Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pesan terahir


__ADS_3

Toni  tiba di Jakarta setelah Hara memintanya datang, saat tiba, mereka langsung menuju rumah sakit di mana wanita tua itu dirawat.


Di  rumah sakit tampak beberapa dokter berbicara serius dengan Leon, wajah Leon terlihat sangat sedih,  saat dokter yang menangani ibunya menjelaskan kondisi Bu Atin.


“Pak Leon bukannya kami ingin megalahkan kuasa Tuhan tetapi kondisi ibu anda saat ini sudah sangat buruk,  jatungnya sudah mulai kehilangan pungsingnya, detak jantungnya sudah sangat lemah, belum lagi ring yang kami pasang tahun lalu harusnnya di ganti dua minggu lalu, kami sudah menjadwalkannya, tetapi ibu anda tidak datang, Pak” Dokter menatap Leon dengan tatapan prihatin.


“Iya, harusnya ibu dua minggu yang lalu ke dokter, tetapi, ada masalah besar terjadi di keluarga kami, maka itu ibu membatalkan jadwal periksa”


“Pak Leon yang kami ingin katakan, sebaiknya ibu menghabiskan waktu bersama keluarga dan cucunya, kata pahitnya lakukan acara perpisahan pada ibu Bapak,” ujar seorang dokter yang menangani Bu Atin. “Karena, apapun yang kita lakukan tidak akan  ada gunannya, kalau pasiennya sendiri sudah menolak untuk di obati. Bisa cepat sembuh, sebenarnya bukan karena obat atau dokternya yang hebat ataupun jago , tetapi,  karena ada keinginan kuat untuk sembuh dari pasiennya itu sendiri, di sini Ibu bahkan sudah menolak obat yang perawat berikan, ia hanya ingin pulang untuk bertemu anak-anaknya dan cucunya itu keinginannya, beberapa hari ini, maaf Pak Leon,  bila saya salah bicara, bukan menolak pasien tetapi hanya mengingatkan,” ujar dokter yang sudah mulai berumur itu menatap Leon.


“Baik Dok, saya mengerti,” ujar Leon, ia pamit dan meninggalkan ruangan dokter.


           **


Dalam kamar rumah sakit sudah ada Toni, Ken, Zidan Bu Atin tergolek lemah di ranjang rumah sakit dengan wajah memucat.


“Ibu, kami datang.” Mereka bertiga mendekat Toni memegang tangan Bu Atin.


“Terimakasih Nak, karena kalian sudah datang,” ucap Bu Atin dengan suara berat terdengar parau, ia menarik napas dengan kesusahan.


“Ibu harus sembuh, bertahanlah Bu, kami akan membawamu ke rumah sakit yang bagus atau keluar negeri, bila perlu,” ucap Toni.


“Tidak lagi Nak, ibu sudah lelah, tugas ibu sudah selesai, menjaga Leon, Hara dan melihatmu punya istri yang cantik dan baik, ibu hanya menginginkan itu, ibu berharap kalian bertiga bisa berkumpul  kembali dengan keluarga masing-masing.


Hiduplah kalian bertiga dengan baik-baik, buang segala keegoisan, jika salah, maka minta maaflah, banyak yang mau jadi istri, tetapi tidak semua wanita yang mau menjadi ibu yang baik untuk anak- anak kita serta mau menjadi pendamping sampai tua,” ujar Bu Atin menasihati mereka bertiga.


Bu Atin sudah  mengenal mereka sudah puluhan tahun, ia perduli pada masalah rumah tangga ke tiganya, sebelum ajal menjemputnya.


“Apa maksud, Ibu?” tanya  Toni.


“Jika ada kematian maka ada kelahiran, aku berharap kalian semua bahagia. Di masa lalu juga Leon juga nakal , tetapi  setelah memiliki dua anak dia berubah,” ujar Bu Atin.


“Iya Bu, "jawab ketiganya serentak.


“Boleh Ibu meminta tolong?” tanya Bu Atin dengan wajah yang sangat lemah.


