Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menolak Jadi Sekretaris


__ADS_3

Hara mematikan ponselnya dengan kesal, ia mendumal dan mengoceh sendiri, karena Leon terlalu sibuk bekerja beberapa hari ini.


Hara menelepon Leon lagi.


“Benar aku boleh melakukan apa saja?”


 “Lakukan apa yang membuatmu senang ,  asal  tidak berbahaya,” ucap Leon menjatuhkan panggulnya di kursi singgasananya. “ Aku penasaran apa kira-kira yang ingin kamu lakukan?” tanya Leon tertawa kecil.


Ia kembali  berkutat dengan kesibukannya, matanya berfokus pada file yang menumpuk di atas meja, ia akan bertambah repot hari ini,  karena biasanya sekretarisnya yang mengingatkan dan mengatur setiap skedulnya, hari  ini,  meja sekretaris itu hanya ada Bimo.


Setelah beberapa lama berkutat melihat laporan , seorang wanita bertubuh gemuk datang melapor wajahnya terlihat panik  di ikuti rekannya.


“Ada apa?” tanya Leon melihat wanita bertubuh tambun itu.


“Begini Pak, tadi pihak bank menelepon saya, katanya ada transaksi yang tidak biasa dari kartu kredit bapak.”


“Sini saya lihat” Leon hanya tersenyum kecil saat melihat transaksi yang meledak itu. “Biarkan saja,” ucap Leon mengembalikan iPad pada wanita itu, ia adalah bagian  bendahara kantor.


“Tapi ini benar Pak? maksud saya, tidak ada kesalahan kan, sejak saya  bekerja pada bapak,  baru kali ada   tagihan dari kartu bapak sebanyak ini.


“Tidak apa-apa.”


“Tapi in-“


“Kalau saya bilang tidak apa-apa, berarti tidak apa-apa. Apa saya harus jelaskan dengan rinci?”


“Bukan Pak, maksudku apa perlu kita menyelidiki?”


“Istri saya yang melakukannya, biarkan saja.”


“Oh, baik pak.”


Kedua orang itu saling memandang karena  wanita itu  sudah  bekerja padanya bertahun-tahun,  baru kali ini bagian pihak bank memastikan kalau transaksi  kartu kredit atas nama Leon Wardana melakukan transaksi yang berlebihan.


Bendahara  menjawab panggilan dari pihak bank,  kalau itu benar tidak ada pencurian.


“Baik Bu, kami hanya memastikan saja, terimakasih atas kerja samanya.”


“Baik Bu.”


Menjauh dari ruangan Leon , wanita bertubuh gemuk itu menatap rekannya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa yang penting kita sudah melapor pada Bos.”


“Tapi belanjanya ratusan juta loh dalam hitungan beberapa jam .…”


“Bos sudah bilang tidak apa, apa berarti tidak apa-apa  jangankan ratusan juta, milyaran juga tidak masalah kalau itu untuk istrinya.”


“Enaknya jadi istri bos besar seperti pak Leon,  bisa melakukan apapun yang diinginkan,” ucap wanita itu melangkah,  meninggalkan Farida yang duduk di samping meja sekretaris.


Bimo diajarin seorang wanita muda untuk mengoperasikan computer sekretaris.


Bimo di tunjuk jadi sekretaris sementara menggantikan Kaila, beberapa kali diajari  otaknya tidak konek.


“Aduh Dan, bagaimana ini? Aku tidak akan bisa,” keluh Bimo menggaruk kepalanya yang bisa di pastikan tidak gatal.


“Bekerja pada pak Leon itu harus serba bisa Pak Bimo, lakukan saja dulu,  nanti akan  bisa,” ucap Idan santai.


Ia juga sudah beberapa kali merasakan di tugaskan dadakan, sama seperti dirinya tadinya, ia juga dulunya hanya seorang asisten pribadi.


“Aku tahu Dan,  tapi melihat tulisan dan angka di komputer saja aku sudah mengantuk,  apalagi disuruh mengoperasikan  bisa-bisa aku gila karena pusing” Bimo menghempaskan tubuh besarnya di kursi sekretaris.


