
Beberapa Lama kemudian, semuanya akhirnya berubah, Clara mengikuti apa yang di katakan Zidan. Saat suaminya memintanya bekerja ia benar- benar melakukannya, bahkan sikapnya berubah. Ia tidak mau meminta perhatian Zidan lagi.
Ia merasa lelah mengemis cinta pada suaminya, ia merasa lelah selama puluhan tahun mengantungkan hidupnya pada Zidan, pada akhirnya rasa jenuh dan lelah itu akhirnya datang juga.
‘Aku masih cantik masih muda, kenapa aku tidak menikmati sisa hidupku, hidup hanya sekali dan matipun hanya sekali’ ucap Clara menatap dirinya di pantulan kaca, lalu ia meraih kunci mobil dan bergegas keluar.
Zidan terdiam di meja makan, Clara pergi tanpa pamit padanya, selama ini wanita cantik itu selalu meminta perhatian darinya, tetapi pagi itu Clara bahkan tidak menyapa suaminya, padahal ia sengaja berangkat siang agar bisa bicara dengan Clara, ia merasa bersalah, setelah pertengkaran mereka beberapa minggu lalu Clara jadi berubah, sikapnya semakin tidak perduli pada Zidan, ditambah setelah ibunya meninggal beberapa hari lalu di Bandung.
Zidan keluar ia ingin bicara dengan Clara, tetapi wanita berparas cantik itu sudah pergi mengendarai mobilnya.
Benar kata orang, dalam rumah tangga suami adalah nahkoda sebuah kapal, jika suami salah arah dan lupa daratan, maka kapal rumah tangganya akan karam, saat Ken berselingkuh maka pertahan rumah tangganya mulai goyah, Rebeka mulai menyerah ia lelah bertahan.
Zidan juga, saat ia lebih mementingkan pekerjaan dari pada rumah tangganya, Clara merasa lelah merasa tidak dianggap, ia juga memilih berubah haluan, ia ingin mencari ke bahagian dengan cara sendiri.
Begitu juga dengan Toni selalu menuntut Kikan selalu tampil cantik, ia tidak tahu tubuh wanita yang sudah melahirkan anak tidak sama lagi seperti sebelum menikah.
Kikan juga merasa tertekan, karena selalu diet demi menjaga penampilannya, padahal ia ingin memakan makan kesukaannya, tetapi ia selalu menahan diri karena Toni menuntutnya tetap cantik. Ia ingin di terima dan di cintai ada apanya seperti saat mereka baru menikah.
Hara, Kikan Rebeka dan Clara, akhirnya resmi bekerja, ia menjadi guru yoga, gedung olah raga di bangunan ibu Hara, Kikan, Rebeka dan Clara juga sebagai pengurus dan pelatih yoga juga mereka menjadi empat sahabat.
Hara dan Leon punya kesibukan masing-masing, Hara berpikir Leon tidak akan mengurangi rasa cemburunya karena umur semakin menua, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Di hari pertama Hara bekerja belum sore, Leon sudah menunggu dan menjemputnya untuk pulang bersama, saat hari pertama Leon bersikap seperti itu, Hara masih maklum, ia berpikir kalau Leon hanya ingin memastikan pekerjaan mereka. Namun, ini sudah hari kelima bekerja di pusat kebugaran tersebut. Zidan, Toni, Leon Ken datang bersamaan.
“Apa-apaan mereka ini?” tanya Clara.
__ADS_1
Kali ini mereka bersikap berlebihan, mereka menganti securiti lelaki yang menjaga gedung menjadi securiti wanita, juga mengganti OB menjadi seorang perempuan, seakan-seakan ingin menghilangkan yang namanya laki-laki dari lingkungan tempat mereka bekerja.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya mereka berempat saat Leon, Zidan, Ken, Toni datang untuk menjemput, bahkan kali ini bahkan mereka berempat datang satu jam lebih cepat dari biasanya. Kalau biasanya tiba jam lima sore, maka kali ini tiba, pukul 16.00 WIB.
“Aku hanya ingin kamu nyaman sayang,” ujar Leon degan gaya santai.
