
Malam itu, seseorang memberitahukan kalau Jovita ada di Surabaya, Leon langsung terbang ke sana malam itu juga.
Rikko menelepon, untuk izin terbang ke Surabaya dan diberi izin, Leon dan Rikko rela terbang larut malam dan mendarat di sebuah lapangan tidak jauh dari rumah yang tadinya ingin tinggali Jovita.
Namun, saat Leon tiba ia harus menelan rasa kecewa lagi, di rumah tidak yang dimaksud si pengirim pesan, tidak ada jejak penghuninya dan semua lampu mati.
“Sial sepertinya seseorang mengerjai kita.” Leon menghempaskan kepalan tangannya ke udara ia marah.
Ia tidak tahu yang memberitahukan Jovita ada di Surabaya adalah Piter, Lelaki asal NTT itu, hanya ingin nona muda itu selamat, karena ia sadar tidak bisa menjaganya.
“Berikan nomornya! Saya akan menghancurkan orang ini,” ujar Leon marah, saat ia menelepon tidak Aktif lagi.
"Keparat sialan!"
Tidak menyerah satu malam itu, mereka memutuskan mencari di setiap penginapan di Surabaya. Namun hasilnya nihil.
Mencari ke beberapa tempat, tetapi tidak menemukannya Leon kembali ke Jakarta, Waktu cepat berlalu.
*
Satu minggu kemudian.
Leon benar-benar kehilangan jejak Jovita, baru kali ini, ia merasa semua anak buahnya tidak berguna, karena tidak bisa menemukan Jovita atau Jovita yang licin seperti belut hingga susah mendapatkannya.
Padahal ia sudah mengerakkan semua anak buahnya ke berbagai kota . Namun, tidak menemukan.
Leon merasa sangat menyesal karena pertengkaran mereka malam itu . Ia satu minggu terpaksa mengkonsumsi obat tidur, jika ingin tidur.
“Apa kamu masih hidup Jovita? Kamu di mana?” Tanya Leon ia ia melilitkan handuk di pinggangnya, berdiri di kamar Jovita, sengaja ia tidur di sana untuk mengingatkan dirinya, kalau wanita cantik, itu pernah akur dengannya.
Sabrina merasa sangat kesal.
Ketiga dayang-dayang Leon merasa di anggur kan, selama Jovita melarikan diri karena Leon tidak ada waktu datang ke kamar mereka lagi. , jangankan untuk ketiga wanita itu, untuk dirinya sendiri ia tidak punya waktu karena mencari Jovita.
“Saya berharap kamu baik-baik saja,”ucap Leon merasa sangat kehilangan saat Jovita tidak ada.
Bahkan tidurpun Leon memilih kamar Jovita, kenangan saat Jovita baru pulang dari rumah sakit dan ia yang mengurusnya sampai sembuh, kenangan itu melintas di benaknya.
Sementara Jovita.
Satu minggu saat meninggalkan surabaya dan tinggal di kota gudeg Yogjakarta, akhir Jovita mulai kehabisan uang.
Ia menempati sebuah indekost sederhana di kota, selama satu minggu tinggal di kota pelajar itu, ia jarang keluar rumah , keluar hanya untuk beli makan.
Ini pertama kalinya untuk Jovita menjalani hidup susah, untuk mengirit pengeluaran, ia memilih makan dua kali sehari.
Jovita tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena ia takut menggunakan indentitas palsu yang diberikan Piter padanya. Melamar ke sana kemari, ia hanya mendapatkan penolakan belum lagi pakaian yang ia gunakan. Membuatnya sering menerima tatapan aneh dari orang-orang.
"Aku harus melakukan sesuatu sebelum aku mati kelaparan," ujarnya bertekad.
Ia membeli sebuah gitar bekas, karena saat malam tiba, ia melihat banyak seniman unjuk gigi di sebuah pendopo tidak jauh dari indekosnya.
Jovita bisa main gitar dan bisa bernyanyi juga, hingga akhirnya ia memberanikan diri, malam itu ia mencoba, tetapi melihat
__ADS_1
Jovita mengamen pertama kalinya.
Penampilannya, orang-orang hanya melihatnya dari jauh, jangankan memberi uang tips, mendekat saja mereka seperti enggan.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku harus ganti baju"
Melihat keuangan yang mulai menipis, ia memutuskan Mengganti pakainya, kembali normal.
Jovita mengamen
Saat malam hari, di sebuah pendopo yang saat itu sedang ramai, ia meminta izin lagi, pada pemilik restoran, melihat parasnya yang sangat cantik. Pemilik restoran memberinya tempat di di halaman pendopo bergabung dengan seniman lainnya yang rata-rata pengamen jalanan yang bersuara emas .
