
Tiba di rumah Leon pagi itu, Jovita merasa ada hal yang berubah, seakan-akan ia meninggalkan hatinya di suatu tempat, membuatnya ingin kembali Ke sana.
Terbiasa dengan kehidupannya yang selalu di penuhi cinta dan kegembiraan dan hal itu juga baru ia rasakan kemarin. Tetapi hari ini, sudah hilang dan berganti dengan kekosongan lagi. Hatinya terasa begitu kosong.
Namun saat tiba di rumah Leon, ia merasa ia akan masuk ke dalam di mensi lain, di mana para penduduknya, memiliki sikap dan kehidupan yang berbeda dengannya.
Bahkan tepi pantai yang biasa ia lihat di depan rumah Leon yang dulunya, saat ia lihat sangat indah. Namun, kedatangannya kali, ia merasa sangat berbeda tak seindah yang dulu. Ia malah membayangkan, pantai-pantai yang indah yang ia datangi bersama Damian saat di Jogja.
Ia berdiri diam di lantai tiga, menatap pantai.
Beberapa kali ia menarik napas berat.
“Apa kamu akan berdiri di sana satu hari ini?” Leon berdiri menatapnya dengan tatapan seperti biasa, sinis dan tak sedap, dipandang mata.
Jovita menarik napas berat lalu, ia berjalan mengikuti Leon.
Leon berjalan menuju kamar yang Leon berikan khusus untuknya, ia berhenti bayangan saat ia menangis mengemis cinta pada Leon pagi itu, terlintas di otaknya, berat rasanya ia kembali ke kamar itu.
‘Jika disuruh memilih. Aku akan memilih hidup di jalanan jadi pengemis, dari pada kembali ke istana ini’ ujar Jovita, ia enggan untuk masuk. Kelakuan Jovita yang enggan memasuki rumahnya rupanya memancing emosi Leon. Melihat Jovita diam di depan pintu enggan untuk masuk, Leon mengepal tangannya dengan kuat ia ingin meneriaki Jovita.
Saat ia anak buahnya bertarung nyawa Jovita hanya memikirkan perasaanya.
Ia berjalan menghampiri Jovita dengan wajahnya mengeras, sampai -sampai urat-urat lehernya membesar menahan kemarahan. Ia menyeret tangan Jovita dengan kasar membuat tubuh Jovita hampir terlempar dan terduduk di sisi ranjang.
“Apa kamu sekarang jijik melihat rumahku, apa lebih enak hidup di jalanan terluntang-luntang?” Tanya Leon menunjuk -nunjuk wajah Jovita.
‘Kamu bukan siapa-siapaku berhenti membentak-bentak ku!’ ucap Jovita dalam hati, ia hanya bisa menatap tajam pada Leon, melihat tatapan melawan dari Jovita, membuat Leon semakin marah.
“Apa? Apa … !? Kamu mau bilang apa? Apa kamu mau bilang tidak membutuhkan bantuan ku. Apa kamu sadar kerena kamu lelaki itu kehilangan nyawa?” ucap Leon, ia tidak bisa mengontrol emosinya, kata-katanya membuat air mata Jovita menetes deras menyusuri pipi mulusnya.
Ia tidak mau membuka mulut ataupun membantah ucapan Leon, ia mengingat permintaan Rikko tapi pagi, tetapi air matanya yang menetes deras membuktikan kalau ia sangat sedih, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, membiarkan Leon mengamuk dengan kata-kata yang membuat hatinya bagai terasa ditusuk-tusuk.
Melihat ia diam, Leon berhenti, ia baru menyesal , saat melihat air matanya menetes deras di pipinya.
‘Aku tidak ingin melihat kamu menangis seperti itu, tetapi kenapa kamu selalu membuatku marah’ ucap Leon meninggalkan Jovita dikamar.
Ia pergi ke dapur.
“Bi, tolong buatkan serapan buat Jovita, berikan juga dia vitamin untuknya Bi”
“Oh. Kamu sudah datang,” ucap wanita paruh baya itu dengan wajah cemas.
Walau ia sebagai asisten rumah tangga di rumah Leon . Namun Leon sangat menghormatinya menganggapnya sebagai seorang ibu dan begitu juga sebaliknya. Hanya Bu Atinlah orang satu-satunya saat ini yang mengerti Leon, bagi Bu Atin Leon bukan hanya sekedar majikan, ia menganggapnya sebagai putranya.
“Aku baik-baik saja, Bi jangan khawatir”
“Apa kamu sudah serapan, biar bibi siapkan?”
__ADS_1
“Belum, aku serapan di sini saja” Leon duduk di meja makan.
Bi Atin menyajikan serapan di meja untuk Leon, ia memilih menikmati serapan sendiri, Leon sudah terbiasa dengan kesendirian seperti itu, tetapi tidak untuk Jovita, baginya kesendirian itu dan suasana sepi dan hening sangat menyiksa.
Bu Atin membawa serapan ke kamar Jovita.
Tok … Tok …!
“Non Hara, ini saya bibi bawa serapan.”
“Bi Atin?” Ia merasa tidak enak pada wanita baik hati itu, karena ia pernah berjanji tidak melarikan diri. Namun, ia melakukannya saat di Kalimantan.
“I-iya Bi,” jawabnya dengan gugup.
“Kamu pasti sudah lapar, kan?” ujar wanita paru baya itu menyajikan serapan di atas meja di kamar Jovita.
Ia masih berdiri dengan perasaan gugup, ia berpikir kalau Bu Atin akan marah padanya dan membahas tentang pelariannya saat itu.
Tetapi nyatanya . Tidak. Bu atin masih tetap bersikap baik dan ramah padanya.