“Kami juga ingin melihat kalian senam,” ujar Ken si tukang selingkuh, ia melirik istrinya yang sedang acuh.
“Nyaman bagaimana?”
“Ya, tidak ada laki-laki saat kamu melakukan gerakan –gerakan erotis dengan pakaian yang membentuk tubuh seperti itu,” ujar Leon.
“Haaa? Pakaian senam, iya harus begini, masa pakai daster,” ucap Hara menarik pakaian olah raga yang ia kenakan, celana legging yang berbahan elastis, celana yang bergaya slim fit atau pakaian yang mengikuti lekuk tubuh Hara.
“Iya karena itulah, aku khawatir Hara, dengan kamu memperlihatkan tubuhmu yang indah itu, karena itulah aku tidak tenang saat bekerja, pikiranku ke kamu terus,” ujar Leon tanpa sadar lidahnya berucap jujur.
“Bukan, bukan cemburu, kami para suami khwatir, ada orang yang ingin berbuat jahat pada kalian,” ucap Leon melirik Zidan dan Toni.
“Iya itu benar,” ucap Ken, tetapi Rebeka sudah mulai malas melihat tingkah suaminya yang tukang selingkuh, bukan hanya Rebeka Clara juga bersikap cuek pada Zidan.
Mereka hanya menggeleng dan meninggalkan Leon dan Zidan yang diminta untuk berfoto bersama, oleh wanita-wanita yang baru selesai melakukan yoga bersamanya.
“Bu, Jovita, pinjam bojonya, untuk foto, iya!” teriak seorang wanita paruh baya saat mengajak Leon beselfie.
“Bu Clara aku pinjam suami tampanmu!” Teriak wanita lagi.
__ADS_1
“Iya Bu, silahkan dibawa juga tidak apa-apa. Bu,” ujar Hara, bergurau. Ia sibuk dengan beberapa pegawainya untuk menyusun matras yang habis mereka gunakan.
“Benar nih … Ibu mau tak jadikan pajangan di kamar, lelaki tampan seperti suamimu,” canda ibu-ibu yang lain, mereka kebanyakan ibu-iku kelas atas atau istri para pejabat yang sering merasa kesepian, karena tidak jarang dari mereka menjadikan gedung olah raga, jadi tempat saling curhat.
Bahkan satu kali Hara dan ketiga rekannya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar curhat salah satu ibu anggota membernya.
Wanita itu merasa kesepian, karena suami yang bekerja di instansi pemerintah, suaminya seorang jaksa, wanita itu bercerita, suaminya tidak lagi menyentuhnya, mencari daun muda di luar. Wanita berujar, ia juga membayar lelaki muda untuk menyenangkannya, sebagai bentuk pembalasan pada suaminya yang sudah memakainya selama puluhan tahun, tetapi dirinya di perlakukan bagai barang, saat sudah tua dan tidak bertenaga lagi, suaminya mencari barang yang baru.
Saat mendengar cerita wanita itu saat itu, mereka ber-empat saling melihat, bertanya apakah semua lelaki seperti itu, apakah Para suami mereka suatu saat seperti itu?
“Tidak perlu menunggu lama merasakan waktu lama untuk merasakan waktu yang lama, aku sudah merasakannya,” ujar Rebeka.
“Aku rasa juga Zidan seperti itu,” balas Clara.
Kikan dan Clara hanya bisa menghela napas, gedung olah raga milik ibu Hara jadi ajang tempat curhat dan saling berbagi suka duka untuk mereka berempat.
Hara masih berdiri melihat para ibu-ibu yang bergantian mengajak Leon berfoto. Hara tidak marah, justru Hara merasa Leon mengalami perubahan lebih banyak tersenyum.
Tetapi tidak bisa mengubah sikap cemburunya yang berlebihan padanya. Tetapi Clara, Rebeka dan Kikan bersikap cuek saat suami-suami tampan mereka diajak berfoto.
‘Apakah perasaan suami yang sudah puluhan tahun menikah akan berubah pada istrinya?’ Clara membatin.
‘Jika suami selingkuh, Bisakah istri balas selingkuh?’ Rebeka membatin.
Bersambung ….
__ADS_1
Bantu like Dan vote iya kakak.