“Katakan Bu, akan kami lakukan apapun yang ibu minta”

__ADS_1


“Kalian harus, selalu saling menjaga, anak-anak kalian harus akur di masa depan,"ujarnya seperti punya firasat.


“Baiklah Bu, kami mengerti kami akan melakukannya,” ucap Toni akhirnya mendungan yang sedari ia tahan akhirnya tumpah dan membanjiri wajahnya.


 ”Bu, terimakasih sudah menyanyangiku seperti anak Ibu” Toni memeluk Bu Atin


                               *


Tidak lama kemudian Leon dan keluarganya masuk ke dalam ruangan di mana Bu Atin .


“Nenek, aku sangat sayang sama Nenek, maaf kalau aku nakal,” ujar Chelia menangis memeluk lengan neneknya.


Saat Hara menceritakan kalau umur nenek mereka tidak lama lagi, ia sangat sedih,  karena kedua anak kembar itu sangat dekat sama neneknya.


“Iya sayang Nenek juga sayang, kemarilah kalian dua peluk nenek”


Okan tidak banya bicara, tetapi ia ikut menangis saat Celia menangisi Neneknya, tetapi di sela tangisannya keduanya tiba-tiba Okan bangun dan mendaratkan bibirnya di pipih neneknya.


“Nenek harus sehat agar bisa melihat Chelia jadi dokter,” ujar Chelia.


“Nenek melihat kamu sukses dari surga nanti”


“Ya, nenek tidak punya tenaga lagi, tidak ingin menyusahkn Ibu dan ayahmu,” balas Bu Atin.


“Apa Nenek mau bertemu abang Ichiro?” Tanya Okan.


“Iya Nenek akan bertemu  mereka semua, bertemu Oma Ina, bertemu semua orang yang telah mendahului kita ,lalu Nenek akan menceritakan kalau kedua cucuku anak-anak yang pintar, Leon ….  Terimakasih telah menjadikanku ibumu Nak, Kamu dan Toni harus selalu saling menjaga,” ujarnya dengan Lemah,  Bu Atin yang semakin melemah kondisinya.


“Baik Bu” Leon mendekat dan ia memeluk Bu atin dengan penuh sayang.


“Mari Bu, kita pulang kerumah kita, bukankah Ibu ingin melihat rumah baru kita” ujar Hara.


“Baiklah,” ucap Bu Atin, dengan mata yang hampir tertutup.


                       


Sesuai permintaannya wanita tua itu di bawa pulang ke rumah baru, semua asisten rumah tangga dan orang yang  bekerja pada Leon tampak berbaris melihat Bu Atin,

__ADS_1


Di mata mereka Bu Atin wanita yang sangat baik yang memperlakukan asisten rumah tangga dan semua pegawai Leon seperti saudara.


Setelah di bawa berkeliling rumah dengan mengunakan kursi roda ia memuji hasil karya Hara, lalu ia minta di bawa ke kamarnya, dalam kamar Hara sudah mendasain kamarnya dengan berbagai kembang kesukaannya.


“Tugas ibu sampai di sini, tadinya aku berharap aku melihat Clara dan Danis, Kinan, Juna dan Thiani dan ibunya, sepertinya tidal bisa,” ujarnya lemah.


“Maaf kami Bu,” ujar Zidan menunduk.


“Tidak apa-apa Zidan , Ibu berharap kalian bisa bersama, ibu tidak mau  memaksa”


“Ibu … jangan memikirka yang lain - lain dulu,” ujar Hara.


“Baiklah ibu juga sudah lelah”


Ia berbaring dengan  tenang setelah  mengucapkan terimakasih pada Leon dan Hara, tidak lama kemudian ia tutup mata selamanya. Ia kembali pada sang penciptanya


Melihat ibunya  sudah pergi Leon hanya diam, ia menyembunyikan kesedihanya di depan keluarganya.


Hara menangis dan memeluk tubuh ibu mertuanya, baginya wanita itu bagai seorang ibu padanya.


Bersambung …


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.


Terimakasihnya  untuk semuanya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


Bintang kecil untuk Faila (tamat


__ADS_2