
Untuk menenangkan hati suaminya yang suka cemburu, Hara memberinya kepuasaan di ranjang dengan begitu ia berharap Leon percaya padanya.
Setelah menggelitik Hara di sofa Leon mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.
“Apa kamu masih marah? Apa aku tidak boleh me-“
Hara menyumpalnya dengan bibirnya, “Baiklah tuan tukang cemburu, dari pada kamu semakin cemburu dan gila, lebih baik aku menggigit malam ini, sebenarnya dari tadi di restaurant aku sudah ingin mengigit dan memberimu pelajaran,” ujar Hara mengigit bibir suaminya.
“Hara, apa yang kamu lakukan, sakit,”ujar Leon menutup matanya dan membiarkan Hara melampiaskan kekesalan pada bibirnya.
“Bagaimana rasanya? Enak’ kan?” tanya Hara menghembuskan napas puas dan melepaskan bibir Leon.
Hara berpikir Leon akan marah dan meninggalkannya, tetapi yang terjadi, Leon tersenyum kecil memegang bibirnya.
“Kamu marah apa ingin memancingku?” Tanya Leon.
“Tentu saja aku marah.”
“Tapi gigitanmu membangunkan yang lain,” goda Leon mengusap dagunya yang lancip, matanya melirik sang istri.
“Kamu mau aku gigit lagi?” tanya Hara mendorong tubuh Leon hinga terlentang di di atas kasur. Dia masuk ke jebakan suaminya, ia mengigit bibir Leon dengan gemas, Leon tidak mau diam dan ia mengambil kesempatan itu membalikkan tubuh Hara , sekarang gentian Hara yang di bawah tubuh Leon.
Menyadari ia bertukar posisi, Hara melepaskan gigitannya dari bibir Leon.
“Haaa?” Mata itu membelalak kaget. “Kamu mau apa?” tanya Hara.
“Tentu saja mencumbu istriku yang cantik, aku ingin, aku candu bau ini,” ujar Leon mengarahkan hidungnya ke cerukan leher Hara.
“ Modus …. Lagi, bilang saja mau,” ujar Hara.
Hara mendorong tubuh besar dari atas tubuhnya. Melihat Hara mendorong tubuhnya, Leon malah menindihnya dengan dengan sengaja mengunakan tenaganya menekan tubuh besarnya ke badan mungil Hara.
“Aaaah kamu berat, aku tidak bisa napas Leon!” Teriak Hara engap-engappan dibawah tubuh Leon.
__ADS_1
“Bagaimana rasa ?” tanya Leon bercanda, kamu masih menolak ku?”
“Bukan menolak Leon,kita baru melakukannya kemarin malam,” ujar Hara.
“Semakin sering semakin bagus … kamu tahu, orang yang rutin melakukannya, awet muda,” ujar Leon, wajahnya serius.
Hara menahan tawa melihat ekspresi Leon.
“Aku tahu Pak Leon Wardana … tetapi tiap hari melakukannya, tubuhku juga akan gempor kali,” ujar Hara.
“Itu ibadah Hara, istri yang menyenangkan hati suaminya di ranjang pahalanya besar,” balas Leon tidak mau kalah dalam ber argumen.
“Gak jadi ….,” ujar Hara bercanda, ia ingin berdiri, tetapi Leon yang sudah kepalang juniornya bangun ia menahan tubuh istrinya.
“ Eh … Tidak boleh kamu yang sudah membangunkannya tadi. Kalau dia sudah bangun sulit untuk menjinakkannya lagi,” ucap Leon menarik kemejanya dengan satu tarikan hingga kancing itu berserak di atas ranjang. Hingga dada bidang itu terganjal buah indah besar milik Hara. Leon bisa merasakan kedua benda kenyal itu menekan kuat bagian dadanya.
“Tubuhmu, berat Leon, aku bagai di tiban beton,” ujar Hara.
“Maka, nikmatilah satu malam, seperti ini sayang, aku sangat merasa nyaman seperti ini,” ujar Leon ia juga menarik gaun merah yang menggangu itu jadi dada Leon benar-benar merasa ditekan sepasang bagian kenyal tubuh istrinya.
“Aku tidak memaksa , aku hanya ingin meminta apa yang jadi hakku,” ujar Leon dengan santai, “Kamu tahu, kan, tugas seorang istri, melayani suami.”
“Baiklah, kamu ingin aku mati kehabisan napas apa … ,” ujar Hara mendorong tubuh suaminya yang menutupi wajahnya.
Leon mengangkat tubuhnya dengan kedua sikunya di diletakkan di atas ranjang, ia tidak benar-benar melepaskan Hara, tubuhnya terangkat, Hara menarik napas.
Leon mengedikkan matanya dan bibirnya tersenyum manis melihat tubuh istrinya yang saat itu, hanya menyisakan celana dalam berenda berwarna hitam, .
“Bagaimana?” tanya Leon kemudian.
“Mau bagaimana, aku tolak juga kamu pasti paksa, baiklah, biar pahala istrimu ini banyak, biar kamu tidak cemburu tiap hari,” ujar Hara
“Kamu milikku malam ini, aku akan menghukum mu dengan tiga ronde karena membuatku cemburu tadi.”
__ADS_1
“Jangankan tiga ronde, lima ronde, aku kuat,” balas Hara.
“Benar iya ….!” Leon mengulum senyum.
“Benar,” ujar Hara.
Mereka berdua sama-sama tertawa.
Leon memulai dari bibir, Hara membalas bibir tebal milik suaminya, ia juga mengercapnya dan tangan Hara tidak mau berhenti, ia bermain di belakang kepala suaminya mengusap-usap bagian belakang Leon, lalu turun ke punggung lalu turun ke bagian paling bawah dan mulai memainkan jemarinya di bawah tubuh Leon.
Leon semakin bersengat karena permainannya disambut baik sama Hara, tangan dan mulut Leon tidak mau berhenti, bibir mereka saling menyatu dan saling mengecap dengan lembut, diiringi dengan suara-suara ribut dari bibir Hara
Leon tidak mau menganggurkan tangannya, satu tangan bermain di benda kenyal milik Hara, tangannya mencengkram dengan kuat, buah itu menantang indah, lalu Leon memundurkan tubuhnya dan mencicipi dengan bibirnya melakukan dengan gigitan kecil di pucuknya, buah indah yang sedari tadi, membuat jantungnya berdetak hebat. Leon seakan-akan balas dendam, ia melahap buah milik Hara dengan nikmat, mencengkram dengan kuat.
Tidak ingin hanya bagian itu, ia juga mendamba permainan yang liar, menikmati setiap inci dari bagian tubuh istrinya.
Leon merasa seperti seorang yang kelaparan saat Hara menginginkan untuk menikmati tubuhnya, Leon tidak seperti biasanya, kali ini, ia seakan-akan tidak ingin cepat berakhir, ia mengerakkan wajahnya dan bibirnya ke setiap sudut tubuh Hara.
Menjelajahi setiap inci kulit mulus istrinya.
Maka malam ini, ia seperti seorang bayi yang kehausan, melahap bagian lembut itu dengan rakus, Hara menikmati apa yang dilakukan sang suami
Hingga bibir Leon menyusuri tubuh istrinya dari atas leher hingga ujung kaki seolah-olah, ia meneliti setiap inci bagian tubuh yang begitu amat ia rindukan. Hingga bibir sensual itu berakhir di bawah perut Hara, Mata Hara terbuka tiba-tiba, ia terkejut karena Leon melakukannya, ia terbelalak kaget, Leon melakukan lagi.
Hara ingin menolak, dengan cara mengangkat tangannya dan mendorong kepala Leon, tetapi terlambat, bibir itu sudah mencicipi bagian intinya.
Alih-alih ingin menolak, Hara malah mengeluarkan suara aneh dari bibirnya, suara yang tertahan dan tubuhnya bergerak-gerak manja di atas ranjang, sesekali kedua tumit kakinya menahan tubuhnya dan panggul terangkat.
“Aaah …,” satu suara manja lolos dari bibir Hara, rasa yang mendominasi, rasanya yang pertama yang ia nikmati. Leon seakan menikmati lelehan cream, mengecapnya dengan nikmat.
Leon menjadikan satu bantal dan meletakkan di bawah panggul Hara, sebagai ganjal, degan begitu ia bisa menikmatinya dengan lahap, saat Leon menjulurkan lidahnya dengan sangat dalam.
“Aaah, sayaaang,” suara itu lolos begitu saja, tanpa aba-aba dari otak Hara.
__ADS_1
Bersambung ....