
Dalam perjalan dari pasar Toni melamun.
Ia pernah mendengar keluarganya datang mencarinya ke Kalimantan, tapi bagi Toni hanya ibunya lah keluarga satu-satunya dan kini sudah tiada. Kini ia merasa kalau Hara lah adik dan keluarga satu- satunya.
Perasaan Toni saat ini pada Hara bukanlah ingin menjadi kekasih lagi, tetapi seperti adik kandung.
“Kakak kok melamun sih, ada apa?” Tanya bocah pintar itu, kini tangannya sudah memegang jepitan bulu-bulu yang di pakai Jovita tadi.
“Mikirin kamu. Tiara kalau kamu sudah besar nanti mau jadi apa?” Toni mengalihkan pembicaraan.
“Aku mau jadi Dokter agar bisa mengobati orang-orang di Panti, aku ingin mengobati mata kakak Dinar, agar bisa melihat lagi dan mengobati wajah kakak Kevin lagi agar ganteng kembali,” ujar Tiara polos.
“Cita-citamu sangat mulia dek, semoga jadi kenyataan,” ucap Toni mengusap lembut kepala Tiara.
Perjalan pasar dan rumah kira-kira Satu jam, akhirnya mereka sampai. Toni sibuk mengeluarkan ember-ember besar dari mobilnya di dekat kandang kuda, ember yang ia pakai untuk tempat makan si putih kuda Jantan milik Leon dan domba kuda coklat milik Toni . saat ini, kedua kuda itu tinggal bersama Toni di pantai asuhan, kuda itu layak mendapat pelayanan baik dari Toni kerena jadi penyelamat hidup mereka bertiga dua tahun yang lalu.
Toni sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari mobil bak terbuka di belakang panti, Jovita duduk dengan anak-anak, bermain dan bercengkrama saat anak-anak masuk ke dalam panti.
Hara belajar berjalan mengelilingi bangunan panti agar ia bisa terbiasa.
Hara mencoba berjalan tanpa menggunakan tongkat, sebagai pelatihan untuknya, putaran satu, dua, tiga, ia bisa berjalan seperti orang normal tidak mengunakan tongkat, saat putaran ke empat mobil Leon datang, Jovita berjalan membuka gerbang. Leon kembali melotot saat melihat sosok Jovita tangannya kembali bergetar.
“A-a-apa aku mimpi lagi?”belum juga mobilnya masuk ke dalam Panti, masih menghalangi jalan di depan gerbang, ia keluar dan mengejar sosok Jovita, tapi wanita itu melakukan putaran kelima, jadi ia tidak menghiraukan siapa yang punya mobil, di pikirannya paling tamu panti yang ingin memberi sumbangan untuk panti seperti biasa.
Tapi saat ia mengejar Hara kebelakang bangunan, ada sosok yang membuatnya kali ini ingin pingsan, seorang wanita paruh baya sedang menjemur pakaian, Bi Atin.
Leon menatap dari samping dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya hampir tumbang, ia mendekat kira-kira lima meter.
“Bibi …!?” Panggil Leon wanita itu, menoleh kesamping dengan spontan tangan menutup mulut.
“A-a-apa itu kamu?”
Leon mengangguk, ember yang di pegang Bu Atin terjatuh, karena kaget melihat Leon yang tiba- tiba muncul. Wanita itu menghampiri lelaki yang berpenampilan keren, ia tidak perduli lelaki tampan itu adalah bosnya dan majikanya, baginya lelaki ini adalah anak yang ia urus dengan tangannya.
“Bibi! “ Leon merentangkan tangannya merangkul tubuh wanita itu dengan tangisan , ini bukan mimpi’ kan, ini beneran bibi, iya ampun aku tidak mimpi tolong cubit aku” ucap Leon.
“Tidak Nak, kamu tidak mimpi .Bibi selamat dari kebakaran itu,” ucap Bi Atin.
Saat mereka berpelukan wanita cantik bak bidadari tak bersayap itu datang lagi.
