Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Diintai


__ADS_3

Saat pagi tiba, kosan putri itu sudah di izinkan bertamu, Leon buru-buru keluar mobil. Ia bertemu dengan penjaga kosan.


Tetapi sayang, seribu sayang, aksi Bos Naga, jadi hansip gang satu malam, rupanya sia-sia, Dewi Fortuna belum berpihak pada bos tampan itu, untuk saat ini ....


Wajah kembali mengeras seperti adukan semen yang di anggur kan tiga hari, kata- kata sial kembali keluar dari mulutnya.


"Siaaal! percuma saja saya di sini semalaman"



Tidak ada yang bernama Jovita tinggal di sana , bahkan saat ia menunjukkan foto cantik Jovita, ke ibu penjaga kost, ibunya berkata tidak pernah melihat dan tidak ada yang bernama Jovita Hara.


Ya, iyalah orang Jovita menyamar saat di kosannya, ia memakai kaca  mata dan rambut panjangnya di gulung lalu ia pakai wig saat di kosan.


Tetapi jika ia jadi musisi jalanan, ia menunjukkan kecantikannya karena itu daya jualnya juga.


Leon kembali kedalam mobil dengan  wajah  sangat kesal.


“Siaaal ….! Sial, sial . Percuma  berjaga di sini sepanjang  malam,” maki Leon kembali, ia tidak sengaja memukul klakson mobilnya dengan kuat mengangetkan seseorang yang sedang melintas di depan mobilnya, ia bahkan sampai melompat karena kaget.


Seorang wanita pakai masker hitam dan  kaca mata dan mengendong gitar di belakangnya.



Ia marah karena kaget, lalu dengan spontan mengacuhkan jari tengahnya ke arah Leon dengan tatapan sinis, lalu berjalan buru-buru di depan mobil Leon yang sedang parkir.


Jangankan meminta maaf merasa bersalah juga, tidak.


Jangan menuntut si Ular Naga ini, untuk meminta maaf, karena hal itu, tidak ada di kamusnya.


Alih-alih sibuk, ia pura-pura membenarkan posisi kumis tipis melintang itu dan membenarkan topi penyamarannya.


Leon cuek pada wanita yang memberikan jari tengah itu.


Leon turun dari mobil, berdiri di depan mobilnya menyandarkan tubuhnya pada badan mobil.


Leon merasa matanya sangat mengantuk dan tubuhnya lelah, tetapi bila di ajak rebahan, matanya seolah-olah membangkang padanya, tidak akan mau tidur walau dibujuk dengan cara apapun, ia mau tidur setelah minum obat tidur, itulah yang membuat dirinya, sangat tersiksa.


Ia menelepon Santo.


"Apa di daerah sini ada kosan lagi selain ini?"


"Ada banyak di belakang Bos"


Merasa tidak enak badan, karena tidak istirahat berhari-hari ,ia memutuskan pulang ke Bar untuk istirahat.


"Besok saja datang lagi"


Leon pulang.


*


Pagi-pagi sekali Leon sudah datang, Leon duduk di kursi setir memegang gelas panas di tangannya, entah ia kurang fokus atau kurang tidur, matanya sibuk melihat layar ponsel tidak sengaja menyeruput kopi panas.


Seketika menyemburkan kopi panas dari mulutnya dan membuka jendela mobil melempar gelas kopi plastik keluar.


"Kopi sialan ....!" umpat kesal memaki-maki gelas plastik yang tidak bersalah itu.

__ADS_1


Tidak sengaja mengenai kaki wanita yang melintas di depannya, wanita yang sama yang mengacaukan jadi tengah padanya kemarin. Leon tertawa kecut, karena, Lagi-lagi ia menerima tanda 'makian' dua kali dari orang yang sama dan di waktu yang sama pula, dari seorang wanita yang mengendong gitar di belakangnya.



Tiba-tiba mata Leon menyengit, lalu ia turun dari mobil.


“Dia bawa gitar … Tunggu?” Leon  mengambil topi dan memakai kumis dan ia berlari kecil dan mengikutinya.


"Tubuhnya mirip. Namun, rambut yang ini, lebih pendek. Tunggu ....! Bukankah kemarin warna rambutnya kuning? lalu sekarang merah? jangan- jangan wig ...?" Leon berlari.


Di perapatan jalan, sang wanita menghilang.


"Apa itu dia ....? Sial, sial jadi .... kemarin dan hari ini ....?"


Hari ketiga, Leon Mengganti cara lain. Ia tidak membawa mobil lagi dan ia juga menyamar sebagai seorang pekerja kantoran, Membawa tas ransel di punggungnya.


