
Sudah satu minggu sejak Jovita menghilang tanpa jejak, membuat Leon stres, ia mendapat hukuman atas sikap acuhnya pada Jovita, ia berpikir kalau ia tidak melihat Jovita ia merasa baik-baik saja awalnya, tapi malah sebaliknya.
Leon merasa frustasi, karena tidak menemukan Jovita di mana-mana. Piter sengaja membuatnya tersiksa, ia menyebar rumor dalam Hotel kalau Jovita gadis buta yang pernah bekerja sebagai penyanyi di Hotel itu, sakit parah dan sudah meninggal dan dimakamkan.
Mendengar itu Leon nyaris gila dibuatnya, ia sampai mendatangi pemakaman umum dimana keluarga Jovita di makamkan, lutut Leon bergetar saat tiba di sana ternyata tidak ada kuburan yang baru.
“Apa yang terjadi, kamu dimana?” ucap Leon menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia duduk di mejanya, ia terlihat frustasi satupun petunjuk tidak ia dapatkan saat dari rumah sakit, terakhir melihat Jovita didorong pakai kursi Roda di rumah sakit.
“Sakit apa kamu hari itu Hara. Kamu dimana sekarang? Piter kamu ingin benar-benar menghukumku dengan cara seperti ini? dasar licik,” ujar Leon melemparkan pajangan dari atas meja, pajangan keramik berbentuk kura-kura itu pecah dan berserak di ruangan.
Kaila yang duduk di meja kerjanya di luar ruangan dari Bosnya, hanya bisa diam, sikap uring-uringan Leon sudah terjadi beberapa hari ini, saat Bram tidak bisa menemukan Hara, sangat berbeda dengan kelima anak buahnya di masa lalu selalu bisa punya cara untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.
Saat Leon dalam kondisi badmood tidak diduga Bianca datang ke hotel.
Karena Leon susah di hubungi belakangan ini wanita itu sampai pulang dari Singapura untuk menemui Leon di Jakarta.
Bianca datang, ia membawa rantang kecil untuk untuk Leon, bubur yang ia buat sendiri, ia mendapat kabar kalau Leon baru pulang dari rumah sakit, Ia juga mendengar kalau Leon sering terlambat makan karena sibuk menenggelamkan dirinya ke pekerjaan.
“Selamat pagi Mbak Kaila, pak Leonnya, ada?”
“Bapak ada dalam ruangannya Kak, tapi dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menemuinya,”ujar Kaila menatap Bianca dari atas sampai ke bawah.
“Katakan saya datang”
“Sebentar iya, silahkan duduk dulu” dengan cepat tangannya mengangkat gagang teleponnya menekan nomor satu.
“Kenapa?” suara Barito bernada tegas terdengar di ujung telepon, membuat wanita cantik itu menelan savilanya dengan bersusah payah.
“Mbak Bianca ingin bertemu, Pak”
“Katakan saya lagi sibuk”
Ia menutup teleponnya.” Anu pak…itu”
Tut … Tut …
Sambungan teleponnya terputus, bagaimana bilang tidak ada, ia sendiri sudah bilang kalau Leonya ada didalam ruangan tadi, ia merasa tidak enak.
“Maaf mbak Bianca, bapaknya tidak ingin diganggu, dia lagi ada tamu penting ternyata, aku lupa” Kaila terpaksa berbohong.
“Baiklah, saya menitipkan rantang untuk mbak Kaila, tolong dikasih, kalau sudah selesai rapat,” ucap Bianca dengan senyuman dipaksakan.
Padahal ia tahu kalau Leon tidak ada rapat , hubungannya dengan Leon belakangan ini semakin tengelam , ia hanya ingin kepastian apakah hubungan mereka masih ada atau tidak?
__ADS_1
Setiap kali di telepon, Leon selalu bilang sibuk dan sibuk, ia memang beneran sibuk, tetapi sibuk mencari Jovita.
Bianca pamit pulang, tetap ia menunggu di bawah, ia ingin benar-benar harus bicara dengan Leon atas desakan kedua orang tuanya yang menginginkan keduanya segera menikah.
Bagaimana untuk menikah kalau hati Leon masih menyangkut entah keman. Ia menolak Hara, tetapi setelah wanita cantik itu benar-benar pergi dan menghilang dari hidupnya, ia merasa seperti orang gila, mencari informasi tentang Hara ke kemana-mana.
Dari pagi hingga siang Leon tidak keluar dari ruangan, ia menghabiskan waktunya hanya duduk dan melamun sepanjang hari.
Padahal Bianca masih duduk di ruang tunggu di bawah, berharap Leon turun dan ia bisa bicara dengannya, tetapi Leon bukanlah Lelaki yang mudah di atur, kalau ia bilang tidak, maka tidak.
Karena Kaila khawatir atasannya pingsan di ruangan, karena Leon baru pulang dari rumah sakit.
Tok … Tok …
“Masuk”
“Pak Mbak Biancka meninggalkan bubur untuk bapak,” ujar Kaila.
“Letakkan saja di diatas meja,”ujar Leon datar matanya terfokus pada layar ponselnya, entah apa yang lebih menarik di lihat disana, padahal Kaila sudah memolis bibirnya dengan lipstik berwarna merah menyala berharap atasannya menoleh padanya.
Tetapi Leon …. tetaplah Leon, lelaki dingin, ia tidak terusik sedikitpun , tak pernah sekalipun Leon mengomentari penampilan Kaila, sejak jadi sekretarisnya. Mau roknya pendek atau belahannya terlalu rendah ataupun ia pakai konde sekalipun masuk kantor, Leon tidak pernah mencampuri penampilannya.
Bagi Leon yang penting pekerjaannya bagus, tidak perduli bagaimanapun penampilannya.
Awalnya Kaila cuek dan berpikir Leon tidak menyukai kaum hawa, tetapi lama kelamaan ia tahu Bosnya bukanlah orang yang seperti yang dipikirkan dan terakhir saat adanya Bianca dalam hidup Leon, maka Kaila juga mengajukan diri sebagai kandidat, ingin bersaing dengan Bianca.
Saat melihat Leon sedih seperti saat ini, maka ia mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya, selama ini ia menyimpan perasaan pada Leon, tetapi seiring waktu Kaila terpesona dengan sikap dingin Leon, ia suka dengan postur tubuhnya, ia suka tatapan mata Leon, suka kepintarannya dalam mengelola bisnis dan paling suka karena Leon tajir melintir.
‘Ah … banyak yang aku sukai sebenarnya darinya’ ucap Kaila dalam hati, ia tengelam dalam lamunan.
Tidak menyadari Bram sudah berdiri di depan meja kerjanya , lelaki itu mengetuk meja membangunkannya dari lamunan panjang.
“Lu menghayal apa ?”
“Eh ...pak Baram, maaf, ada apa?”
“Bos, ada tidak?
“Ada tuh, tidak lagi ingin diganggu,” ucap Kaila dengan bibir dimiringkan.
“Tolong beritahu saya datang,” kata Bram.
Terlihat setengah hati Kaila mengangkat gagang teleponnya sebelum menekan angka satu, terlebih dulu, ia menarik napas menghembuskan perlahan, ia menormalkan suaranya.
__ADS_1
“Iya” Suara khas Leon terdengar di ujung telepon.
“Pak, ada pak Bram di sini apa ma-“
Belum juga ia menuntaskan laporannya, Leon sudah memutuskan sendiri.
“Suruh masuk”
“Baik pak Leon” jawab Kaila degan suara di buat lembut, selembut selendang mayang, jajanan khas Betawi.
“Sana masuk!” Pintanya tegas,
suaranya aslinya keluar, keras bagai roti bawang buatan emak Batak. Perbandingan yang jauh, ia sangat lembut saat bicara pada Leon, tetapi pada karyawan yang lain Kaila di kenal dengan wanita yang tegas, galak, bagai ibu kos.
“Iyaaa … mbak Kaila” suara Bram di buat lembut meledek Kaila.
Wanita cantik itu mendengus kesal
“ Aku juga wanita, wanita cantik. Aku tidak memaksa harus di jadikan istri ataupun pacar, aku hanya butuh pujian dan perhatian dari Bos, apa itu berlebihan," ucap kaila kesal.
Tangannya merapikan file-file dalam meja dan melihat jadwal Bos dingin itu kemudian.
Sebelum melakukan aktivitasnya layaknya seorang sekretaris yang dituntut berpenampilan menarik dan cantik. Kaila lagi-lagi melihat wajahnya dalam pantulan kaca yang dipajang di depannya di atas meja kerja.
“Ah malas berkaca, terus- terus tetap saja tidak ada perhatian.” Ia mendumal kesal.
Bagi seorang Leon, wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta hanyalah Jovita Hara, untuk wanita manapun jangan harap untuk memasuki pintu hatinya. Tetapi Leon sangat pengecut soal urusan hati.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing