
Melihat Jovita sakit, Leon terlihat sangat khawatir, di dalam mobil Leon hanya bisa gelisah melihat Jovita yang sedang sakit.
Ia mengusap-usap kepalan tangannya dan matanya tidak berhenti melirik kearah Jovita. Wanita berambut panjang itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok, matanya tertutup wajahnya terlihat sangat pucat. Ia beberapa kali ingin memegang tangan Jovita tetapi ia ragu melakukanya.
“Iwan arahkan mobilnya ke rumah sakit saja”
“Rikko hubungi dokter Billy, kita akan bawa Non Hara ke rumah sakit.”
Mendengar hal itu Jovita bangun, ia menolak.
“Tidak usah Pak Leon, kita pulang ke rumah saja, saya hanya butuh istirahat.”
Saat ia duduk menegak, lagi-lagi darah di hidungnya keluar.
Wajah Leon kembali panik.
“Rikko berikan tissu”
“Hanya mimisan biasa, tidak apa-apa”
Ia menegakkan kepalanya ke belakang.
“Non Hara jangan di tegak ke belakang dipijat saja batang hidungnya dan saraf kepalanya,” ujar Rikko mengingatkan.
Tidak berapa lama mobil berhenti di rumah Leon.
“terimakasih Pak Leon atas makan malamnya,” ujar Jovita ingin keluar dari mobil.
Leon ingin memegang tangannya , tetapi ia menolak.
Meninggalkan ketiga lelaki tampan itu yang masih menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Bos, dokter Billy bertanya apa ia datang ke sini?”
“Ya, suruh saja saya khawatir dengan keadaannya”
Jovita berjalan sempoyong menuju kamarnya.
“Bi ina yang melihat Jovita jalan kayak orang mabuk berlari membantunya ke ke kamar.
“Ada apa Hara?”
“Bi … aku mau mati Bi,” bisik Jovita pada mantan pengasuhnya.
“Apa penyakitmu kambuh lagi?”
“Iya”
“Aduh Nduk, Mbok udah bilang … jangan banyak bergadang malam-malam,” bisik nya lagi.
Membantu Jovita tidur di ranjang dan wanita paru baya itu bergegas ke dapur merebus obat-obatan herbal untuk Jovita.
Perhatian dan kedekatan keduanya membuat Bu Atin sempat curiga, karena terkadang Bi Ina sering lupa menyebut Jovita sebagai ‘nduk’, sementara peraturan di rumah Leon semua memangil Jovita dengan sebutan Non.
Bi Ina juga memperlakukan Jovita layaknya seorang anak. ia sering lupa, jika Jovita mengingatkannya baru iya ingat.
“Ibu masak apa itu?” Tiba-tiba Bi Atin datang ke dapur.
“Ini Bu, Non Hara lagi kurang sehat jadi … aku buatkan obat herbal”
__ADS_1
“Non Hara sakit apa?”
Wajah Bi atin sangat khawatir, ia bergegas ke kamar Jovita saat ia tiba, ternyata Leon ada di depan pintu kamar Jovita mondar-mandir bagai gangsing rusak.
“Pak Leon?”
“Bi ... Aaa … bagaimana keadaan Hara dia sakit apa Bi, saya ajak ke dokter, dia tidak mau “
“Mari masuk saja,” Bu Atin meminta Leon masuk.
Untuk pertama kalinya pada Leon merasa segan masuk ke kamar Jovita, biasanya ia selalu bersikap bodoh amat, tidak perlu sopan santun pada Jovita. Tetapi kali ini, sejak Jovita berubah ia juga berubah.
'Dulu saat wanita cantik itu mengejarnya dan rela menjatuhkan diri padanya ia acuh dan saat ia menjauh ia merasa takut'
“Bibi saja yang membujuknya diperiksa dokter, dokter Billy sudah datang”
“Baiklah, biar Bibi coba,” Bu Atin mengedikka pundak, saat melihat Leon tiba-tiba bersikap sungkan pada Hara.
Bi Atin mendekati ranjang Hara melihat wanita cantik itu tidur menyelimuti seluruh wajahnya.
“Non apa perlu kita ke dokter?”
“Tidak usah Bi, saya memang selalu seperti itu kalau kurang istirahat dan banyak pikiran, tadi si Mbok eh ... Bibi Ina.” Hara sering sekali meralat panggilannya pada Bi Ina karena di rumahnya ia selalu memanggil wanita itu dengan panggilan mbok.
‘Aku berharap Bi atin tidak curiga karena aku selalu menyebut nama”
“Pak Leon sudah memanggil dokter Billy ke rumah” Bu Atin membujuk.
