
Saat Sore di rumah Leon.
Kepanikan terjadi, Bu Atin yang biasanya kuat dan selalu tangguh, kali ini lemah, wanita paruh baya itu terduduk lemas. Ia sangat takut ketika melihat waja Jovita dipenuhi cairan warna merah dari luka di keningnya yang bocor.
Melihat keributan di halaman depan dua orang asisten rumah tangga berlari membantu Bu Atin.
Jantung wanita itu, tidak kuat lagi saat melihat darah yang membanjiri wajah cantik Jovita tubuhnya bergetar.
“Bi masuk saja ke dalam rumah, tidak apa-apa Non Hara hanya terluka ringan,”ujar Toni ia membantu Zidan yang meringis memegang pundak.
“Tapi apa dia baik-baik saja?” Bi Atinn menatap Hara.
“Iya Bi, aku baik, tidak apa-apa hanya ujung meja mencium keningku,” ujar Jovita masih sempat-sempat bercanda Iwan menekan lukanya tetapi darahnya mengucur banyak, bahkan Jovita tidak berani membuka mata, melihat dara membuat lututnya bergetar.
Jovita tenang tetapi tidak untuk ketiga anak buah Leon. Mereka sangat panik melihat Jovita terluka, mereka merasa lalai menjalankan tugas.
“Bagaimana ini apa kita perlu memberitahu Bos?”
“Tidak usah, tutup saja pakai perban,” ujar Jovita.
Iwan tidak mau dapat masalah, ia memberitahukan pada Leon juga.
“Ada apa Iwan”
“Bos, ada sedikit kecelakaan. Non Hara kejatuhan Pot bunga, kepalanya terluka sepertinya butuh jahitan, apa perlu kami bawa ke dokter?”
“Apa begitu parah?” Tanya Leon di ujung telepon.
Mendengar hal itu, Hara mengarahkan telapak tangannya memintanya menjawab tidak.
“Tidak begitu parah Bos, hanya luka biasa”
“Tidak usah bawa ke rumah sakit, masih bahaya untuk dia bawa keluar”
“Baik bos”
Karena permintaan Leon, luka itu hanya di obati di rumah, Iwan menutupnya dengan perban.
Leo mengawasi proyek pembangunan jembatan yang desainnya Jovita yang mengerjakan. Ia bertemu dengan beberapa pejabat daerah, bukan tanpa alasan Leon mendekati para pejabat itu. Leon punya rencana membangun sebuah hotel di tanah kelahirannya tersebut. Maka salah satu strategi yang baik agar perizinan lokasi pembangunan di lancarkan yang harus leon lakukan, mendekati para pejabat daerah dan mengambil hati mereka.
“Bos. Pembangunan apa yang bos rencanakan?”
“Hotel”
“Oh?” Rikko terkejut.
‘Sejak kapan ia memikirkan tentang masa depan’ Rikko membatin.
“Saya tidak ingin sampai tua menjalankan bisnis haram ini, saya ingin punya bisnis yang membuat hati tenang saat menjalankannya tidak selalu dikejar-kejar mimpi buruk dan kematian,” ucap Leon
Untuk menyenangkan hati para pejabat, Leon mengajak mereka untuk menikmati minuman dan layanan di bar miliknya.
Tepat jam tuju malam, ia merasa tidak tenang, sejak mendengar Jovita terluka.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah, saat mobil masuk seorang tukang urut langganan Bu Atin keluar, Leon berpikir itu untuk Bu Atin, ia keluar dari mobil dan ingin masuk. Tiba-tiba Iwan muncul dengan wajah yang terlihat takut-takut.
__ADS_1
“Ada apa Iwa, kalau kamu ingin minta izin mau ke Bar, jangan sekarang Wan,” ujar Leon ingin masuk ke rumah.
“Bos, saya menunjukkan sesuatu”
Leon terdiam sejenak, melihat raut wajah Iwan ia merasa ada sesuatu hal yang genting.
“Apa?”
“Ikut saya Bos”
Iwan memperlihatkan rekaman cctv, di mana Salsa menjatuhkan pot besar.
“Bagaimana dengan Zidan?” Tanya Leon khawatir.
“Kata tukang urut tadi sepertinya ada tulang di pundaknya yang retak”
“Sial … Apa yang wanita gila ini lakukan!”
“Jovita butuh-”
Belum juga Iwan menyelesaikan laporannya , Leon sudah keluar dan berjalan dengan langkah cepat, ia menuju kamar Jovita.
Ternyata dr. Billy sedang menjahit lukanya di dampingi Bu Atin.
“Tutup saja matanya, Ok”
“Aku pusing Dok”
Billy menggeleng.
“Iya kehilangan banyak darah dan terkena penuturan kuat sudah pasti pusing Nona Hara. Tetapi yang aku bingung kenapa tidak bawa rumah sakit,” ujar Billy matanya melirik Leon.