Mereka lebih pantas disebut penyanyi profesional daripada pengamen, karena suara mereka sangat bagus, hanya nasip yang membedakan dengan penyanyi yang sering wara-wiri di televisi.
Awalnya ia ingin menolak karena ia takut ada mengenalnya. Tetapi tuntutan perut tidak bisa di tolak, akhirnya ia mau dan pengamen yang lain menerimanya dengan baik.
Malam pertama ia tampil bernyanyi.
Semuanya masih normal. Namun di hari keempat semuanya jadi berubah drastis yang datang membludaknya terlihat seperti sebuah pertunjukan konser, karena malam itu, kebetulan malam minggu.
Saat ia tampil dengan beberapa musisi jalanan lainya, bahkan banyak camera ponsel yang mengarah padanya.
Tampil sebagai penyanyi jalanan.
‘Mati aku ... semua akan melihatku di sini, Leon akan datang ke sini, bahkan pembunuh itu, akan datang ke sini, jika mereka terus menerus mengambil foto-fotku' Jovita membatin.
*
Benar saja, saat Leon menghadiri sebuah pesta di hotel.
Rikko mendekati Leon.
“Bos saya mendapatkan posisi non Jovita,” bisik Rikko saat Leon sedang mengobrol dengan seorang rekan bisnisnya.
“Dimana?” Tanya Leon bersemangat ia melonggarkan dasi kupu-kupu yang ia kenakan. “Mari kita keluar.” Leon mengajak Rikko keluar.
“Ini Bos, dia mengamen di Jogja”
“Mengamen? Jogja?”
“Iya Bos”
“Siapkan helikopter kita ke sana”
“Tapi Non Salsa masi di-”
“Minta supir menjemputnya”
Dari tengah acara itu langsung dijemput di bawa terbang ke Jogja, Leon bahkan meninggalkan Salsa begitu saja di dalam pesta.
Karena mendengarnya Jovita ada di Jogjakarta.
__ADS_1
“Minta Pada Santo untuk menyiapkan gedung atap untuk landasan mendarat”
“Baik Bos”
Seperti yang di ketahui , tempat hiburan Leon bertebaran di beberapa kota besar, salah satunya di kota gudeg ini.
Leon rela terbang dari Jakarta malam- malam dan tiba di Jogja saat pukul 02: 0O, ia menganti jas yang ia pakai dengan sebuah jaket.
“Bos, sebaiknya gunakan ini.” Rikko memberikan topi kacamata dan kumis.
“Baiklah.” Lelaki yang jarang tersenyum ini, tidak membantah ia memakai penyamaran juga.
Saat tiba di bar milik Leon, salah seorang anak buah Leon yang melihat Jovita mengamen di pendopo mendatangi Leon.
“Iya Bos, malam minggu dia masih manggung dengan musisi yang lain”
“Tetapi tadi ... dia tidak manggung lagi”
“Tunjukan tempatnya”
“Ini sudah pa-”
Leon langsung menatap tajam pada anak buahnya saat membantah.
“Oh. baik-baik Bos, mari saya antar.” Anak buah bertubuh kurus me ngantar Leon ke tempat di mana Jovita mengamen bersama musisi jalanan lainya.
“Ini Bos, tempatnya kalau sudah malam akan tutup.”
“Baiklah apa kamu tahu di mana dia tinggal?”
“Saya pernah melihatnya keluar dari gang Teratai di sebelah sana Pak, di sana memang banyak kos-kosan untuk mahasiswa.” Ia menunjuk sebuh gang tidak jauh dari tempat Jovita mengamen.
“Baiklah, kamu boleh pulang tinggalkan saya sendiri” Lelaki bertubuh jangkung itu keluar dari mobil.
“Saya berharap menemukanmu Jovita Hara ....! kali ini, demi kebaikanmu dua minggu mencari mu kesana- kemari waktu yang melelahkan untukku,’ ujar Leon memarkirkan mobilnya di samping gang di tunjuk anak buahnya.
Ia tidak bisa masuk karena indekosnya diperhususkan untuk anak perempuan.
Leon memilih menunggu di pinggir jalan di dalam mobil, ia yakin ia tidak akan bisa tidur kalau ia tidak meminum obat tidur.
Setelah Jovita melarikan diri dari istananya, ia sudah terbiasa dengan obat tidur, tetapi tujuannya ingin membawa pulang bukan hanya semata ingin jadi jimat tidur, tetapi ingin menyelamatkan nyawanya dari orang-orang yang mengincarnya.
Leon bertugas jadi hansip di gang itu, dari malam sampai pagi, matanya terbuka, ia mengecek pekerjaan lewat Ipad di tangannya. Ia menjaga gang arah indekos putri sepanjang malam, seolah-olah ia sudah yakin, kalau Jovita ada di sana.
Bersambung ..
KAKAK JANGAN LUPA BANTUANNYA IYA UNTUK
BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 BAB TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)