“Tidak usah Bi,istirahat sebentar sudah baikan kok. Aku biasa seperti itu kalau mau datang penyakit bulanan ditambah kurang istirahat"
“Tapi kamu pucat Nak”
"Pak Leon sudah membawa dr. Billy hanya diperiksa sebentar tidak sakit." Bi Atin ingin sekali Jovita diperiksa dokter, wanita itu ingin memastikan keadaan Jovita. Tetapi sebesar itu juga Jovita keinginan Jovita menolak diperiksa, ia juga takut kalau apa yang dikatakan Bu Atin terjadi padanya.
'Aku tidak ingin hamil, aku ingin menangkap mereka, aku sudah dekat dengan pelaku pembunuh keluargaku, aku tidak ingin ada hal-hal yang menghambat pekerjaanku' Jovita membatin.
"Non, ada Pak Leon menunggu di luar"
Mendengar Leon ada di luar menunggu, Ia memaksakan diri bangun.
"Aku harus menemuinya"
"Non, kamu belum kuat berdiri"
"Tidak apa-apa Bi ada hal yang ingin aku bicarakan dengan pak Leon"
Walau berjalan belum stabil Ia menemui Leon.
"Hara ...." Leon ingin memegang tangannya.
" Tidak usah Pak, saya ingin membicarakan sesuatu sama bapak, bagaimana-"
"Baiklah besok malam kita akan makan malam lagi," potong Leon.
"Saya hanya ingin bicara sebentar Pak"
"Baik kita lakukan saat makan malam besok"
'Aku tidak punya banyak waktu menunggu sampai besok malam' Jovita bicara dalam hati.
__ADS_1
Namun, tidak ingin Leon curiga ia ingin menuntaskan semuanya, Jovita mengalami gejolak dalam hati saat Piter mengabari kalau ia mendapatkan sebuah petunjuk pemilik tato kepala harimau.
"Baik kita makan malam"
"Kita akan lakukan di sini"
" Baik Pak"
"Kalau begitu izinkan dokter Billy memeriksa mu"
" Ee .... begini Pak Leon, saya memang sering mimisan kalau kurang tidur, apa lagi kalau datang bulan jadi tidak apa-apa"
"Kamu yakin?"
*
Makan malam kedua yang di rencanakan Leon, bertempat di lantai dua, ia meminta Bu Atin mendekor sebuah meja yang cantik.
Ia datang mengenakan minidress berwarna hitam.
"Selamat datang nona silahkan duduk"
Leon menarik kursi mempersilahkan Jovita duduk.
Lagi- lagi wanita cantik itu hanya diam, ia kehilangan keceriaannya. Ia mau makan malam dengan Leon karena ia ada kepentingan. Padahal Leon justru kebalikannya Lelaki itu ingin memperbaiki hubungan mereka berdua.
"Paka Leon terimakasihnya untuk makan malamnya, saya punya dua permintaan, saya harap bapak tidak marah"
" Baiklah katakan," ujar Leon menyeruput jus jeruk. Ia terpaksa menggantinya dengan jus, karena Jovita menolak minum anggur.
"Pak Leon apa benar ' Star Hotel' milik Bapak. Jadi julukan pemilik bintang itu adalah Bapak?"
"Apa?"
"Saya hanya ingin bertanya Pak"
Wajah Leon langsung berubah saat Jovita menyebut Pemilik Bintang.
"Darimana kamu tahu hal itu?"
'Jadi kamu orang yang disebutkan lelaki gondrong itu. Kamu yang menghabisi keluargaku? Lalu kenapa kamu berpura- pura?'
Jovita merasa kepanasan, tetapi ia mencoba bersikap tenang, ia tidak mau rencana ketahuan.
"Hara, saya tidak ingin bicara hal lain dulu, saya hanya ingin tahu keadaan kamu. Bagaimana kondisimu. Ini untukmu," Memberikan setangkai bunga , Leon berusaha keras jadi lelaki yang romantis malam itu, walau terlihat sangat kaku, tetapi usaha kerasnya patuh di hargai. Namun Jovita Hara justru kebalikannya ia menanggapi perhatian Leon dengan sikap dingin.
"Saya sudah baik kan Pak Leon, terimakasih untuk perhatian bapak. Tetapi saya punya satu pertanyaan lagi kan?"
Leon terdiam, wajah Jovita semakin suram setelah, ia mengetahui kalau Leon pemilik bintang orang yang disebutkan gondrong.
'Bagaimana aku membuktikannya dan keluar dari rumah Leon?'
Bersambung..
Jangan lupa Vote dan like iya Kakak.
__ADS_1