“Kenapa diam saja sih Non? Ayo duduk makan,” ujarnya menepuk sofa.
“Bibi tidak marah padaku?” tanya Jovita dengan tatapan sungkan, ia merasa bersalah.
“Oh, kenapa harus marah Non, setiap orang berhak membuat keputusan dalam hidupnya”
“Jadi … Bibi tidak marah?” tanya Jovita dengan mata berkaca-kaca.
“Tidaklah, bibi senang kamu selamat”
“Jangan menangis, Bibi rindu sama kamu, bibi pikir tidak bisa melihat kamu lagi”
“Oh bibi itu seperti ibuku berhati lembut dan pemaaf. Tadinya aku takut pulang ke sini, karena aku pikir akan marah padaku dan tidak mau jadi temanku. Tetapi saat ini aku serasa hidup lagi,” ujar Jovita memeluk dengan erat.
Tenyata Leon mendengarnya di balik pintu, wajahnya yang sedari tadi mengeras berkurang setelah mendengar pengakuan Jovita, ia meninggalkan pintu kamar Jovita dan kembali ke kamarnya. Tetapi saat tiba di kamar pribadinya, ia merasa aneh dalam kamarnya sendiri, tidak senyaman biasanya . Sejak Jovita pergi ia tidur di kamar yang saat ini di tempati gadis cantik itu.
Ia melepaskan pakainya melihat di kaca luka tembak di tangannya, bayangan saat Damian menyebut dirinya kakak laki-laki Jovita, terlintas di benaknya. Bayangan di mana Damian meminta maaf padanya dan memberikan tangan Jovita padanya.
“Kamu memintaku menjaganya sebagai kakak lelaki dari jovita dan Iwan memintaku menjaga putrinya, bagaimana aku menjaganya kalau dia keras kepala seperti itu, membuatku selalu marah,” ujar Leon menyisingkan gorden kamarnya tatapan menatap jauh kearah lautan luas. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Jovita, ia mengambil ponselnya menelepon Rikko.
“Bagaimana?”
“Belum ada pergerakan yang terlihat Bos”
“Baik jangan lengang, saya yakin mereka sangat marah. Cari tahu siapa lelaki yang ingin menginginkan kematian Jovita. Tambah orang-orang mu di pantai. Bila perlu minta dibawa pitbull dari mansion”
“Baik Bos”
Leon memegang batang lehernya sesekali ia mengusap dadanya.
“ Dia tidak bisa sendirian, saya tidak tahu, dari mana keparat itu nanti muncul tiba-tiba”
Saat ia sedang sibuk dengan hatinya , suara ketukan pintu terdengar.
“Masuk!”
__ADS_1
Salsa datang, melihat wanita itu datang , entah kenapa Leon tidak begitu bersemangat.
“Bos, nanti malam temanku mengadakan pesta di villanya di Bandung aku mau meminta iz-”
“Iya pergi saja,”potong Leon tidak bersemangat.
“Tetapi pesta itu diwajibkan harus membawa pasangan, aku ingin mengajak Bos”
“Saya tidak bisa Salsa, ajak Iwan saja”
Mata Salsa langsung melotot, masalahnya pesta itu pesta enak-enak, sama seperti yang dilakukan Leon di Mansionnya di Kalimantan.
‘Masa aku harus melakukannya dengan Iwan?’tanya dalam hati.
“Tapi itu pesta bikini Bos”
“Iya saya tahu Salsa, masalahnya saya tidak bisa”
“Baik Bos,” ucap Salsa kembali menelan rasa kecewa untuk kesekian kalinya. Wanita berambut pirang itu, selalu menganggap dirinya penting untuk Leon, ia berharap Leon tadi ikut dengannya. kalau pun lelaki itu, tidak bisa ikut ia berharap melarangnya pergi dengan lelaki lain, tetapi bukanya melarang malah memintanya pergi dengan anak buahnya.
Ia keluar dengan perasaan kecewa. “Apa aku tidak berarti sedikitpun untukmu Bos? Setelah beberapa tahun yang kita lalui bersama?” ucapnya marah.
Ia meluapkan amarahnya pada Vas bunga di dalam kamarnya melemparnya sampai hancur lebur.
“Dia selalu bersikap seperti itu jika Hara ada, wanita itu sangat menjengkelkan,” ucapnya dengan tatapan sinis, entah apa yang di pikirkan.
*
Di kamar lain Jovita sudah selesai serapan, ia juga sudah mandi . Duduk di balkon menikmati pemandangan laut.
Saat ia duduk, tidak berapa lama Leon juga keluar dari kamarnya dan berdiri di Balkon, karena kamar mereka bersebelahan sama-sama di bagian timur , menghadap pantai.
Leon keluar bertelanjang dada memperlihatkan luka tembak di lengannya.
Walau banyak yang ingin ia tanyakan. Salah satunya tentang ponselnya. Tetapi saat ia melihat raut wajah Leon yang masih mengeras bagai kain lap sebulan tidak si cuci, Jovita tidak berani bertanya apa-apa, ia diam.
“Hara, tenangkan dirimu, lelaki itu masih marah padamu, jangan membuatnya semakin marah’,” gumam Jovita pelan, ia bicara pada dirinya sendiri. Ia diam dan Leon juga diam, padahal jarak mereka hanya dua meter, karena balkon kamar Leon dan Jovita menyatu tanpa pembatas.
‘Bagaimana dia bisa diam seperti batu, padahal ada aku, manusia, di sampingnya. Seandainya ibunya masih hidup, aku akan bertanya. Ibunya mengidam apa saat mengandung si balok es ini membuat sangat irit bicara , Jovita bermonolog dalam hati.
Bersambung ….
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA000
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)