Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Memberikannya dengan iklas


__ADS_3

Saat dalam kamar, Jovita tidak bisa tidur,  ia hanya duduk, tiba-tiba  suara  ketukan terdengar.


Jovita membuka pintu,  ternyata Leon yang datang, penampilannya sangat memprihatinkan wajahnya terlihat sangat  menderita , rambutnya lepek dan sangat berantakan seperti habis dijambak, Leon membuka pakaiannya hanya menyisahkan  kaos singlet berwarna putih.


“Ada apa?”


Leon tidak menjawab,  ia melonggos masuk ke dalam kamar dan membuka laci di samping ranjang,  ia mengambil  beberapa obat sejenis Eximer yang ia yakini mampu menghilangkan efek perangsang.


Lalu ia masuk  ke kembali ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar Jovita.


Leon  ingin merendahkan reaksi obat itu dengan meminum obat tersebut ia berharap bisa mengurangi penderitaannya.


Bukannya reda Leon merasa kepalanya ingin pecah.


“Aaa .... Brengsek .” Leon meremas kepalanya  dengan kedua tangannya dengan kuat dan sesekali ia  membenturkan kepalanya ke dinding.


Leon masuk lagi ke kamar mandi,  berdiri disemburan air shower, dan  memukul  dinding dengan tangannya. Jovita sangat khawatir dengan teriakan Leon, ia  masuk ke kamar itu.


“Bapak tidak apa-apa?”


“Jovita keluar dari kamar ini.  saya tidak sedang baik, saya sedang gila," ucap Leon dengan wajah mengeras menahan sesuatu, Ini penderitaan yang paling menyiksa yang pertama ia rasakan dalam hidupnya.


Masih berdiri di pancuran air  dan kepala disandarkan di dinding ,  darah mengalir deras dari lengannya yang terluka, tetapi ia tidak menghiraukannya, darah itu berbaur dengan air.


“Apa yang bisa saya bantu Pak”


“Tidak ada Jovita, keluarlah. Saya tidak ingin menyakitimu lagi”


Jovita terdiam, ia tidak tega melihat keadaan Leon.


‘ Aku yang harusnya merasakan hal seperti itu kalau Leon tidak datang’


“Lakukan saja padaku,” ujar Jovita . Leon diam, ia semakin mengepal tangan dengan kuat.


“Jovita pergilah tidur! Saya bisa mengatasinya”


“Kamu akan semakin tersiksa kalau tidak melampiaskannya. Lakukan saja padaku”


Leon berbalik badan dengan wajah sangat memprihatinkan, ia begitu tersiksa,  menahan gejolak dari tubuhnya.


“Pergilah ke kamarmu, saya sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi padamu”


“Janji bisa di ingkari disaat  terdesak.  Saya tidak tahan melihat bapak menderita dan  tersiksa sendirian  seperti itu,  karena saya”

__ADS_1


“Jovita.Aaah … AH! tolong pergilah, saya tidak tahan lagi, kepalaku sangat sakit ingin mele-”


Jovita tiba-tiba meraih leher Leon dan membungkam mulut Leon dengan bibirnya. Mata lelaki itu melotot dan hanya mengerjap-erjap ia kaget.


“Jovita saya tidak mau, kamu melakukan sesuatu yang kamu sesali nantinya “


“Tidak apa-apa, anggap saja saya membalas pertolongan yang  Bapak berikan padaku,” ucap Jovita.


“Jovita pergilah,  saya  tidak bisa mengendalikan diriku, saya takut menyakitimu lagi nanti,” ucap Leon.


“Tidak apa-apa, saya akan menahannya, saya tidak akan menyalahkan  bapak  kali ini , anggap saja kita impas dan saya ikhlas memberikannya pada Bapak, tidak akan menuntut apa-apa"


 Saat Jovita menawarkan tubuhnya pada singa yang kelaparan itu, seketika itu juga  Leon melahapnya dengan rakus,  Leon dengan buas memegang  dagu Jovita dengan sikap porsesif, ia memulai melahap bibir mungil itu dengan begitu nikmat, sampai-sampai ia mengeluarkan suara-suara kecil dari mulutnya.


Jovita  memilih menutup  mata, Leon begitu bersemangat,  menikmati  manisnya madu dari bibir mungil merah Jovita.


Ia tidak melihat wajah  ketakutan yang ditujukan Jovita, atau mungkin Leon sudah tahu kalau wanita itu ketakutan, tetapi Leon memilih mengabaikannya.


Meraih pinggang  Jovita dengan satu tangannya, Leon semakin bersemangat saat wanita cantik itu membalas, walau terasa sangat pelan. Jovita tidak terpengaruh dengan sikap menggebu dari Leon yang melakukannya dengan rakus karena efek dorongan obat.


 Leon menyusuri setiap inci bagian tubuh mulusnya, dan mengangkat tubuhnya ke atas  wastafel, sehingga  Leon dengan leluasa menjelajahi setiap inci bagian tubuh cantik itu.


Di tengah-tengah aktivitasnya, Leon masih berusaha keras mengendalikan dirinya,  agar tidak menyakiti Jovita , terlihat dari tangan Leon yang meremas kuat sisi meja dengan kedua tangannya.


Lalu  ia melepaskan pakaian Jovita juga,  meninggalkan banyak tanda kepemilikan di semua tempat di tubuh jovita . Leon mengendus kan wajahnya  ke setiap bagian tubuh itu  membelai  lembut kulit putih, seputih susu dan kulitnya selembut sutra  membuat Leon semakin bersemangat.