‘Saya tidak tahu kalau separah ini’ Salsa ….! Apa yang kamu lakukan?’ Leon merasa sangat marah.
Leon keluar dari kamar Jovita melihat rekaman itu, wajahnya mengeras, Salsa mencelakai Zidan orang kepercayaan dan orang yang paling dibutuhkan di saat genting seperti saat ini dan paling membuatnya marah, karena Salsa ingin mencelakai wanita yang ia lindungi.
“Panggilkan Salsa keruanganku!”
“Baik Bos”
Rikko berjalan menuju arah barat, di mana ke tiga dayang -dayang Leon memiliki kamar masing-masing di sana.
“Kamu kena batunya atas sikap sombong , tamat sudah riwayatmu,” ujar Rikko. Lelaki tampan itu tidak pernah suka melihat Salsa, karena sikapnya yang sombong yang menganggap dirinya sangat penting di mata Leon. Padahal ia tidak tahu , kalau Leon menganggapnya hanya sebatas hubungan lendir.
Tok … Tok …!
Tidak ada jawaban, Rikko mengetuk beberapa kali tidak ada sahutan, ternyata ia bersembunyi di kamar Lana.
Saat membuka paksa kamar tidak ada penghuninya Rikko kembali ke Pos dan melihat rekaman cctv ia masuk ke kamar Lana.
“Wanita Tolol malah menyembunyikan di kamarnya dia, ingin cari mati juga,” ujar Iwan kesal saat melihat rekaman di mana Salsa masuk ke kamar rivalnya .
Tidak ingin dipersalahkan Rikko melapor lagi, memberitahukan kalau Salsa mencoba melarikan diri.
“Seret di ke sini”
__ADS_1
“Baik Bos”
Rikko mengetuk kamar Lana.
“Saya tahu dia ada di sini, sebaiknya suruh menghadap Bos sebelum dia murka.”
“Saya tidak akan kemana-kemana gue yakin kok, Bos tidak apa-apain gue,”ujarnya masih bersikap angkuh. Tatapan mata menatap sinis pada Rikko.
“Baik, baiklah terserah lu mau bilang apa, justru gue mau bilang ama lu goodbye,”ujar Iwan kesal.
Salsa beberapa bulan lalu pernah menamparnya, saat ia kesal pada Leon . Iwan sudah mengingatkan wanita agar tidak angkuh.
“Terbukti, kan, kata-kataku saat itu, makanya jika hari esok kamu masih hidup. Belajarlah untuk menghargai orang lain,” ucap Iwan.
“Diam kamu!” ujar Salsa.
Rikko hanya diam berjalan di depan sebagai sesama manusia, ia merasa kasihan karena ia tahu seperti apa nasib wanita itu selanjutnya. Tetapi melihat kesombongan Salsa yang selalu memperlakukannya dan semua anak buah Leon semena-mena.
Leon duduk di kursi singgasananya.
“Salsa katakan apa yang perlu kamu katakan,” ujar Leon tenang, tetapi justru sikap tenang seperti itulah yang malah mematikan.
“Iya Bos, saya melakukannya. Saya benci wanita itu, sejak dia datang dalam kehidupan Bos, perhatian Bos tidak ada lagi ke kami. Saya melakukan itu karena mencintaimu. Saya ingin orang satu-satunya di sisi Bos”
“Sudah?” Tanya Leon masih dengan sikapnya tenang.
“Iya”
“Begini Salsa .... Pertama. Saya tidak pernah menginginkan siapapun di sisi saya. Saya sudah bilang padamu saat itu …. Jangan memberikan hatimu padaku, jika kamu melakukannya, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada anjing. Kedua, wanita itu sudah ada dalam hidupku jauh sebelum kamu ada di sini, wanita yang ingin kamu leyapkan itu, saya sudah menjaganya sejak dia kecil, masih memakai seragam putih merah hingga saat ini.
Jadi … saya memutuskan membuangmu dari rumah saya, saya tidak mau penghianat dan sampah berkeliaran di rumah saya”
“Bos, saya minta maaf ,” ujar Salsa ketakutan
“Rikko!”
“Iya Bos”
“Singkirkan wanita ini dari hadapanku. Berikan di pada Nana”
Bagaimanapun Salsa memohon dan bersujud di hadapan Leon. Lelaki bertampang tegas itu tidak memperdulikannya.
Wanita yang kembali pada Nana, sama saja wanita buangan, itulah yang hukuman yang paling buruk. Dimana dari ratu dibuang menjadi babu, ia mendapatkan gelar paling rendah dan tidak boleh melarikan diri, jika mencoba kabur akan di lenyapkan dan mayatnya akan hilang tanpa Jejak.
Bersambung ...
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA000
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)