“Bu! Aku sudah enam putaran bagaimana hasilnya?" Tanya Hara menatap kearah mereka berdua, sekilas, dilihat tidak ada yang menduga wanita cantik itu seorang gadis buta.
__ADS_1
Leon melepaskan rangkulannya menatap Jovita dengan tatapan bingung, karena ini pertemuan ketiga mereka tapi ia terus mengacuhkan Leon.
“Dinar, beri salam, ini ada tamu dari kota,” kata Bi Atin dengan sikap, ramah Hara mengulurkan tangannya, tapi ke arahnya yang salah
Leon menatap Bi Atin dengan wajah menegang, wanita itu hanya mengangguk, ia mengulurkan tangannya menyambut tangan Hara, ini pertemuan yang sangat menyedihkan untuk mereka.
“Le-Lon, Leon Wardana,” ujar Leon dengan suara bergetar, matanya lelaki tampan itu berkaca-kaca melihat keadaan Hara saat itu.
“Dinar” Balas Jovita dengan ramah, senyum cantiknya tidak berubah, ia melepaskan tangannya. Leon mematung tangannya masih terjulur walau Hara sudah melepaskan tangannya, tetapi tubuh Leon seakan-akan membeku saat ia menyebut namanya.
“Bu, aku mau minum berikan tongkatku,” ucapnya kemudian. Ia berjalan dengan bantuan tongkat masuk kerumah.
Leon masih mematung tidak percaya, akhirnya airmata Leon menetes juga, belum juga rasa kaget itu hilang, kini … suara itu membuatnya menoleh kebelakang.
“Bu, mobil siapa di depan gerbang, mobilku tidak bisa masuk,” ucap Toni belum menyadari kedatangan mantan Bosnya.
Saat Leon membalikkan badan dan menoleh yang punya suara, Toni menatap dengan kaget, tapi yang lebih kaget Leon, karena wajah Toni terlihat sangat rusak, bahkan sulit dikenali, luka di seluruh badannya lebih parah, itu ia lakukan karena melindungi Jovita mengunakan tubuhnya.
“Bos Leon”
“Toni … ??”Wajah Leon panik saat melihat keadaan Toni, wajah tampan itu kini sudah hilang, ternyata wajah jelek yang dibilang pernah mencarinya adalah Toni.
“Iya Bos,” ucap Toni kehilangan kepercayaan diri, bahkan ia hanya menunduk merasa malu.
“Maaf Bos, aku bau sapi karena lagi mengurus kandang sapi,” ujar Toni ia berkata jujur.
“Tidak apa-apa Ton, aku meminta maaf karena aku tidak percaya padamu saat itu,” kata Leon, ia mengusap matanya, tubuh Leon hampir saja ambruk kalau saja tidak dipegang Toni, sepertinya pertemuan itu membuatnya sangat kaget.
"Ternyata kalian bertiga masih hidup, apa yang terjadi?” Matanya menatap Toni.
Ceritanya panjang Bos, mari kita masuk dan bicara di dalam, tapi berikan kunci mobilnya saya akan pindahkan mobilnya dulu, menghalangi jalan di gerbang,” ujar Toni. Leon baru sadar karena mengejar Jovita ia membiarkan mobilnya begitu saja.
Karena melihat sosok Jovita, ia tidak perduli lagi kalau mobil menutup pintu masuk arah Panti. Leon ikut masuk kedalam Panti asuhan, saat Jovita sedang duduk ia mengendong seekor kucing mengusap-usapnya, saat mereka duduk Jovita mengarahkan kupingnya memastikan siapa yang datang,.
Leon ikut duduk di kursi kayu matanya masih menatap Jovita dengan tatapan iba.
“Non, Hara buta Bos,”ujar Toni yang datang dan duduk di samping Leon
“Pantas, apa kalian tadi kepasar? Aku melihatnya”
“ Iya, tadi kami belanja ember”
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Suara Leon bergetar matanya tidak lepas dari Hara
“Ia Buta dan lupa ingatan, ia juga kehilangan bayinya,” ujar Bi Atin dengan suara bergetar.
