
Saat Leon berbaring di rumah sakit, Hara tidak tahu. Ia masih tinggal di rumah keluarganya, ia hanya banyak diam tidak banyak bicara, hanya duduk di taman dan memandang kosong kearah bunga-bunga di taman.
Jauh dalam hati Hara ia sedih karena Leon tidak menjemputnya, ia tidak tahu kalau Leon terbaring di rumah sakit, keluarganya tidak ada yang memberitahukannya sesuai permintaan Leon. Semua keluarganya tahu Leon sakit, kecuali Hara, Piter dan Hilda bahkan sudah menjenguk setelah dioperasi.
Melihat Hara hanya duduk diam melamun, semua keluarganya ikut khawatir.
“Tidak boleh seperti ini, aku harus melakukan sesuatu” ucap Piter.
“Apa yang kamu ingin kamu lakukan?” Viky ikut berdiri, matanya mengikuti pandangan mata Piter melihat Hara yang termenung sendiri.
"Menjelaskan padanya."
“Aku akan ke rumah lama Hara, mencari barang-barang lama, aku yakin Ibu Hara masih menyimpan foto-foto masa kecil Hara dengan Toni, kita akan tunjukan mereka berdua tidak dijodohkan, kalau kita bicara tanpa bukti takutnya Hara tidak percaya, "ujar Piter.
“Sudahlah, toh juga Hara juga sudah menikah, ngapain kita mengusik lagi?" Apa kamu akan memisahkan Hara dan Leon lalu menikahkannya dengan Toni?”
“Kalau Toni mau dan Hara mau, apa salahnya? karena wasiat orang yang sudah meninggal harus kita lakukan walau itu sangat sulit,” ujar Vikky.
“Itu tidak ada, aku mendengar dari ibu Hara, Toni hanya di minta untuk menjaga Hara sebagai adik,” ucap Piter terpaksa berbohong, ia berbohong demi kebaikan Hara dan Leon dan Toni juga.
‘Biarlah aku yang mendapat hukumannya jika aku bersalah Pak, Bu. Aku tidak mungkin memisahkan dua hati yang saling mencintai’Ucap Piter dala hati.
“Apa kamu yakin?” Tanya Vikky.
“Iya, aku yakin, masalahnya rumah itu sudah dijual, mungkin barang-barang keluarga Hara sudah dibuang.
“Tapi, mungkin tidak, kerena ayah Hara menyimpan ruang bawah tanah, kan, dan kuncinya Bibi yang pegang,” ucap Viky.
“Iya ada aku pegang, saat itu kami berpesan pada orang yang membeli rumah itu agar tidak membuka ruang bawah tanah,” ucap Bi Ina.
.
Memberikan sebuah kunci besi sebagai kunci ruang bawah tanah, penyimpanan barang-barang keluarga Hara,
Viky dan Piter mendatangi rumah lama Hara, untungnya keluarga yang membeli rumah Hara baik, tidak menyentuh barang-barang keluarga Hara dan tidak pernah membuka ruang bawah tanah itu.
‘Aku berharap Vikky tidak menemukan bukti’
“Aku hany ingin melakukan satu hal yang membantu kakak saya, Bang,” ucap Vikky.
__ADS_1
Lelaki yang selalu terlihat nercis itu berpikir menyelesaikan kesalahpahaman antara Hara dan Leon, bisa membantu mengurangi beban pikiran Hara.
Tetapi saat di ruang bawah tanah di gudang penyimpanan bekas rumah keluarga Hara. Piter sudah hampir mati menahan bau pengap dan menahan debu di ruangan itu, tetapi tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka berdua sampai batuk-batuk saat keluar, karena lantai bawah tanah itu tidak pernah di buka dan tidak pernah di bersihkan, sudah berubah menjadi ruangan yang mengerikan.
Setelah merapikan barang-barang itu kembali dan mengunci ruangan dengan sikap buru-buru . mereka berdua pamit dengan pakaian di penuhi debu, keluar dari sana.
Viky juga demikian, ia juga batuk parah, tetapi di balik kerja keras mencari barang itu tidak menghasilkan.
“Pekerjaan yang sia-sia, aku ingin pingsan di dalam, ruangan itu tampak mengerikan karena tidak pernah di buka, suatu saat nanti kita akan membawa barang-barang itu ke rumah kita dan membuang barang-barang yang tidak dipakai, kasihan yang punya rumah karena rumah mereka tempat para hantu,” ucap Viky.
Piter menatap Viky dengan tiba-tiba.
“Hantu apaan?”