“Coba telepon Kaila lagi,  mana tahu sudah aktif, ini sudah beberapa lama dia tidak ada kabar,” ujar Ken yang ikut duduk di meja Ken.


"Bos, , tidak mau menerima karyawan baru, jadi sabar saja dulu," Toni ikut menyemangati.


Bimo sangat pusing dan stres karena Leon menunjuknya menjadi sekretarisnya, ia sudah pesimis kalau ia tidak akan mampu menjadi sekretaris,  karena ia sadar,  tidak bisa mengoperasikan komputer dan mengerjakan tugas-tugas yang biasa dikerjakan Kaila seperti; Membalas email masuk, menyusun skedul Leon,   memeriksa  berkas masuk sebelum di serahkan ke meja Leon, mengatur pertemuan dengan klien,  terkadang mengurus hal pribadi Leon, mengingatkannya makan siang, makan obat, mengingatkannya berulang-ulang untuk pertemuan dengan klien,  terkadang karena sangat sibuk Leon sering sekali kelupaan   bertemu klien selanjutnya dan terkadang sampai lupa makan juga.


Wanita muda   itu,  kembali menunjukkan catatan milik Kaila pada Bimo,  bagaimana wanita itu bekerja.  Bimo langsung pusing tujuh keliling melihat catatan kerja Kaila.


“Ya, ampun…  aku tidak akan bisa,” ucap Bimo kembali menenggelamkan kepalanya diantara dua lengannya, karena pusing,  bahkan Leon lewat dari depannya ia tidak tahu.


Leon mendengus kecil, melihat Bimo pusing,  ia tahu akan hal itu,  ia mengerti Bimo pusing karena  Bimo tidak ada backgroundnya dari sana. Selama ini lelaki itu hanya bertugas menjaga keselamatan dirinya.


Leon masuk ke ruangan Hilda,  mengobrol sebentar, tapi suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.


“Siapa?” tanya Hilda.


“Ini saya Bu, Bimo” Leon dan Hilda saling menatap dan Leon  berdiri ia bersembunyi di balik lemari tempat penyimpanan berkas milik Hilda,  ia sudah tahu Bimo mau ngapain keruangan Hilda.


“Masuk, ada apa,” tanya Hilda pura-pura acuh , Hilda menyibukkan matanya menatap layar  komputernya.


“Bu… “ Bimo memelas terlihat putus asa.

__ADS_1


“Ada apa, Pak Bimo?”


“Tolonglah,  jangan  saya jadi sekretaris pak Leon.  Saya ini tidak bisa apa-apa Bu, saya tidak pernah  memegang komputer, saya biasanya pegang pisau ,pistol, pegang barbel, pegang setir mobil, hanya itu ,saya tidak bisa menulis apa lagi memegang komputer.


“Kenapa bilang ke saya pak Bimo, kenapa tidak bilang langsung ke pak Leon?”


“Saya tidak berani, Bu.”


“Itu artinya kamu membantah perintahnya dan kamu tidak menuruti permintaanya dan kamu tidak setia, padahal saya dengar pak Leon baru memberikan kamu sebuah rumah dan mobil dan sebuah  cafe untuk kamu.”


“Aku tahu Bu, bukan tidak loyal dan setia, justru itu, kalau saya jadi sekretaris , saya takut pekerjaan pak Leon jadi berantakan karena  ketidakmampuan saya,” ucap Bimo berucap jujur, ia tidak mau merugikan atasannya karena ketidak mampuannya.


“Terus…  kamu ingin saya ngapain Pak Bimo?”


“Tolonglah Bu, bujuk pak Leon agar menerima sekretaris baru itu.”


“Pak Bimo, kamu tahu pak Leon bukan orang yang mudah dibujuk ‘kan.”


“Terus bagaimana Bu?”


“Pak Bimo,  kerjakan saja dulu , tadi kan, sudah ada seorang  perempuan  muda untuk menemani kamu, ia akan mengajarimu, untuk sementara kerjakan saja dulu.”


Bimo  sangat keberatan menjadi sektretaris Leon, walau hanya sementara, menurut itu sangat sulit.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2