
“Apa-apain ini. Apa Damian mengajaknya berkencan?” Iwan melihat postingan-postingan Damian di laman sosial medianya.
“Gak biasanya ni orang, posting kegiatanya di dunia maya,” ujar Iwan.
“Ah, si keparat ini! Apa belum cukup menghancurkan hidup bos karena perbuatanya dulu. Apa dia harus melakukannya lagi?” Rikko melihat kesal.
Toni hanya diam saja ia kekhwatiran dengan keselamatan Jovita.
“Aku punya virasat buruk dengannya, bilanggin Bos aku mengawasinya,” ujar Toni menghidupkan motornya dan pergi menyusul Jovita dan Damian.
Toni mengawasi Jovita dan Damian.
Siang itu di bar milik Leon.
Akhirnya lelaki yang patah hati itu bangun, saat sudah siang, Leon menegak air miniral di botol sampai tandas, lagi-lagi ia terbangun karena mimpi buruk. Baru juga duduk memenangkan dirinya.
Tok … Tok …
Salsa sudah datang melapor, membuat kepalanya kembali sakit.
“Bos sudah bangun … Ini lihatlah Damian bersama Jovita”
Leon melihatnya hatinya kembali mendidih.
“Keluar dari kamarku!”
“Bos aku hanya ing-”
“Keluar!” Teriaknya sama Salsa menjadikan wanita berambut pirang itu pelampiasanya.
“Aku membunuhmu Damian jika sampai pembunuh itu menyakiti wanita itu. Kamu memposting beginian sama saja kamu mengundang mereka menangkapnya kalian cocok … lelaki tidak punya malu dan gadis bodoh!” teriak Leon uring-uringan. Wajah Leon terlihat sangat marah.
“Apa yang harus aku lakukan …. Apa yang harus aku lakukan.”Leon Jalan mondar -mandir .
Antara hati dan otaknya seakan saling berargumen. Otaknya bilang jangan menyelamatkannya biarkan ia mati.
Sementara hatinya bilang selamatkan ia sebelum kamu selali nanti
“Sial …. Awas saja kamu nanti gadis bodoh, kamu akan mendapat hukuman dariku,” ujar Leon ia meraih jaket miliknya dan keluar.
Leon marah pada Zidan karena mengajak Salsa ikut ke Jogja.
“Siapa suruh dia bawa ke sini?”
“Dia memaksa ikut Bos”
“Saya bukan untuk bersenang-senag Zidan, saya hanya ingin menyelamatkan gadis bodoh itu. JOVITA HARA! Paham kamu?”
“Paham Bos”
“Bangus suruh Santo mengantarnya pulang Ke Jakarta!”
“Baik Bos”
Sabrina berpikir kalau Leon ke Jogja ingin liburan dan berpikir akan membutuhkan dirinya, maka ia memaksa ikut.
“Kita akan cari Damian” pintahnya pada Rikko. "Siapkan satu penembak. Zidan ....! Kamu ikut"
Zida
Zidan.
__ADS_1
“Baik Bos," Jawab Rikko, Lelaki yang selalu tampil keren itu berlari ke arah mobil.
"Baik Bos" Zidan bergegas.
“Tapi …. Bos, tadi Toni sangat khawati jadi dia ingin menyusul Damian, dia bilang dia punya virasat buruk
“Baiklah”Leon tidak marah kali ini,walau Toni pergi tanpa perintahnya , kalau biasanya ia akan mengamuk jika ada yang pergi tanpa perintahnya.
“Terahir postingan Damian mereka akan naik ke perkebunan teh Bos, baik kita akan kesana,” ujar Leon, matanya sibuk menatap layar ponselnya , wajahnya terlihat sangat kesal.
‘Apa kamu harus tertawa sebahagia itu?’ Leon mengertakkan giginya saat melihat kebersamaan Damian dengan Jovita di status media sosial Damian. Ia dan Damian hampir saja tidak pernah memposting kegiatan apapun di sosial media.
“Baiklah nikmati saja, sebelum aku melenyapkanmu nanti.” Leon mendensis kesal, melihat foto-foto Jovita dan Damian yang terlihat bahagia.
Leon memutuskan mencari Jovita, tidak perduli hatinya dibuat kecewa.
Ia memilih melawan pikirannya dan menggunakan sedikit nuraninya, ia tidak mau nantinya menyesal.
Iwan dan Zidan memilih menaiki motor dan Leon naik mobil bersama Rikko.
**
Tepat saat sore.
Apa yang di takutkan Leon kenyataan, saat ia memutuskan mencari Damian.
Saat sore, pesan Damian masuk ke ponsel Leon.
[Saya salah, saya meminta maaf. Kamu benar saya tidak akan bisa menyelamatkan Jovita , saat ini kami di perkebunan teh arah pulang. Ada empat orang berandalan mengawasi kami. Tolong selamatkan Non Hara] Isi pesan Damian.