“Kamu tidak melihat kedua keponakanku di sana bermain tadi?”
“Seriusan Lu?” tanya Piter bulu kuduknya merinding.
Tidak bisa dipungkiri saat di dalam ruangan yang gelap itu ia juga merasakan bulu tangannya beberapa kali berdiri dan beberapa kaki merasakan hawa dingin melintas di depannya.
Karena kata orang mahluk kasat mata suka di tempat yang gelap.
“Iya” ucap Viky dengan santai.
“Gila, bulu kudukku merinding jadinya.”
Piter mengusap-usap tangannya dan melirik kaca, dan melihat kearah belakang, saat di lihat tidak ada apa-apa tetapi ia merasa seakan-akan adanya mengikuti mobil mereka. Piter juga mencium bau parfum yang biasa di pakai ayah Hara, ia tahu hal itu karena ia minta beberapa kali membeli.
“Maafkan aku Bu, Pak karena saat kejadian aku tidak ada melindungi kalian semua, tetapi jangan khawatir, aku akan melindungi Hara, putri kesayangan kalian,”ucap Piter dalam hatinya.
“Bicara sama siapa?” Tanya Vikky.
“Sama kakakmu, aku merasa mengikuti kita.”
Saat ingin buru-buru pulang, ia mencari ponselnya tapi gilanya benda berwarna hitam itu ketinggalan di ruang bawah tanah saat di jadikan senter tadi.
“Oh, gila” ucap Piter panik, ia memukul-mukul setir mobilnya, biasanya ia tidak pernah takut, tetapi kali ini ia merasakan kalau majikannya sekarang ada bersama mereka seakan-akan memberitahukan pada mereka apa yang di cari.
“Apa?” tanya Viky ikut panik, ia menghentikan tangannya yang dari tadi membersihkan kepalanya yang banyak debu.
__ADS_1
“Ponselku ketinggalan di dalam.”
“Ah gila, lu saja sendiri sana,” ucap viky kesal.
“Sebagai mantan tentara biasanya ia tidak pernah takut, tetapi kali ini karena merasa bersalah, Piter merasa takut.
“Tumben takut, biasanya juga, kagak,”protes Vikky merasa keberatan lagi balik ke rumah itu.
“Aku merasa dari Pak Iwan ada bersama kita,” ucap Piter.
Karena sama-sama takut kembali ke gudang itu Piter memutuskan meminta senter sama yang punya rumah, karena mereka juga datang saat mangrib.
“Di bantu penghuni rumah, Piter mengambil ponselnya saat di cari tidak menemukanya, tetapi saat menyenter ke bawah tumpukan buku, ponselnya ada, tetapi anehnya, ada kunci di samping ponsel, ia menyambar bersama kunci itu dan keluar, ia bahkan tidak berani melihat kanan- kiri. Setelah mendapatkannya ia keluar buru-buru.
“Tidak apa-apa mereka baik kok,” ucap wanita tua itu dengan senyum.
“A-apa maksud, Ibu?” tanya Vikky penasaran.
“Sini duduk dulu, kita nge-teh dulu,” ucap wanita itu meminta asisten rumah tangga membuat teh.
Orang yang membeli rumah keluarga Hara saat itu, sepasang suami istri yang sudah tua, suaminya seorang pensiunan hakim.
“Apa ibu pernah melihat mereka?” tanya Viky dengan hati-hati.
Lalu ia tertawa ramah.” Cucu saya kalau datang kesini sering diajak main sama anak kembar itu.”
Mendengar itu mereka berdua saling menatap.
“Apa Ibu tidak takut?”
“Untuk apa takut? mereka punya dunia sendiri, kalau kita tidak menganggu mereka , mereka juga tidak menganggu kita, wajahmu mirip dengan abang mu,” ucap wanita tua itu pada Viky, tiba-tiba saja Viky menitikkan air mata, ia juga merasa rindu pada keluarganya sama seperti Hara.
“Mereka berdua orang yang aktif, ruangan bawah tanah itu tempat Favorit untuk main petak umpat.
“Ya, dulu mereka sering melakukan itu dengan kakak perempuannya,” balas Viky masih menundukkan kepala menekan jari-jari tangannya.
“Pulanglah, biarkan putrinya memutuskan sendiri yang terbaik untuk hidupnya, kalian perlu mendukung katanya,” ucap orang tua itu dengan santai seakan-akan dia bicara dengan hantu orang tua Hara.
Sementara di tempat lain Toni sama-sama diam, mereka berdua sama-sama memikirkan masa lalu hari di mana saat itu Leon masih anak anak.
__ADS_1
Bersambung….