Leon terdiam, butiran kristal itu kembali berjatuhan dari balik kaca mata hitam yang ia pakai, sedih karena kehilangan calon buah hati lebih sedih lagi saat melihat keadaan Hara yang buta dan lupa ingatan, belum lagi Toni yamg cacat wajahnya dan Bi Atin yang pincang.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kalian masih hidup, kalian pasti mengalami hari yang buruk,” ucap Leon mengusap matanya.
“Bos… bayi kecil itu, seorang laki-laki kami memakamkannya di sana,” ucap Toni dengan hati-hati.
Awalnya Leon tidak ingin melihat kuburan putranya, itu terlalu menyedihkan untuknya. Namun setelah dibujuk dan dijelaskan ia mau.
Leon berdiri di kuburan kecil, matanya terlihat memerah menahan air matanya.
‘Harusnya dia sudah berjalan saat ini, harusnya aku sudah bermain bersamanya’ ucap Leon dalam hati.
Ia mengusap mulutnya, jelas ia sangat terluka, saat ia dalam rahim Jovita, Leon sering mengajak anak bicara saat ini, ia sudah terkubur di dalam tanah.
“ Kuda si putih yang menyelamatkan kami, saat ini ia bersama kami,”ucap Toni mencairkan situasi.
“Apa yang dia lakukan?” Tanya Leon, tetapi matanya belum berpaling dari gundukan tanah itu, putranya terkubur di sana.
“Dia yang membawa kami ke sini Pak, kalau tidak ada itu kami semua akan mati, karena luka yang kami alami sangat parah”
“Kita akan kembali ke Jakarta, kita akan melakukan pengobatan di sana di sana nanti, jangan khawatir Ton aku memberikan yang terbaik untukmu, Jangan khawatir Hara dan kamu akan pulih kembali,” ujar Leon.
“Kami semua berganti nama bos. Jovita di panggil Dinar, saya Kevin dan bibi bu Darsi, itu semua kami lakukan untuk tetap hidup kami takut masih ada kaki tangan Bokoy berkeliaran,”ujar Toni.
“Tidak, aku sudah membersihkan semua, jangan khawatir . Kita hidup melihat ke depan , bukan ke belakang lagi,” ujar Leon kata-kata itu terdengar punya makna yang lain. Toni melirik Leon sekilas .... Kini Leon sangat berubah penampilannya sangat berkelas, terlihat seperti miliader tampan dari atas sampai kebawa semuanya bermerek, sangat berbeda dengan Toni yang hanya pakai celana buluk dan sandal karet.
*
Leon bertemu dengan pengurus Panti memberikan bantuan, bahkan Leon akan membiayai perbaikan bangunan panti lebih bagus lagi, berjanji akan membangun jalan kearah panti dan membangun sekolah di samping panti. Jadi warga warga tidak perlu lagi sekolah ke Kota, sudah bisa sekolah di Panti yang di bangun Leon begitu rencananya dan disambut baik sama pengurus panti.
Leon juga menyampaikan kalau bantuannya yang diberikan saat ini itu, bantuan dari Bokoy.
“Saya hanya menjalankan wasiat terakhir Bokoy, Bu,” ujar Leon, mendengar nama dan melihat reaksi Leon pada Hara. Toni merasa sangat sedih.
“Apa yang terjadi, kenapa Bos Leon berubah, dia seakan tidak perduli lagi dengan Non Hara,” ucap Toni pada bu Atin.
“Bibi, juga kaget Ton, dia seolah tidak mengenal Non Hara. Apa Pak Leon sudah memiliki istri, sehingga dia tidak memperdulikan Non Hara lagi? Apa dia kecewa karena kehilangan putranya?” Bu Atin menatap sedih ke arah Hara yang saat itu duduk sendiri di kursi dan Leon melewatinya begitu saja, tanpa mengajaknya bicara.
__ADS_1
Apa yang terjadi?
Bersambung