Sementara  Jovita masih dalam suasana tubuh  menegang, belum berpengalaman dan ini pertama kalinya  baginya melakukan kising, makannya ia terlihat sangat gugup, menyadari Jovita takut, Leon mengatur napas agar tenang. Tetapi hasrat di tubuhnya sudah kepalang panas,  tidak  mudah  untuk bisa merendahkannya,  gejolak yang sudah  hampir mencapai puncak .


Puas memberi stempel di semua tempat di tubuh Jovita,  Leon akhirnya membuka mata  dan berhasil menahan diri sedikit, ia mengatur napasnya yang ter engah-engah.


“Apa kamu takut?” Tanya Leon lembut  tidak tega melihat wajah Jovita yang hampir menangis.


Jovita mengangguk, Leon ingin sekali berhenti sampai di situ. Namun, keinginan bagian bawahnya sangat kuat.


“Maaf. Saya tidak bisa mengendalikannya efek obat itu membuat darahku seakan-akan mendidih. Saya akan berusaha melakukanya dengan pelan-pelan,” ucap Leon dengan wajah memelas.


Melihat wajah Leon seolah-olah  memohon , Jovita  merasa kasihan.


“Baiklah,” ucapnya pasrah.


“Tutup saja matamu jangan melihat apapun,” ucap Leon ia tidak ingin Jovita ketakutan saat melihat pedang miliknya,  sama seperti saat  pertama sekali melakukannya.  Di mana Leon saat merampas mahkotanya dulu saat itu Jovita takut dan sampai pingsan.


“Jangan panik,” ucap Leon memeluknya  sebentar, memberinya rasa yang sangat nyaman, membawa tubuh polos Jovita ke dadanya,  sebelum ia melanjutkan pertempuran terakhirnya.

__ADS_1


Leon  memeluknya erat,  tubuhnya mereka berdua sudah benar-benar polos, Lelaki tampan itu, bisa merasakan kulit halus milik Jovita menyatu di dengan tubuhnya.


Leon  kembali menempelkan mulutnya di bibir mungil  Jovita degan  sikap lembut, kali ini, ia berusaha keras agar bisa  mengendalikan otaknya agar tidak membuat Hara takut.


Kemudian  Leon mengendong tubuhnya ke ranjang dan kembali memangut dengan lembut bibir  merahnya,  meletakkan tubuh Jovita  dan satu tangan mengusap  perut  dan lambat laut tangan itu turun ke bagian inti dan menemukan mahkota yang pernah ia rengut dengan paksa, tangannya bermain lembut   di sana.


Tubuh Jovita kembali menegang saat  jari Leon menyentuh  dan masuk ke bagian yang lembab,  gerakan tubuh Jovita seolah-olah menolak. Namun Leon sudah mengunci mulutnya dengan pangutan, tidak memberi Jovita kesempatan untuk mengucapkan kalimat penolakan.


Leon memang ahlinya dalam urusan ranjang, ia menaklukkan Jovita dengan cara cerdiknya, Ia juga mengalihkan perhatian wanita yang belum berpengalaman itu, satu tangannya lagi, bergerak turun menyentuh bagian terindah dari tubuh Jovita.


Tubuh jovita akhirnya terpancing , ia tidak tegang lagi setelah Leon memberinya sentuhan yang membuat tubuhnya menggeliat,  setelah beberapa lama melakukan  foreplay


Leon  ingin menuntaskan rasa panas di tubuhnya, ia ingin menuntaskan semuanya saat itu.


“Saya akan melakukannya,” bisiknya pelan, Leon masih memili sedikit sisa kesadaran,  ia tidak ingin Jovita kesakitan atau panik, walau ini  ketiga kalinya Leon melakukanya, tetap saja rasa takut dan trauma menyerang Jovita,  Leon sadar akan.hal itu .


Saat  ia memberi aba-aba,  Jovita panik lagi   bola mata itu melotot, Leon kembali melakukan trik, ia mencengkram kuat bagian  terlembut di tubuh Jovita  dan memainkan bibirnya dengan lembut, kepanikan Jovita berkurang,  karena Leon  memberinya banyak kenikmatan, otak Jovita teralihkan, sejurus kemudian.


 Leon mengambil posisi tepat dan mendorong panggulnya hingga benda itu  masuk.  Jovita  mencakar   tubuh Leon dengan kuku yang panjang,  karena kaget,  tetapi tidak ada penolakan lagi.


Melihat tubuh jovita tidak ada penolakan. Leon melanjutkan  aktivitasnya,  mempercepat  irama temponya  permainannya


Hingga Leon menuntaskannya satu pertandingan yang sangat melelahkan,  tubuh keduanya di banjiri keringat dengan irama napas yang saling  bersahutan.


Jovita tidak lagi  berteriak ,  ia hanya meremas  sisi ranjang dengan rintihan kecil yang terdengar halus dan manja.


Hingga akhirnya Leon mengaum panjang, setelah mengeluarkan lahar panas itu, ia  merasakan kepuasan setelah berhasil  melepaskan beban yang menyiksa tubuhnya sejak tadi. Ia dan Jovita terkulai  lemas dan kelelahan dan akhirnya tertidur.


Bersambung ….


jANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2