Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Melahirkan


__ADS_3

Kesabaran selalu membuahkan hasil, ungkapan itu tepat untuk keluarga Hara, setelah Leon  sabar menjaga selama kehamilan Hara, istrinya  akhirnya mampu melewati masa sulit seperti yang diperediksi dokter, mungkin terlalu banyak kejadian muruk dari sejak  dulu,  hingga detik kehamilanya, Hara sering di hantui mimpi-mimpi buruk selama kehamilanya.


Dokter Shena yang mengangani Hara menyebut Hara mengalami ketakutan  dan kecemasan yang berlebihan, hampir menyerupai kasus yang saat hamil si kembar. Maka itu Leon diminta untuk sabar menghadapi semua tingkah manja dan sikap porsesip berlebihan dari Hara. Semua  kelakuan Hara yang tidak biasa, dokter menyebut itu sebagai upaya meminta perlindungan pada Leon dengan cara yang berbeda.


Semua itu,  akhirnya bisa dilalui keluarga Hara, Leon sampai cuti beberapa bulan dari kantor demi menjaga istrinya,  Ia menjelma menjadi suami yang siap siaga dalam menangani sikap Hara yang kadang berubah-ubah. Selama sembilan bulan sudah terlewatkan dengan penuh suka dan duka dan banyak kenangan nanti untuk mereka ceritakan suatu saat nanti.


Kali ini,  mereka bertiga,  menunggu dengan cemas, menunggu kehadiran anggota baru di keluarga mereka yang menambah kecerian baru.


Dalam kamar rumah sakit yang dipesan Leon untuk keluarganya,  sebuah ruangan VIP yang menyediakan pasilitas yang lengkap demi kenyamanan keluarganya.


“Ayah, apa masih lama Ibu ke luar dari ruang operasi?” tanya Okan tidak sabar.


“Tenang Bang, banyak berdoa agar ibu dan adik kamu  selamat”


“ya ,” ujar anak lelaki bertubuh tinggi itu mengatupkan kedua tangannya memohon pada yang Sang Kuasa agar menyelematkan ibu dan calon adikknya.


Tetapi berbeda dengan si cantik Chelia yang terlihat sangat tenang seakan-akan,  ia tidak merasa kawatir, saat ayah dan saudara laki-lakinya duduk gelisah menunggu Hara keluar dari ruangan bersalin,  si cantik itu hanya asik menonton  acara televisi.


Leon penasaran dengan sikap putrinya,  biasanya ia yang paling peka kalau Ibunya sakit.  Biasanya hanya demam sedikit saja ibunya,  ia sudah sangat khawatir, tetapi kali ini ibunya bertarung hidup dan mati,  kenapa Chelia bisa bersikap tenang seperti itu, Leon mendekat dan duduk di samping anak perempuan berwajah bak boneka hidup itu.


“Sayang, kamu tidak merasa khawatir ?” tanya Leon penasaran.


“Untuk apa, Ayah?” Chelia balik bertanya.


“Untuk ibumu yang ingin melahirkan"


“Oh, aku sudah meminta sama Tuhan agar adek sama ibu diselamatkan, kata Tuhan iya, ibu dan adek akan selamat, jadi kita hanya tinggal  menunggu dan percaya pada janjinya,” ujar Chelia santai.


“Oh, baiklah sayang, semoga doamu dijawab,” ujar Leon ingin berdiri.


“Ayah tahu, nenek sama kakek juga bilang padaku tadi malam,  kalau Ibu sama adek akan baik-baik saja”


“Ha? Nenek dan kakek yang mana?” tanya Leon menyengitkan kedua alisnya.


“Nenek dan kakek dari Ibu, foto yang ada di ruang tengah, di rumah kita yang ada anak kembar itu"

__ADS_1


“Ya, itu keluarga Ibu,”ucap Leon tidak ingin membahas kedua orang tua Hara lebih dalam lagi.


Leon selalu merasa bersalah setiap kali mengingat tentang kedua orang tua Hara. Leon selalu berpikir ia punya banyak salah pada Ibu dan Ayah mertuanya.


“Apa Ayah ingin mengatakan sesuatu pada nenek dan kakek?” tanya Chelia tiba-tiba. Leon merasa bagai merasa  lidahnya kaku tidak mampu berucap, ia hanya bisa mengucapkan ;


“A... a tidak ada,”  ujar Leon dengan kepala mengangguk.