Melihat Itu Leon semakin marah, ia meminta Kinan melavak nomor Damian.
*
Menyadari tidak ada balasan dari Leon, Damian berpikir akan melakukan sendiri.
"Baik, Baiklah."
Tidak bisa dipungkiri Jovita ketakutan, tiba-tiba wajah cantiknya langsung pucat.
"Dengar. aku hitung satu dua tiga, kita harus lari ke motorku"
"Baik'
Damian memegang tangan Jovita, baru juga ingin berdiri. Namun, salah seorang dari mereka menekan pundak Damian.
"Mau kemana Bos? Makanan belum di habiskan," ujarnya dan di bawah meja sebuah pistol sudah ditodongkan ke perutnya, meminta untuk duduk tenang.
...Ia hanya tertawa kecil, hal seperti itu sudah biasa untuknya, ia hanya memikirkan Jovita. Jovita menekan nomor Piter dan mengirim pesan....
...Ia berharap bodyguardnya yang sedang pelarian itu membuka ponselnya dan menyelamatkan nyawanya....
Ia menjatuhkan gelang kecil yang biasa biasa ia pakai.
Awalnya Damian membalas mengarahkan senjata miliknya ke arah penjahat itu. Namun ....
Melihat senjata mereka yang mengarah ke Jovita Damian menurut.
"Baiklah saya menyerah," ujar Damian
meletakkan pistol miliknya.
Damian berpikir kalau Ia meminta Jovita lari pasti mereka melepaskan tembakan ke arahnya. Jadi menurut hal yang tepat saat ini.
Ia menekankan nomor Leon dalam sakunya jaketnya dan dibiarkan menyala, tujuan agar Leon tahu keadaan Jovita.
__ADS_1
"Apa kamu ingin membunuh kami di warung perkebunan Sintan ini?" tanya Damian, dengan ponselnya keadaan terhubung ke Leon.
"Iya, ada masalah?"
"Tidak ada, hanya aku penasaran, siapa kalian? Kalian tidak takut? Gadis ini milik Bos Naga"
"Haaa banyak bacot"
Salah seorang dari mereka menyeret Tubuh Jovita ke dalam mobil.
"Aaa .... lepaskan ... lepaskan!” Teriak Jovita ketakutan.
“Baiklah, baik saya ikut.” Damian memilih mengalah.
Apa yang terjadi terdengar di ponsel Leon.
“Kurang ajar …!”Wajah Leon mengeras.
“Hubungi Iwan dan Zidan,” bisik Leon pada Rikko,
“Baik Bos, suasana sangat menenangkan untuk Rikko, ia harus menyetir dengan cepat, sementara satu tangannya menekan nomor Zidan dan Iwan.
Ia terpaksa menghentikan mobilnya dan keluar, agar suara tidak terdengar karena ponsel Leon masih tersambung dengan ponsel milik Damian dan mendengarkan apa yang mereka katakan.
“Lepaskan gadis itu, kalian tidak mau mati sama Bos Naga”
“Tidak, tenang saja kami saya menjalankan perintah bos, kalau ia ingin protes katakan pada orang yang memerintahkan kami.”
“Lepaskan dia, beraninya sama perempuan, ayo sama saya saja kalau berani.” Damian berusaha keras untuk mengulur-ulur waktu berharap Leon menemukan Jovita.
“Keparat, gue tidak perduli siapa bos lu dan gue gak urus siapa lo. Ini wilayah gua, seret dia ke dalam mobil," ujar lelaki yang wajahnya dipenuhi ukiran bertato.
“Baik," Ujar rekannya.
Damian bisa saja melawan lalu melarikan diri karena hal seperti sudah biasa untuknya. Namun, bagaimana dengan Jovita Hara? Akhirnya ia lebih memilih bersikap seperti pecundang msnyerah dan mengalah, agar ia bisa menyelamatkan Hara.
Mereka berdua di ikat dan di masukkan ke dalam mobil.
Melihat pelanggannya diculik, pemilik warung ingin menelepon polisi.
“Jangan ikut campur, kalau kamu masih sayang dengan nyawahmu,” ujar salah seorang berbadan tegap itu menyingkapkan sedikit pakaiannya. Mengarahkan pistol, seketika nyalinya ciut.
“Ba-baiklah,”ucap pemilik warung tergagap.
Pistol dan ponselnya Damian akhirnya diambil, ia tidak bisa berbuat banyak selain menunggu Leon datang.
Mata dan mulut keduanya ditutup dan tangan di ikat, lalu dibawa pakai mobil meninggalkan warung makan, saat jendela di buka Damian mencium daun teh.
‘Kami di bawa ke perkemunan’ ucap Damian ia menyesal membawa Jovita, sementara Jovita diam dalam ketakutan.
Mereka berdua di bawa ke sebuah Villa dan diikat di kurdi dengan mata tertutup dan mulut dilakban.
Bersambung ....
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)