juga. Ibu tidak mau kamu jadi punya sikap sombong dengan mengandalkan kemampuan sendiri.”
Leon mendekat , ia melerai mereka berdua.
“Bu sudah bu , bicara baik-baik jangan membentaknya,” bisik Leon tidak ingin Okan mendengarnya.
“Aku lelah menghadapi sikapmu Okan, kamu tidak mau mendengar,” ucap Hara. “Baiklah, Ibu memutuskan akan mengirimmu tinggal di asrama, kamu sudah melawan sama ibu, bagaimana kalau sudah kerja san sukses nanti kamu pasti akan membuang ibumu sendiri”
Okan diam ia tidak bicara ataupun menyahut ucapan ibunya, tetapi jelas sekali saat Hara mengatakan, akan diantar ke asrama ia tidak suka dan terlihat sedih.
“Baiklah lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku capek menasehati kamu,” ujar Hara ia meninggalkan kamar Okan dengan wajah marah.
Hara keluar ke kamar Okan, dengan wajah kecewa, apun ia lakukan agar putranya merubah tetapi semuanya seakan-akan tidak mau mendengar dan tidak mengubris nasehatnya.
‘Saat aku mengubah sikap dan hidup orang lain itu berhasil, namun saat aku ingin mengubah sikap putraku, tidak berhasil .
Apa yang di lakukan Hara pada putranya bukan tanpa alasan, ia hanya ingin putranya berbagi masalah dan menjadiknnya sebagai teman curhat, karena beberapa hari yang lalu wali kelas Okan menelepon Hara, ia melihat Okan bertemu lelaki asing di luar sekolah dan memberikan buku.
Bersambung …
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.
Terimakasi untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat