
Hara memang tipe wanita yang setia dalam menjalani hubungan, baik sebelum ia lupa ingatan dulu saat menjalani hubungan dengan Beny. Baginya, jika ia sudah punya kekasih maka ia akan setia. Walau di masa lalu ia dapat penghianatan dari kesetiannya. Dulu ia setia dalam hubungan dengan Beny ternyata kekasihnya selingkuh dengan sahabatnya.
Saat ini juga saat ia lupa ingatan, saat ia menjadi tunangan Maxell, ia juga setia, banyak yang ingin mengajak Hara ingin hanya berteman atau sekedar bertukar nomor, tetapi Hara menolaknya.
Salah satunya Leon Wardana yang berusaha matian-matian mengejar Hara, ia ingin wanita cantik itu kembali ke sisinya. Namun, jalan yang sulit dan terjal akan Leon hadapi dalam mendapatkan hati Hara kembali. Selain Hara yang selalu menghindarinya, Piter yang selalu mengawasi ya juga . Tidak memberikan waktu sedikit saja untuk Leon bisa bicara dengan Hara.
Pertemuan mereka pertama selama Hara kembali bekerja di hotelnya hanya saat ia memeluk dalam kejadian lift, hanya itu, setelah itu Hara kembali menghindarinya bahkan lebih parah, ia bahkan lebih jarang ke datang ke hotel karena ia banyak dapat job iklan.
“Hara, aku harus bagaimana mendapatkan mu,? susahnya mendekatimu kembali,” ujar Leon, ia kembali ke ruangannya setelah mendapat kabar kalau Hara tidak masuk kerja hari ini.
Piter benar, Leon akan mengalami siksaan batin, jika meminta Hara kembali bekerja di hotelnya, karena Hara menganggap Leon hanyalah seorang bos di tempatnya bekerja dan Piter sudah memberi lebel kalau Leon orang jahat, maka itu Hara terus menghindarinya
Besok paginya, saat Hara masuk kerja, Leon mencoba mendekatinya, Leon datang lagi ke pantry saat Hara makan siang, ia duduk di samping Hara. Kebetulan Maxell melakukan video call padanya.
“Hai, lagi ngapain?” Tanya Maxell, ia baru saja melepaskan jubah dokternya.
“Siapa Mbak Hara? iya ampun ganteng bangat,” Rara ikut heboh di belakang Hara.
“Tunannganku,” ujar Hara.
Bahkan mereka tidak menyadari kalau Leon sudah duduk di samping Hara, Leon yang melihat hal itu, hanya bisa menahan perasaannya sendiri. Bram pura-pura batuk dan mata mereka bertiga menoleh ke samping ada Leon yang sedang duduk.
“Kak Axell nanti malam kita lanjut lagi iya, aku mau masuk kerja dulu,” ujar Hara tersenyum manis melambaikan tangannya ke arah layar ponsel.
“Aku duluan,” ujar Rara.
“Aku juga.” Tiara ikutan berdiri.
Tinggal Hara sendiri. Ia ingin berdiri.
“Hara, duduklah sebentar lagi,” ujar Leon.
“Maaf Pak, waktu istirahat habis.” Rara ikut kabur.
Wajah Leon mengeras tangannya terkepal kuat, melihat penolakan Hara, Bram hanya bisa diam melihat sang Bos yang hampir meledak.
__ADS_1
“Hei Kalian tunggu aku,” Hara berjalan setengah berlari.
“Mbak Hara meninggalkannya?”
“Iya”
“Mbak Hara wanita yang berani, justru karena dia bos yang menakutkan makanya kami kabur,” ujar Tiara.
Saat tiba di depan lift
Mereka semua diam, karena lift itu kembali penuh, bahkan mengantri karena waktu makan siang sudah usai, mereka diam karena dua orang petinggi Hotel ikut berdiri di depan mereka, menunggu lift khusus untuk para Bos di Hotel tersebut . Saat Hara menoleh ke samping, Leon ikut berdiri ia tidak jadi makan.
“Apa …?” Ia menoleh ke samping, mata keduanya saling bertemu, Leon menatapnya dengan tajam, Hara mengalihkan pandangan matanya dan menunduk.
