
Langit di Ibu kota terlihat mendung hari itu, menambah rasa yang semakin bergemuruh di hati Leon, sudah dua hari sejak kejadian hari itu di mana Hara melihat Bianca datang ke hotel.
Hara masih di Bandung untuk syuting sebuah iklan, saat break sebentar Hara duduk di satu kursi, melihat sebuah buku gambar dan pensil untuk menunggu step selanjutnya ia menggambar. Hara iseng- iseng menggambar bayang-bayangan yang sering datang muncul di otaknya, Awalnya ia menggambar lautan .... lama- lama sebuah rumah di pinggir pantai dan seseorang berdiri di balkon menatap lautan.
Hara memiringkan kepalanya mencoba menuangkan potongan ingatan dalam benaknya, hingga tercipta sebuah gambar seorang lelaki berdiri di balkon kamar dalam benaknya Hara melihat dari belakang.
Piter dan Vikki yang berdiri di belakangnya melotot panik.
“Apa itu?” tanya Vikky kaget.
“Itu rumah Leon yang ada di pantai Kapuk,” ujar Piter berbisik.
“Lanjut …Lanjut lagi,” teriak sang sutradara.
Hara meletakkan buku gambar di atas meja kembali dan dengan cepat Piter mengambilnya dan merobek dan memasukkannya ke dalam kantung celana.
“Apa yang terjadi?” Tanya Vikky penasaran.
“Sepertinya potong-potongan ingatannya pada Leon kembali pulih. Ini berbahaya bagaimana kalau dia pulih dan mengetahui fakta yang sebenarnya kalau Leon sudah memiliki wanita lain” Wajah Piter semakin panik.
"Dari sekian kenangan di otaknya, kenapa harus si brengsek itu," ujar Vikky kesal.
BI Ina Penasaran dengan ketegangan wajah keduanya, ia mendekat.
"Ada apa?"
Piter mengeluarkan kertas gambar dari saku celananya.
"Ini BI, Hara menggambar ini"
"Ini .... Ini rumah Pak Leon," ucap BI Ina.
“Kita tidak boleh memperbolehkan dia lagi kembali ke hotel, kita akan mengawasinya dengan lebih ketat lagi,” ujar Vikky.
Mereka berdua dan BI Ina dan suaminya sengaja ikut menemani Hara ke lokasi syuting, karena mereka tahu Hara tidak pernah mau merasa kesepian ia selalu suka dengan Suasana ramai.
Vikky bahkan sampai Rela melakukan rapat secara online dari hotel tempat mereka menginap. Ia melakukan semua pekerjaan dari hotel.
Dokter pernah mengingatkan mereka, jika Hara mulai mengingat masa lalunya, bisa jadi masalah besar, , karena bisa jadi Hara memaksa saraf-saraf otaknya bekerja keras untuk mengingat kembali dan dikhawatirkan menggangu penglihatannya. karena itulah Vikki dan Piter selalu menjaga Hara dengan ketat.
“Ok, cukup hari ini syutinynya Mbak Hara, kita akan di lanjut di Jakarta lagi di Hotel Ichiro,’ ujar seorang kru.
Mendengar nama Ichiro Hotel Hara menoleh Piter, sebenarnya Hara juga sebenarnya tidak ingin melihat Leon lagi, tetapi Hara berpikir ia harus bersikap profesional harus membedakan antara pekerjaan dan urusan pribadi.
“Apa ada masalah Pak Piter?”
“Saya pikir kami ti-” Piter ingin menolak.
“Bisa Pak,” potong Hara cepat.
__ADS_1
“Hara, kamu akan bertemu Leon lagi di sana," Piter mengingatkannya.
“Tidak apa-apa om pekerjaan tetaplah pekerjaan urusan pribadi , biar jadi masalah pribadi ,” ujar Hara terdengar profesional.
Baiklah Hara, kalau kamu maunya seperti itu."
**
Hara tidak masuk kerja sudah hampir tiga Hara.
“Apa Hara belum masuk?” Tanya Leon menelepon ke ruangan Hilda.
“Belum Pak, katanya Mbak Hara. Dia ada syuting iklan di Bandung”
“Apa hotel kita ikut mensponsori acara memasak yang diikuti, Hara?”