“Tapi …  tadi malam, nenek bilang terimakasih pada ayah,” ujar Chelia , bulu kuduk Leon lansung berdiri, saat Chelia   bicara seperti itu, padanya, wajahnya juga terasa panas.


“Apa maksudnya?” tanya Leon dengan lemah ia merasa kedua mertuanya itu seakan-akan mengawasinya di tempat itu.


“Nenek berterimakasih pada Ayah karena menjaga dan mencintai Ibu dengan baik,” ujar Celia terlihat ketulusan tidak ada kepuraan-puraan di matanya,  apalagi berucap bohong, jadi ia yakin apa yang dikatakan putrinya satu kebenaran tidak ada kebohongan.


Leon mengusap kedua sudut matanya,  mendengar hal itu ia merasa  ada butiran air yang hangat hampir jatuh dari matanya, sebelum itu terjadi di hadapan putrinya, Leon menyingkirkanya.


“Maaf,” ucap Leon hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya.


“Ayah tahu, kakek punya pesan khusus untuk ayah dan ibu ini pekerjaan yang harus ibu dan ayah lakukan kata kekek,” ucap Celia ia terlihat seperti dukun cantik.


Celia membisikkan  sesuatu di kuping ayahnya dan Leon hanya mengangguk degan wajah serius.


                             *


Di sisi Lain.


Suara tangisan mengemah di uangan ber-cat berwarna  serba putih itu, sekelompok orang berseseragam  hijau lengkap dengan penutup kepala, terlihat  gembira saat melihat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu. Tangisannya seakan mengambarkan satu kegembiraan, karena ia bisa datang ke dunia ini dnegan selamat.


Hara tertawa gembira dengan air mata membasahi wajahnya, ia tidak bisa merasakan rasa sakit dari bagian perutnya yang dibuka,  demi membuat jalan untuk bayi mungilnya.


Walau ia belum bisa merasakan rasa sakit di tubuhnya Namun ia bisa mendengar tangisan kuat dari bibir mungil bayi lelaki yang Hara lahirkan.


Seorang dokter meletakkan bayi mungil itu di atas dada Hara, memberi sentuhan untuk ibunya dan memberi asi pertama untuk bayi merah itu.


Saat Leon duduk denga gelisah, seorang perawat masuk.

__ADS_1


“Pak Leon selamat bayi laki-laki sudah lahir”


“Haaa! Bayi laki-laki?”Okan melompat kegirangan sedangkan Celia cemberut.


Hara sengaja ingin membuat kejutan untuk keluarganya, ia  tidak melakukan USG untuk bayinya kali ini.


Leon berlari menuju kamar bersalin melihat bayi mungil itu berada di atas dada ibunya menikmati apa yang jadi miliknya.


“Terimakasi sayang, karena kalian  berdua selamat,” ucap Leon mendaratkan bibirnya di kening Hara dan baby mungil itu.


"Selamat Pak Leon, bayinya sehat tidak kekurangan apapun," ucap seorang dokter,


"Terimakasih dokter," ujar Leon  dengan wajah sangat gembira.


Apa yang Ia impikan akhi terkabul, bertambah satu bayi lagi di rumah Leon, akan mengubah suasana rumah mereka


Hara melahirkan anak lagi untuk Leon di usia yang sudah tidak muda lagi, membuat Leon begitu sangat bahagia, dari dulu ia punya keinginan memiliki tiga anak dalam rumahnya,


kali ini doanya terwujud.


Apalagi Hara sehat saat melahirkan.


"Okan sama Chelia punya mainan baru, disi gendong," ujar dokter Shena.


Meletakkan bayi merah itu di pangkuan Okan, menggendong adiknya yang baru lahir, Okan ketakutan.


"Aya dia kecil sekali," ujar Okan dengan mata berkaca-kaca, ia mendaratkan bibir di kening adik nungilnya.


"Harum sekali Dok," ujar nya


Wajah mereka bertiga sangat bahagia karena kehadirannya adik kecil yang berwarna merah tersebut.


Bersambung .....


Bantu like dan komen, kasih komentar juga akak - akak.

__ADS_1


__ADS_2