‘Kenapa Bos ini mengikuti?’ Hara bersikap sungkan
Ting ….!
Lift khusus bos terbuka, tempatnya masih legah, Leon masuk.
“Kalian boleh masuk ke sini sebagian, kalau itu terlalu penuh,” ucap Leon semua diam karena ini pertama kalinya lelaki kaku itu buka mulut dan menawari karyawannya untuk ikut masuk, kalau biasanya mau desakan mau mengantri sampai mengular, ia tidak pernah menawari mereka ikut lift itu, Tiara menyikut Hara.
“Kenapa mbak Hara tidak mau ikut, mati aku pasti aku kena masalah” ucap Tiara memukul-mukul kepalanya ke tembok, karena merasa membantah perintah Bos.
“Aku sudah bilang tidak mau ikut Pak Bos itu,” ujar Hara.
“Mbak Hara dia bos kita”
"Iya, justru itu aku gak mau terlibat apapun dengannya," bidik Hara.
Ting …!
Lift terbuka lagi, mereka naik, tapi untungnya tidak terlalu penuh.
*
Jovita Hara bekerja sampai sore, karena akan berganti shift , setelah sore tiba waktunya untuk pulang. Hara sudah berganti pakaian, saat ia menutup loker dan menggantung seragam miliknya, ia kaget karena ada Leon yang berdiri bersandar di lemari besi tangan melipat tangan di dada seperti ciri khasnya, padahal Leon berdiri di loker para pegawai wanita.
“Apa bapak juga mengikuti ku sampai ke sini?”
__ADS_1
“Iya”
“Aku sudah bilang, kejadian di lift saat itu, aku meminta maaf, aku sudah punya tunangan,” ucap Hara, maksudnya agar Leon jangan mengganggunya lagi, maka itu ia langung bicara pada intinya.
‘Aku yang jadi tuanganmu Hara, akan aku pastikan itu’ Leon membatin.
“Hara, mari kita bicara sebentar aku akan menunjukkan sesuatu padamu,” ujar Leon.
“Maaf Pak, saya tidak bisa. Omku sudah menungguku.” Hara menjauh dan meninggalkan Leon.
“Iya ampun... ini membuatku gila apa aku harus menyerah ….? Kenapa begitu susah mendapatkan hatimu kembali Hara,? tidak apa-apa kamu menghindariku. Setidaknya kamu ingat aku. Jangan melihatku seperti penjahat Kelamin …,” ujar Leon marah. Ia meninju loker besi itu beberapa kali. Ia tidak suka melihat tatapan mata Hara yang melihatnya dengan tatapan jijik, seolah -olah Leon seorang lelaki mata keranjang.
“Aku yang tuanganmu Hara, aku, aku!” Teriak Leon merasa sangat prestasi, Kini ia benar- benar mendapat ujian berat karena Hara semakin menjauh dan melupakan dirinya, sementara Hara bahagia menjalani hubungan jarak jauh dengan Maxell. Hara tidak bisa melupakan Maxell karena dokter muda itu tiap hari menelepon, bahkan bisa sampai tiga kali sehari menelepon Hara, sudah seperti makan obat.
Leon berdiri di ruangannya malam itu, menjadikan minuman jadi pelariannya.
“Apa kamu berpikir hanya kamu yang bisa bahagia Hara, aku juga berhak “ Leon marah
Saat ia menoleh kebawah ke halaman Hotel. Piter terlihat bersandar di samping mobilnya dengan santai menghembuskan asap rokoknya ke udara ia lagi menunggu Hara pulang.
“Jadi kalian berdua ingin membalasku, lakukan apa yang ingin kalian lakukan aku sudah kebal dengan itu,” gumam Leon
Ternyata Piter menatap ke arahnya dengan tatapan sinis, ia tahu Leon melihat ke arah mereka.
‘Sudah Pak Leon, kamu menyerah saja, aku yakin kamu tidak akan mempu untuk menyakinkan Hara, karena aku tahu siapa kamu. Kamu tidak bisa bagaimana cara memenangkan hati seorang perempuan . Karena kamu hanya tau, bagaimana memegang senjata dan bagaimana membangun bisnis’ Piter tertawa sinis dan meninggalkan hotel.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)