"Ok, baiklah. Ayo kita ikuti permainanmu, nona kecil,"ujar Leon membuang napas dari mulutnya



Hari ini, ia  masuk ke stasiun kereta,  membeli tiket. Leon membeli tiket juga, mengikutinya dan saat masuk ke dalam kereta ia juga naik dan kebetulan saat itu tidak ramai. Leon mengambil gambar diam- diam.


Leon, duduk dengannya jarak dua orang di sebelahnya, Leon curi-curi pandang padanya, memastikan ia tidak salah orang. Hingga di samping Leon turun di stasiun berikutnya tinggal satu orang,  tidak lama kemudian wanita bener-benar duduk di sampingnya.


Bibir Leon tertawa kecil ia merasa sangat senang luar biasa.


"Iyees ....!" gumamnya pelan.


Ia yakin wanita yang menyamar di sampingnya adalah Jovita Hara. Hanya, melihat jari-jari tangannya saja, Leon tahu kalau itu Jovita dan ia tahu persis bau dari tubuhnya .



‘Terimakasih, akhirnya saya mendapatkan mu’ Leon membatin


Leon  menghela napas panjang saat ia melihat Jovita semakin kurus, tatapan matanya kosong terlihat jelas sekali, kalau ia  merasa kesepian.


‘Saya  sudah  berjanji  menjagamu … terimakasih karena sudah  selamat sampai saat ini' ucap Leon dalam hati.


Hingga akhirnya di stasiun dan ia turun , Leon juga ikut turun, tetapi karena Jovita merasa  diawasi, ia akhirnya menghilang di balik di keramaian stasiun.


“Oh, kamu kemana gadis bodoh. Harusnya saya menangkap kamu tadi,” ujar Leon merasa sangat kesal.


Ia  menelepon orang-orangnya yang ada di Jogja, semua orang berpencar di stasiun dan Jovita  juga sudah berubah wujud kembali  di kamar mandi.  


Kali ini, ia memakai   kerudung  dan ia melewati Leon ya g sedang kelimpungan mencari  dirinya.


Jovita  juga tidak mengenal Leon karena  mereka semua juga sama-sama memakai  penyamaran.


Jovita berhasil  kabur lagi, kali ini dan masuk  ke sebuah  toko, ia merasa tidak aman lagi. Apa yang ia takutkan benar  terjadi, jika  banyak orang yang mengarahkan camera ponsel padanya, maka sama saja ia memberitahukan  keberadaan dirinya pada penjahat yang mengincarnya.


Ia kembali ke kosannya lagi dan memilih bersembunyi di sana. Sementara Leon datang ke kosannya saat malam. Ia akhirnya sadar, ada orang lain juga yang sedang mengincar Jovita.


“Kamu dalam bahaya Jovita Hara, lihat para brengsek ini juga menginginkanmu.” Leo meminta Rikko Santo datang untuk menyingkirkan orang-orang yang mengincar Jovita.


Saat ketiga orang itu dalam mobil  mengawasi Jovita, Rikko dan Santo dan Leon m secara tiba-tiba mengangetkan ketiganya  karena tiba-tiba  sebuah todongan senjata.


“Jangan bergerak,  kami tidak ingin ada keributan  lemparkan senjata di depan,” ujar Rikko.

__ADS_1


Ketiganya tak berkutik saat  senjata Leon berada tepat berada tepat di perut, saat Leon melepaskan topi dan kumisnya ketiganya langsung ketakutan.


“Bo-Bo-bos Naga?”


“Iya bawa mereka ke bar “


“Bo-Bos kami hanya di suruh”


“Nanti kamu jelaskan di sana”


“Wanita itu dalam bahaya  kami hanya di minta menjaganya Bos, kami tidak berniat menyakitinya  kami hanya di minta mengawasinya”


“Siapa yang meminta mengawasinya?”


“ Maaf Bos, kami tidak bisa memberitahukan ”


“Oh jadi kamu memilih kehilangan kakimu.



Door!


Leon menembak paha salah seorang dari mereka.


“Ah … Ah ... Bos"


“Katakan!” Teriak Leon marah.


“Kamu  sudah kenal saya, kan!” Leon menarik pelatuknya


“Ba-ba-baik Bos. Damian yang meminta kami mengawasi “


“Damian?”


“Iya Bos dia meminta kita menjaga nona muda itu, kami sudah satu minggu menjaganya"


“Apa?Damian? Keparat ....! Apa tujuannya?” Mendengar nama Damian, seketika Leon merasa  seperti diserang penyakit. Asam  urat, rematik, darah tinggi dan kolestrol  datang bersamaan.


Seketika Leon memegang  batang lehernya.


"Apa tujuan si brengsek itu mendekatinya?"Leon berteriak marah,


Membuat ketiga lelaki itu, nyaris terkencing celana karena ketakutan.


Bersambung ....


BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 BAB TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2