“Iya Pak. Besok juga pemotretan iklan sabun mandi yang akan di lakukan di hotel kita, sesuai permintaan Bapak”
“Baiklah, saya berharap Piter tidak menolaknya,” ujar Leon menutup telepon
‘Berarti besok aku bisa melihat Hara kembali’ Leon membatin.
Baru juga ia meletakkan gagang telepon ketukan pintu
Bram datang melaporkan kalau Bianca datang lagi menemuinya di Hotel.
“Apa kamu tidak bisa mengurus hanya seorang wanita saja?” bentaknya pada lelaki bertubuh kekar itu. Bram yang kena sasaran kemarahan Leon.
“Apa Bos mengamuk lagi, Pak?” Tanya Kaila tersenyum, matanya menatap Bram.
“Iya” jawab Bram ketus.
“Waduh ada apa lagi dengan si Bos, beberapa hari ini marah-marah lagi?”
“Tidak tahu. Cari tahu saja sendiri” kata Bram turun ke ruang tunggu, ia akan mencari alasan yang tepat untuk mengusir Bianca pergi.
Hadeh … wanita ini sangat cantik, kaya lagi coba di kasih saja untukku dari pada di abaikan begini kasihan," ujar Bram
“Selamat pagi mbak Bianca.” Bram mendekat.
“Bukan pagi lagi Bram, ini sudah siang” ucap Bianca
“Iya mendung dari tadi pagi kelihatan seperti pagi “ kilah Bram. “Mbak, bos hari ini tidak ada di hotel, beliau ada kerjaan penting di luar kota “
Mata Bianca langsung menyipit menatap Bram penuh penyelidikan, ia tahu kalau lelaki itu berbohong, siapapun tahu kalau leon keluar kota Bram pasti juga ikut.
“Baiklah, katakan saja pada Bosmu sampai kapan aku akan mengejarnya sampai ia bilang, Iya,"Ucap Bianca dengan yakin.
“Aku tahu, dia ada di atas Bram, kalau dia ke Luar Kota kamu juga ikut pastinya, tapi tidak mengapa , aku tidak tahu apa masalahnya lagi, kali ini, aku bisa rasakan dia bertingkah aneh lagi beberapa belakangan ini, apa kamu tahu itu kenapa Bram?” tanya Bianca
“Tidak mbak, saya tidak tahu” jawa Bram dengan tegas.
__ADS_1
Walaupun ia tahu, tidak akan memberitahukannya pada Bianca, kalau ia sempat di beritahukan apa yang terjadi, bisa di pastikan akan ada beberapa tulang rusuk Bram yang akan patah.
“Baiklah, aku pulang, katakan pada mas Leon aku akan datang kembali” ucap Bianca menenteng tasnya dan meninggalkan Hotel.
“Baik mbak” jawab Bram terlihat tak bersemangat
*
Besok harinya.
Hara membuktikan sikap profesionalnya dalam bekerja, kini ia melakukan pemotretan pakaian dari desainer kenamaan yang di lakukan di hotel Leon. Saat Piter sangat khawatir. Tetapi Hara terlihat sangat santai ia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
“Aku bingung deh, Mbak Hara seorang model terkenal, tetapi kenapa masih mau jadi pegawai hotel iya,” ujar pegawai hotel yang ikut melihat pemotretan Hara.
“Berhenti bergosip, kalian tidak tahu kalau di hotel ini di larang bergosip,” ujar Hilda yang berdiri di belakang keduanya.
“Aku berharap Bos, tidak datang ke sini,” ujar Ken.
“Kenapa?” Tanya Bram.
“Pakaian Non Hara sangat terbuka,” ujar Ken.
Leon saat itu lagi ada pertemuan penting diluar kantor Ken dan Bram dan Hilda yang mengurus Hotel.
"Terlambat Bro, Bos sudah di sini dari tadi, bahkan dia melihat kamu mengambil foto Non Hara diam-diam," ujar Zidan.
Mata mereka menoleh ke belakang, mata Leon menatap Hara dengan tatapan tajam saat melakukan pemotretan.
Dengan cepat Ken menghapus foto Hara dari ponsel miliknya.
Saat melihat Leon, Hara merasakan ada suara- suara lagi di kepala Hara.
'Hubungan apa aku dengan Leon di masa lalu? aku harus tanya langsung padanya' Hara menatap Leon sekilas.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)